Ada Malaikat Terekam Google Street View?

Belakangan ini beredar satu berita bahwa ada malaikat (atau setan) yang terekam oleh Google Street View. Saya bukan pencinta Urban Legend atau gosip-gosip murahan tetapi kadang tertarik menyimak fenomena tidak lazim. Jika Anda perhatikan peta Google Street View berikut ini, mungkin Anda punya satu pendapat. Apakah gambar ini memang malaikat atau setan atau makhluk halus lainnya? Saya tidak tahu bersis. Sangat bisa jadi gambar ini adalah hasil ilusi optis atau kesalahan teknis lainnya. Kita sering melihat gambar orang di Google Street View yang tidak utuh karena proses pengabungan gambar yang tidak sempurna, misalnya. Google Street View itu diambil dengan kamera sembilan arah yang mencakup 360° arah pandang. Gambar yang kita lihat adalah hasil penggabungan semua gambar yang dihasilkan oleh kamera tersebut sehingga sangat mungkin terjadi kesalahan atau ketidaksempurnaan obyek, terutama saat ada transisi. Coba Anda klik gambar berikut dan gerakkan/seret sesuka hati. Jika tidak bisa akses peta, coba lihat gambarnya di sini.

Continue reading “Ada Malaikat Terekam Google Street View?”

Kolak untuk Buka Puasa

http://www.tabloidbintang.com/

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.

Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.

Continue reading “Kolak untuk Buka Puasa”

Selamat menjalankan ibadah puasa

Ramadhan

Subyektif

Jika Anda menggunakan Gmail, Anda pasti tahu kalau email dengan topik/subyek yang sama akan disusun menjadi percakapan. Topik yang dibicarakan pada suatu mailing list, misalnya, akan dikumpulkan menjadi satu percakapan dengan satu subyek. Positifnya, kita tidak akan kehilangan konteks percakakapan karena bisa melihat urutan komentar dalam satu percakapan panjang. Hal ini berbeda dengan email lain yang punya prinsip satu baris email untuk satu pengirim sehingga akan ada banyak email dengan subyek sama. Maka tidak jarang kita lihat ada orang yang tiba-tiba berkomentar di mailing list tentang suatu isu yang sebenarnya sudah selesai dibicarakan. Pada emailnya, topik pembicaraan tidak muncul sebagai percakapan seperti halnya di Gmail tetapi muncul sebagai email yang terpisah-pisah. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal demikian, terutama di mailing list yang rame.

Fitur Gmail yang seperti ini juga bisa menimbulkan kesalahan. Karena disusun dalam bentuk percakapan, pernah sekali waktu saya membaca komentar dari A lalu diteruskan membaca komentar lain dari B. Karena kurang perhatian, saya masih merasa membaca komentar A ketika membaca komentar B itu. Mengingat A adalah orang yang cenderung saya sukai maka pendapat B yang saya baca juga terasa positif karena secara psikologis saya merasa sedang membaca komentar A. Pada selang waktu berikutnya, saya baru sadar bahwa itu adalah pendapat dari B yang selama ini cenderung tidak saya setujui pemikirannya. Ketika dibaca ulang, tiba-tiba hal positif yang saya rasakan ketika membaca pertama kali tadi, hilang entah ke mana. Gmail itu mengajarkan saya satu hal bawa saya tidak bisa lepas dari sifat subyektif.

Saya duga, semua orang subyektif dalam kadar tertentu, dan setiap orang pasti bias dalam melihat sesuatu. Karena demikian halnya maka yang membedakan orang adalah caranya dalam mengekspresikan kesubyektifan dan kebiasan itu. Yang terbaik tentu saja adalah yang sedapat mungkin tidak merusak. Karena semua orang pasti bias, maka saya ingin memilih untuk dibiaskan oleh banyak perpektif, bukan kebenaran tunggal, apalagi yang dipaksakan.

Kebaikan yang Menyentuh

Pagi itu saya berangkat ke kampus di University of Wollongong dengan mengendari bus. Sebelumnya saya mampir di ALDI, sebuah tempat belanja, untuk membeli beberapa biji buah pir. Saya terbiasa ngemil kelau sedang bekerja.

