Kebaikan kecil

Saya pernah membaca sebuah artikel di pertengahan tahun 1990an yang cukup menarik. Menurut artikel itu, orang sering merasa kagum dan bahkan terkesima kepada orang yang jujur, misalnya jika orang itu mengembalikan sebuah dompet yang ditemukannya di jalan. Yang menarik, artikel itu menganggap tindakan mengagumi itu sesungguhnya perwujudan dari kerusakan moral yang terjadi di masyarakat. Lebih jauh artikel itu membahas bahwa berbuat kebaikan seperti itu adalah sebuah keharusan karena diwajibkan agama, dibenarkan norma dan bahkan dianjurkan hukum. Singkatnya, mengembalikan dompet yang tertinggal kepada pemiliknya tidak lebih dari sekedar melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini tidak berbeda dengan makan atau sikat gigi. Perlukah orang dikagumi atau dipuji-puji berlebihan gara-gara rajin makan atau sikat gigi? Anak muda sekarang mungkin bilang “biasa aja kaleee”.

Continue reading “Kebaikan kecil”

Vacuum Cleaner dan Mop

vacuum cleaner

Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak saya, sering mendapat tugas ngepel lantai setidaknya sekali sehari setiap sore. Inti dari ngepel lantai adalah menggosok sekuat mungkin hingga kotoran terkikis dari lantai. Jika terburu-buru karena tidak ingin melewatkan episode terayar sandiwara radio Misteri Gunung Merapi, gerakan menggosok harus cepat dan makin kuat.

Continue reading “Vacuum Cleaner dan Mop”

Pengemis cantik

Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.

Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “Do you have 2 dollars and fifty cents please?” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.

Continue reading “Pengemis cantik”

Say it with maps: popularizing geospatial

Recently, a Google Maps engineer, Ari Gilder, proposed his girlfriend, Faigy, for marriage using Google Maps for mobile. I call this as a geospatial marriage proposal. Ari describes in Google Blog how he managed to utilize My Maps in Google Maps to create a customized route for her girlfriend to follow. Using the map, Faigy finally reached a place where Ari was anxiously awaiting her arrival at the Roosevelt Island lighthouse nearby Manhattan in New York City. Ari asked the big question and it turned out to be a very romantic and memorable married proposal.

Continue reading “Say it with maps: popularizing geospatial”

Ganyang Malaysia, selamatkan Siti Nurhaliza?

Persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia tak kunjung berakhir. Setiap tahun selalu saja ada isu yang menjadi ‘musim panen’ bagi media masa. Kali ini, isu perbatasan di Kalimantan (Borneo) yang menadi persoalan. Konon Malaysia mencaplok wilayah RI di Camar Bulan/Tanjung Datu. Banyak pihak emosi dan slogan ‘Ganyang Malaysia’ kembali di teriakkan. Entahlah apakah kali ini juga diikuti oleh slogan lain yang terdengar lebih lucu ‘selamatkan Siti Nurhaliza’. Ingin tahu duduk perkara kasus ini? Silakan simak analisis saya di BorderStudies.info.

Perbatasan Indonesia-Malaysia di Camar Bulan

 

A story of Bapak Pucung family

A story by Andi Arsana

borrowed from flickr.com

Once upon a time in a beautiful garden there lived an insect family of Bapak Pucung. Four of them in the family: Bapak Pucung, Ibu Pucung and two children: Ana Pucung and Dody Pucung. They are beautiful family; their color is beautiful, orange with black spots on the wings. The Pucung family members always spend their time talking to each other every time they can. Bapak Pucung is a wise father for the family and Ibu Pucung is a patient mother for her children. Ana is the oldest daughter and Dody is her little brother. They love each other.

Continue reading “A story of Bapak Pucung family”

Discovering Jogja in Ho Chi Minh City

Street vendors

I was standing in front of a street food vendor and staring at noodle and meatball, thinking of having something for dinner. A lady approached me and started talking in a language that I could not understand. I believed it was Vietnamese. I looked at her and smiled and shook my head to signal her that I did not get it. Having realized that she was facing a foreigner, she called a man whom I believed to be her husband. She asked for help to communicate with me but apparently she called a wrong guy. The man spoke no English. What could I do?

Continue reading “Discovering Jogja in Ho Chi Minh City”

Small is beautiful – ukuran bukan halangan

Manekken Pis di Brussels

Saya masih ingat ketika mendengarkan penjelasan seorang pemandu wisata saat berkunjung ke Washington di musim dingin 2007 silam. “Jika Anda datang ke Washington dan tidak melihat Gedung Putih, Anda akan menyesal” katanya bersemangat. Tentu saja saya ingin sekali melihat Gedung Putih, kantor Presiden Amerika itu, dari dekat. “Tapi”, katanya menambahkan, “kalau Anda sudah melihat Gedung Putih, Anda akan lebih menyesal lagi.” Semua peserta wisata spontan tertawa tanpa tahu persis maksudnya. Sayapun bertanya-tanya.

Beberapa menit kemudian saya sudah berdiri di dekat sebuah pagar besi, memandang sebuah gedung kecil putih di dalam pagar. Di depannya terlihat air mancur yang tidak besar. Sepintas gedung ini terlihat seperti rumah biasa, tidak begitu istimewa, sebelum saya akhirnya tahu, itu adalah Gedung Putih, alias the White House, kantornya Presiden Amerika. Tidak besar dan sederhana. Jauh dari kesen menyeramkan.  Rupanya pemberitaan di TV dan terutama film Hollywood telah menciptakan citra tersendiri tentang Gedung Putih yang sedemian sangar. Dia ternyata tidak lebih dari sebuah rumah yang tidak terlalu besar di sudut Kota Washington. Setidaknya begitu saya berpendapat ketika melihatnya langsung.

Continue reading “Small is beautiful – ukuran bukan halangan”

Mengenang Ketut Margawan

Saat-saat terakhir

Sahabat kami, Ketut Yudia Margawan, telah berpulang pada usia 33 tahun 3 hari. Ketut pergi meninggalkan seorang putra yang tampan dan seorang istri yang tabah, Ekarini. Ketut telah pergi setelah menderita kanker selama beberapa tahun terakhir. Tidak kurang usaha dari Ketut dan keluarga, ternyata Hyang Widhi berkehendak lain. Ketut telah diberik kesempatan lebih dulu untuk bertemu Sang Pencipta. Kami mendoakan moksa untuknya, manunggal dengan Sang Paramakawi.

Continue reading “Mengenang Ketut Margawan”

Tuhan yang gaul

Selepas Trisandya malam, Made Kondang tertidur di altar pemujaannya. Dia kelelahan karena seharian bekerja keras. Tidak biasanya, Kondang bermimpi. Dia bermimpi bertemu Tuhan.

Continue reading “Tuhan yang gaul”