Apa sih “Om Telolet Om”?

Saat berdiskusi dengan seorang kawan yang sedang belajar di luar negeri, tiba-tiba dia menyela dengan topik lain “Apa sih Om telolet Om”? Rupanya “Om telolet Om” memang mendunia. Mahasiswa yang sedang riset serius pun tersita perhatiannya oleh isu ini. Saya diam sesaat. Pertama karena saya memang tidak ingin menghabiskan waktu menjelaskan fenomena ini, kedua karena saya tetap ingin membuatnya menjadi tercerahkan dalam waktu sesingkat mungkin. Lepas berpikir sejenak, saya mulai menjawab.

Continue reading “Apa sih “Om Telolet Om”?”

Menebak Tengkorak

Begitu mendengar bahwa seorang kawan sesama dosen UGM sedang membuat film, saya langsung kagum. Membuat film, bagi saya, bukan hal biasa. Menemukan seorang teman membuat film layar lebar yang disiapkan untuk bioskop tanah air membuat saya sudah kagum tanpa harus menunggu filmnya dan tanpa tahu kualitasnya.

Saat diberi tahu bahwa film itu berjudul “Tengkorak”, ada yang berubah pada persepsi saya tentang film ini. Mengapa harus “Tengkorak”? Mengapa bukan judul lain? Kata “Tengkorak” ini mengingatkan saya pada film-film masa lalu yang biasa dan konvensional. Yang hadir di bayangan saya adalah sebuah film laga dengan tata kelahi seadanya, dialog kaku dan menandalkan pemandangan tubuh kekar (atau seksi), caci maki dalam perkelahian yang tidak terlalu alami tidak juga dasyat memukau. Yang hadir dalam imajinasi saya adalah sebuah film biasa saja. Saya sempat kehilangan interes.

Beberapa hari belakangan ini, trailer film “Tengkorak” dirilis untuk publik. Saat menerima tautan video itu di Youtube, saya tidak langsung menontongnya. Saya takut kecewa dan takut kalau tebakan saya benar. Saya menyimpannya beberapa lama sampai akhirnya saya merasa perlu dan siap menontonnya.

Saat menonton pertama, saya tidak menyalakan audionya. Saya ingin menikmati aspek video saja terlebih dahulu. Saya tahu, menikmati film tanpa audio dan terutama tanpa musik bisa sangat berbahaya. Saya bisa kehilangan banyak hal dari film itu. Saya sadari itu tapi saya ingin ‘sadis’ pada Film Tengkorak ini. Saya ingin menguji seberapa kuat visualisasi-nya dan seberapa mampu visualisasi itu membuat saya bertahan menonton. Saya memang sengaja ‘membully’ film ini karena keisengan untuk mengetahui kualitasnya. Jika ini film biasa maka trailernya yang tanpa suara tidak akan membuat saya bertahan menontonya. Sebaliknya, jika tanpa suara saja dia bisa membuat saya bertahan menonton, film ini bisa jadi memang istimewa.

Beberapa detik berlalu, saya bertahan. Pertama karena dugaan saya semula tentang film dengan aksi laga konvensional atau pakaian kuno tapi berbahan baru ternyata tidak benar. Gaya pendekar berikat kepala atau suasana remang-remang yang keseramannya menggelikan ternyata juga tidak saya temukan di trailer Tengkorak. Alih-alih semua hal yang saya duga, saya disuguhi adegan setengah dokumenter dengan suasana modern dan keseharian dunia nyata.

Demi melihat apa yang tidak saya duga, saya segera ulang menonton trailer itu dari awal dan kini saya aktifkan audionya. Saya mulai memperhatikan dengan seksama. Kini dengan semangat. Saya seperti dilambungkan kepada angan-angan saya yang telah lama terpendam yaitu melihat film Indonesia dengan genre fiksi ilmiah. Saya ingin mendengar kata-kata yang menandai nama agen atau lembaga nasional, nama institusi, pusat kajian, pusat riset dan pengembangan atau yang sejenisnya dijadikan pusat perhatian dalam sebuah film. Saya ingin melihat ini seperti halnya film-film Hollywood menyuguhkan NASA, NSF atau agen pemerintah lainnya yang terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh suatu bangsa. Saya ingin sebuah film yang melibatkan Presiden Indonesia, rumitnya birokrasi yang melahirkan pahlawan dan pecundang, diperkenalkannya ahli-ahli Indonesia yang berperan merespon persoalan besar yang bahkan mempengaruhi dunia. Saya ingin film yang seperti itu dan itu sudah lama saya pendam. Saya ingin melihat film yang menampilkan urusan yang genting dan membuat kepanikan para petinggi negara dan agen-agen yang ada dalam kendalinya.

