When I became a Moderator

This video shows me being a moderator for an international event. Whenever people ask me about tips on how to be a good moderator, I usually come up with list of suggestions, which are undoubtedly easier said than done. This video shows how I implement my suggestions. This can be tips to follow, or list of items that you should not follow 🙂

Menjadi Favorit [?]

Jakarta, awal 2002

Isak tangis di seberang sana membuat saya tercenung. Tidak mampu berkata banyak, saya hanya menyimak takzim isak tangis Bapak lewat telepon. Saya baru saja mengabarkan rencana saya untuk menjadi dosen di UGM. Rupanya beliau terkejut dengan rencana itu, terutama setelah saya menyebut angkat “600 ribu rupiah” saat ditanya “berapa gajinya?”

Tidak mudah bagi bapak saya untuk memahami pilihan itu. Keluar dari Unilever lalu masuk Astra dan kini ingin jadi guru. Menurut orang tua yang bahkan tidak lulus SD, pilihan itu jelas tidak wajar. Ada kekhawatiran mendalam dan pertanyaan apakah anaknya akan bisa hidup layak. Saya menutup telepon dengan perasaan galau, sedih dan bersalah. Saat itulah, saya memutuskan dengan mantap: saya tidak akan jadi dosen!

Continue reading “Menjadi Favorit [?]”

Menyalahkan Panitia

Pagi-pagi saya sudah memasuki areal parkir sebuah kampus di bilangan Jalan Pramuka di Jogja. Saya akan bicara dalam sebuah seminar tentang beasiswa luar negeri dan segala sesuatu sudah saya persiapkan. Tak lama setelah saya mematikan mesin kendaraan, seorang mahasiswa mengenakan jas oranye mendekat dengan sigap. Begitu saya membuka pintu, dia bertanya “Bapak pembicara ya Pak?” Rupanya dia adalah panitia yang bertugas menjadi Liaison Officer untuk saya. Gerakannya sigap, komunikasinya baik dan bahasa tubuhnya cekatan. “Ya, Mas” jawab saya mantap.

Continue reading “Menyalahkan Panitia”

Marah, Maaf, dan Pujian

Ketika memasuki ruangan untuk pelaksanaan presentasi di sebuah acara, saya terkejut. Halaman pertama tayangan presentasi saya sudah terlihat tampil di sebuah layar besar di depan. Ini yang saya khawatirkan, panitia sudah menayangkan bahan presentasi saya sebelum saya mulai presentasi. Dengan sigap saya sampaikan ke panitia agar tayangan itu dihentikan dan panitiapun memenuhinya.

Continue reading “Marah, Maaf, dan Pujian”

Tips Presentasi: Sepuluh Intermezzo

Intermezzo atau icebreaker sangat penting dalam persentasi. Fungsinya untuk mecairkan suasana yang tegang, terutama di awal presentasi atau mengajak kembali pemirsa untuk berkonsentrasi pada presentasi kita. Ada sepuluh tips intermezzo yang biasa saya pakai.

andisenpi

  1. Soal nama
    Intermezzo ini paling sering saya gunakan. Pelafalan nama saya dalam Bahasa Inggris yang bisa berarti “Saya membuat Andi Arsana [I Made Andi Arsana]” sangat sering saya jadikan bahan kelakar. Hingga hari ini, belum pernah gagal. Selalu ada sebagian besar, jika tidak semua, pendengar yang tertawa dan akhirnya terbawa.

    Cara saya menyampaikan kelakar tentang nama ini bermacam-macam. Kadang saya mulai dengan mengutip kejadian kecil saat ada peserta yang bertanya soal nama saya lalu saya ceritakan bagaimana saya menjelaskan pada peserta itu. Kadang saya memulai presentasi dengan mengatakan “I want to make a clarification regarding lingering question about my name”, seakan-akan itu masalah serius. Cara kedua biasanya saya sampaikan saat menjadi pembicara kunci dan dengan asumsi bahwa ada cukup banyak orang yang sudah pernah melihat/mendengar nama saya.

    Mereka yang namanya hanya satu kata, misalnya “Suprapto” atau “Parjono” atau yang lain, bisa berkelakar dengan mengatakan “I am someone without last name” atau “with my one-word name, I cannot even have an email” atau “I need to repeat my one-word name so I can have a surname”. Bagi yang namanya berarti hal lain dalam bahasa Inggris seperti “Yuni” (kata yang sama dalam bahasa Inggris berarti university) “Dedi” (daddy = ayah), “Yugo” (you go, I go), “lukman” (look, Man!) dan lain-lain bisa menjadikan namanya sebagai bahan kelakar.

