Perspektif

Dalam sebuah acara arisan…

“Aduh, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya Jeng.”

“Ya Mbak Yu. Sudah enam bulan lebih ya. Apa kabar Mbak Yu?”

“Baik Jeng. Saya baru saja datang nengok cucu di Batam.”

“Oh ya, gimana kabar putra Mbak Yu dan keluarganya di Batam?”

“Aduh, saya kasihan banget sama anak laki-laki saya itu. Hidupnya menderita betul, kelihatannya.”

“Oh ya, kenapa Mbak Yu?”

Continue reading “Perspektif”

Tukang cuci motor

dari : http://olx.co.id/

Saya memperhatikan dengan seksama anak muda belasan tahun di depan saya yang tekun mencuci motor saya yang kumalnya sudah berlebihan. Beginilah enaknya hidup di Indonesia, seseorang yang tidak kaya sekalipun bisa memerintahkan orang lain untuk mencucikan motornya hanya dengan delapan rubu rupiah saja. Tinggal menunggu sambil baca koran, dalam waktu beberapa menit saja motor sudah kembali kinclong. Meski begitu, cerita ini bukanlah tentang motor, apalagi tentang uang. Sama sekali bukan.

Continue reading “Tukang cuci motor”

Mengucapkan salam

Menjelang hari raya seperti Idul Fitri ini, dunia maya dipenuhi oleh lalu lintas ucapan salam dan selamat. Teknologi Informasi memang telah mengubah cara kita bertegur sapa dan mengucapkan salam. Dengan Facebook, mengucapkan selamat ulang tahun kini bukan perkara sulit. Mengingat hari ulang tahun puluhan teman yang 20 tahun lalu memerlukan usaha yang tidak sederhana, kini sangat mudah dilakukan. Facebook dan jejaring sosial lainnya melakukan dengan dengan senang hati untuk kita, tanpa bayaran. Sekretaris paling handal dan tidak pernah mengeluh dewasa ini mungkin bernama Facebook.

Continue reading “Mengucapkan salam”

Berbagi laut dengan Tetangga

Selat Singapura & Tg. Berakit

Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini ditandai dengan sebuah huru-hara. Tiga orang pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia. Meski sesungguhnya penangkapan ini erat kaitannya dengan tindakan pegawai KKP yang menangkap tujuh nelayan Malaysia yang konon mencuri ikan di perairan Indonesia, berita di media massa nampaknya lebih berkonsentrasi pada nasib ketiga karyawan KKP. Bisa dimengerti.

Continue reading “Berbagi laut dengan Tetangga”

Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam

Ho Chi Minh City, 6 Agustus 2010, jam 11.30 pagi

Prof. Hasjim Djalal

Setelah tragedi yang menegangkan itu, akhirnya saya menginjakkan kaki di Vietnam untuk pertama kali. Ho Chi Minh City adalah nama baru untuk Saigon, yang merupakan nama seorang tokoh terkemuka di Vietnam. Itulah sebabnya Vietnam juga dikenal dengan Negeri Paman Ho. Saya sempatkan mengamati situasi, bandara cukup besar, meskipun tata ruangnya tidak sehebat Changi yang memang luar biasa itu. Setelah melewati imigrasi yang cenderung bekerja lambat, saya bergegas ke luar dengan barang bawaan. Saya akan dijemput petugas hotel seperti dijanjikan panitia. Tidak sulit menemukan penjemput saya karena nama saya tertulis pada kertas yang ekstra besar, lebih besar dari yang lain. Pada sebuah kertas kaku yang disangga tiang besi, saya melihat tulisan “Mr. I Made Andi Arsana” terpampang. Tiangnya dipegang oleh seorang lelaki muda yang santun, penuh senyum. Diam-diam saya berharap huruf “M” di awal tulisan itu segera enyah dan berganti huruf lain yang lebih baik. Mungkin huruf “D”. Entahlah, kapan itu akan terjadi. Singkat cerita saya sudah meluncur ke hotel di sebuah mobil yang lumayan mewah. Sopirnya ramah dan tidak bosan bercerita tentang sejarah Vietnam.

