Menyalahkan Panitia


Pagi-pagi saya sudah memasuki areal parkir sebuah kampus di bilangan Jalan Pramuka di Jogja. Saya akan bicara dalam sebuah seminar tentang beasiswa luar negeri dan segala sesuatu sudah saya persiapkan. Tak lama setelah saya mematikan mesin kendaraan, seorang mahasiswa mengenakan jas oranye mendekat dengan sigap. Begitu saya membuka pintu, dia bertanya “Bapak pembicara ya Pak?” Rupanya dia adalah panitia yang bertugas menjadi Liaison Officer untuk saya. Gerakannya sigap, komunikasinya baik dan bahasa tubuhnya cekatan. “Ya, Mas” jawab saya mantap.

Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti mahasiswa itu untuk menuju ruang tunggu pembicara. Di sepanjang jalan, mahasiswa ini tidak lupa menjelaskan bahwa hari itu ada beberapa seminar berbeda yang diadakan dalam waktu bersamaan. Tanda yang ditempel di tembok di sepanjang perjalanan kami membuat saya baru sadar bahwa seminar beasiswa yang akan saya isi adalah bagian dari sebuah acara besar yang terkait dengan motivasi dan ekonomi. Tanda itu menjelaskan dengan baik.

Tiba di ruang VIP pembicara, saya segera bertemu pembicara lain. Seorang dosen perempuan usia 40an tahun sudah menunggu dan nampak siap. Saya segera memperkenalkan diri dan memulai percakapan. “Ini ketua koperasi mahasiswa,” kata ibu dosen tersebut memperkenalkan mahasiswi yang duduk di dekatnya. “Dia yang tanggung jawab” katanya menambahkan sambil tertawa. Ini informasi tambahan yang baru saya tahu. Rupanya acara yang akan saya isi ini melibatkan koperasi mahasiswa. Bagus sekali, koperasi mahasiswa pun peduli pada beasiswa luar negeri. Saya menjadi semakin optimis dan semangat. Kami pun bertukar kartu nama dan ngobrol banyak hal. Obrolannya nyambung, meskipun ada beberapa hal yang tidak begitu saya pahami. Wajar, bidang ilmu saya berbeda dengan pembicara lain dan terutama saya tidak begitu paham tengan ekonomi dan koperasi mahasiswa. Saya menikmati obrolan yang kadang terkesan mengejutkan itu.

“Bapak Ibu, mohon berkenan ke ruang seminar, kita akan segera memulai acara” seorang panitia datang menjemput kami. Dengan pasti saya melangkah mengikuti pembicara perempuan itu dan juga ketua koperasi mahasiwa. Di pintu masuk ruangan, saya dicegat oleh salah satu panitia yang menjaga meja registrasi. “Maaf, Bapak menggantikan Bapak #$@*$%2 ya?” tanyanya menyebut sebuah nama yang tidak pernah saya dengar. Dengan mantap saya menjawab “oh bukan. Saya pembicara, tidak menggantikan siapa-siapa.” Saya mulai paham, rupanya ada pembicara lain dan saya dikira menjadi pengganti pembicara itu.

Diam-diam saya mulai tidak nyaman karena rupanya panitia tidak berusaha mencari tahu identitas saya sebagai pembicara. Ini mengecewakan. Bagaimana seorang panitia inti tidak tahu wajah dan nama pembicara seminar bahkan di Hari H? Saya menatap wajah mahasiswa pantia itu dengan tatapan tak jelas. Ada perpaduan antara merasa ‘tidak diharapkan’, menyalahkan panitia dan keraguan akan hal lain yang saya tidak pahami. Demi melihat tatapan saya demikian, panitia itu berkata “oh baik Pak. Silakan masuk Pak!” dengan ragu dan sedikit khawatir. Di wajahnya ada keraguan dan hal itu mengirimkan sinyal negatif pada saya. Dia seperti tidak percaya dengan penjelasan saya dan itu ofensif. Meski begitu saya tetap berjalan memasuki ruangan seminar mengikuti pembicara perempuan tadi.

Saya melewati susunan kursi yang sudah terisi cukup penuh. Pesertanya nampak antusias. Saya menuju deretan kursi depan dan duduk di dekat pembicara lain yang sudah duduk terlebih dahulu. Di situlah saya merasakan keanehan. Di panggung di depan, ada sebuah backdrop/spanduk yang menampilkan wajah pembicara. Yang membuat saya kurang nyaman dan bahkan sedikit tersinggung adalah tidak adanya wajah saya di sana. Apakah memang pembicara lain lebih istimewa dari saya sehingga panitia tidak menampilkan wajah saya di sana. Saya berusaha sabar dan tidak protes.

Dengan perasaan tidak tenang dan mulai terganggu, saya memperhatikan backdrop itu. Di sana tertulis kata-kata “movitasi”, “ekonomi” dan sejenisnya tetapi saya tidak melihat kata-kata “beasiswa” sama sekali. Sementara itu pembicara lain sedang bercakap-cakap dengan ketua koperasi mahasiswa dan nampak menikmati. Melihat beberapa kejanggalan itu, tiba-tiba saya merasa perlu mengklarifikasi sambil siap-siap menyalahkan pantia.

Saya bertanya pada pembicara perempuan itu dengan menjelaskan bahwa saya diundang untuk bicara soal beasiswa luar negeri. Penjelasannya cukup panjang dan perempuan itu menyimak dengan seksama. Beberapa detik setelah saya menjelaskan, dia menatap saya lekat-lekat dan mengatakan “maaf Pak, Bapak salah acara.”

PS. Cerita ini saya sampaikan sebagai pembuka saat akhirnya bisa menemukan acara seminar beasiswa yang benar di Kampus 2 Unit B Universitas Ahmad Dahlan tanggal 20 November 2016.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s