  2. Pepatah/ungkapan/nasihat
    Dalam kuliah tamu yang saya berikan di Kamboja beberapa waktu lalu, saya menghadapi para petinggi dari Asia-Pasific yang ahli di bidangnya ada praktisi kawakan. Saya merasa perlu untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin menggurui mereka. Untuk itu saya mengutip pepatah “menggarami lautan”. Saya mulai dengan menampilkan sebuah slide bergambar laut dan garam lalu berkata “In Indonesia, we know a saying ‘salting the ocean’, which means blah blah. I am not salting the ocean today and I hope I won’t sound like preaching”. Kutipan itu sanggup membuat peserta yang sebagian besar dari Asia tersenyum positif dan merasa nyaman.
  3. Apresiasi pada panitia
    Betapapun sederhananya, selalu penting untuk mengapresiasi panitia yang telah mengundang kita. Saat berbicara di Kamboja, saya bilang “I have to thank ReCAAP and especially Executive Director Kuroki for this invitation. Because of you, Sir, I am stepping my feet for the first time on the land of Cambodia.” Dalam acara yang beda lingkupnya, pujian kepada panitia atas kerja keras mereka sangat perlu disampaikan. Misalnya, “panitianya gigih sekali dan sangat bijaksana saat memenuhi permintaan saya yang kadang menyulitkan”. Saat diundang di UAD Jogja, saya sengaja memotret sebuah tanda bertuliskan nama saya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk mobil saya. Foto itu saya masukkan menjadi slide pertama saat presentasi sambil memberikan pujian akan keseriusan panitia. Tentu saja panitia senang mendapat apresiasi seperti itu. Ada banyak cara memberikan apresiasi kepada panitia.
  4. Apresiasi pada hadirin
    Presentasi adalah tentang presenter dan pendengar/hadirin. Sebagus-bagusnya komunikasi serta persiapan pembicara dengan panitia, kesuksesan sebuah presentasi tetap akan dinilai oleh hadirin. Maka dari itu, membuat hadiri tertarik, merasa nyaman, dan terutama merasa penting/dihargai sangatlah penting.

    Jika presentasi di hari libur (Sabtu atau Minggu), saya biasanya mulai dengan kalimat “jika di hari Minggu, biasanya anak-anak muda memilih untuk tidur lebih lama dan bangun lebih siang, para pemenang seperti kalian ini memilih untuk ada di sini” sambil menunjuk mereka dan selalu disambut dengan tepuk tangan. Jika sudah dimulai dengan pujian yang membuat hadirin nyaman dan merasa dihargai maka berikutnya pembicara seakan punya ‘hak’ untuk meledek dan megolok-olok mereka dalam batas wajar. Ledekan itupun akan disambut tawa dan nuansa yang positif.

    Apresiasi kepada hadirin juga bisa berupa pujian pada mereka yang datang dari jauh atau menempuh perjalanan sulit. Jika pesertanya senior, bisa sampaikan apresiasi atas kebijaksanaan mereka untuk rela mendengar pembicara yang lebih junior. Jika yang hadir rekan-rekan sejawat atau orang dengan profesi dan keahlian yang mirip, bisa mengatakan bahwa “saya ada di sini karena kebaikan hati Bapak Ibu untuk memberi saya kesempatan berbagi, meskipun belum tentu lebih ahli.”

  5. Kejadian lucu/menarik
    Saat datang ke tempat presentasi, kemungkinan akan ada kejadian lucu atau menarik yang kita alami. Hal ini bisa kita ceritakan di awal presentasi untuk mencairkan suasana. Saat presentasi di Siem Reap beberapa waktu lalu, saya dikira orang Kamboja oleh resepsionis hotel. Saya sudah memberinya paspor tetapi dia tidak memperhatikan dan langsung nyerocos pada saya dalam Bahasa Khmer. Saya tertegun dan pasang wajah ‘bloon’ sambil menyampaikan bahwa saya orang Indonesia dan tidak bisa Bahasa Khmer. Spontan mbak resepsionis itu minta maaf dan mengatakan saya mirip orang Kamboja. Saya menjawab sopan dan berkata “well, you look like Indonesian” yang membuatnya tersipu malu.

    Kejadian yang menimpa saya di meja resepsi itu saya ceritakan saat presentasi. Hadirin tentu saja tertawa karena rupanya mereka bisa melihat, saya memang nampak seperti orang Kamboja. “I might look like a Cambodian but I am not. Believe me!” kata saya menegaskan sok serius dan disambut tawa hadirin. Kejadian menarik lainnya tentu banyak, seperti tentang salah paham bahasa, tentang tanda di toilet yang tidak biasa, tentang alat transportasi yang tidak lazim atau bahkan ekstrim, tentang toilet Jepang yang hangat, dal lain-lain.

  6. Mengolok-olok diri sendiri
    Lelucon yang paling aman dan hampir selalu efektif adalah mengolok-olok diri sendiri. Saat presentasi di Jakarta sepuluh tahun silam, panitia mengira saya asisten pembicara. Mereka tidak menanggapi saya semestinya ketika saya hendak menyerahkan file presentasi. Kejadian itu saya ungkap saat presentasi dengan mengatakan “saya sadar, tampang saya memang kurang meyakinkan”. Pak Jokowi juga sering berkelakar yang mengolok-olok dirinya sendiri dengan menceritakan kejadian ‘memalukan’ ketika menjadi pembina upacara di awal-awal masa jabatannya sebagai Walikota Solo. Hal yang sama dilakukan Pak Dino Patti Djalal terkait cerita sopirnya yang lebih gagah darinya saat menjadi Duta Besar RI di Washington. Mengolok-olok diri sendiri itu aman, namun hanya bisa dilakukan oleh orang yang percaya diri.
  7. Interaksi dengan peserta atau panitia
    Inti dari sebuah presentasi yang baik adalah setiap orang merasa terlibat dan penting perannya. Hal ini bisa diwujudkan melalui interaksi dengan pendengar atau panitia. Di sebuah acara seminar beasiswa, panitianya pernah mengalami kepanikan karena LCD tidak bekerja dengan baik. Pembicaraan saya jadi tersendat. Saya pun seseungguhnya kecewa dan ada rasa tidak nyaman, menyesalkan mengapa panitia tidak melakukan persiapan dengan baik. Pilihannya ada dua, saya jadikan itu momen untuk menunjukkan kekesalan atau harus menyelamatkan situasi. Saya sampaikan “saya paham, tadi panitia pasti sangat panik ketika LCD tidak berfungsi. Saya kagum pada kesabaran mereka untuk tetap bekerja memperbaiki sampai akhirnya bisa berjalan lancar. Kita beri tepuk tangan yang meriah pada panitia kita yang keren hari ini.”