Continue reading “Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam”

Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara

Bandara Sydney, 5 Agustus 2010, jam 6.17 pagi

Perempuan ramah di depan saya menggeleng sendiri, terlihat seperti sedikit kebingungan. Sayapun terpengaruh, resah datang menyelinap, entah dari mana datangnya. Saya mencium gelagat tak beres. “You are required to have a six-month passport at least. Your passport will expire in three months. You are not allowed to visit Vietnam. I am sorry.” Perempuan itu tentu bisa melihat wajah saya yang pucat pasi. Koper yang sudah dinaikkan di atas timbangan terpaksa harus diturunkan. Perasaan saya tidak karuan, akal sehat sirna lari entah ke mana. Saya kecewa sekaligus penuh sesal, mengapa tidak mengecek sebelumnya bahwa saya perlu paspor yang setidaknya masih berumur enam bulan untuk bisa pergi ke Vietnam. Sementara itu, di tangan saya masih tergenggam gulungan peta. Peta itu harus sampai di Veitnam sore itu juga. Melihat perempuan itu sibuk bertanya pada supervisornya, ada satu harapan muncul. Mudah-mudahan ada yang bisa merafalkan mantra-mantra sehingga saya bisa berangkat ke Ho Chi Minh City, Vietnam sesuai jadwal. Sore ini pembukaan workshop dilakukan dan besok siang saya akan presentasi.

Continue reading “Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara”

Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara

Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.

Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara”

Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia

Catatan tentang KIPI dan Kongress PPIA 2010

I Made Andi Arsana*

Dalam pembicaraan diselingi kelakar di sebuah warung sederhana di Jogja tahun 1998, seorang kawan mengatakan “kelak kita akan membuka buku sejarah, dan mendapati salah satu bab-nya berjudul ‘Kerusuhan di Gejayan’. Dalam bagian lain, akan ada satu pembahasan penting tentang Angkatan ’98, disejajarkan namanya dengan Angkatan ’45, dan Angkatan ’66. Namaku akan terpampang di sana, sebagai salah satu pemimpin Long March dari Grha Sabha Pramana ke Alun-Alun lalu bergerak di sepanjang Jalan Malioboro. Nama-nama kita akan tercatat sebagai generasi yang menumbangkan orde baru.” Sementara itu, saya dan beberapa kawan lain tersenyum kecil menganggap itu sebuah kelucuan biasa sambil menenggak teh manis, menyeka keringat bercucuran setelah seharian melakukan demonstrasi.

Continue reading “Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia”

Betul, penghargaan memang akan datang

Sekolahnya Lita

Saya pernah menulis di blog ini bahwa penghargaan akan datang. Tugas saya adalah berbuat yang terbaik yang saya mampu maka penghargaan yang pantas untuk kualitas yang saya berikan adakan datang. Saya yakin itu.

Sejak bersekolah di Wollongong, saya cukup sering berbagi informasi terutama kepada teman-teman yang akan bersekolah ke Wollongong. Saya merasakan, tidak mudah untuk datang ke lingkungan baru tanpa bantuan dari rekan yang sudah mengalami terlebih dahulu. Tidak istimewa sesungguhnya yang saya lakukan. Hanya membalas email, memberikan tips-tips sederhana tentang belanja, tentang transportasi, tentang komunitas Indonesia dan hal-hal sederhana lainnya. Kadang saya tulis pengalaman di blog. Hal ini berlanjut hingga saya jadi Ketua PPIA Wollongong. Hobi membantu orang ini masih berjalan. Saya katakan ‘hobi’ karena memang saya melakukan tanpa tekanan, di sela waktu luang, bukan karena kewajiban, dan dengannya saya mendapat kesenangan. Bukankah hobi memang demikian?

Continue reading “Betul, penghargaan memang akan datang”

Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing

Mereka yang melanjutkan sekolah pascasarjana (S2 atau S3) umumnya memerlukan pembimbing atau supervisor atau professor. Intinya, jika bersekolah yang ada komponen penelitiannya (menulis tesis atau desertasi), kehadiran pembimbing adalah wajib. Hal ini tentu tidak berlaku pada mereka yang menempuh studi S2 by coursework karena memang tidak diwajibkan membuat tesis. Program S2 semacam ini, setahu saya, ada di Australia yang bisa ditempuh dalam waktu setahun.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing”