25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth

Kemarin saya membaca sebuah cerita mengharukan. Seorang pemuda yang sudah berpisah dengan orangtuanya selama 25 tahun akhirnya berhasil menemukan ibunya setelah berusaha menjelajahi tempat kelahirannya dengan Google Earth. Terjadilan pertemuan yang mengharukan setelah perpisahan seperempat abad itu. Saya membuat sebuah video rekonstruksi, bagaimana orang ini berhasil menggunakan Google Earth untuk menemukan Ibunya. Silakan baca kisah selengkapnya di bawah.

Continue reading “25 tahun berpisah, bertemu lagi dengan bantuan Google Earth”

Jualan tanah lewat peta

Saya menyebut cerita ini sebagai “aspek geospasial dalam komunikasi rumah tangga”. Belakangan ini kami, saya dan Asti, istri saya, mencari-cari lokasi tanah yang dijual. Setelah sekian lama numpang di tempat mertua, mungkin sudah saatnya berpikir kemandirian meskipun titik terang sepertinya masih sangat jauh. Tapi sebagai orang optimis, saya setuju dengan Obama, we will get there. Tapi ini bukan cerita tetang Obama, apalagi tentang Pondok Mertua Indah, sama sekali bukan.

Continue reading “Jualan tanah lewat peta”

Prosa Sembilan tahun

Family in the 21st century

Kucoba menulis puisi saat terjaga dari kelelahan. Semalam, aku serahkan diri pada kuasa kegelapan. Aku ingin seperti dulu saat muda, ketika lirikan mata, senyum dan amarahmu bermuara pada sastra. Di masa muda, aku adalah pujangga karenamu. Kujelmakan tetas air, pagi yang jinak, udara yang panas dan matahari yang menikam menjadi puisi. Mantra-mantra menjadi kidung cinta. Perjalanan di ladang tandus menjadi serangkai kata-kata yang membuat para pejalan kaki tergiur iri. Tidak ada yang lebih hebat dari cinta saat aku mencari alasan untuk berkarya.

Continue reading “Prosa Sembilan tahun”

First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries

For the very first time in the universal history, Planet Earth will send its delegation to Mars to negotiate its space boundary. Following a fatal incident taking place last month around overlapping space area causing death of 150 people and 120 Martians, the United Nations Agency for Solar System Affairs (UNASSA) took an immediate action. The delegation is the first to establish in Planet Earth to deal with space boundary between Planet Earth and its neighbouring planets. The mission is to establish space boundary with neighbours by advocating the need of people in Planet Earth pursuant to the Universal Convention on the Law of the Space (UCLOS) established about two decades ago.

The signatories to the convention are growing in numbers and Planet Earth is among the first few planets to ratify. A universal tribunal has also been established pursuant to UCLOS, consisting of 101 Judges elected from different planets representing around 40 galaxies in total. Even though the judges were elected from particular planets, they serve the tribunal in their personal capacity. The tribunal, which is called the Universal Tribunal for the Law of the Space, is based in Planet Tau Ceti. The building is made in such a way to accommodate judges from different planets with significant differences in biological properties. Due to expensive cost to maintain the universal building liveable to many creatures from different planets, most of the time judges work from their home planet and work collaboratively through inter-galactic telecommunication network. It seems that time and space travel has yet to be enhanced to make the collaboration possible and effective. Teleconference is by far viewed as the most possible solution for intergalactic interaction.

Continue reading “First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries”

Orang Sakti

Saya masih sering tercenung terpana mendengar cerita dari ibu mertua soal kakek beliau yang konon sakti. Kakek buyut, begitu semestinya saya memanggil beliau, adalah seorang dalang yang kata ibu, bisa mendalang di dua tempat sekaligus. Di satu malam beliau disaksikan oleh warga sebuah kampung di Jawa Timur, konon pada saat yang sama beliau tengah memukau kerumunan lainnya di kampung yang jauh jaraknya. Kakek buyut, kata ibu saya, memang sakti mandraguna.

Continue reading “Orang Sakti”

Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri

Saya sering mendapat pertanyaan dari pejuang beasiswa luar negeri (biasanya Australia Awards Scholarship (AAS) atau dulu dikenal dengan nama ADS) yang bernada seperti ini:

“saya alumni jurusan xxx dari uiversitas yyy. Saat ini saya sedang bekerja di zzz. Jurusan apa yang kira-kira cocok untuk saya dan di universitas mana ya?”