    Akan lebih mudah jika ada peserta yang kita kenal dan pernah mengalami interaksi personal sebelumnya. Misalnya, kita bisa mmengatakan “saya sudah mengenal Pak Budi, yang duduk di depan ini sejak 20 tahun lalu. Terus terang rasanya agak aneh karena saya harus ada di depan Bapak sekarang ini. Matur nuwun sudah datang ya Pak.”

    Kadang kita juga berbicara di depan orang-orang yang kita kenal sejak lama. Ini bisa jadi bahan intermezzo yang baik, misalnya dengan mengatakan “di sini juga ada Mas Indro, kawan baik saya sejak belasan tahun. Beliau pasti merasa aneh karena harus mendengarkan saya, padahal zaman dulu saya terus yang harus mendengarkan dia.” Dalam sebuah acara di Jakarta, saya juga pernah tampil di depan sahabat-sahabat saya ketika kuliah. Saya meyapa mereka dengan nada agak nakal “Mas Nashihun ini sahabat saya sejak lama, sekarang sudah jadi pengusaha sukses padahal saya tahu beliau nggak pinter-piter amat” dan disambut gelak tawa hadirin. Candaan yang demikian hanya bisa disampaikan jika sangat akrab dan sebaiknya ditutup dengan pernyataan positif. Saat itu saya bilang “meskipun saya tadi membully beliau, kenyataannya, beliaulah yang paling sering membantu saya saat ini jika perlu dana untuk penelitian.”

  8. Kejadian atau fenomena umum yang diketahui hadirin
    Intermezzo yang aman dan efektif adalah tentang topik yang diketahui semua orang. Makanya, kejadian atau topik umum menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan intermezzo. Topik-topik yang bisa dipilih misalnya pilkada, kasus kejahatan yang sedang menjadi topik nasional, kejadian yang menyangkut selebriti, kejadian lucu yang sedang viral di media sosial, atau kebijakan nasional yang sedang menjadi buah bibir. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara jenaka sehingga mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan.

    Jika presentasi di suatu daerah di Indonesia, hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah itu bisa dijadikan intermezzo. Jika merasa nyaman, isu politik atau keresahan sosial juga bisa dikemukakan. Misalnya “orang Tabanan memang seniman semua ya, bukan cuma pagar tembok dan Pura, jalan juga diukir” untuk mengkritik jalan yang rusak. Bisa juga berkelakar tentang makanan khas daerah tersebut, misalnya mengatakan “I wake up a little bit late, I got drunk by kimchi, last night” jika presentasi di Korea.

  9. Keterkaitan dengan pembicara lainnya
    Memuji pembicara lain adalah intermezzo yang aman dan positif. Tidak pernah salah. Akan lebih baik lagi jika bisa mengaitkan topik yang kita bicarakan dengan topik yang dibicarakan pembicara lain. Jika belum kenal baik, sebaiknya selalu menyampaikan hal positif, bukan hal negatif. Kadang ada pembicara yang menunjukkan kesan rivalitas atau persaingan dengan pembicara lainnya.

    Naluri persaingan bisa muncul dalam bentuk pembelaan atau menjelek-jelekkan pembicara lainnya, atau sekedar untuk menunjukkan dia lebih baik dari pembicara sebelumnya. Misalnya, kalimat yang sebaiknya dihindari adalah “apa yang disampaikan Bapak X yang berbicara sebelumnya itu keliru dan saya harus koreksi.” Cara yang baik mengungkapkan koreksi misalnya, “apa yang disampaikan Bapak X sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi kita semua. Saya tertarik, terutama tentang poin A karena kebetulan saya juga mendalami hal itu. Saya tertarik mendiskusikan ini nanti karena ada perspektif lain yang saya dapatkan dibandingkan yang saya ketahui selama ini.” Intinya, tidak ada yang lebih aman dari pujian. Setidaknya di kesempatan pertama.

  10. Soal honor
    Soal honor tentu sensitif tetapi bisa jadi bahan intermezzo yang baik jika dikemas dengan cantik. Misalnya dengan mengatakan “saya harus pastikan materinya tepat 15 menit karena kalau tidak honor saya akan dipotong.” Jika Anda menjadi moderator, soal honor juga bisa menjadi bahan kelakar yang baik. Misalnya dengan mengatakan “saya tetap harus mengenalkan Pak Joko sebagai pembicara meskipun beliau sudah terkenal. Jika tidak, honor saya tidak akan cair.” Jika Anda dibantu operator saat presentasi, kadang operatornya terlalu cepat menganti slide atau menjalankan animasi. Bagi saya yang sangat mengandalkan animasi yang tepat, hal ini bisa berdampak serius. Biasanya saya menggoda mereka dengan mengatakan “mencet yang bener, nanti honornya saya potong lho” atau “jangan cepat-cepat Mas, mau cari sampingan di tempat lain ya? Honornya kurang pasti nih”. Biasanya hadirin merespon dengan tawa.

Itulah sepuluh contoh intermezzo. Punya idea lain? Silakan komentar di bawah.

