Berani bermimpi, tekun mencoba

//www.kompas.com/kompascetak/images/logokompascetak.gifSekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “Tentang sebuah Dendam“. Tulisan ini berkisah tentang dendam saya kepada Kompas yang akhirnya terbalaskan. Setelah bertahun-tahun menunggu, untuk pertama kalinya ketika itu tulisan saya dimuat oleh kompas, dalam rubrik Ilmu Pengetahuan. Itu adalah tulisan pertama setelah sekian kali ditolak.

Continue reading “Berani bermimpi, tekun mencoba”

Migrasi

Awalnya saya tidak berniat untuk bermigrasi dari blogger ke wordpress, meskipun ada beberapa teman yang menyarankan dari dulu. Bukan apa-apa, bermigrasi tidak selalu mudah dan terutama perubahan menimbulkan ketidaknyamanan. Bermigrasi ke wordpress dari blogger ketika blog saya di blogger sudah cukup mapan dengan pengunjung tetap memang akan berisiko.

Continue reading “Migrasi”

Dari mana datangnya ide?

Kerap kali ada yang bertanya, dari mana datangnya ide menulis? Mengapa bisa sangat produktif mengelola beberapa blog yang selalu terupdate? Seperti halnya kelakar yang saya sampaikan kepada seorang kawan yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Melbourne, ‘the power of love‘ adalah jawabannya. Kecintaan pada tulis menulis adalah tulang punggung dari produktivitas.

Continue reading “Dari mana datangnya ide?”

100 tahun bangsa bahari

//www.thejakartapost.com/jakartapost_logo.jpg“Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudera/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa ….”

(Our ancestors were sailors/ They sailed across the oceans/ Challenged the waves fearlessly/Surfed the storm familiarly.)

In the early 1990s or before, the above song was popular in Indonesia. I wonder whether Indonesian children nowadays still sing this song. One thing for sure, children seem to be more interested in drawing mountain views rather than seas. Does it indicate a degradation of the maritime spirit? Let us go back a while.

Continue reading “100 tahun bangsa bahari”

Petengkaran

//i17.photobucket.com/albums/b64/lope-mizz-ya/tear.jpgPertengkaran bukanlah hal biasa, dan dia tidak boleh menjadi biasa. Meskipun pada dasarnya pertengkaran adalah salah satu bentuk diskusi dan komunikasi yang sangat tua umurnya, pertengkaran, bagaimanapun juga, bukanlah cara terbaik menyelesaikan suatu perkara.Dalam pertengkaran ada kesedihan, setidaknya sesudahnya. Dalam pertengkaran ada air mata karena tekanan dan kemarahan yang tidak selalu sehat dampaknya. Dalam pertengkaran, bahkan mungkin muncul dendam jika tidak disikapi dengan besar hati. Dendam adalah makhluk paling berbahaya dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya.

Continue reading “Petengkaran”

Melanggar hukum demi cinta

Saya bukanlah orang yang bersih dari pelanggaran lalu lintas. Meskipun sudah mencoba, kadang pelanggaran masih tetap terjadi. Sekali-sekali saya masih menerobos lampu merah, umumnya karena kendaraan di belakang berkecepatan sangat tinggi dan seakan yakin bahwa saya akan melanggar. Daripada menjadi sasaran empuk mobil di belakang saya, pelanggaran akhirnya menjadi pilihan. Ironis memang.

Meski begitu, untuk yang satu ini saya mencoba berkomitmen: tidak melakukan gerakan U TURN (berbelok 180°) ketika ada tanda dilarang memutar. Hal ini sudah menjadi kebiasaan walaupun tentunya saya harus menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang. Setelah menjadi kebiasaan, menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang ini ternyata menyenagkan juga. Saya tidak mengalami masalah apapun.

