Kawan, kalau saja keberhasilan itu seperti kuat arus (I) yang memang harus kamu capai, maka kamu punya Voltase (V) dan Resistensi (R) yang harus dikelola. Voltase itu kemampuanmu dan Resistensi itu segala hambatan yang harus kamu hadapi. Tahukan engkau kawan, Voltase itu bertengger di atas dan Resistensi itu nangkring di bawah. I = V/R, demikianlah dunia menyepakati. Makin besar kekuatan yang kamu miliki maka makin besar pula potensi keberhasilannmu. Sebaliknya, hambatan yang besar akan mengecilkan peluang keberhasilanmu.
Category: Contemplations
Satu Rahasia

Jujurlah bahwa sesungguhnya pernah ada urusan yang tertunda diantara kita. Saat gelayut waktu mengijinkan pertemuan itu maka tak kuasa kausembunyikan rahasia. Sebuah kisah yang rapi tersimpan, terpupuk hanya oleh rasa kagum dan galau yang menjadi satu. Ada pertanyaan yang tak pernah terjawab, mengapa waktu tidak meluluskan semua doa tentang harapan-harapan yang terasa hebat di masa muda? Tapi itulah maha karya sang waktu. Misterinyalah yang menjadikannya sempurna.
Merenungi 2010
Sebenarnya semua penggal waktu bisa menjadi istimewa. Sebaliknya, semua periode bisa jadi tidak istimewa jika dibiarkan berlalu begitu saja. Tahun 2010 tidak ada bedanya, dia istimewa, sekaligus juga tidak. Tergantung masing-masing orang melihatnya. Bagi saya, setiap penggal waktu itu bermakna.
Januari 2010, buku populer pertama saya terbit di Jakarta oleh Lingkar Pena. Setelah lama sekali berproses dan mengalami ketidakmenentuan, akhirnya buku itu terbit juga. Cincin Merah di Barat Sonne (CMBS), demikian judulnya dan mulai beredar bulan Januari 2010. Tentu saja saya sangat bahagia dan bangga, meskipun buku itu tidaklah sedasyat Laskar Pelangi atau buku-buku laris lainnya. Setidaknya saya mengerti betapa tidak mudahnya menerbitkan sebuah buku populer.
Bola
Made Kondang ragu-ragu mengangkat tangannya dan berteriak. Ada yang tidak pas karena tidak biasanya dia begini, bersemangat dan berdebar-debar menyaksikan bola tergelincir di lapangan hijau dan mengungsi dari kaki ke kaki. Ini jelas bukan dirinya. Bukan Kondang yang dikenal banyak orang kalau lelaki itu lalu menjadi orang biasa yang berteriak, histeris dan berdebar karena sebutir bola.
Namun bola itu kini istimewa. Istimewa karena dia menjadi satu-satunya pusaka kebersamaan desa pekraman yang lama ditinggalkan Kondang. Saat kelihan banjar, nak lingsir, tukang angon dan penyiang gulma sudah kehilangan dan tidak bisa menjadi teladan, bola itu seperti malaikat, datang tiba-tiba dan menyatukan.
Terpasung di perempatan

Aku berkelana di sebuah desa, menyusuri jalanan yang terjalin dari bebatuan berukir ulah manusia yang fana. Gelap jalanan itu, berhias temaram lampu minyak. Di tepinya berderet gapura-gapura dan benteng ringkih yang melindungi istana-istana kecil yang mengenaskan. Penjaja hidangan bersemu sendu mematung di sudut-suduh jalan bercahayakan lentera yang juga temaram. Lehernya kurus, keriput dan panjang, wajahnya tirus lesu namun menatap tajam. Rambutnya putih pucat terurai hingga bahu. Telinganya panjang berjuntai menyentuh pundaknya yang telanjang dan keriput. Sesekali dia menyeringai, giginya kehitaman, sisa-sisa tembakau bersembunyi lekat berbaur dengan sirih dan gambir yang pekat dan pucat. Wajah itu tak kan kaulihat di sembarang tempat. Aku melihatnya karena aku adalah sang waktu yang selalu melihat dan mencatat.
Tampang