Merelakan Anies

Bahwa saya mengagumi dan meneladani Mas Anies Baswedan, itu adalah keniscayaan. Saya tidak membantah, tidak juga menyesalinya sampai detik ini. Anies adalah pribadi yang padanya saya belajar banyak hal dan tetap akan terus belajar. Bahwa dia punya kelamahan dan tidak sempurna, tentu tidak ada satupun yang harus terkejut. Dan bahwa kini Mas Anies menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta, ini adalah kisah dan perihal yang lain.

avengers
Dipinjam dari dunia maya

Continue reading “Merelakan Anies”

Memoderasi Susi

Yogyakarta, 8 Oktober 2016
Pagi-pagi saya sudah duduk di sebuah ruangan di University Club (UC) UGM. Di tempat itu, sebentar lagi akan dilaksanakan kuliah umum yang dibawakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Saya ada di sana karena diminta panitia untuk menjadi moderator. Sebentar lagi, saya akan memoderasi Susi, sebuah tugas yang menegangkan.

andisusiblog

Suasana agak gaduh, serombongan orang datang. Ibu Susi nampak tergesa, berjalan paling depan dan langsung masuk ruangan. Saya dan beberapa orang yang duduk di sebuah meja bundar dari beberapa menit lalu langsung bediri. Kami menyambut Ibu Susi, bagaimana layaknya menyambut seorang menteri. Kami sigap, siaga, hormat dan santun. Ternyata itu tidak terlalu berguna karena Bu Susi sama sekali tak bergaya menteri yang ada dalam imajinasi orang-orang kebanyakan seperti saya. Beliau tidak ada basa-basi, tidak menikmati penghormatan dan tidak juga menyapa orang-orang layaknya pejabat pada umumnya.

“Aku ta’ langsung makan ya?!” kata beliau mengejutkan. Bu Susi bahkan tidak duduk di kursi yang tertata rapi di meja bundar yang kami duduki. Beliau hanya menaruh tas dan langsung menuju hidangan yang sudah tersaji di satu pojok ruangan. Soto Kadipiro dan Bakso Bethesda segera diambil dan dengan lahapnya beliau menyantap makanan kesukaannya itu. Tidak ada obrolan basa-basi, tidak ada senyam-senyum sopan santun, tidak ada juga usaha jaga citra. Semuanya langsung, jujur dan apa adanya. Saya senyum-senyum sendiri menyaksikan ibu menteri yang tengah melahap soto dan bakso, hanya 60 cm di sebelah saya. Meskipun saya sebenarnya tegang dan grogi, akhirnya saya berusaha nampak biasa saja. Memang tidak ada perlunya grogi di samping orang yang bahkan tidak merasa istimewa dan tidak berusaha nampak istimewa. Biasa saja.

Gaya Ibu Susi yang apa adanya itu membantu saya menyipakan diri untuk menjadi moderator beliau beberapa menit lagi. Latihan saya yang berjam-jam hingga menjelang subuh beberapa jam sebelumnya seperti mendapat dukungan. Dukungan itu berbunyi “santai aja, yang dimoderatori juga cuek aja kok”. Meski sudah santai, diam-diam saya melengkapi presentasi PPT yang sudah saya siapkan untuk mengenalkan Bu Susi nantinya. Memang sudah saya rencanakan, saya akan mengenalkan beliau dengan slide yang saya buat semenarik mungkin. Interaksi saya dengan Ibu Susi sebelum acara mendatangkan beberapa inspirasi baru untuk mengenalkan beliau nanti.

Sementara itu, Ibu Susi cuek saja duduk di sebelah saya. Kami pernah bertemu beberapa kali tapi Bu Susi memang bukan tipe orang yang gemar bebasa-basi. Jika tidak ada yang yang penting dan menarik, beliau akan diam saja. Bu Susi bukan termasuk orang yang berusaha keras menjaga kehangatan dengan orang lain. Dengan gaya ini, jelas Bu Susi tidak sedang mencalonkan diri jadi Gubernur, apalagi Walikota.

Dalam beberapa menit berikutnya, kami memasuki ruangan kuliah umum. Hari itu, kuliah umum diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bulaksumur. Ruangan segara gegap gempita begitu Ibu Susi memasuki ruangan yang penuh sesak oleh peserta yang sebagian besar anggota dan calon anggota GMNI. Ketika pembukaan dan sambutan, saya duduk di bangku paling depan, tepat di samping Ibu Susi yang tetap cuek dan apa adanya. Duduknya juga santai sekali, tidak ada usaha menjaga citra atau agar nampak wibawa. Sekali waktu beliau membungkukkan badan, menyangga tubuh dengan tangan yang bertumpu di pahanya. Meski kelihatan cuek, matanya awas memperhatikan sambutan dan pengantar dari panitia maupun dari Mas Cornelius Lay yang memberikan pidato pembuka.

Tibalah saatnya, saya dipanggil untuk menjadi moderator dan Ibu Susi juga diminta ke atas panggung. Tentu saja tegang dan grogi tetapi dengan usaha keras saya sembunyikan. Karena saya percaya dengan kejujuran untuk membuka pembicaraan maka saya sampaikan “saya sudah berkali-kali menjadi moderator, tetapi baru kali ini saya menjadi moderator bagi seorang menteri” dan disambut tepuk tangan hadirin. “Menteri bukan sembarang menteri, ini adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti.” Saya lanjutkan dengan nada agak naik sehingga sekali lagi memancing gemuruh tepuk tangan hadirin.

Seperti saya rencanakan, lembar demi lembar tayangan menjadi latar belakang ketika saya mengenalkan beliau. Tentu saja tidak mudah membuat perkenalan itu menarik dan ‘mengejutkan’ karena Ibu Susi memang sudah sangat terkenal. Tantangan seorang moderator ketika mengenalkan seorang selebriti seperti Ibu Susi adalah dalam memilih aspek-aspek khusus untuk dikenalkan, dengan harapan aspek khusus itu akan membuat pendengar merasakan sensasi baru. Untuk ini saya menghabiskan sekitar tiga hari untuk melakukan riset.

