Sarjana satu dekade

Wisuda Master of Engineering di UNSW

Ketika saya berdiri di depan Pak Ketut Merta, Kepala Sekolah Dasar 1 Tegaljadi, di suatu pagi yang cerah di pertengahan 1984, saya tidak berpikir jauh. Yang pasti tidak lebih jauh dari teritori Kabupaten Tabanan yang ketika itu terasa sangat luas. Dalam pikiran saya, dunia sesederhana ujian masuk SD yang berlaku khusus untuk saya ketika itu yaitu menghitung sampai lima dan mengetahui arah mata angin. Tahun 1984, kesederhanaan itu terasa begitu rumitnya.

Continue reading “Sarjana satu dekade”

Sekretaris Pribadi

Saat berkunjung ke rumah seorang kawan di New Castle, saya mendapati sebuah kalender yang sudah cukup tua umurnya. Ternyata itu adalah kalender ulang tahun, alias birthday calendar. Terus terang, saya baru benar-benar memperhatikan sebuah kalender ulang tahun dalam bentuk fisik seperti itu. Sejak mengenal internet, terutama jejaring sosial digital, bagi saya birthday calendar adalah perangkat lunak dengan basisdata tanggal ulang tahun. Kawan saya, pemilik rumah, mengatakan “this calendar has birthdays of everybody in our extended family and close friends”. Memang penting untuk mengingat hari lahir orang-orang yang dicintai dan birthday calendar sangat membantu hal ini.

Continue reading “Sekretaris Pribadi”

Did he have passion?

Di ulang tahun saya yang ke-30, saya membuat sebuah obituari, tulisan ucapan selamat jalan bagi orang yang meninggal. Itu sekedar ide iseng saja, mungkin karena saya suka film drama berjudul Serendipity yang dibintangi John Cusack bersetting di New York itu. Jonathan Trager (Cusack), diingatkan oleh sahabatnya tetang sebuat filosofi hidup dengan menuliskan sebuah obituari untuknya. Tentu saja aneh, karena obituari biasanya ditulis untuk orang yang sudah meninggal. Meskipun itu bukan obituari yang sebenarnya dan Jonathan memang masih hidup, tulisan itu menginspirasinya dan menyadarkannya tentang sesuatu yang akhirnya mempertemukannya dengan apa yang dicarinya sekian lama.

Continue reading “Did he have passion?”

Cinta Monyet, Cinta Kingkong

Setiap kali saya ajak bertemu teman-teman, ibu saya kadang khawatir. Umumnya beliau merasa tidak imbang jika harus berhadapan dengan teman-teman saya yang menurut beliau berpendidikan. Saya selalu mengingatkan dengan kelakar, “saya juga kan orang sekolahan, buktinya masih gini-gini aja”. Ibu saya tentu paham maksudnya karena di matanya saya mungkin tidak pernah berubah. Masih saja seorang anak kecil meskipun sudah berkeluarga. Orang-orang seperti ibu saya seringkali salah menduga perilaku dan sikap orang-orang berilmu, karena tidak mengenal. Atau karena terlanjur menetapkan sendiri standar perilaku orang-orang di sekitarnya. Bagi Ibu saya, orang-orang pintar itu mungkin harus menyeramkan.

Continue reading “Cinta Monyet, Cinta Kingkong”

Kartini Sekartaji

Kartini telah lama tiada ketika perempuan usia hampir tigapuluh tahun itu bergegas di suatu sore, menyusuri Tukad Sekartaji di pedalaman Tabanan. Kartini pastilah tidak tahu, kaumnya sedang berkejaran dengan gelap dan tak ingin terjebak dalam perjalanan panjang tanpa cahaya. Digendongnya seorang bocah belia yang belum paham akan keberadaan dan bahkan belum cakap membedakan tangan kiri dan kanan. Disusurinya senja yang temaram itu, berpacu dengan laju air di Tukad Sekartaji yang berlalu tak peduli.

Era delapanpuluhan masih belia dalam usia, perempuan itu hidup berjauhan dengan kemewahan dan bahkan tidak akrab dengan kecukupan. Desa Piling di Penebel dan Tegaljadi di Marga kerap ditempuhnya dengan lebih banyak berjalan kaki. Senja itu tiada istimewa karena perjalanan itu tidak terlalu jauh urusannya dari menggali atau membayar hutang atau menuai belas kasihan yang ditukar dengan sarapan pagi keluarga.
Continue reading “Kartini Sekartaji”

Anak zaman sekarang

http://www.moviebase.info/

Antingnya tidak saja di telinga, tetapi juga di hidung. Di panas terik, lelaki itu bertelanjang dada dengan celana yang melorot memperlihatkan sebagian celana dalamnya. Keringatnya mengucur melintasi gambar tato yang melingkar-lingkar di dada hingga punggungnya. Lengannya yang putih juga berhias tato semacam rantai atau kawat berduri yang melilit. Tangan kanannya memegang jepitan dan sibuk membolak-balik daging sapi yang dipanggang di atas kompor BBQ, sementara tangan kirinya memegang sebotol bir merek Tohey yang cukup terkenal di Australia. Mulutnya secara konstan melontarkan berbagai kalimat diselingi tegukan bir yang nampak begitu nikmatnya.

