Road to Australia – Pre-Departure Training

Wollongong Menyapa

Mereka yang sudah dipastikan mendapat beasiswa ADS tahun 2012 ini boleh bersenang hati, bersyukur atas perjuangan yang berbuah baik. Meski begitu, ini adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah. Hal pertama yang harus dijalani adalah Pre-Departure Training atau PDT yang durasinya tergantung pada besarnya nilai IELTS saat diuji oleh pihak ADS. Secara umum, durasi PDT adalah 9 bulan bagi yang IELTSnya 5; 6 bulan bagi yang IELTSnya 5,5; 3 bulan bagi yang IELTSnya 6; 8 minggu bagi yang IELTSnya 6.5 tetapi masih ada band di bawah 6; dan 6 minggu bagi yang IELTSnya sudah 6,5 atau lebih dan tidak ada band di bawah 6. Meski demikian, peserta dengan IELTS 6 dan writing di bawah 5,5 akan menjalani PDT selama 6 bulan.

Tujuan utama dari PDT adalah menyiapkan penerima beasiswa agar sanggup mengikuti perkuliahan di Australia baik itu dalam hal akademik maupun budaya. Dalam PDT ada materi English for Academic Purposes dan Cross Culture Understanding. Perlu diingat, secara umum syarat nilai IELTS untuk bisa berangkat ke Australia dengan beasiswa ADS adalah 6,5 dengan masing-masing band minimal 6. Oleh karena itu, tujuan praktis dari PDT adalah menyiapkan para peserta untuk bisa mencapai syarat ini. Meski demikian, tujuan idealnya tentu saja adalah menyiapkan peserta agar siap secara lahir maupun bathin dalam mengikuti pendidikan di Australia yang secara signifikan berbeda dengan Indonesia.

Continue reading “Road to Australia – Pre-Departure Training”

Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?

Cincin Merah di Barat Sonne

Di minggu kedua Februari 2012 ada sekitar 400 orang Indonesia yang tersenyum girang karena berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Kepada lebih dari 300 orang yang juga mengikuti seleksi tahap akhir tetapi belum beruntung lolos, nasihat saya sederhana “coba lagi tahun ini” jika masih tertarik. Pendaftar beasiswa ADS sekitar 4000 sampai 5000 setiap tahunnya (kadang lebih). Seseorang yang berhasil lolos adalah satu dari 10 persen dari keseluruhan pendaftar. Jika dibahasakan dengan perbandingan maka masing-masing penerima adalah satu dari 10 orang yang mendaftar. Kalau dilihat dengan cara ini, kesannya bisa jadi mudah, bahwa 10 persen pendaftar akan diterima dan itu artinya satu dari sepuluh orang pendaftar berpeluang diterima. Lebih mudah lagi jika ini diartikan bahwa untuk bisa diterima ADS, perlu mengalahkan sembilan orang saingan.

Silakan berpikir demikian tetapi kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari 3600an orang yang gagal setiap tahun. Maka dari itu, mari berpikir lebih realistis bahwa untuk bisa diterima beasiswa ADS, kita harus lebih baik dari 3600an orang itu. Atau untuk lebih pastinya, jika ingin diterima beasiswa ADS maka jadilah peserta dengan ranking paling rendah 400 karena itulah kuota ADS di Indonesia. Dalam bahasa yang lebih dramatis, pertanyaannya menjadi “apakah saya mampu mengalahkan 3600an orang dalam persaingan ini?”

Continue reading “Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?”

Watak dan Otak

Malam itu saya bercakap-cakap dengan Prof. Hasjim Djalal, salah seorang veteran Hukum Laut Indonesia, di sebuah hotel di Manila, Filipina. Pak Hasjim, demikian saya memanggil beliau, adalah makhluk istimewa langka yang dimiliki tidak saja oleh Indonesia tetapi juga dunia. Beliau adalah salah satu tokoh di balik United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 yang termasyur itu. TB Koh dari Singapura menyebut Konvensi itu sebagai “Constitution of the Ocean”.

