Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement

Tidak sedikit yang bertanya pada saya cara membuat sebuah personal statement atau statement of purpose yang diperlukan untuk melamar beasiswa atau melamar sekolah pascasarjana di luar negeri. Meskipun pernah mendapat beasiswa, saya bukanlah orang yang ahli soal ini dan tidak memiliki kualifikasi resmi untuk menilai sebuah personal statement (PS). Menariknya, setelah saya mengecek di internet, ada banyak sekali tips pembuatan PS yang disediakan oleh berbagai institusi dan berbeda satu sama lain. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan mana yang baik dan mana yang buruk. Meski demikian, toh saya memang pernah membuat PS dan dengannya saya mendapat beasiswa. Oleh karena itu, ketika diminta mengisi workshop di UII Yogyakarta beberapa waktu lalu, yang saya andalkan bukanlah teori, tetapi pengalaman. Yang saya tawarkan kepada peserta bukanlah petunjuk teknis membuat PS tetapi pengalaman saya dalam membuat PS yang akhirnya membuat saya mendapat beasiswa.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement”

When a Surveyor Met a Diplomat

Bersama Hassan Wirajuda

Jakarta, 21 Mei 2010
Pagi itu, suasana Porta Venezia di Aryaduta Semanggi tidak telalu subuk. Restoran itu adalah bagian dari Hotel/Apartemen Aryaduta sehingga pagi itu diramaikan oleh mereka yang tinggal di sana. Di salah satu pojok, di sebuah meja dengan temaram lampu yang tidak telalu terang, duduk seorang lelaki berusia matang. Tampilannya sederhana saja, namun elegan berwibawa. Yang tidak memperhatikan tentu tidak sadar bahwa lelaki itu adalah salah satu diplomat terbaik Indonesia. Pada masanyalah dua perundingan batas maritim antara Indonesia dengan negara tetangga, Vietnam dan Singapura, berhasil diselesaikan. Lelaki itu adalah Dr. Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri Indonesia selama dua periode. Di depannya terlihat duduk takzim seorang anak muda. Tentu saja anak muda ini bukan anaknya, bukan juga diplomat kawakan seperti Pak Hassan. Anak muda ini adalah saya, seorang surveyor.

Continue reading “When a Surveyor Met a Diplomat”

Happy Mother’s Day

Ibu
Oleh Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Hikayat seorang penulis

Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Continue reading “Hikayat seorang penulis”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

Kartono

Yogyakarta, 21 April 2237

Sahabat pejuang,

Nama saya Kartono. Saya tinggal di Yogyakarta, kota yang mungkin tidak pernah Anda dengar namanya, kecuali sempat membaca buku-buku sejarah yang kini hampir punah dan dilarang. Konon seratus tahun lalu, kota yang kini hampir mati pernah menjadi pusat kebudayaan di negeri ini. Di kota ini dulu berjaya sebuah pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Hingga usianya lebih dari 100 tahun, tak satupun perempuan yang memegang puncak pimpinan. Kini semua itu tinggal cerita. Kekuasaan dan pusat peradaban telah bergeser. Konon di awal abad ke-20, kota ini bahkan pernah menjadi ibu kota sebelum dipindahkan ke Jakarta yang kini hanya bisa kita lihat di museum. Alam telah menenggelamkan Jakarta. Demikianlah jika makhluk manusia tak berupaya, alam akan menyediakan jalan keluarnya sendiri. Konon, para penguasa jaman itu adalah laki-laki, kaum kita.

Continue reading “Kartono”

Membela yang lemah

Ajaran ini, membela yang lemah, menjadi favorit saya sejak kecil. Hal ini juga diajarkan mungkin oleh semua agama dan norma. Sangat mudah menjumpai orang tua dan para bijak yang menasihatkan seorang anak atau murid agar membela yang lemah. Brama Kumbara, tokoh dalam sandiwara radio Saur Sepuh yang pupuler di tahun 1980an sangat menginsipirasi saya. Brama adalah contoh ideal seorang manusia yang gemar membela yang lemah. Seperti dijuluki, Brama adalah manusia setengah dewa.

Continue reading “Membela yang lemah”

Empat belas April

Saat masih semester awal di UGM, saya sering bermain ke kos para senior, mahasiswa yang kartu mahasiswanya tinggal beberapa bulan masa berlakunya. Di mata saya, mereka sudah sedemikian hebat, sudah tinggi dan sudah bijaksana. Suatu kali saya menemukan tulisan yang menarik tertempel di dinding sebuah kamar kos seorang mahasiswa senior. “Tutut love Nila” demikian kira-kira bunyi tulisan yang grammar-nya salah itu. Dalam hati saya tersenyum, ternyata orang-orang hebat inipun berlaku seperti anak ABG, menuliskan nama dan orang yang dicintainya di dinding. Demikian saya berpikir. Waktu itu, saya duga hanya anak-anak semester awal saja yang berlaku demikian, ternyata mereka yang sudah akan menyandang gelar sarjana pun masih ekspresif dalam urusan cinta.

Continue reading “Empat belas April”

Gayus yang [tak] jayus

Biawak di Bundeena

Di tahun 90an, istilah jayus sangat terkenal. Jayus digunakan untuk mengungkapkan satu siatuasi atau sifat yang maunya lucu tetapi tidak lucu, garing atau sebangsanya. Konon, menurut sebuah situs yang dipercaya banyak orang, Jayus adalah nama seorang anak sekolah di Jakarta yang karena kelakuannya akhirnya menjadi terkenal dan namanya menjadi kosakata baru. Jayus kabarnya memang tidak lucu, meskipun berusaha melucu.

Continue reading “Gayus yang [tak] jayus”

A Geospatial Novel? Why not!

Taken from ASM Magazine

I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.

Continue reading “A Geospatial Novel? Why not!”