Continue reading “Anak zaman sekarang”

Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia


Prof. Rais

Ketika Presiden SBY dinobatkan menjadi salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Time, Anwar Ibrahim yang mendapat kesempatan menuliskan ulasannya. Obama, yang juga terpilih dari seratus itu, dibahas oleh Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. Yang mengulas dan diulas memiliki kapasitas yang sebanding, demikian saya melihatnya. Menuliskan tentang SBY atau Obama, tentu banyak yang bisa dan bahkan mungkin lebih baik dari yang mampu ditulis oleh Anwar Ibrahim atau Gordon Brown. Persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Tulisan itu mewakili sebuah atoritas, maka penulisnya disebut author. Menulis adalah persoalan authorship, persoalan legitimasi pengetahuan dan ‘pemegang hak’ yang layak dan diakui berpendapat tentang sesuatu.

Ketika Prof. Jacub Rais berpulang menghadap Sang Khalik, saya menunggu-nunggu seorang dengan otoritas yang cukup untuk menuliskan tentang beliau. Saya ingin sekali membaca sebuah obituari tentang Sang Perintis Geodesi Indonesia itu oleh seseorang yang punya otoritas. Siapa yang berhak menulis tetang Prof. Rais? Sekali lagi, siapapun bisa menulis, yang mempunyai ‘otoritas’ keilmuan ini yang penting, karena yang berpulang adalah seorang Ilmuwan. Seperti SBY yang disetarakan dengan Anwar Ibrahim dan Obama yang disejajarkan dengan Gordon Brown, maka Prof. Rais tentu punya padanannya. Jika ditanya satu persatu, mudah ditebak tidak akan ada yang dengan lantang mengakui kesetaraan itu. Bukan perkara kebiasaan orang Nusantara yang memang malu-malu menonjolkan diri, Prof. Rais memang sulit dicarikan padanannya di tanah air tercinta. Di kepala saya, sebagai orang muda di bidang geodesi-geomatika, sebenarnya mampir beberapa nama yang sekiranya layak menuliskan obituary ini. Akan saya simpan sendiri sebelum harapan itu menjadi kenyataan.

Continue reading “Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia”

Selamat jalan Prof. Rais

Indonesia kehilangan seorang tokoh perintis dan pejuang Geodesi-Geomatika Indonesia. Selamat jalan Prof. Jacub Rais. Jejak langkahmu akan menjadi teladan insan geospasial Indonesia. Semoga arwahmu mendapat tempat yang layak sesuai amalmu.

Aksi

Lita meluncur

Tiap kali pulang ke Bali, saya sering mendapat tugas mengantarkan ibu saya ke Denpasar untuk berbagai urusan. Ada kesenangan tersendiri mengulang lagi apa yang terjadi sejak belasan tahun lalu. Momen yang saya sukai adalah bercerita sambil nyetir, membahas banyak hal yang penting dan tidak penting.

Suatu kali kami melewati sebuah kemacetan di Badung menuju Denpasar. Cuaca yang panas dan klakson yang berlomba menambah runyam suasana. Semua orang memasang tampang gelisah, tidak sedikit yang mengumpat tetapi tidak satupun berbuat apa-apa. Mengatasi kemacetan memang bukan tugas pemakai jalan, tetapi tugas polisi. Hampir semua orang meyakini begitu. Saya melihat ada satu jalan alternatif yang kosong, meskipun itu satu arah. Saya membayangkan, kalau saja kali ini aturan satu arah itu diubah sebentar saja, barang dua atau tiga jam, tentu kemacetan ini bisa diatasi. Tapi itu hanya ide, tidak ada polisi dan sayapun hanya seorang pemakai jalan biasa. Macet tetap berlangsung, tidak berkesudahan.

Continue reading “Aksi”

Hukum Fisika Tetangga

Made Kondang mencoba merenung-renungkan apa saja yang baru dibacanya di koran. Negara yang bertetangga bisa berseteru. Indonesia dan Malaysia sering berselisih. Belum tuntas itu, dua Korea bersaudara beradu senjata. Belum sampai kelar keduanya, kini Thailand dan Kamboja bersitegang. Tak saja materi, nyawa telah menjadi bayaran ketegangan antar tetangga. Kondang tak habis pikir mengapa tetangga bisa begitu rupa.

Continue reading “Hukum Fisika Tetangga”