Kawan saya bertanya setengah berkelakar, “mau jadi warga Amerika, memangnya?” karena tahu saya sedemikian gandrung mengikuti kampanye Obama dari awal hingga akhirnya dia berhasil berkantor di Oval Office. Meskipun memang tidak sedikit kelemahannya, bagi saya Obama adalah sebuah fenomena yang kepadanya saya banyak belajar. Keberhasilannya menjadi presiden bukan kulit putih pertama di Amerika Serikat adalah salah satu buktinya. Tidak saja itu, dia menjadi presiden dengan cara yang istimewa.
Status
Dulu, saat pertama kali belajar agama, kami diajari dengan sifat-sifat Tuhan. Pak Wayan Sukantra, guru agama kami waktu itu, memang pintar memintal kata-kata menjadi cerita. Saya sangat tertarik dengan nilai-nilai keagamaan yang dirangkai dalam bentuk cerita. Tidak saja mencerahkan, juga seringkali lucu. Tentu saja Tuhan digambarkan sempurna. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai anak kecil adalah kemampuan Tuhan untuk mendengar (Dura Sravana) dan melihat (Dura Darsana) secara jauh dan tembus. Beliau mendengar segalanya, baik yang diucapkan maupun yang tersimpan dalam pikiran.
Nyepi…
Pada tahun 2007, saya melewatkan hari raya Nyepi di Bali. Ini sebuah peristiwa langka karena saya sudah melewatkan sangat banyak Nyepi di luar Bali. Nyepi di luar Bali tentu berbeda, tidak ada suasana Nyepi yang saya anggap ‘asli’.
Seperti sudah diatur demikian, kedatangan saya ke Bali tahun 2007 itu disambut berita duka. Nenek saya masuk Rumah Sakit Tabanan, beliau dirawat karena mengalami muntaber. Nenek saya sudah tua. Selain mudah diserang sakit, beliau juga pikun, tidak bisa mengenali siapapun. Ada banyak sekali cerita mengharukan dan bahkan lucu tentang kepikunannya yang mungkin tak habis diceritakan di sini.
Dua nasihat
Made Kondang berkerut jidatnya, serius mendengar nasihat mantan guru yang kini menjadi temannya. “Kondang”, kata temannya itu, “Calon pengasuhmu itu adalah orang terkenal. Dia sakti mantraguna, tersohor kanuragannya. Hanya saja, dia tidak akan mempedulikanmu. Dia akan biarkan kamu berjalan sendiri tanpa bimbingan ketat, kamu akan tertabrak sana sini dan tersesat. Mana mungkin dia mau mengarahkanmu setiap hari. Kamu akan ditelantarkan oleh dia. Aku sarankan kamu mencari pengasuh lainnya.”
Sendal jepit

Guru saya di SD, Ibu Metriani, pernah bilang, sendal jepit hanya untuk di kamar mandi, tidak boleh dipakai ke sekolah. Entahlah, apa nasihat itu masih berlaku untuk anak-anak SD jaman sekarang. Yang jelas, ketika saya kuliah semester 4, nasihat ini belum kadaluarsa.
Di tahun 1998, saya mengikuti dan membantu prosesi potong gigi Asti dan saudara-saudaranya. Sebagai orang yang sedang giat-giatnya menarik perhatian calon mertua, saya mau dan rela membantu apa saja. Suatu hari saya diajak untuk meminta beberapa batang tebu ke rumah seseorang oleh calon bapak mertua. Saking sigapnya, saya terburu-buru dan tidak sempat mengenakan alas kaki yang layak. Saya pakai sendal jepit sekenanya.
Reading between the lines
Sekitar bulan Juni tahun 2005, saya bertugas menjemput mahasiswa baru dari Indonesia yang akan melanjutkan sekolah di University of New South Wales (UNSW) di Sydney. Tradisi jemput menjemput ini memang sudah turun temurun di UNSW, terutama bagi mahasiswa dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) ketika itu.
Tempat paling nyaman
Kisahkanlah padaku tempat yang paling nyaman di muka bumi. Adakah tempat yang lebih aman di muka bumi selain malam yang tenang, tidur diapit oleh ayah dan ibu yang nafasnya teratur turun naik? Nafas yang menjaga dari segala marabahaya sambil berbisik: “bahkan para Dewapun sudah kuajak bersekutu untuk memastikan jalanmu. Jika saja kaurelakan tubuhmu tergeletak diantara tubuh-tubuh tua kami dengan segenap penerimaan.” Selamat Valentine.
Jok Mobil

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.
Cinta sederhana

Peluncuran CMBS di Sydney