Perkenalan saya diisi dengan kisah masa muda Ibu Susi yang menyukai Soto Kadipiro dan Bakso Bethesta. Maka gambar kedua makanan itupun menghiasi slide saya. Persahabatan beliau dengan Ibu Dwikorita Karnawati, Rektor UGM, juga saya sampaikan dalam bentuk cerita dan ingatan saya ketika menemani beliau berdua bertemu dalam beberapa kesempatan. Kelakar yang saya kemukakan misalnya “beliau berdua adalah teman sebangku di SMA 1 Yogyakarta. Ibu Susi memilih untuk tidak lulus, Bu Rita memilih untuk tekun belajar dan menjadi professor. Yang tidak lulus kemudian jadi menteri, yang jadi profesor lalu menjadi Rektor.” Saya biarkan penonton menarik kesimpulan sendiri dan tertawa mendengar kelakar itu.

Ada banyak hal yang saya sampaikan, termasuk meme bertema Ibu Susi yang viral di dunia maya. Yang paling umum tentu saja yang memuat kata “TENGGELAMKAN”. Saya sampaikan “karena kesuksesan program penenggelaman kapal pencuri ikan ini, dunia medsos merespon dengan gegap gempita. Ada banyak topik yang berujung dengan jargon ‘TENGGELAMKAN’. Yang tidak aktif di Grup WA, TENGGELAMKAN, yang komen ga nyambung TENGGELAMKAN. Dari semua itu, ini yang paling saya suka.” Saya diam sambil menyampaikan satu meme yang saya buat sendiri dan berbunyi “ITU!!! Yang masuk GMNI cuma karena pengen dapet pacar, TENGGELAMKAN!” Dalam waktu tiga detik berikutnya, pecahlah suasana di ruangan itu dengan gelak tawa yang membahana.

Sementara itu, Ibu Susi tidak menunjukkan gejala sangat tertarik. Beliau hanya tersenyum simpul, itu pun singkat saja. Ibu Susi memang tidak mudah dipancing, tidak mudah mengapresiasi sesuatu yang tidak esensial. Meski begitu, saya senang melihat peserta merespon dengan baik. Moderasi yang baik memang untuk peserta, bukan semata-mata untuk pembicara. Senyum singkat Ibu Susi sudah membuat saya senang karena latihan berjam-jam sebelumnya ada sedikit dampaknya.

Untuk menutup perkenalan itu, saya ceritakan pengalaman saya ketika menyimak Ibu Susi sebelum beliau menjadi menteri. Ketika itu Ibu Susi diundang oleh Teknik Geodesi UGM dan saya menjadi ketua panitia acara. Saat itu ada yang bertanya terkait kebijakan Ibu Susi yang lebih memilih mempekerjakan pilot bule dibandingkan pilot Indonesia. Orang itu mempertanyakan nasionalisme Ibu Susi. Saya katakana, “waktu itu Ibu Susi menjelaskan dengan sangat baik dan orang-orang tercengang dengan logika dan cerita yang beliau sampaikan. Yang paling berkesan bagi saya adalah kalimat singkat beliau yang berbunyi seperti ini”. Saya pun menampilkan sebuah slide yang bertuliskan “Pilih mana: ‘Bosnya bule, karyawannya Indonesia?’ atau ‘Bosnya Indonesia, karyawannya bule?’” dan disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin. Saya tutup dengan “Ibu Bapak dan kawan-kawan sekalian, kita sambut Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ibu Susi Pudjiastuti”.

PS. Ini file PPT yang saya gunakan untuk memoderasi Susi 🙂

Diplomasi Jenaka

Minggu lalu saya ada di New Delhi, India dalam rangka pertemuan Indonesia-India Eminent Persons Group (II-EPG) yang kedua. Dari sekian banyak hal yang terjadi, saya secara khusus memetik pelajaran dari Pak Dino Patti Djalal tentang teknik diplomasi. Saya sudah mengagumi Pak Dino sejak lama dan belajar banyak hal dari caranya berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sebagai orang Teknik Geodesi yang tidak belajar diplomasi secara formal, pertemuan dengan orang-orang seperti Pak Dino menjadi ajang belajar yang sangat baik.

Continue reading “Diplomasi Jenaka”

Kok bisa sih?

Tahun 2013, dalam sebuah konferensi saya bertemu dengan seorang kolega junior, sesama alumni UGM. Usianya masih belia ketika itu dan nampak pintar. Dia juga presentasi di konferensi itu, menunjukkan kualitas penelitiannya yang tentu sangat baik sehingga bisa dipaparkan di depan para peneliti dunia di Belanda. Saya dengan segera mengaguminya.

Gaya komunikasi anak muda ini yang menarik perhatian saya. Dalam obrolan, entah mengapa, dia lebih sering menceritakan pengalamannya di Eropa beberapa waktu silam. Sedikit saja ada orang yang bercerita soal sesuatu dia akan menyela sambil menceritakan pengalamannya sendiri. Dia ceritakan pengalamannya berkeliling Eropa dan menjadi bergaya ‘tuan rumah’ bagi kami, orang-orang yang datang dari luar Belanda. Saya menikmati saja, menyimak dengan baik tanpa banyak bicara. Senyum adalah respon terbaik di saat seperti itu.

