Penjor Galungan

galungan

Pak Wayan Sukantra, guru Agama Hindu kami saat SD, pernah bercerita. Jangan memperlakukan orang seperti penjor, katanya. Penjor itu, bagian lurusnya kita tanam tenggelamkan, bagian bengkoknya kita umbar pamerkan. Katanya, itu artinya kita lebih memerhatikan keburukan orang lain dan cenderung mengabaikan kebaikannya. Saya masih SD, usia belum genap duabelas tahun sehingga belum mampu memahami apa yang dimaksud Pak Wayan Sukantra. Bagi saya, cerita itu mengganggu karena selama ini penjor menjadi simbol kemeriahan hari raya. Penjor selalu ditemukan di jalanan di Bali ketika hari raya, terutama saat Galungan dan Kuningan. Ingatan di masa kecil tentang penjor salah satu yang membuat saya selalu rindu pulang.

Continue reading “Penjor Galungan”

Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang

Ibu, aku ingin pulang. Aku ingin pulang menemuimu lagi seperti tahun lalu. Alasanku hanya satu: aku rindu. Aku merindukan aroma pagi yang basah oleh embun dan tunduk oleh dingin kabut saat subuh. Aku merindukan teriakanmu yang dulu salah kupahami ketika menarik selimutku dan mengancamku untuk bersujud pada Sang Khaliq. Aku rindu gigil pagi saat dingin air tanah menampar wajahku yang ragu-ragu berbasuh wudhu. Aku rindu Ibu.

mubarak

Puasaku tahun ini aku niatkan untuk berserah diri tapi sejatinya ada pintaku. Aku ingin lewatkan Ramadhan untuk bersegera menemuimu. Padamu aku menemukan kasih Tuhan yang mengejawantah dalam pikir, kata dan laku. Aku tak pintar mencerna ayat-ayat suci, engkau tahu itu tapi aku tak pernah dirundung ragu akan keEsaan-Nya. Ada penegasan tentang Sang Keberadaan, tidak saja dari sentuhan hangatmu, tetapi juga dari kepedulian yang kau sembunyikan dalam kemarahanmu. Aku merindukan kemarahanmu, seperti ketika aku kecil saat menduga bahwa merafalkan ayat-ayat suci adalah siksaan di fajar buta. Aku terlambat Ibu, tapi aku menyadarinya kini.

Continue reading “Idul Fitri Tahun Ini, Aku Ingin Pulang”

Ada Malaikat Terekam Google Street View?

Belakangan ini beredar satu berita bahwa ada malaikat (atau setan) yang terekam oleh Google Street View. Saya bukan pencinta Urban Legend atau gosip-gosip murahan tetapi kadang tertarik menyimak fenomena tidak lazim. Jika Anda perhatikan peta Google Street View berikut ini, mungkin Anda punya satu pendapat. Apakah gambar ini memang malaikat atau setan atau makhluk halus lainnya? Saya tidak tahu bersis. Sangat bisa jadi gambar ini adalah hasil ilusi optis atau kesalahan teknis lainnya. Kita sering melihat gambar orang di Google Street View yang tidak utuh karena proses pengabungan gambar yang tidak sempurna, misalnya. Google Street View itu diambil dengan kamera sembilan arah yang mencakup 360° arah pandang. Gambar yang kita lihat adalah hasil penggabungan semua gambar yang dihasilkan oleh kamera tersebut sehingga sangat mungkin terjadi kesalahan atau ketidaksempurnaan obyek, terutama saat ada transisi. Coba Anda klik gambar berikut dan gerakkan/seret sesuka hati. Jika tidak bisa akses peta, coba lihat gambarnya di sini.

Continue reading “Ada Malaikat Terekam Google Street View?”

Kolak untuk Buka Puasa

http://www.tabloidbintang.com/

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.

Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.

Continue reading “Kolak untuk Buka Puasa”

Subyektif

Jika Anda menggunakan Gmail, Anda pasti tahu kalau email dengan topik/subyek yang sama akan disusun menjadi percakapan. Topik yang dibicarakan pada suatu mailing list, misalnya, akan dikumpulkan menjadi satu percakapan dengan satu subyek. Positifnya, kita tidak akan kehilangan konteks percakakapan karena bisa melihat urutan komentar dalam satu percakapan panjang. Hal ini berbeda dengan email lain yang punya prinsip satu baris email untuk satu pengirim sehingga akan ada banyak email dengan subyek sama. Maka tidak jarang kita lihat ada orang yang tiba-tiba berkomentar di mailing list tentang suatu isu yang sebenarnya sudah selesai dibicarakan. Pada emailnya, topik pembicaraan tidak muncul sebagai percakapan seperti halnya di Gmail tetapi muncul sebagai email yang terpisah-pisah. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal demikian, terutama di mailing list yang rame.

Fitur Gmail yang seperti ini juga bisa menimbulkan kesalahan. Karena disusun dalam bentuk percakapan, pernah sekali waktu saya membaca komentar dari A lalu diteruskan membaca komentar lain dari B. Karena kurang perhatian, saya masih merasa membaca komentar A ketika membaca komentar B itu. Mengingat A adalah orang yang cenderung saya sukai maka pendapat B yang saya baca juga terasa positif karena secara psikologis saya merasa sedang membaca komentar A. Pada selang waktu berikutnya, saya baru sadar bahwa itu adalah pendapat dari B yang selama ini cenderung tidak saya setujui pemikirannya. Ketika dibaca ulang, tiba-tiba hal positif yang saya rasakan ketika membaca pertama kali tadi, hilang entah ke mana. Gmail itu mengajarkan saya satu hal bawa saya tidak bisa lepas dari sifat subyektif.

Saya duga, semua orang subyektif dalam kadar tertentu, dan setiap orang pasti bias dalam melihat sesuatu. Karena demikian halnya maka yang membedakan orang adalah caranya dalam mengekspresikan kesubyektifan dan kebiasan itu. Yang terbaik tentu saja adalah yang sedapat mungkin tidak merusak. Karena semua orang pasti bias, maka saya ingin memilih untuk dibiaskan oleh banyak perpektif, bukan kebenaran tunggal, apalagi yang dipaksakan.