Marah, Maaf, dan Pujian


Ketika memasuki ruangan untuk pelaksanaan presentasi di sebuah acara, saya terkejut. Halaman pertama tayangan presentasi saya sudah terlihat tampil di sebuah layar besar di depan. Ini yang saya khawatirkan, panitia sudah menayangkan bahan presentasi saya sebelum saya mulai presentasi. Dengan sigap saya sampaikan ke panitia agar tayangan itu dihentikan dan panitiapun memenuhinya.

Bagi saya, tayangan presentasi sangat penting untuk menguatkan presentasi. Kali ini, ketika diminta memberi materi soal tips presentasi, saya menyiapkan strategi khusus. Halaman pertama tayangan saya adalah sebuah intermezzo penting yang saya siapkan agar peserta bisa tersedot perhatiannya sejak awal. Halaman pertama itu akan mengantarkan saya untuk menyampaikan sebuah kisah inspirasi. Artinya, tampilan slide pertama itu harus sedemikian rupa mendukung cerita saya dan obyek serta tulisan yang ada di halaman itu akan muncul dengan urutan tertentu yang menguatkan cerita saya. Urutannya harus tepat, tidak boleh ada yang muncul sebelum satnya tiba dan tidak boleh tertukar. Semua sudah saya persiapkan dan latih dengan baik.

Celaka sekali rasanya begitu saya tiba di ruangan itu, ternyata slide pertama sudah tampil paripurna. Yang saya siapkan menjadi rahasia-rahasia kecil yang mengejutkan tiba-tiba sudah tampil semua. Rupanya, panitia berinisiatif menayangkan slide itu bahkan sebelum saya datang dan dengan kreatif pula menampilkan semua obyek dan tulisan yang seharusnya muncul berurutan, itupun nanti saat saya presentasi. Inisiatif ini perlu dihargai tetapi ini termasuk kreativitas yang membuat saya panik. Saya memang lupa memberitahu agar slide-nya tidak ditayangkan dulu. Kepanikan kecil begini adalah tantangan saat presentasi. Meski begitu, saya lewati dengan baik dan tayangan sudah dimatikan. Harapan saya, peserta belum begitu ngeh saat melihat tayangan itu tadi dan masih ada harapan bahwa mereka akan melihat kejutan-kejutan yang akan saya hadirkan nanti.

Tiba saatnya persentasi, seperti biasa saya berbasa-basi menyapa hadirin, mengapresiasi kesediaan mereka untuk hadir di Hari Sabtu. Begitu saya mau mulai dan melihat layar, lagi-lagi semua informasi di slide pertama sudah tayang semua. Rupanya seorang operator sangat kreatif dan penuh inisiatif memencet-mencet keyboard laptop sehingga obyek dan tulisan yang harusnya belum muncul kini sudah muncul semua. Di situlah, jujur saja, saya merasa kesal. Bagi presenter lain, hal ini mungkin tidak jadi soal, toh bisa diulang lagi. Bagi saya ini jadi masalah besar karena presentasi saya memerlukan keterpaduan (singkronisasi) tinggi antara kalimat oral saya dengan tayangan visual. Untuk mendapatkan efek dramatis dan tajam, kemunculan obyek harus betul-betul di saat yang tepat, tidak boleh mendahului atau terlambat. Inisiatif operator untuk menampilkan semua obyek dan tulisan di halaman pertama presentasi saya tanpa menunggu instruksi saya sama saja halnya dengan melakukan spoiling, menyajikan sesuatu yang semestinya masih rahasia.

Dengan perasaan yang agak dongkol saya menghentikan presentasi dan mendekati operator itu. Hadirin tentu merasakan ketersendatan itu dan menduga ada kesalahan atau gangguan. Seorang perempuan yang nampak polos tanpa dosa nampak sedang menghadap laptop. Saya memarahinya. Ya betul, saya memarahinya dengan cukup serius. Meski saya emosional, masih untung saya bisa menguasai diri dan memastikan hadirin tidak tahu apa yang terjadi. Saya masih bisa berkelakar, “maaf terjadi kesalahan teknis yang harus diselesaikan. Inilah nasib jadi orang teknik, selalu disalahkan. Yang begini selalu disebut kesealahan teknik, bukan kesalahan biologis apalagi kesalahan Fisipol.” Hadirin tertawa.

Kepada operator itu saya sampaikan “jangan terlalu kreatif. Jangan sok tahu.” Dia tentu tidak menyangka saya akan berkata begitu. Saya benar-benar kesal dan melihat ketakutan di wajahnya. Sebenarnya saya merasa bersalah tetapi kekesalah saya yang berakumulasi jadi satu membuat saya meledak. Untung saja hadirin tidak tahu dan sesaat kemudian saya bisa tampil baik. Hadirin nampak senang dan mendapat pelajaran dari preseantasi saya. tanpa terasa waktu berlalu dan hampir dua jam terlewatkan sudah. Berbagai pertanyaan dan wajah sumringah para peserta adalah testimony paling jujur yang saya terima.