Suatu ketika kami membahas musim semi. “Di Australia gimana musim seminya Pak?” tanyanya dengan antusias. “Biasa sih, bunga-bunga bermekaran dan orang-orang pada sakit terserang spring fever” kata saya setengah berkelakar. “Ada tulip ngga di sana?” kejarnya lagi. “Ada. Di Canberra ada Floriade, festival musim semi. Ada tulip juga sih” lanjut saya, datar tapi berusaha informatif. “Tapi tetap beda ya Pak, dengan tulip Belanda. Saya sih melihat tulipnya di Belanda. Kalau sudah melihat yang di Belanda, yang lain pasti nggak ada apa-apanya” sambungnya lagi.

Saya bukan duta pariwisata Australia. Saya juga bukan penggemar tulip atau musim semi. Saya juga tidak tertarik membandingkan Australia dan Belanda soal tulip. That is too obvious, Belanda tak terkalahkan. Meski demikian, cara perempuan itu menyampaikan pandangannya membuat hati tak nyaman. Entahlah, mungkin saya sedang sensitif, atau terbawa oleh nuansa percakapan sejak beberapa menit lalu. Merasa tidak perlu membela ataupun mengklarifikasi apapun, saya tersenyum saja sambil menyimak celotehannya soal musim semi, soal hebatnya Eropa dan soal perjalanannya.

Dalam perjalanan menikmati Belanda dengan paket tur yang disediakan panitia, saya dan perempuan muda itu banyak berinteraksi. Layaknya turis, kami banyak mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Saya secara bergantian dengan dia mengambil gambar untuk rombongan itu. Hampir setiap kali saya selesai mengambil gambar, dia akan melihat hasilnya lalu berkomentar seperti “komposisi ini kurang, harusnya bisa diangkat sedikit”, atau “kurang dekat” atau sekedar “kok gak terang ya”, atau “harusnya pakai blitz kalau cahayanya seperti ini”. Dari komentar itu, nampak dia memang paham fotografi, dan terutama punya selera yang baik terkait kualitas foto. Kadang saya tawarkan untuk diulang, karena merasa memang bukan tukang potret yang professional dan biasanya ditolak alias tidak perlu diulang. Jika sudah demikian, saya tersenyum saja, sambil sesekali mengangkat bahu.

Selain berfoto, kami juga bercerita tentang pengalaman masing-masing melakukan perjalanan. “Yang paling unik apa Pak?” tanyanya suatu ketika. Saya berpikir sejenak lalu berkata “hm apa ya, mungkin perjalanan di ASEAN ya. Saya pernah sarapan di Singapura, Lunch di Kuala Lumpur dan Makan malam di Bali.” “Wah kalau itu sih biasa Pak. Saya sering banget kaya gitu salama di Eropa. Kalau kita tinggal di Eropa, breakfast, lunch dan dinner di tiga negara yang berbeda itu tidak aneh. Biasa banget!” katanya menceramahi saya. Atau mungkin tidak menceramahi, sekedar menceritakan kebenaran.

Yang membuat pernyataannya menarik bukan karena kebenaran yang diceritakannya karena memang demikianlah adanya. Hidup di Eropa membuat kita paham sepaham-pahamnya istilah “borderless world” yang dikemukakan oleh Kenichi Ohmae di awal tahun 1990an. Makan di tiga negara berbeda dalam sehari, bukan sebuah cerita baru jika kita tinggal di Eropa. Yang menarik perhatian saya adalah caranya menceritakan dan usahanya untuk menurunkan keistimewaan kisah yang diceritakan lawan bicaranya. Saya menduga, beliau mengalami masalah insecurity dalam dirinya sehingga tidak bisa mendengar orang lain lebih hebat dari dirinya. Atau mungkin hal lain. Analisis saya ini tentu sangat subyektif dan dipengarhui oleh rasa tidak nyaman yang saya alami.

“Eh, acara apa Pak ke Kuala Lumpur dan Singapura?” tiba-tiba dia bertanya lebih lanjut. Mungkin karena suasana percakapan yang kurang menarik minat, saya jawab singkat “ngasih kuliah.” Tiba-tiba dia berkata setengah berteriak “Hah, ngasih kuliah?! Kok bisa sih??!” Saya tersenyum saja, tidak terarik untuk menjelaskan. Di wajahnya ada keheranan, atau mungkin juga ketidakpercayaan. Dalam hati saya jawab “biasa aja keleus”.

Sepuluh Kesalahan Moderator

Di blog madeandi.com, ada beberapa cerita pengalaman menjadi moderator. Dari pengalaman menjadi moderator, melihat orang menjadi moderator dan juga pengalaman dimoderatori, saya pernah menulis beberapa tips untuk menjadi moderator yang baik. Dari pengalaman itu juga saya mengetahui ada beberapa hal yang kurang tepat dilakukan oleh seorang moderator. Berikut ini sepuluh kesalahan yang harus dihindari.

andisusi

  1. Tidak memperkenalkan pembicara
    Sering kali pembicara yang diundang merupakan orang yang sangat terkenal sehingga bisa diasumsikan semua peserta sudah mengetahui siapa beliau. Moderator kadang memanfaatkan ini dan tidak mengenalkan pembicara secara baik. Hal ini kurang tepat. Bagaimana pun juga, tugas moderator adalah mengenalkan pembicara di awal acara agar terjadi ‘keakraban’.