Awal Juni 2006, hampir jam 12 malam
Saya mengendari motor butut saya, melaju dari kampus menuju rumah. Memang hari telah larut, saya terlibat dalam tim penanggulangan gempa Jogja yang menghebohkan itu sehingga bekerja sampai larut malam. Apalagi kalau bukan utak atik peta dan sistem informasi geografis. Sampai di pintu gerbang teknik (portal), saya tertegun karena portal sudah terkunci. Selarut itu, orang tidak saja dilarang masuk Fakultas Teknik, mereka juga tidak bisa keluar. Parahnya lagi, penjaga tidak ada. Saya kebingungan dengan tampang lusuh, jaket kumal dan motor tak terawat.
Saya beranjak mendekati KPTU Teknik UGM, melihat ada seorang lelaki petugas keamanan yang sedang membersihkan plaza. Saya menyatakan maksud saya untuk keluar. “Wah, sudah tutup dari tadi Mas!” kata si bapak dengan wajah yang agak terheran melihat ketidaktahuan saya. “Saya baru saja selesai kerja di kampus Pak. Gimana ya?” saya mencoba meminta pendapat sekaligus bantuannya dengan harap-harap cemas. “Sudah nggak bisa. Sudah tutup gerbangnya Mas!” katanya mulai agak kesal sambil tidak berhenti menyapu. “Kok tutup sih Pak?” lagi-lagi saya bertanya polos karena benar-benar tidak tahu kalau kini Fakultas Teknik ditutup malam-malam. Saya memang baru saja pulang dari Australia setelah dua tahun sekolah di Sydney. “Lho, ndak tahu to!? Sudah lama! Kamu anak mana to?” si bapak bertanya, kali ini dengan tampang sedikit galak.
Asumsi

Saat akan ke Monaco, saya melewati imigrasi di Bandara Sydney. Seperti biasa, ada pemeriksaan paspor. Saya menuju ke loket dengan petugas yang nampak berwajah Asia, kemungkinan besar Filipina. Sebelum saya bicara apa-apa dan sebelum dia memeriksa passpor saya dia mengeluarkan satu kalimat yang tidak saya mengerti artinya. Saya tahu itu Bahasa Tagalog. Dia pastilah menduga saya asli Filipina, seperti dirinya.
“Maaf Pak?” saya balik bertanya kepada dia, kali ini dalam Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Tentu saja dia tidak mengerti apa yang saya bilang, tetapi segera yakin saya bukan orang Filipina.
“Oh, I thought you are a Philippino!” katanya dengan ringan sambil tersenyum.
Tentu saja tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Perlakuan seperti ini sering saya alami di luar Indonesia. Petugas keamanan Gedung PBB di New York juga melakukan hal yang sama ketika saya memasuki gedung itu. Banyak satpam di sana berasal dari Filipina dan tanpa pikir panjang berbicara dalam Bahasa Tagalog dengan saya. Ada asumsi yang bermain di sini. Lebih sering saya tidak hiraukan, tetapi sekali waktu saya merasa agak terganggu juga. Saya menduga ini adalah bentuk sederhana dari sikap ‘stereotyping’ atau ‘generalising’ secara berlebihan. Sangat berbahaya bermain dengan asumsi karena kita tahu, “assumption is the mother of all f**k ups!” Kadang merasa perlu untuk melayani permainan asumsi ini.
Neraka bertobat
Dahulu, malam yang dingin dan angin yang lirih adalah alasan yang bijak untuk melantunkan puisi. Kesendirian dan pergulatan pikir yang tiada bertepi adalah paduan nan digdaya untuk meceritakan keindahan cinta. Tapi itu dulu. Di masa lampau ketika masih tersisa sebaris misteri di lorong-lorong hati yang penasaran. Dahulu kala, ketika jiwa masih muda dan liar bergairah. Ketika itulah, tatapan menjelma menjadi sabda, dan kata-kata tak kurang dari hukum yang padanya segenap nyawa dan belantara bersimpuh memohon ampun.
Back for good

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.
Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.
Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.
”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.
Perspektif
Dalam sebuah acara arisan…
“Aduh, sudah lama sekali kita tidak ketemu ya Jeng.”
“Ya Mbak Yu. Sudah enam bulan lebih ya. Apa kabar Mbak Yu?”
“Baik Jeng. Saya baru saja datang nengok cucu di Batam.”
“Oh ya, gimana kabar putra Mbak Yu dan keluarganya di Batam?”
“Aduh, saya kasihan banget sama anak laki-laki saya itu. Hidupnya menderita betul, kelihatannya.”
“Oh ya, kenapa Mbak Yu?”