Percakapan malam itu tidak menyangkut tentang Hukum Laut tetapi hal-hal lain yang lebih santai. Entah bagaimana awalnya, saya beruntung bisa mendengar beliau bercerita soal watak dan otak. Yang mengagumkan dari Pak Hasjim adalah kesediaan beliau berinteraksi hangat dengan orang-orang ‘junior’ seperti saya. Pak Hasjim adalah orang yang ‘mudah dijangkau’ meskipun sudah sedemikian ‘tinggi’ posisinya. Beliau adalah Duta Besar Indonesia untuk PBB, Canada dan Jerman, lalu menjadi Duta Besar Keliling (at large) untuk Hukum Laut. Membaca CV beliau bisa membuat orang bergetar karena kagum. Saya tentu saja sangat beruntung bisa menimba ilmu dari beliau dalam suasana yang sangat akrab di meja makan.

Continue reading “Watak dan Otak”

Arti kebanggaan

Tradisi beragama, saat saya masih kecil dan tinggal di Desa Tegaljadi di Tabanan, lekat dengan ritual di pura. Ada perasaan riang bukan kepalang jika odalan sudah tiba. Tentu tidak ada alasan-alasan berat yang menjanjikan masuk surga, semata-mata karena ke pura berarti berpakaiann baru atau bersenang-senang berkejaran di sekitar pura atau berbelanja makanan kesukaan di sela-sela sembahyang. Singkat kata, agama sama sekali tidak ada serem-seremnya ketika membayangkan masa lalu.

Continue reading “Arti kebanggaan”

Tips dan Trik Presentasi

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips presentasi. Saya mencoba meng-audio-visualkan posting tersebut dan saya bawakan dalam sebuah diskusi di fotum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Ranting Wollongong. Berikut adalah hasilnya:

Melihat dalam Kegelapan

from: tinypic.com

Selama dua hari terakhir, blog saya dikunjungi cukup banyak orang. Traffic blog yang biasanya berkisar pada angkat 200-300 pengunjung perhari, meningkat jadi di atas seribu bahkan lebih dari dua ribu. Tulisan terkait perjuangan Asti meraih Beasiswa ADS rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca blog, terutama pejuang beasiswa.

Hari ini saya memperoleh komentar dari seorang yang tidak biasa, bernama Taufiq Effendi. Saya berani tuliskan namanya karena beliau memberi komentar di blog ini dan artinya tidak keberatan jika namanya diketahui khalayak. Seperti yang beliau akui, Taufiq Effendi adalah seorang tuna netra, tidak bisa melihat.

Hal pertama yang membuat saya tertegun adalah bahwa tulisan saya ternyata dinikmati oleh sahabat yg tuna netra, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan apalagi persiapkan. Pertanyaan sederhana pertama yang muncul adalah “bagaimana teman-teman tuna netra bisa menikmati tulisan saya yang tidak bisa diraba?”

Continue reading “Melihat dalam Kegelapan”

Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012

Musim dingin di Australia

Jika harus ditulis dalam satu kalimat singkat, maka tulisan ini menjadi “Asti berhasil memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship untuk S2 di Australia”. Meski demikian, kita selalu tahu, bukan ujung cerita yang paling penting tetapi rangkaian cerita menju kesimpulan itu. Itulah sebabnya, seorang pembaca buku Harry Potter akan menahan diri untuk tidak buru-buru ke halaman paling belakang. Kalaupun ada teman yang sudah selesai membaca, dia akan dengan sekuat tenaga menjauhkan diri dari teman itu agar tidak jadi korban ‘spoiller’. Dengan asumsi bahwa Anda juga termasuk tipe pembaca demikian, pembaca yang mementingkan proses menuju kesimpulan, saya tulis kisah ini untuk Anda.