Melihat trailer Tengkorak yang singkat itu, saya seperti disuguhi apa yang sudah lama sekali saya rindukan. Saya belum tahu apakah Tengkorak memang betul-betul akan memuaskan saya ketika saya menonton filmnya nanti karena terlalu pagi menilai sebuah film hanya dari trailernya. Meski demikian, setidaknya trailer ini telah mengobati kerinduan saya yang bahkan sulit saya ceritakan sebelumnya tentang sebuah film fiksi ilmiah dari Indonesia. Saya melihat kombinasi yang baik dalam trailer film ini antara birokrasi/politik, fiksi misterius dan sentuhan ilmiah yang terasa kuat. Apakah benar Tengkorak akan memuaskan harapan saya dan juga Anda? Mari kita tunggu hingga Tengkorak bisa disaksikan di biskop di sekitar kita.

Surat untuk Papa di Hari Wisuda

Pa, apa kabar hari ini?

Aku menulis surat ini di tangga Grha Sabha P ramana (GSP) yang termasyur itu. Di kepalaku masih ada toga dan gantunganya berjuntai dimainkan angin di dekat wajahku. Aku sudah lulus, Pa. Aku lulus seperti yang Papa syaratkan: cepat dan IP tinggi. Aku tadi ikut berdiri ketika para wisudawan cumlaude dipaggil dan diperkenalkan pada hadirin. Sayang sekali Papa tidak ada di sana.

Continue reading “Surat untuk Papa di Hari Wisuda”

When I became a Moderator

This video shows me being a moderator for an international event. Whenever people ask me about tips on how to be a good moderator, I usually come up with list of suggestions, which are undoubtedly easier said than done. This video shows how I implement my suggestions. This can be tips to follow, or list of items that you should not follow 🙂

Menjadi Favorit [?]

Jakarta, awal 2002

Isak tangis di seberang sana membuat saya tercenung. Tidak mampu berkata banyak, saya hanya menyimak takzim isak tangis Bapak lewat telepon. Saya baru saja mengabarkan rencana saya untuk menjadi dosen di UGM. Rupanya beliau terkejut dengan rencana itu, terutama setelah saya menyebut angkat “600 ribu rupiah” saat ditanya “berapa gajinya?”

Tidak mudah bagi bapak saya untuk memahami pilihan itu. Keluar dari Unilever lalu masuk Astra dan kini ingin jadi guru. Menurut orang tua yang bahkan tidak lulus SD, pilihan itu jelas tidak wajar. Ada kekhawatiran mendalam dan pertanyaan apakah anaknya akan bisa hidup layak. Saya menutup telepon dengan perasaan galau, sedih dan bersalah. Saat itulah, saya memutuskan dengan mantap: saya tidak akan jadi dosen!

Continue reading “Menjadi Favorit [?]”

Menyalahkan Panitia

Pagi-pagi saya sudah memasuki areal parkir sebuah kampus di bilangan Jalan Pramuka di Jogja. Saya akan bicara dalam sebuah seminar tentang beasiswa luar negeri dan segala sesuatu sudah saya persiapkan. Tak lama setelah saya mematikan mesin kendaraan, seorang mahasiswa mengenakan jas oranye mendekat dengan sigap. Begitu saya membuka pintu, dia bertanya “Bapak pembicara ya Pak?” Rupanya dia adalah panitia yang bertugas menjadi Liaison Officer untuk saya. Gerakannya sigap, komunikasinya baik dan bahasa tubuhnya cekatan. “Ya, Mas” jawab saya mantap.