Karena sudah jelas apa yang dicari, dalam waktu singkat saya sudah menjinjing satu kotak buah pir dan siap antri di depan kasir. Di depan saya ada sekitar empat orang yang sedang antri dan satu orang sedang dilayani. Tepat di depan saya ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Saya tersenyum ketika dia menoleh ke belakang. Diapun tersenyum lalu memerhatikan barang belanjaan saya yang hanya satu bungkus. Sementara itu, belanjaannya sangat banyak, demikian pula orang-orang yang antri di depannya. Semuanya berbelanja dengan troli besar dengan belanjaan beragam. Continue reading “Kebaikan yang Menyentuh”

Galungan


galungan

Tanggal 27 Maret 2013, umat Hindu merayakan Galungan. Definisi yang saya percaya sejak SD, Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Galungan diperingati setiap 210 hari sekali setiap Rabu, Kliwon, Dungulan. Demikianlah kalender yang dijadikan pedoman oleh umat Hindu di Indonesia dan akan cukup panjang kalau dijelaskan di sini.

Dalam suasana Galungan begini saya selalu mengenang masa kecil saat ada di Bali. Galungan identik dengan masa bersenang-senang karena saat inilah ada kemungkinan punya baju baru, meskipun tidak selalu. Di saat Galungan pula, kami, anak-anak kecil, dibolehkah bangun subuh-subuhh lalu menonton para orang tua yang menyembelih babi sehari sebelum Galungan. Yang tidak terlupakan adalah saat berebut kantung kemih babi untuk dijadikan bola atau balon untuk bermain di hari-hari berikutnya. Anak-anak kecil tidak dibebani apapun terkait ritual agama, tidak juga ada kewajiban membaca sloka-sloka Bhagavadgita dalam menyambut Galungan. Yang ada hanya satu: kegembiraan tanpa syarat.

Continue reading “Galungan”

Ucapan Natal yang salah alamat?

http://pujo.web.id/

Sore tadi, saya menerima telepon dari seorang sahabat baik. Kami berbicara banyak hal yang penting dan tidak begitu penting. Selalu menyenangan berbicara dengan sahabat baik, apapun topiknya. Di ujung percakapan dia mengucapan “Selamat Natal” dengan sangat ringan tanpa beban. Sambil tertawa renyah sayapun membalas tidak kalah santainya “Selamat Natal juga”. Jika tidak dipikir serius, ucapan ini biasa saja. Dia jadi tidak biasa karena yang mengucapkan adalah seorag Muslim dan diucapan kepada seorang pemeluk Hindu. Tidak satupun dari kami merayakan Natal dalam konteks agama. Meski demikian kami tentu saja menikmati libur natal dan akhir tahun karena sama-sama berada di Australia.

Continue reading “Ucapan Natal yang salah alamat?”

Saya jual rumah

Setelah menjaganya selama 5 tahun, akhirnya dengan berat hati saya jual rumah mungil ini. Rumah ini type 70/80 dengan 2 kamar tidur dan satu kamar untuk asisten tprumah tangga. Garasinya cukup untuk satu mobil dengan listrik, air, dan telepon beroperasi dengan baik. Di depan rumah, jalan dilapisi aspal hotmix. Rumah ini saya tawarkan dengan harga 250 juta (nego). Penawaran terdekat yang akan dikabulkan. Jika tertarik, silakan kontak saya di 081236711209.

Ini adalah rumah sejarah karena merupakan rumah pertamayg kami beli dengan keringat sendiri. Dia menandai kemandirian sekaligus kolaborasi dua keluarga besar. Karena suatu alasan yg baik, saya harus menjual rumahnya, tentu saja tidak termasuk kenangannya. Siapaun yang akan mendapatkannya semoga menikmati dan diberi kelancaran seperti halnya kami.

Lokasi: Perum Melati Permai A13, Ds. Sedan, Mlati, Sleman (Belakang Hyatt) Jogja (lihat peta).

Terang Bulan

Saat berada di Bali, saya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga. Tidak saja menemani Asti belajar, saya juga berperan sebagai tukang antar ibu saya kalau sedang melakukan aktivitas terkait bisnis kecilnya. Suatu hari saya datang dari sebuah proyek pembangunan properti di Tabanan dan mampir membeli gorengan dalam perjalanan pulang. Pedagang kali lima itu berjualan di depan sebuah toko bernama Wijaya di Jalan Kapten Tendean, di Tanah Bang (atau Pemenang, saya kurang yakin). Lokasinya tidak terlalu jauh di sebelah utara Rindam IX Udayana di Kediri, Tabanan.

Continue reading “Terang Bulan”

Selamat Kuningan