Selesai sudah tugas saya dan saya kembali ke sebuah meja yang disediakan. Sementara itu, peserta mulai bubar dan meninggalkan lokasi. Saya juga ingin segera beranjak pergi. Di tengah percakapan dengan seorang peserta, tiba-tiba saya ingat kejadian tadi. Rasa bersalah menyerang begitu dasyat dan itu sangat mengganggu. Saya ingin minta maaf pada operator tadi tapi ada keraguan. Minta maaf bukan pekerjaan mudah, terutama jika status kita adalah dosen dan maaf itu disampaikan ke mahasiswa. Terlebih lagi jika faktanya bahwa kita harus minta maaf atas kemarahan kita akibat kesalahan mahasiswa itu. Saya diliputi keraguan.

Waktu berlalu, akhirnya saya mengambil keputusan. “Tolong panggil mbak yang tadi jadi operator” kata saya meminta tolong pada seorang panitia. Beberapa menit kemudian saya melihat seorang perempuan berjalan ke arah saya penuh keraguan. Jalannya pelan dan wajahnya penuh pertanyaan. Ada juga rasa takut dan khawatir. Sementara itu saya menunggu, juga dengan satu kegelisahan. Minta maaf bukan perkara mudah.

Saya kuatkan diri lalu berdiri menyambutnya. “Tadi kamu yang saya marahin ya?” saya bertanya dengan tersenyum berusaha melunakkan suasana. “Ya Pak, maaf ya Pak” kata perempuan itu spontan sambil tersenyum khawatir, mungkin takut dimarahi lagi. “Justeru saya yang harus minta maaf. Maafkan saya atas kejadian tadi ya.” Saya berkata dengan tegas tapi dengan nuansa yang tulus sambil tersenyum. “Oh ya, Pak, tidak apa-apa. Memang saya yang salah” katanya lagi. “Nggak kok, tadi saya memang panik karena slide itu saya siapkan banget untuk tampil sesuai dengan alur presentasi saya. Saya khawatir begitu melihat slidenya ternyata sudah tampil semua, padahal harusnya belum.” Mahasiswi itu meringis tersenyum, masaih menunjukkan kekhawatiran. Saya lanjutkan “tapi sekarang, setelah melihat tips presentasi saya, jadi paham kan, kenapa kemunculan obyek dan tulisan di slide itu sangat penting untuk diperhatikan?” Mahasiswi itu tersenyum sambil berkata “ya Pak, saya paham sekarang. Maaf ya Pak.” “Okay sama-sama mohon maaf. Jangan dimasukin ke hati ya. Kita saling dukung.” Saya mengakhiri percakapan itu setelah yakin dia telah mengenal saya dengan baik dan tahu persis alasan kemarahan saya tadi. Dia segera menghilang di balik kerumunan. Rasa bersalah masih tersisa tetapi saya lega.

Beberapa menit setelah kejadian itu dan saya sedang bercakap-cakap dengan panitia, tiba-tiba seorang mahasiswi lain sudah ada tidak jauh dari saya. Dia tersenyum pertanda ingin berkomunikasi. “Ya, mbak..” sapa saya memberi dia peluang untuk berkomunikasi. Dia nampak terbata dan sedikit gelisah. Rupanya dia telah menyiapkan agak lama sebelum akhirnya memberanikan diri menyapa saya. “Saya hanya mau menyampaikan apresiasi, Pak” katanya memulai. Jujur saja, saya sudah terkesan di kesempatan pertama. Seorang mahasiswa, mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri, ke depan bertemu pembicara dan menyampaikan apresiasi (bukan pertanyaan, bukan sanggahan, bukan klarifkasi), ini adalah sesuatu yang tidak mudah. Saya mengapreasiasi tindakannya.

Meski dengan nada bicara yang agak terbata karena mungkin merasa grogi, meluncurlah segala kesan yang dia dapatkan saat mengikuti presentasi saya. Saya ikuti setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Kata-kata itu mendamaikan, kadang menerbangkan dan melambungkan. Permohonan maaf saya tadi, kepada seseorang, seperti dibayar oleh orang lain secara lunas tuntas dan tandas, hanya dengan kata-kata. Kata-kata mungkin memang bisa melukai tapi kata-kata juga bisa menyembuhkan, jika kita mengizinkannya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

8 thoughts on “Marah, Maaf, dan Pujian”

  1. Minta maaf memang bukan perkara mudah, Pak. Ego yang tinggi harus diturunkan agar permintaan maaf itu keluar dengan tulus dan tidak terkesan “humble bragging”. Terima kasih sudah menulis ini, Pak. Bisa jadi pengingat saya yang sering diliputi ego tinggi saat sedang berhadapan dengan permasalahan.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s