Menemukan Bakat Anak Murid

Hari itu saya menerima seorang mahasiswa di ruangan saya. Dia berkonsultasi terkait mata kuliah yang akan diambilnya pada semester mendatang. Ada keraguan saya tangkap dari gerak-geriknya ketika berdiskusi. Pasalnya bisa diduga, nilainya tidak memuaskan. Bukan soal memuaskan saya sebagai dosen wali, nilai itu dirasa tidak memuaskan dirinya. IP-nya tidak sesuai dengan target pribadinya sehingga dia merasa kurang nyaman.

Saya punya banyak waktu hari itu sehingga sempat melayaninya agak lama, bercakap-cakap tentang banyak topik yang tidak selalu terkait dengan akademik. Saya mulai bertanya soal hobinya, soal kebiasaannya dan soal kegiatannya di luar jam kuliah. Dia seorang pelukis dan itu mengejutkan saya. Tidak banyak mahasiswa saya yang memiliki ketertarikan, apalagi keterampilan, melukis. Dia salah satu yang menurut saya istimewa.

Continue reading “Menemukan Bakat Anak Murid”

Anies

Semalam, saya duduk mematung di depan laptop. Saya membaca sesuatu yang tak bisa membuat saya berpaling. Di sebelah saya, Asti, isteri saya, juga duduk dan membaca sesuatu di layar HPnya. Sesaat sebelumnya kami bermain dengan Lita sebelum akhirnya dia harus tidur di kamarnya. Di malam yang tenang itu, kami berdua asyik sendiri menikmati bacaan masing-masing.

Sekali waktu Asti berkomentar dan saya timpali. Ternyata, meskipun kami membaca di media yang berbeda dan tidak ada kesepakatan, bacaan kami sama. Kami sama-sama sedang membaca surat pamit dari Mas Anies Baswedan yang baru saja dibebastugaskan oleh Pak Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saya lebih banyak diam dan hanya mengiyakan komentar Asti. Mata saya menjelajahi komentar banyak orang tentang digantinya Mas Anies sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Mas Menteri telah menjalani tugasnya selama duapuluh bulan terakhir dan sesungguhnya itu belum paripurna. Mas Anies diberhentikan di tengah jalan. Sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang. Saya tentu salah satunya. Saya tidak punya kepentingan politik, seperti Mas Anies yang juga tidak berafiliasi pada salah satu partai politik tetapi pencopotan Mas Anies menyisakan kesedihan. Kesedihan mendalam itu tergambar jelas pada komentar ribuan penduduk dunia maya yang memberi komentar pada surat pamitnya yang mengharukan.

Dalam suratnya Mas Anies tidak berpamitan kepada presiden tetapi kepada para guru. Orang-orang hebat yang selalu disebutnya sebagai pahlawan. Dan kata pahlawan yang keluar dari mulut Mas Anies berbeda dengan kata ‘pahlawan’ yang diucapkan dalam suasana kaku di lapangan upacara yang sekedar melewatkan ritual. Ucapan pamit itu menggunakan kop resmi, tanda tangan basah dan cap yang formal. Di tangan Mas Anies, ketiga hal yang biasanya mendukung kekakuan itu seperti menyerah, bersimpuh dan menjelma menjadi pesan yang menyentuh hingga jauh ke dalam.

Asti menyentuh tangan saya ketika saya diam dalam renungan yang melempar saya pada kenangan dan juga harapan masa depan. Tanpa bisa saya bendung perasaan saya hanyut bersama luapan dukungan dan doa bagi Mas Anies dari penduduk dunia maya. Saya membacanya takzim. Dari sudut mata saya keluar butiran bening. Saya menangis dan akhirnya terisak tanpa bisa saya kendalikan.

Saya mungkin sekedar cemen. Mungkin juga benar seperti kata sahabat saya bahwa saya adalah seorang dengan pemikiran yang utopis, berjarak jauh dengan realitas. Mungkin benar demikian makanya saya cenderung mudah terharu pada kejutan-kejutan semacam dicopotnya seorang Anies dari posisi menteri. Meski demikian, saya melakukan itu dengan penuh kesadaran. Saya bahkan tidak begitu khawatir tertuduh cemen dan cengeng karena harus menitikkan air mata meratapi sebuah drama politik yang seharusnya tidak mengejutkan.