Continue reading “Menyalahkan Panitia”

Marah, Maaf, dan Pujian

Ketika memasuki ruangan untuk pelaksanaan presentasi di sebuah acara, saya terkejut. Halaman pertama tayangan presentasi saya sudah terlihat tampil di sebuah layar besar di depan. Ini yang saya khawatirkan, panitia sudah menayangkan bahan presentasi saya sebelum saya mulai presentasi. Dengan sigap saya sampaikan ke panitia agar tayangan itu dihentikan dan panitiapun memenuhinya.

Continue reading “Marah, Maaf, dan Pujian”

Tips Presentasi: Sepuluh Intermezzo

Intermezzo atau icebreaker sangat penting dalam persentasi. Fungsinya untuk mecairkan suasana yang tegang, terutama di awal presentasi atau mengajak kembali pemirsa untuk berkonsentrasi pada presentasi kita. Ada sepuluh tips intermezzo yang biasa saya pakai.

andisenpi

  1. Soal nama
    Intermezzo ini paling sering saya gunakan. Pelafalan nama saya dalam Bahasa Inggris yang bisa berarti “Saya membuat Andi Arsana [I Made Andi Arsana]” sangat sering saya jadikan bahan kelakar. Hingga hari ini, belum pernah gagal. Selalu ada sebagian besar, jika tidak semua, pendengar yang tertawa dan akhirnya terbawa.

    Cara saya menyampaikan kelakar tentang nama ini bermacam-macam. Kadang saya mulai dengan mengutip kejadian kecil saat ada peserta yang bertanya soal nama saya lalu saya ceritakan bagaimana saya menjelaskan pada peserta itu. Kadang saya memulai presentasi dengan mengatakan “I want to make a clarification regarding lingering question about my name”, seakan-akan itu masalah serius. Cara kedua biasanya saya sampaikan saat menjadi pembicara kunci dan dengan asumsi bahwa ada cukup banyak orang yang sudah pernah melihat/mendengar nama saya.

    Mereka yang namanya hanya satu kata, misalnya “Suprapto” atau “Parjono” atau yang lain, bisa berkelakar dengan mengatakan “I am someone without last name” atau “with my one-word name, I cannot even have an email” atau “I need to repeat my one-word name so I can have a surname”. Bagi yang namanya berarti hal lain dalam bahasa Inggris seperti “Yuni” (kata yang sama dalam bahasa Inggris berarti university) “Dedi” (daddy = ayah), “Yugo” (you go, I go), “lukman” (look, Man!) dan lain-lain bisa menjadikan namanya sebagai bahan kelakar.

  2. Pepatah/ungkapan/nasihat
    Dalam kuliah tamu yang saya berikan di Kamboja beberapa waktu lalu, saya menghadapi para petinggi dari Asia-Pasific yang ahli di bidangnya ada praktisi kawakan. Saya merasa perlu untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin menggurui mereka. Untuk itu saya mengutip pepatah “menggarami lautan”. Saya mulai dengan menampilkan sebuah slide bergambar laut dan garam lalu berkata “In Indonesia, we know a saying ‘salting the ocean’, which means blah blah. I am not salting the ocean today and I hope I won’t sound like preaching”. Kutipan itu sanggup membuat peserta yang sebagian besar dari Asia tersenyum positif dan merasa nyaman.
  3. Apresiasi pada panitia
    Betapapun sederhananya, selalu penting untuk mengapresiasi panitia yang telah mengundang kita. Saat berbicara di Kamboja, saya bilang “I have to thank ReCAAP and especially Executive Director Kuroki for this invitation. Because of you, Sir, I am stepping my feet for the first time on the land of Cambodia.” Dalam acara yang beda lingkupnya, pujian kepada panitia atas kerja keras mereka sangat perlu disampaikan. Misalnya, “panitianya gigih sekali dan sangat bijaksana saat memenuhi permintaan saya yang kadang menyulitkan”. Saat diundang di UAD Jogja, saya sengaja memotret sebuah tanda bertuliskan nama saya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk mobil saya. Foto itu saya masukkan menjadi slide pertama saat presentasi sambil memberikan pujian akan keseriusan panitia. Tentu saja panitia senang mendapat apresiasi seperti itu. Ada banyak cara memberikan apresiasi kepada panitia.
  4. Apresiasi pada hadirin
    Presentasi adalah tentang presenter dan pendengar/hadirin. Sebagus-bagusnya komunikasi serta persiapan pembicara dengan panitia, kesuksesan sebuah presentasi tetap akan dinilai oleh hadirin. Maka dari itu, membuat hadiri tertarik, merasa nyaman, dan terutama merasa penting/dihargai sangatlah penting.

