Hikayat seorang penulis

Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Continue reading “Hikayat seorang penulis”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

Kartono

Yogyakarta, 21 April 2237

Sahabat pejuang,

Nama saya Kartono. Saya tinggal di Yogyakarta, kota yang mungkin tidak pernah Anda dengar namanya, kecuali sempat membaca buku-buku sejarah yang kini hampir punah dan dilarang. Konon seratus tahun lalu, kota yang kini hampir mati pernah menjadi pusat kebudayaan di negeri ini. Di kota ini dulu berjaya sebuah pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Hingga usianya lebih dari 100 tahun, tak satupun perempuan yang memegang puncak pimpinan. Kini semua itu tinggal cerita. Kekuasaan dan pusat peradaban telah bergeser. Konon di awal abad ke-20, kota ini bahkan pernah menjadi ibu kota sebelum dipindahkan ke Jakarta yang kini hanya bisa kita lihat di museum. Alam telah menenggelamkan Jakarta. Demikianlah jika makhluk manusia tak berupaya, alam akan menyediakan jalan keluarnya sendiri. Konon, para penguasa jaman itu adalah laki-laki, kaum kita.

Continue reading “Kartono”

Membela yang lemah

Ajaran ini, membela yang lemah, menjadi favorit saya sejak kecil. Hal ini juga diajarkan mungkin oleh semua agama dan norma. Sangat mudah menjumpai orang tua dan para bijak yang menasihatkan seorang anak atau murid agar membela yang lemah. Brama Kumbara, tokoh dalam sandiwara radio Saur Sepuh yang pupuler di tahun 1980an sangat menginsipirasi saya. Brama adalah contoh ideal seorang manusia yang gemar membela yang lemah. Seperti dijuluki, Brama adalah manusia setengah dewa.

Continue reading “Membela yang lemah”

Empat belas April

Saat masih semester awal di UGM, saya sering bermain ke kos para senior, mahasiswa yang kartu mahasiswanya tinggal beberapa bulan masa berlakunya. Di mata saya, mereka sudah sedemikian hebat, sudah tinggi dan sudah bijaksana. Suatu kali saya menemukan tulisan yang menarik tertempel di dinding sebuah kamar kos seorang mahasiswa senior. “Tutut love Nila” demikian kira-kira bunyi tulisan yang grammar-nya salah itu. Dalam hati saya tersenyum, ternyata orang-orang hebat inipun berlaku seperti anak ABG, menuliskan nama dan orang yang dicintainya di dinding. Demikian saya berpikir. Waktu itu, saya duga hanya anak-anak semester awal saja yang berlaku demikian, ternyata mereka yang sudah akan menyandang gelar sarjana pun masih ekspresif dalam urusan cinta.

Continue reading “Empat belas April”

Gayus yang [tak] jayus

Biawak di Bundeena

Di tahun 90an, istilah jayus sangat terkenal. Jayus digunakan untuk mengungkapkan satu siatuasi atau sifat yang maunya lucu tetapi tidak lucu, garing atau sebangsanya. Konon, menurut sebuah situs yang dipercaya banyak orang, Jayus adalah nama seorang anak sekolah di Jakarta yang karena kelakuannya akhirnya menjadi terkenal dan namanya menjadi kosakata baru. Jayus kabarnya memang tidak lucu, meskipun berusaha melucu.

Continue reading “Gayus yang [tak] jayus”

A Geospatial Novel? Why not!

Taken from ASM Magazine

I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.

Continue reading “A Geospatial Novel? Why not!”

Obamacare

Kawan saya bertanya setengah berkelakar, “mau jadi warga Amerika, memangnya?” karena tahu saya sedemikian gandrung mengikuti kampanye Obama dari awal hingga akhirnya dia berhasil berkantor di Oval Office. Meskipun memang tidak sedikit kelemahannya, bagi saya Obama adalah sebuah fenomena yang kepadanya saya banyak belajar. Keberhasilannya menjadi presiden bukan kulit putih pertama di Amerika Serikat adalah salah satu buktinya. Tidak saja itu, dia menjadi presiden dengan cara yang istimewa.

Continue reading “Obamacare”

Status

Dulu, saat pertama kali belajar agama, kami diajari dengan sifat-sifat Tuhan. Pak Wayan Sukantra, guru agama kami waktu itu, memang pintar memintal kata-kata menjadi cerita. Saya sangat tertarik dengan nilai-nilai keagamaan yang dirangkai dalam bentuk cerita. Tidak saja mencerahkan, juga seringkali lucu. Tentu saja Tuhan digambarkan sempurna. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai anak kecil adalah kemampuan Tuhan untuk mendengar (Dura Sravana) dan melihat (Dura Darsana) secara jauh dan tembus. Beliau mendengar segalanya, baik yang diucapkan maupun yang tersimpan dalam pikiran.

Continue reading “Status”

Nyepi…

Pada tahun 2007, saya melewatkan hari raya Nyepi di Bali. Ini sebuah peristiwa langka karena saya sudah melewatkan sangat banyak Nyepi di luar Bali. Nyepi di luar Bali tentu berbeda, tidak ada suasana Nyepi yang saya anggap ‘asli’.

Seperti sudah diatur demikian, kedatangan saya ke Bali tahun 2007 itu disambut berita duka. Nenek saya masuk Rumah Sakit Tabanan, beliau dirawat karena mengalami muntaber. Nenek saya sudah tua. Selain mudah diserang sakit, beliau juga pikun, tidak bisa mengenali siapapun. Ada banyak sekali cerita mengharukan dan bahkan lucu tentang kepikunannya yang mungkin tak habis diceritakan di sini.

Continue reading “Nyepi…”