Continue reading “Melanggar hukum demi cinta”

Beda Generasi

Genjo terhempas dalam duduknya yang dalam dan letih. Seharian menunaikan dharwa mulia sebagai penyelamat dan penunjuk jalan bagi generasi baru yang sedang berburu masa depan. Genjo sumringah sejak pagi tadi karena hutang budinya terasa terbalas kini. Dua belas tahun lalu, Genjo adalah generasi baru. Gelap sepertinya alam ketika itu saat Genjo memasuki altar suci perguruan termasyur tempatnya berdharma saat ini. Adalah seorang abang yang menjadi penyelamatnya ketika itu, tidak akan pernah dilupakannya. Kini kesempatan membalas budi itu datang juga, tentu saja tidak kepada sang abang tetapi kepada adik dari generasi yang jauh di depan. Pay Forward, begitulah memang sebaiknya perjalanan kebaikan itu. Genjo membayar ke depan, bukan ke belakang.
Continue reading “Beda Generasi”

Setengah dekade

Waktu memang seperti terbang. Time flies, kata orang bule untuk menggambarkan betapa seringnya kita terlena dan akhirnya tertinggal oleh waktu. Banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan dan target tidak terpenuhi ketika kita mendapati waktu tidah tersisa lagi. Sejarah klasik ini berulang lagi dan lagi.

Ketika diri ini alpa tidak menikmati dan lalai menyimak waktu dengan seksama maka keterperanjatanlah yang dihadiahkannya. Keterperanjatan akan kenyataan bahwa waktu begitu sadis menggilas keluguan ataupun keculasan, semua sama tak diampuni. Tak peduli sang aku yang bijaksana atau berperangai pecundang, sang waktu tetap berlaku adil, seadil-adilnya. Hanya ada 24 kali pergantian jam setiap harinya, lain itu tidak ada. Maka begitulah ketika perayaan setengah dekade ini jatuh pada masanya, semua terasa tiba-tiba dan perhelatan besar sepertinya baru kemarin sore. Hari ini, lima tahun yang lalu, dua anak manusia mengikat janji.

Continue reading “Setengah dekade”

Sebuah pena

Hari ini aku membaca lagi. Membaca kisah-kisah yang pernah kutuliskan dulu saat penaku masih tajam untuk puisi. Saat itu, ada seribu satu alasan untuk mencipta keindahan karena engkau menjelma menjadi kupu-kupu, salju, bajing di tepi jalan dan bahkan dingin tak bersuara yang memberikan apresiasi. Aku rindu pujian itu. Aku rindu tangisan cerdas yang oleh matamu menjadi istimewa sehingga layak didramakan. Begitulah dulu ketika penaku masih tajam untuk puisi.

Subuh-subuh tadi, tiba-tiba saja pena itu kutemukan lagi. Entahlah setajam apa dia sekarang. Lusuh ia diantara buku harianku yang telah lama tidak berkisah tentang cinta. Aku tersenyum setiap hari dan bercinta dengan waktu yang tak perhah kulewatkan dengan sia-sia. Tetapi itu berbeda. Masih sering kurindukan kupu-kupu yang hinggap liar di indahnya bunga matahari untuk kemudian terbang melesat entah ke mana. Keliaran mimpiku lama tak menemukan lahannya yang subur untuk bertumbuh. Imajinasiku memerlukan pasangannya yang berkelebat datang dan pergi tanpa pesan, mengajakku berkelakar di lembah-lembah temaram yang terlarang nan memikat. Ingin kuraut lagi penaku agar tajamnya menjadikan tetes air, suara angin, jatuhnya daun dan sepinya malam sebagai puisi yang menawarkan dahagaku.

Makan Malam

Di hari yang istimewa ini, Jogja hujan seperti hari-hari kemarin. Meski harus rela berbasah-basah walaupun sudah mengenakan jas hujan, saya tetap harus melaju. Ada janji makan malam istimewa dengan istri hari ini, untuk memperingati hari yang juga istimewa. Berdua kami melaju di atas Vega R kesayangan dengan masing-masing mengenakan jas hujan. Inilah bedanya ketika sudah bersuami istri dengan ketika pacaran. Waktu pacaran, lebih menyenangkan dengan satu jas hujan, perjalanan bisa lebih dinikmati. Tapi ini bukan cerita tentang jas hujan.
Hari ini kami sengaja memilih resto yang agak mewah, tidak seperti biasanya di warung tenda batagor di depan pom bensin Sagan, langganan kami sejak tahun 1997. Resto ini terlihat mewah, sebenarya tidak cocok dengan selera kami, tak juga cocok dengan kantong saya, itu yang pasti. Tapi begitulah naluri hidup yang kadang liar dan bisa saja sedikit lepas kendali.