Entah bagaimana awalnya, saya sering menerima pertanyaan soal beasiswa, terutama Australia. Mungkin karena saya suka iseng menuliskan pengalaman, teman-teman di dunia maya sering bertanya ini dan itu. Saya menjadi konsultan beasiswa amatir. Saya gunakan istilah “amatir”, pertama karena saya memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi konsultan secara formal sehingga jawaban saya ‘seadanya’. Kedua karena memang saya tidak melakukannya untuk imbalan uang. Saya amatir dalam pengertian sesungguhnya.

Continue reading “Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012”

Golden age, memuji masa lalu

http://www.theculturist.com/

Di penghujung Januari 2012, saya terbang dari Australia ke Kuala Lumpur untuk selanjutnya menuju Manila. Perjalanan terasa sangat panjang, terutama karena saya sedang kurang sehat. Sudah beberapa hari sebelumnya saya pilek agak berat. Perjalanan jauh dari Indonesia ke Australia sebelumnya membuat saya lelah. Akibatnya, pilek menyerang tanpa ampun. Perjalanan ke Kuala Lumpur ini terasa semakin lama.

Untuk melewatkan waktu, tanpa semangat saya memilih film untuk ditonton dari layar pribadi di depan tempat duduk saya. Saya memilih Midnight in Paris, yang beberapa hari sebelumnya saya dengar ramai dibicarakan. Perpaduan antara deru mesin pesawat yang lumayan kencang, pendengaran bahasa Inggris saya yang tidak sempurna dan pilek yang cukup berat membuat pemahaman saya terhadap film itu tidak memuaskan. Meski begitu ada satu hal yang saya rekam dengan baik, bahwa orang memiliki kecenderungan untuk bernostalgia. Tokoh utama dalam film itu membayangkan bahwa Paris di tahun 1920 adalah masa yang luar biasa hebat. Maka dari itu dia ingin menulis novel berlatar belakang Paris di tahun 1920, biarpun dia berasal dari masa kini.

Continue reading “Golden age, memuji masa lalu”

Menentukan Otonan

Saya pernah menulis tentang otonan di blog ini hampir empat tahun lalu. Otonan, pada dasarnya adalah peringatan hari kelahiran berdasarkan kalender tertentu. Dewasa ini, semakin banyak orang Bali yang berada di luar Bali sehingga tradisi memperingati otonan bisa saja dilupakan. Saya tidak akan berpura-pura menjadi ahli dan mengatakan bahwa melupakan otonan itu bisa membuat sial apalagi masuk neraka. Sama sekali tidak. Meski demikian, sebagai orang Bali, rasanya cukup menarik untuk bisa mengetahui dan memperingati hari kelahiran menggunakan kalender sendiri. Di samping itu, para pendiri tradisi Hindu Bali pada zamannya tentu memiliki alasan yang tidak sederhana mengapa otonan ini perlu diingat dan dirayakan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, peringatan hari kelahiran setidaknya bisa menjadi sebuah kontemplasi.

Continue reading “Menentukan Otonan”

Ketika tidak ada sinyal

Obama and his BB

Dengan smartphone yang terkoneksi dengan media sosial seperti Facebook dan Twitter, seseorang betah berada di satu tempat tetapi jiwanya melayang ke mana-mana. Tidak mudah menjumpai anak muda yang berbicara dengan orang-orang tidak dikenal saat menunggu bus di halte misalnya, karena masing-masing sibuk tersenyum dan tertawa dengan handphonenya. Tidak hanya anak muda, yang tidak terlalu muda pun melakukan hal yang sama. Saya juga kerap ada dalam situasi itu: asik berbagi lewat twitter tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar saya. Menariknya, naluri berbagi yang cukup tinggi itu justru terjadi bersamaan dengan ketidakpedulian saya pada orang-orang yang sesungguhnya secara geografis lebih dekat dengan saya pada saat itu. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama?

Continue reading “Ketika tidak ada sinyal”