Bagi saya, tangis saya semalam adalah bayangan duka mendalam akibat terpenjaranya sebuah harapan dan gagasan. Mas Anies bukan seorang menteri yang mendobrak dengan keberingasan yang bisa mengundang sensasi media. Dia adalah seorang yang tegas dalam sikap tetapi santun dalam ekspresi. Mungkin benar juga, Mas Anies bukan seorang yang super cekatan merampungkan hal-hal pragmatis, seperti diduga sebagian teman saya. Mungkin. Tapi yang saya selalu yakini bahkan sampai saat ini adalah kesungguhannya untuk membangun karakter baik dalam pendidikan.

Ketika mengantar Lita ke sekolah di hari pertama sekolah, saya mengikuti pidato Ibu Kepala Sekolah. Belum pernah saya melihat seorang kepala sekolah menyampaikan pesan seorang menteri dengan sebegitu semangat dan penerimaan yang tak bisa disembunyikan. Pesan Mas Menteri itu adalah energi yang menjalar melalui kata-kata Ibu Kepala Sekolah dalam bentuk nasihat-nasihat sederhana namun prinsipil. Saya bersekimpulan, pesan Mas Menteri Anies tidak hanya hadir dalam lembaran surat atau disposisi kaku yang umumnya dilupakan seiring terhempasnya di rak arisp atau bahkan di tong sampah yang tua dan kumal. Pesan seorang Anies, hadir lewat semangat dan senyum kepala sekolah. Hari ini saya diliputi rasa optimisme.

Asti tidak berani menghentikan atau mengganggu saya ketika saya tercenung dalam isakan lirih. Dia tahu saya dan dia tahu betapa saya mengagumi seorang Anies sejak lama. Bagi saya, ini bukan soal kultus individu, ini adalah soal seorang manusia sekolahan seperti saya yang melihat idealisasi sebuah gagasan dan gerak yang menyatu pada seorang individu. Saya tidak terkejut dengan ide-ide Mas Anies karena itu merupakan milik banyak orang yang terdidik. Yang saya kagumi adalah kemampuannya mentransformasi ide dan idealism itu menjadi pesan yang mudah diiyakan, mudah untuk dituruti. Saya menjadi relawan Hari Pertama Sekolah karena saya percaya ide Mas Anies harus didukung. Saya ikut gerakan Turun Tangan karena seperti katanya, saya tidak boleh hanya urun angan. Saya dekat dengan para pengajar muda di Indonesia Mengajar karena saya tahu gagasan besar itu tak bisa tumbuh subur hanya dengan dipuji dan ditonton.

Saya yakin ribuan anak muda yang menjadi pengajar muda di Gerakan Indonesia Mengajar juga terpikat oleh kekuatan gagasan Mas Anies yang memancar lewat rangkain kata yang tersusun sedemikian rupa atau dalam bentuk tulisan-tulisan yang menyentuh dan membangunkan. Benar yang Mas Anies sampaikan, kita tidak bisa menjadi pahlawan sendiri. Dan bahwa kepimimpinan yang baik bukanlah yang menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi yang mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Mas Anies, tidak menyuruh saya untuk mempercayai dia tetapi mempercayai diri saya untuk bisa melakukan sesuatu perubahan meskipun kecil.

Saya tidak membiarkan diri saya mengumpat atau menyalahkan Pak Jokowi. Saya percaya dengan kebaikan beliau. Namun kebaikan saja tidak cukup untuk mempertahankan seorang Anies Baswedan yang memang tidak kuat secara politik. Pastilah ada banyak kalkulasi politik yang tidak akan bisa saya pahami dengan otak surveyor saya yang fakir pengetahuan politik. Yang saya tahu, selalu ada kalkulasi dan yang terjadi mungkin adalah yang terbaik.

Sementar itu, kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan hati saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar.

