Kecantikan di Taman Keraton

Keraton, sudah kutegaskan kepadamu, tidak selalu kejam. Bahwa dia kadang angkuh dan dingin, semata-mata karena harus menjaga wibawa. Itu saja. Aku bertemu dengan orang-orang termasyur itu siang tadi, mereka menyapaku dengan ragu-ragu seakan tak hendak mengenal. Atau karena dinginnya taman kerajaan yang merambat menjalar pada serpihan-serpihan hati yang bersembunyi di dada mereka, entahlah. Mungkin juga, karena orang-orang keraton harus tampil berwibawa mempesona.

Tapi itu hanya sesaat. Setelah kuperagakan sinar-sinar yang berkelebat itu, mereka tak kuasa menahan kehangatan yang menyeruak mengemuka. Di dalam dada mereka, api bara yang terkungkung itu menyala dan membakar. Mengejawantah menjadi senyum lalu bermanifestasi menjadi puja dan puji. Sinar-sinar yang berkelebat itu adalah warisanmu, aku mengandalkannya untuk menghangatkan taman kota yang menggigil nyaris beku.

Seperti rencanaku aku bertemu kecantikan itu di sela-sela dingin yang menghukum. Kehangatan itu disembunyikannya seakan ingin dikuasainya sendiri. Maka dari itu dia menjadi pesona. Keraton ternyata menyembunyikannya rapi. Aku hanya pejalan kaki yang merasa cukup dengan memandang. Seperti yang kamu kabarkan, kecantikan itu tumbuh di ladang-ladang yang tidak boleh dijamah, tepat di taman keraton.

 

 

 

Saling menuduh

Suatu siang di Jogja

“Gila panas banget ya!?” Dewi mengibas-ngibaskan tangannya kegerahan.
“Ya, aku juga merasa gerah banget! Ndak tahan aku” Mera menimpali.
“sudah panas, lembab lagi. Jadinya keringetan gini. Aku pengen cepet-cepet balik jadinya.”
“Kapan mau balik ke Melbourne?”
“Tadinya bulan depan tapi kayaknya aku mau majukan aja tiketnya. Ndak kuat!”
“Aku juga balik minggu depan. Mending liburan di Christchurch aja, adem.”
“Ya bener. Di sini bikin stress aja. Belum lagi orang-orangnya pada ndak bener semua!”
“Kenapa?”

Continue reading “Saling menuduh”

Rok Mini

dari http://baltyra.com/

Suatu siang di bulan September, di belahan bumi utara.

“Eh sorry banget gue telat” Sarah datang beringsut, wajahnya agak tegang.
“Ya nih, nggak biasanya lu telat. Dari mana?” Rina yang sudah menunggu menyambut dengan pertanyaan.
“Ya, tadi gue nemenin si Rama tuh ke mall. Keliling nyari bahan bubur buat anaknya.”
“Lo, kenapa lu yang nyari, si Astrid ke mana?”
“Justru itu, tadi tiba-tiba si Astrid telpon gue buat bantuin si Rama beli bubur. Dianya lagi ada tugas ke Washington katanya.”

Continue reading “Rok Mini”

A story of Bapak Pucung family

A story by Andi Arsana

borrowed from flickr.com

Once upon a time in a beautiful garden there lived an insect family of Bapak Pucung. Four of them in the family: Bapak Pucung, Ibu Pucung and two children: Ana Pucung and Dody Pucung. They are beautiful family; their color is beautiful, orange with black spots on the wings. The Pucung family members always spend their time talking to each other every time they can. Bapak Pucung is a wise father for the family and Ibu Pucung is a patient mother for her children. Ana is the oldest daughter and Dody is her little brother. They love each other.

Continue reading “A story of Bapak Pucung family”

Gayatri

“Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat”. Aku mendengar mantra-mantra itu dilantunkan saat malam di puncak keheningannya. Angin berdesir lirih di luar jendela menghadirkan nuansa yang sangat tenang tenteram. Samar-samar Mantram Gayatri itu menyelinap ke kamarku, berasal dari unit nomor 4 di lantai bawah. Bharata, istri dan bayi kecil mereka menghuni unit nomor 4 entah sejak kapan. Mereka berkebangsaan India dan Bharata menjadi peneliti di University of Wollongong, tempatku belajar. Sudah beberapa hari ini aku mendengar lantunan Mantram Gayatri, doa Hindu yang paling utama dalam sebuah puja, dilantunkan lirih tepat jam 12 malam.

Continue reading “Gayatri”

Back for good

putrahermanto.wordpress.com

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.

Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.

Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.

”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.

Continue reading “Back for good”

Senja di Heidelberg

Cerpen I Made Andi Arsana

Gerimis mendera, summer ini tidak seperti yang kuharapkan. Aku termangu di dalam bus dari Bismarckplatz menuju Ziegelhausen. Mataku menerawang jauh memandang langit yang muram. Birunya tidak nampak seperti kemarin, awan putih tebal dan cenderung pekat menggantung seperti tak mau pergi. Gerimis yang tah kunjung beranjak dari kemalasannya masih mendera pelan tapi yakin dan tidak ‘kan sebentar. Castle-castle di tepi sungai Neckar bermuram durja, kelelahan menunggu akhir gerimis yang tak kunjung usai. Aku melihat kegelisahan alam ini, keceriaan summer seperti terpenjara dan enggan dinikmati.

Continue reading “Senja di Heidelberg”