    Jika memang merasa pembicaranya sudah terkenal, moderator bisa mengatakan “pembicara kita hari ini tentu tidak asing lagi bagi hadirin sekalian karena beliau memang sangat terkenal di berbagai media di Indonesia. Meski demikian, ada beberapa hal yang mungkin menarik untuk kita simak kembali untuk mengingatkan kita betapa hebat kiprah beliau di bidang xyz dan bahwa beliau memang orang yang paling tepat untuk kita dengarkan tentang persoalan abc.” Ini menjadi tantangan tersendiri bagi moderator untuk menemukan hal-hal kecil dan unik tentang pembicara yang mungkin belum banyak diulas di media umum. Perlu penelitian yang serius. Ketika menjadi moderator bagi Prof. Mahfud MD di Sydney, atau Ibu Susi Pudjiastuti di Jogja, saya melakukan riset beberapa hari dan latihan berkali-kali sebelum tampil. Menjadi moderator orang terkenal justru penuh tantangan.

  2. Lupa atau tidak tahu nama pembicara
    Kadang saya melihat moderator tidak fasih mengucapkan nama pembicara. Jika pembicaranya berasal dari negara lain atau daerah lain yang memang sulit diucapkan oleh lidah moderator, ini bisa dimaklumi meskipun tetap tidak bisa dibenarkan. Untuk menjadi moderator seseorang, Anda harus melakukan riset yang serius, termasuk cara melafalkan nama pembicara dengan tepat.

    Hal yang umum terjadi adalah ketika moderator hanya menghafalkan penggal tertentu dari nama pembicara dan lalu lupa atau salah mengucapkan penggal nama lainnya. Ada moderator di sebuah institusi yang memperkenalkan saya dengan mengatakan “kita sambut Pak I Made…” lalu dia bingung mencari-cari kertas contekannya yang berserakan di depannya. Waktu berjalan beberapa detik dia tidak bisa menemukan catatannya sehingga terjadi jeda yang sangat tidak nyaman. Ketika dia temukan catatan itu, dia pun salah ucap ketika menyampaikan nama belakang saya. Hadirin tertawa karena mereka tahu moderator melakukan kesalahan. Hal seperti ini sebaiknya tidak terjadi. Jika ada satu hal saja yang harus dipelajari dan dikuasai seorang moderator, hal itu adalah nama pembicara.

  3. Menjadi pembicara tambahan
    Moderator pemula sering kali khawatir dianggap tidak pintar dan tidak menguasai materi atau tema seminar/forum yang dimoderatorinya. Sebagai bentuk ‘pembuktiannya’, moderator biasanya mengulas secara panjang lebar tema seminar atau mengulas secara jauh materi yang disampaikan pembicara. Biasanya, moderator seperti ini akan mendominasi pemanfaatan waktu. Dia akan ngomong banyak di depan, di tengah dan setelah pembicara dengan satu tujuan: biar kelihatan paham dan menguasai.

    Menariknya, sering kali moderator semacam ini terdengar seperti pembicara tambahan, bukan orang yang bertugas untuk memantik diskusi atau mengarahkan jalannnya forum. Yang cilaka, ulasannya kadang salah dan membuat makna materi justeru menjadi kabur atau bahkan berubah dan salah. Moderator seperti ini lupa bahwa tugasnya kadang justeru untuk mewakili keawaman peserta forum sehingga harus lebih banyak bertanya atau mengkonfirmasi, bukan mengulas, apalagi menghadirkan informasi dan teori baru.

  4. Selalu mengulang pertanyaan
    Saking inginnya berperan, moderator kadang mengambil porsi terlalu banyak dalam proses tanya jawab dengan mengulang seluruh pertanyaan. Hal ini tentu tidak selalu salah, terutama ketika pembicara memang tidak membawa catatan dan pertanyaannya cukup banyak. Kadang pembicara perlu diingatkan pertanyaan dari peserta sebelum dia bisa menjawab. Meski demikian, kebanyakan pembicara juga telah siap dengan catatan atau memiliki kemampuan mengingat yang baik akan pertanyaan peserta. Jika demikian, mengulang pertanyaan peserta hanya akan menghabiskan waktu.

    Sebagai jalan tengah, moderator bisa bertanya kepada pembicara terlebih dahulu, misalnya dengan mengatakan “baik, ada tiga pertanyaan Pak/Bu. Apakah perlu saya ulang atau Bapak/Ibu telah merekam dengan baik?” Atau bisa juga menyampaikan secara singkat pertanyaan itu dengan menyampakkan kata kunci seperti “ada tiga pertanyan tentang, metode, kendala dan perihal pembiayaan. Mari kita simak tanggapan dari Bapak/Ibu X” Dengan cara ini, waktu yang dihabiskan oleh moderator akan sangat singkat.

  5. Tidak adil kepada pembicara
    Dalam forum yang pembicaranya lebih dari satu orang, kadang tingkat keterkenalan mereka berbeda. Moderator seringkali terjebak dengan arus atau kecenderungan masyarakat untuk lebih memperhatikan salah satu pembicara karena lebih terkenal/populer. Hal ini memang sulit dihindari tetapi sebaiknya moderator berusaha nampak adil. Tantangan justru untuk menemukan hal yang baik/menarik/unik dan keren tentang pembicara yang tadinya dianggap kurang terkenal. Setidaknya durasi memperkenalkan masing-masing pembicara harus sama atau mirip dengan komponen perkenalaan (missal: nama, kelahiran, pekerjaan, kiprah yang keren atau prestasi, opini tentang suatu perkara, dll) yang juga sama. Perkenalan masing-masing pembicara harus menggunakan template yang sama.