Hati saya ada bersama anak-anak sekolah yang sumringah datang ke sekolah di hari pertama karena sekolahnya ramah tanpa perploncoan. Semangat saya bersama guru-guru yang tidak lagi pusing hidupnya memikirkan cara terbaik memberi kunci jawaban pada anak-anak yang tertekan saat menjalani ujian yang seakan menentukan hidup matinya. Senyum saya bersama Lita dan teman-temannya yang tas sekolahnya tak lagi berat dan membuat tulang belakangnya cidera. Doa saya bersama Mas Anies yang telah berjuang mewujudkan semua itu. Terima kasih Mas Anies. Seperti kata Kaffee di A Few Good Men, “you don’t need to wear a patch on your arm to have honor”. Seorang Anies Baswedan tak harus menyandang pangkat menteri untuk disebut pahlawan dan pengubah.

Ps. Tulisan saya yang lain tentang Anies Baswedan

  1. Indonesia Mengajar
  2. Ketika Anies Baswedan Turun Tangan
  3. Tulisan Tangan Pak Menteri
  4. Pelajaran di Kursi 45
  5. Memetakan Anies Baswedan
  6. Apa Kabar Mahasiswa Aktivis Hari ini?
  7. Moderator

Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda

Alumni Teknik Geodesi UGM akhirnya bersikap atas silang sengkarut Laut Tiongkok Selatan. Kehebohan media tentang kedatangan kapal nelayan Tiongkok yang ‘mencuri’ ikan di perairan dekat Natuna, terjadinya insiden yang melibatkan petugas Indonesia, ‘provokasi’ petugas Tiongkok yang seakan tidak mengindahkan peringatan Indonesia menjadi warna yang membuat media masa hingar bingar. Suasana memang memanas, terutama pada bulan Maret hingga Juni 2016 dan media memberitakan dengan gegap gempita. Persoalannya, tidak banyak yang benar-benar paham duduk perkaranya.

Continue reading “Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda”

Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?

Yang ditunggu-tunggu tentang Laut Tiongkok Selatan (LTS) akhirnya tiba. Teka-teki yang menyisakan pertanyaan dan bahkan ketidakpastian akhirnya terungkap dengan terang benderang. Permanent Court of Arbitration (PCA) yang berkedudukan di Den Haag, Belanda akhirnya memutuskan kasus Laut Tiongkok Selatan antara Filipina dan Tiongkok. Putusan PCA ini akan menjadi yurisprudensi, sebuah hukum baru, yang menegaskan, menjelaskan dan mendukung Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dengan ketentuan-ketentuan yang lebih rinci.

Continue reading “Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?”

Mengupas Mangga

Tangan-tangan kecil itu saya perhatikan dengan seksama. Telapak tangan kiri memegang sebiji manga dan telapak tangan kanan menggenggam pisau. Nampak sangat tidak terampil, ringkih dan penuh keraguan. Ada juga ketakutan dari gerakannya yang gemetar tidak yakin. Lita, anak saya, sedang mengupas mangga.

Apa istimewanya mengupas mangga? Tidak ada istimewanya bagi saya atau banyak orang lain yang bahkan merasa mengupas mangga itu adalah keterampilan sejak lahir. Tapi percayalah, bagi Lita dan teman-temannya yang hidup pada masa dan situasi kini, mengupas mangga bisa jadi urusan besar yang runyam. Jika Anda memiliki anak sepantaran dengan Lita, tinggal di kota dan hidup di lingkungan yang lebih sering menyajikan mangga telanjang tanpa kulit, maka mengupas mangga menjadi keterampilan mahal.

mangga

Anak-anak kita mungkin terampil memainkan tuts-tuts piano, menggesek senar biola, memainkan papan ketik komputer, memijat layar-layar sentuh tablet atau ponsel cerdas dan menghitung di luar kepala soal-soal matematika yang biasa dipelajari oleh mereka yang jauh di atas umurnya. Tentu saja itu semua bagus tetapi mereka mungkin termasuk golongan yang tergagap-gagap ketika memegang sapu lidi, mengupas mangga, menggerakkan alat pel, mengucek baju yang kotor, menggosokkan spon di permukaan piring yang licin bersabun, atau bahkan sekedar untuk melipat kembali selimut mereka sendiri di pagi hari. Mereka mungkin termasuk anak yang berbicara Bahasa Inggris logat Amerika yang fasih tetapi terbata-bata dan terdengar begitu tidak sopan ketika harus berbicara dengan Eyang Puterinya dalam Bahasa Jawa halus.