Karena saya tidak bekerja sebagai konsultan pendidikan, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih tidak mudah lagi karena bidang ilmu si penanya sangat amat jauh dengan apa yang sedang saya pelajari. Awalnya saya senyum-senyum saja menerima pertanyaan seperti ini dan di kesempatan lain ada perasaan kurang nyaman juga. Coba dibayangkan, misalnya, ada orang yang memiliki latar belakang aktuaria (jangan khawatir, saya juga tidak tahu barang apa ini) dan tiba-tiba mengirim email pada saya dan minta nasihat jurusan dan universitas yang tepat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penanya ini tidak tahu bahwa saya adalah sarjana Teknik Geodesi yang pekerjaannya bercengkrama dengan peta dan sekali-sekali berurusan dengan perbatasan.

Continue reading “Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri”

Only when silent we listen

Beasiswa ADS 2013 telah dibuka!

Kemungkinan yang ingin Anda cari adalah Beasiswa ADS 2014 karena untuk 2013 sudah tutup. Pendaftaran ADS 2014 dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013. Untuk informasi lebih lanjut silakan baca baca posting ini atau lihat halaman  Beasiswa ADS secara langsung atau silkan klik gambar berikut:

When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia

When Andi met Sharon

Wollongong, 21 Februari 2012
Sore itu saya sedikit gelisah, duduk di deretan tengah kursi shuttle bus yang mengantarkan saya ke kota Wollongong. Berkali-kali saya lirik jam di pergelangan kiri, waktu menunjukkan pukul 1.40 sore. Hari itu saya memiliki janji pertemuan dengan seseorang di kantornya di Crown Street. Saya menggunakan bus gratis dari Innovation Campus, University of Wollongong di Fairy Meadow.

Saya bergegas meninggalkan halte bus segera setelah keluar dari bus yang melanjutkan perjalanannya di sepanjang Bureli Street. Langkah saya menjadi semakin cepat karena waktu sudah mendekati jam 2 sore. Langkah saya dipandu Google Maps dari layar iPhone dengan titik yang berkedip menuntun hentakan kaki yang teregesa. Memang baru pertama kali saya ke kantor tersebut sehingga saya mengandalkan peta.

Di depan sebuah kantor terlihat sebuah papan tergantung bertuliskan “Sharon Bird – Federal Member for Cunningham”. Langkah saya terhenti, ada perasaan berdebar-debar sebelum melanjutkan langkah memasuki ruangan.

Continue reading “When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia”

Road to Australia – Pre-Departure Training

Wollongong Menyapa

Mereka yang sudah dipastikan mendapat beasiswa ADS tahun 2012 ini boleh bersenang hati, bersyukur atas perjuangan yang berbuah baik. Meski begitu, ini adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah. Hal pertama yang harus dijalani adalah Pre-Departure Training atau PDT yang durasinya tergantung pada besarnya nilai IELTS saat diuji oleh pihak ADS. Secara umum, durasi PDT adalah 9 bulan bagi yang IELTSnya 5; 6 bulan bagi yang IELTSnya 5,5; 3 bulan bagi yang IELTSnya 6; 8 minggu bagi yang IELTSnya 6.5 tetapi masih ada band di bawah 6; dan 6 minggu bagi yang IELTSnya sudah 6,5 atau lebih dan tidak ada band di bawah 6. Meski demikian, peserta dengan IELTS 6 dan writing di bawah 5,5 akan menjalani PDT selama 6 bulan.

Tujuan utama dari PDT adalah menyiapkan penerima beasiswa agar sanggup mengikuti perkuliahan di Australia baik itu dalam hal akademik maupun budaya. Dalam PDT ada materi English for Academic Purposes dan Cross Culture Understanding. Perlu diingat, secara umum syarat nilai IELTS untuk bisa berangkat ke Australia dengan beasiswa ADS adalah 6,5 dengan masing-masing band minimal 6. Oleh karena itu, tujuan praktis dari PDT adalah menyiapkan para peserta untuk bisa mencapai syarat ini. Meski demikian, tujuan idealnya tentu saja adalah menyiapkan peserta agar siap secara lahir maupun bathin dalam mengikuti pendidikan di Australia yang secara signifikan berbeda dengan Indonesia.

Continue reading “Road to Australia – Pre-Departure Training”