    Ketidakadilan juga terjadi saat tanya jawab. Umum terjadi bahwa pertanyaan hanya ditujukan kepada pembicara tertentu da nada bahkan pembicara yang tidak mendapat pertanyaan sama sekali. Tugas moderator adalah menciptakan keadilan di panggung dan menyelamatkan ‘muka’ pembicara yang tidak mendapatkan pertanyaan. Misalnya moderator bisa mengatakan “saya rasa penjelasan Bapak X tadi memang sangat gamblang sehingga peserta rupanya sudah paham. Tapi saya masih penasaran soal ‘abc’ Pak. Tadi bapak menyapaikan ‘blah blah blah’. Nah itu kaitannya dengan ‘pqr’ apa ya Pak? Mohon pencerahan dari Bapak!” Masing-masing pembicara harus diposisikan sebagai bintang dan pahlawan di atas pentas.

  6. Memotong tiba-tiba tanpa peringatan
    Moderator harus memastikan penggunaan waktu sesuai dengan jadwal. Jika pembicaranya berlama-lama, moderator harus berani memotong. Meski demikian ada cara yang baik untuk memotong sehingga pembicara tidak tersinggung.

    Agar ketersinggungan bisa terhindarkan moderator harus memberitahu di awal, saat belum mulai acara dan saat biara santai, bahwa nanti moderator mungkin akan mengingatkan dan terpaksa memotong. Moderator perlu mengatakan ini dan bahkan minta maaf sebelum hal itu terjadi. Yang kedua, tatacara dan aturan ini dikemukan di awal moderasi di forum resmi agar semua orang paham. Katakan juga bahwa nanti mungkin moderator akan memotong pembicara jika diperlukan dan untuk itu moderator mohon maaf di depan. Langkah selanjutnya adalah memberi peringatan lima menit atau dua menit sebelum waktu benar-benar habis sehingga pembicara masih punya waktu untuk mempercepat atau mengubah strategi presentasinya. Hindari memotong langsung dan menghentikan tanpa peringatan.

  7. Menyimpulkan kepanjangan
    Lagi-lagi, moderator kadang merasa harus jadi orang yang pintar dan paham soal materi yang dibawakan pembicara. Pada saat selesai, ketika sebenarnya peserta seminar sudah mulai bosan dan gelisah serta pembicara juga sudah mau pulang, moderator yang kurang peka akan menyimpulkan berlama-lama. Dia akan ulas panjang lebar, padahal itu tidak perlu dan mungkin tidak didengarkan juga. Hal ini sebaiknya dihindari karena itu akan mendatangkan umpatan dan kutukan dalam hati dari para peserta. Jalan keluarnya adalah menutup singkat. Katakan bahwa tidak perlu menyimpulkan karena semua hal direkam dengan baik oleh notulen dan juga acaranya direkam (jika memang direkam) dan tutup dengan terima kasih atau pujian. Bisa juga menutup dengan satu kalimat singkat, kutipan dari jargon atau pepatah yang menggambarkan kepiawaian pembicara atau betapa pentingnya seminar ini. Selesai perkara.
  8. Sungkan memotong pembicaraan sehingga molor
    Meskipun memotong pembicaraan pembicara bisa terkesan tidak sopan, sungkat memotong saat harusnya memotong juga berbahaya. Ini bisa menimbulkan masalah baru karena menjadi tidak adil bagi pembicara lainnya dan membuat jadwalnya jadi berantakan. Seorang moderator harus berani memotong pembicara dengan cara yang baik. Maka dari itu, moderator harus berakrab-akrab dengan pembicara sebelum acara dimulai.

    Memotong atau mengingatkan perlu dilakukan dengan sopan, misalnya menunjukkan kertas berisi pesan “5 menit lagi”. Saya biasanya membawa laptop saat jadi moderator sehingga bisa menulis angka 5’ dengan font besar lalu saya tunjukkan ke pembiacara. Saat menjadi moderator Ibu Susi, saya juga lakukan ini dan beliau memahami dengan baik.

  9. Membiarkan forum berlalu tanpa pertanyaan.
    Dalam situasi tertentu, peserta tidak mau atau sungkan bertanya dan akibatnya sesi tanya jawab jadi sepi. Moderator yang kurang kreatif akan membiarkan waktu berlalu dengan kesepian yang terasa aneh. Ini harus diselamatkan. Moderator harus menyiapkan pertanyaan untuk masing-masing pembicara, misalnya dengan mengatakan “baiklah, artinya saya bisa mengajukan pertanyaan yang sudah saya siapkan kepada pembicara”. Ingat pertanyaan itu tanda perhatian, maka moderator harus menyimak dengan baik.
  10. Mengabaikan pembicara dan asyik main gadget sendiri
    Saat ini, sulit menenemukan orang duduk nganggur. Mereka umumnya bermain dengan HP atau tablet masing-masing. Menariknya, ini juga terjadi pada moderator. Setelah memperkenalkan pembicara, mereka tenggelam di HP atau tablet masing-masing dan terkesan mengabaikan pembicara. Ada kesan bahwa moderator tidak tertarik pada materi dan ini berbahaya jika nanti harus memandu tanya jawab, terutama ketika tidak ada orang yang bertanya maka moderator tidak bisa mengajukan pertanyaan yang baik. Hal ini harus dihindari dan moderator harus memperhatikan dengan seksama. Bila perlu catat poin-poin penting yang dibicarakan sehingga nanti lebih mudah menyimpulkan atau memandu tanya jawab. Singkatnya, moderator harus nampak antusias. Gunakan mimik, gerakan alis, air muka, senyum, anggukan kepala dan lain-lain saat menyimak untuk menunjukkan keterterikan atau antusiasme.

Punya tips, pertanyaan, tambahan atau sanggahan? Silakan tulis di komentar di bawah 🙂