Lita, anak saya, mungkin termasuk yang demikian tapi saya tidak menginginkan itu. Maka dari itulah saya mengawasinya dengan ketat ketika belajar mengupas mangga. Pelajaran yang tentu saja akan ditertawakan oleh teman kecil saya di Desa Tegaljadi karena, menurut mereka, mengupas mangga termasuk keterampilan yang bisa datang dengan sendirinya. Lita, seperti anak kecil lainnya, kadang mungkin kesal saya pandangi ketika menggerakkan pisau untuk memisahkan kulit mangga dari isinya yang ranum. Dia mungkin kesal saat saya koreksi arah gerakan spon waktu mencuci piring. Dia pastilah tidak bahagia ketika saya memanggilnya kembali ke kamarnya hanya untuk melipat selimut padahal dia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia lebih sering merengut tanda tak senang setiap kali saya tegur karena membuat lantai kamar mandi kami basah dan terabaikan sehabis mandi. Saya harus menikmati dengan sabar kemarahan dan kekesalan itu karena saya merasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihatnya di masa depan.

Saat dia sekolah di sebuah perguruan tinggi di Cape Town nanti, tidak ada yang akan mengupaskan mangga untuknya. Tidak ada pembantu yang akan merapikan selimutnya setiap pagi. Tidak ada yang mencucikan piring untuknya selepas makan malam. Tidak ada yang membersihkan lantai dari serpihan makanan ringan sampai semut berdatangan. Tidak ada yang membuat handuknya kering jika terhempas begitu saja di sudut kamar sehabis mandi di pagi hari. Tidak ada. Tidak ada kemewahan yang membuat Lita bisa hidup cuek tidak peduli. Itulah yang saya lihat di masa depan dan masa depan itu tidak lama lagi. Sayangnya, saya tidak pernah melihat bahwa keterampilan akan datang lewat mimpi dan tiba-tiba dikuasai. Keterampilan juga tidak bisa dibeli secara instan.

Lita masih harus belajar, demikian pula saya sebagai orang tua. Cerita ini bukan tetang keberhasilan tetapi tentang kekhawatiran yang mungkin dirasakan juga oleh sahabat-sahabat saya lainnya. Lita dan generasinya perlu diajari mengupas mangga. Dia perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus dari ujung bekas tangkai, bukan sebaliknya. Lita perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus menghasilkan rangkaian kulit mangga seperti kelopak bunga yang berurai panjang, tidak terpisah satu sama lain. Dia perlu tahu, rangkaian kulit mangga itu akan dipisahkan dari bagian bawah mangga di saat terakhir, sehingga sampahnya menjadi satu kesatuan sebelum akhirnya dia terhempas di tong sampah dengan sekali hentak.

Seperti yang saya selalu katakan pada Lita, mengupas mangga adalah life skill yang tak pernah salah untuk dikuasai. Maka ketika nanti di halaman belakang rumahnya dia melakukan reuni alumni UGM dengan Presiden Kamboja, dia akan mengupas sendiri mangga manalagi sambil berkelakar tentang kekonyolan kawan karib mereka yang sedang kampanye untuk menjadi Sekjen PBB.

GA867, langit antara Bangkok dan Jakarta, 15 Juli 2016

Kursi Kosong atau Kursi Isi

Nanning, Tiongkok, 18 Juni 2016

Di depan ada puluhan pasang mata, menyimak dengan takzim. Meski hari sudah agak sore dan makan siang baru saja berlalu, wajah-wajah antusias masih bisa disaksikan di ruangan itu. Mereka seperti menunggu-nunggu presentasi saya. Setidaknya saya meyakinkan diri saya akan hal itu. Entahlah sesungguhnya.

