Did he have passion?


Di ulang tahun saya yang ke-30, saya membuat sebuah obituari, tulisan ucapan selamat jalan bagi orang yang meninggal. Itu sekedar ide iseng saja, mungkin karena saya suka film drama berjudul Serendipity yang dibintangi John Cusack bersetting di New York itu. Jonathan Trager (Cusack), diingatkan oleh sahabatnya tetang sebuat filosofi hidup dengan menuliskan sebuah obituari untuknya. Tentu saja aneh, karena obituari biasanya ditulis untuk orang yang sudah meninggal. Meskipun itu bukan obituari yang sebenarnya dan Jonathan memang masih hidup, tulisan itu menginspirasinya dan menyadarkannya tentang sesuatu yang akhirnya mempertemukannya dengan apa yang dicarinya sekian lama.

Dalam obituari yang saya tulis tiga tahun lalu saya menyampaikan doa saya, seperti apa akhir hidup yang saya inginkan. Saat berualang tahun ke-33 saya bertanya hal yang sama: bagaimana jika saya meninggal hari ini? Jika ada orang yang berbaik hati menuliskan obituari untuk saya, seperti apa obituari yang akan membuat perjalanan saya menghadap Tuhan menjadi lapang dan melegakan? Kontemplasi ini mungkin adalah sebuah logika berpikir yang terbalik, saya ingin memulai sesuatu dari akhir. Dengan membayangkan, apalagi mengetahui dengan jelas akhir dari sebuah perjalanan, konon kita akan mampu menjalani dengan perencanaan yang lebih baik. Seperti itulah alasan mengapa obituari bisa menggantikan ucapan selamat ulang tahun.

Di masa kecil, saat menyimak kisah Sahur Sepuh di tahun 80-an, saya pernah bermimpi menjadi pendekar yang oleh dunia persilatan disebut sebagai orang yang disegani kawan dan lawan layaknya Brama Kumbara. Sebuah mimpi yang muluk-muluk dari seorang anak SD yang masih sangat belia. Kenyataannya, setiap orang memang memiliki kawan sekaligus orang yang tidak menyukai. Sebut saja lawan. Sahabat saya pernah menasihati, “tidaklah patut kita berdoa agar semua orang menyukai kita. Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan diri kita agar bisa menyukai lebih banyak orang.” Entah apa maknanya, kira-kira ini mirip dengan prinsip kawan lainnya yang mengatakan “untuk mendapat teman yang banyak, jangan mencari teman tetapi jadilah teman yang baik”. Dalam obituari saya nanti, kawan dan lawan semoga mendapat kehormatan yang sama untuk berekspresi.

Kadang-kadang saya berpikir lagi, hidup mestinya tidak serumit itu dan biarkan saja mengalir. Mungkin sebaiknya orang tidak usah bertanya dan tidak membayangkan kematian. Apapun itu, saya tetap setuju bahwa meskipun orang Yunani tidak membuat obituari, tetap ada satu pertanyaan penting yang diajukan saat kematian seseorang “did he have passion?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Did he have passion?”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s