Selepas Trisandya malam, Made Kondang tertidur di altar pemujaannya. Dia kelelahan karena seharian bekerja keras. Tidak biasanya, Kondang bermimpi. Dia bermimpi bertemu Tuhan.
Category: Contemplations
Protes Perokok

Suka duka bekerja sebagai tukang bersih-bersih lantai di sebuah tempat hiburan sangatlah banyak. Salah satu yang membuat saya kelimpungan adalah sulitnya membersihkan abu rokok yang menempel di karpet karena terinjak-injak. Di tempat saya bekerja, ada sebuah ruangan mesin poker yang mengijinkan pengunjungnya merokok. Seperti layaknya di Australia pada umumnya, ruangan ini pasti jauh lebih kecil dibandingkan tempat bebas asap rokok. Meskipun kecil, waktu yang diperlukan untuk membersihkan bisa lebih lama karena abu rokok serta puntungnya yang berserakan dan menempel di karpet. Vacuum cleaner tidak berfungsi banyak.
Buku untuk Elin

Saya mendapat kiriman sebuah foto dari Asti, istri saya, lewat email. Di foto itu nampak seorang anak perempuan membaca komik dengan tekun. Di sampingnya duduk dua bayi yang nampaknya anteng untuk ukuran bayi seusia mereka. Saya tahu, anak perempuan ini Bernama Elin, dia tetangga kami di kampung di Bali. Dari foto itu saya merasakan kesenangannya membaca, seperti menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin lama dirindukan tetapi tidak diketahuinya. Saya amati foto itu lekat-lekat, sebuah kombinasi yang ganjil dan mengharukan. Seorang anak kecil dengan pakaian sederhana, duduk takzim membaca buku sambil memastikan dua orang adik bayinya baik-baik saja.
Rasis, nasionalis dan primordial
Genjo sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya sesama mahasiswa Indonesia di perantauan. Kali ini bukan tetang tesis tetapi soal pekerjaan paruh waktu. Part time job, kata orang-orang pinter.
Menera ulang nasionalisme

Tahun 2007, saya berkunjung ke Canberra dan mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik. Pembicaranya adalah mahasiswa dan peneliti Indonesia yang bermukim di Australia. Topik menarik yang diangkat adalah ‘pilihan peneliti Indonesia untuk bertahan di luar negeri atau kembali ke tanah air’. Urusannya tentu saja tidak sederhana dan pertanyaan itu, seperti bisa diduga, tidak bisa dijawab dengan singkat. Benar saja, pembicara memberikan berbagai terori. Bahwa bertahannya para peneliti Indonesia di luar negeri tidak selalu merupakan gejala brain drain, alias kaburnya asset intelektual bangsa karena godaan di negeri seberang lebih baik. Gejala ini juga merupakan brain overflow, alias tumpah dan melubernya asset intelektual hingga ke luar negeri karena di dalam negeri tidak tertampung. Sang pembicara menceritakan usahanya mencari pekerjaan di Indonesia lewat fasilitas internet (email) tetapi satupun tidak mendapatkan respon. Jangankan diterima, dibalaspun tidak. Berita penolakan juga tidak pernah ada, katanya berkelakar.
Mesin Poker

Saya bekerja menjadi petugas kebersihan di sebuah tempat hiburan di Wollongong. Salah satu tugas saya adalah membersihkan mesin poker, mesin yang digunakan untuk bermain dan biasanya disertai dengan judi. Sesuai instruksi pelatihan saya selalu membersihkan layar mesin poker dan tombol-tobolnya agar terbebas dari bekas sentuhan tangan. Sidik jari harus benar-benar hilang dari tombol-tombol itu dan layar mesin poker kembali mengkilat sebelum digunakan setiap harinya.
Euthanasia

Saya memacu mobil sekencang mungkin. Akhir pekan ini jalanan tidak ramai tetapi batas maksimal kecepatan tetap berlaku. Meskipun tidak ada polisi, rambu lalu lintas di tepi jalan yang dengan tegas memamerkan angka 60 berlaku sama dengan kehadiran seorang polisi. Tidak seorang pun berani melanggarnya. Saya pastikan kecepatan mobil saya hampir 60 kilometer per jam, kecepatan maksimal yang diperbolehkan di Crown Street. Sesekali saya melirik tubuhnya yang lemas di sebelah kiri saya. matanya terpejam, tutuhnya bergerak lemah dan nafasnya turun naik sangat halus. Mulutnya sesekali ternganga, nampak jelas dia sedang sekarat.
Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran
Ada hal yang belum pernah saya kisahkan di blog ini. Ketika saya dipanggil untuk ujian wawancara Australian Development Scholarship (ADS) pada bulan November 2002 silam, saya dalam keadaan tidak bersemangat. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, saya tidak terlalu bergembira. Biasa saja. Bukan karena saya meremehkan Australian Development Scholarship dan telah yakin akan dipanggil, semata-mata karena saya tidak menjadikan Australia sebagai tujuan utama pendidikan lanjut saya. Eropa adalah satu-satunya tempat yang terbersit di benak saya ketika itu. Belanda menjadi negara yang lebih spesifik lagi. Semetara itu, ADS ketika itu adalah sebuah kisah sambil lalu bagi saya. Kalau dapat, bagus, tidak dapat juga tidak masalah. Gejolak jiwa muda, Eropa adalah mimpi.
Continue reading “Ketika Gagal Meraih Beasiswa: Sebuah Pelajaran Kejujuran”
Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali
Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.
Continue reading “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”
Yang istimewa dan yang tidak

Meski tidak terlalu suka komik, saya pernah membaca cerita Donald Bebek yang terkenal di tahun 80-90an. Satu cerita yang berkesan adalah tentang petualangan Paman Gober (atau tokoh lain, saya sudah lupa) ke Planet Mas. Dia diundang ke Mas untuk membantu penduduk Mas menemukan tanah di planet mereka. Berdasarkan penelitian para penghuni Mas itu, tanah yang ada di Bumi sangatlah bagus untuk bercocok tanam dan menjadi sumber kehidupan. Mereka berpikir, kalau saja mereka berhasil menemukan tanah di Planet Mas tentu saja sangat bermanfaat untuk kehidupan mereka.