I am afraid, I am the only engineer in this room” kata saya memulai presentasi dan mulai mengundang senyum bahkan tawa. “I warn you, mine might be a little bit too technical but I will do my best to make it as accessible as possible”. Kelakar yang tepat di awal presentasi memang selalu membantu mencairkan suasana. Maka setelah senyum dan tawa kecil itu terlihat, datanglah energi positif yang mengiringi kelebat lembar-lembar tayang di belakang saya. Satu dua kelakar tetap keluar, puja puji untuk kolega selalu terjaga. Konon, begitulah presentasi yang baik. Menjadi bintang bersama-sama dengan pembicara lainnya dan menjadi bagian utuh dari para penyimak.

Continue reading “Kursi Kosong atau Kursi Isi”

Cinta dalam Sebiji Mangga

Saat kuliah, saya kos di tempat seorang penulis novel dengan nama pena Nani Heroe. Kami memanggil beliau dengan nama Bu Heru. Tempat kos kami berupa sebuah rumah besar yang sudah tua umurnya. Di halaman ada beberapa batang pohon manga. Kerap mangga itu berbuah dan manis rasanya. Kami, anak-anak kos, turut menikmati buah mangga itu dengan penuh sukacita. Saya termasuk yang sering memanjat untuk memanen mangga yang sudah matang.

Continue reading “Cinta dalam Sebiji Mangga”

Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!

Bapak dan Ibu saya tidak munya banyak pilihan dalam memperlakukan dan memberi fasilitas pada anaknya. Mereka hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar di masanya sehingga tidak punya ‘network’ yang kuat. Sahabat karibnya adalah Nang Koplar tukang angon bebek, Nang Kocong petani penggarap yang tak pernah sekolah, Men Sungkrug, tukang munuh sisa panen padi dan beberapa orang lain yang profilnya tak berbeda.

Ketika saya punya cita-cita sekolah di SMA 3 Denpasar, salah satu sekolah terbaik di Bali, Bapak Ibu saya tidak bisa membantu. Saya bahkan tidak pernah diantar ke sekolah karena jika beliau mengantar saya maka dipastikan beliau akan menjadi beban tambahan. Akan ada dua orang yang tersesat. Beliau tidak paham bahwa orang desa di Kecamatan Marga di Tabanan harus menjalani proses pindah rayon dulu untuk bisa bersekolah di Denpasar. Beliau tidak tahu menahu, apalgi bisa membantu. Bapak dan Ibu saya aman sentausa hidupnya karena tak pernah khawatir akan saya. Beliau tidak tahu rumitnya administrasi bersekolah. Kata administrasipun pastilah asing di telinganya, bahkan sampai hari ini.

Continue reading “Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!”

Bertetanggakah Indonesia dengan China?

sindoIstilah “tetangga” dalam pertanyaan ini adalah negara yang dengannya perlu disepakati garis batas darat atau laut. Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste adalah tiga negara yang berbatasan darat dengan Indonesia. Tentu saja dengan ketiganya Indonesia juga perlu berbagi laut. Sementara itu tujuh negara lain yang hanya berbatasan laut dengan Indonesia adalah India, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, dan Australia. Secara formal, Indonesia mengakui sepuluh tetangga.

Tetangga di darat jelas urusannya. Bagaimana dengan tetangga di laut? Hal pertama adalah menentukan lokasi daratan suatu negara dan hak daratan tersebut atas laut. Menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), sebuah negara berhak atas laut territorial (12 mil laut), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (ZEE, 200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih) yang diukur dari garis pangkal/pantai.

Continue reading “Bertetanggakah Indonesia dengan China?”

Dedalu Bali – Tour and Travel

logoTulisan ini adalah iklan. Saya akan katakan sebelum Anda, para pembaca, bertanya-tanya atau menuduh. Sejak kapan saya menulis sebuah iklan di blog saya? Sejak muncul sebuah usaha komersial yang lahir dari suatu pergulatan panjang. Sejak muncul sebuah usaha yang akan menentukan arah kehidupan keluarga kami dalam waktu dekat, menengah dan panjang. Saya menulis iklan ini karena ini adalah tetang hubungan darah, tentang perjuangan, dan tentang pilihan hidup seorang adik untuk mendukung kehidupan kakaknya.

Continue reading “Dedalu Bali – Tour and Travel”