    Jika presentasi di hari libur (Sabtu atau Minggu), saya biasanya mulai dengan kalimat “jika di hari Minggu, biasanya anak-anak muda memilih untuk tidur lebih lama dan bangun lebih siang, para pemenang seperti kalian ini memilih untuk ada di sini” sambil menunjuk mereka dan selalu disambut dengan tepuk tangan. Jika sudah dimulai dengan pujian yang membuat hadirin nyaman dan merasa dihargai maka berikutnya pembicara seakan punya ‘hak’ untuk meledek dan megolok-olok mereka dalam batas wajar. Ledekan itupun akan disambut tawa dan nuansa yang positif.

    Apresiasi kepada hadirin juga bisa berupa pujian pada mereka yang datang dari jauh atau menempuh perjalanan sulit. Jika pesertanya senior, bisa sampaikan apresiasi atas kebijaksanaan mereka untuk rela mendengar pembicara yang lebih junior. Jika yang hadir rekan-rekan sejawat atau orang dengan profesi dan keahlian yang mirip, bisa mengatakan bahwa “saya ada di sini karena kebaikan hati Bapak Ibu untuk memberi saya kesempatan berbagi, meskipun belum tentu lebih ahli.”

  5. Kejadian lucu/menarik
    Saat datang ke tempat presentasi, kemungkinan akan ada kejadian lucu atau menarik yang kita alami. Hal ini bisa kita ceritakan di awal presentasi untuk mencairkan suasana. Saat presentasi di Siem Reap beberapa waktu lalu, saya dikira orang Kamboja oleh resepsionis hotel. Saya sudah memberinya paspor tetapi dia tidak memperhatikan dan langsung nyerocos pada saya dalam Bahasa Khmer. Saya tertegun dan pasang wajah ‘bloon’ sambil menyampaikan bahwa saya orang Indonesia dan tidak bisa Bahasa Khmer. Spontan mbak resepsionis itu minta maaf dan mengatakan saya mirip orang Kamboja. Saya menjawab sopan dan berkata “well, you look like Indonesian” yang membuatnya tersipu malu.

    Kejadian yang menimpa saya di meja resepsi itu saya ceritakan saat presentasi. Hadirin tentu saja tertawa karena rupanya mereka bisa melihat, saya memang nampak seperti orang Kamboja. “I might look like a Cambodian but I am not. Believe me!” kata saya menegaskan sok serius dan disambut tawa hadirin. Kejadian menarik lainnya tentu banyak, seperti tentang salah paham bahasa, tentang tanda di toilet yang tidak biasa, tentang alat transportasi yang tidak lazim atau bahkan ekstrim, tentang toilet Jepang yang hangat, dal lain-lain.

  6. Mengolok-olok diri sendiri
    Lelucon yang paling aman dan hampir selalu efektif adalah mengolok-olok diri sendiri. Saat presentasi di Jakarta sepuluh tahun silam, panitia mengira saya asisten pembicara. Mereka tidak menanggapi saya semestinya ketika saya hendak menyerahkan file presentasi. Kejadian itu saya ungkap saat presentasi dengan mengatakan “saya sadar, tampang saya memang kurang meyakinkan”. Pak Jokowi juga sering berkelakar yang mengolok-olok dirinya sendiri dengan menceritakan kejadian ‘memalukan’ ketika menjadi pembina upacara di awal-awal masa jabatannya sebagai Walikota Solo. Hal yang sama dilakukan Pak Dino Patti Djalal terkait cerita sopirnya yang lebih gagah darinya saat menjadi Duta Besar RI di Washington. Mengolok-olok diri sendiri itu aman, namun hanya bisa dilakukan oleh orang yang percaya diri.
  7. Interaksi dengan peserta atau panitia
    Inti dari sebuah presentasi yang baik adalah setiap orang merasa terlibat dan penting perannya. Hal ini bisa diwujudkan melalui interaksi dengan pendengar atau panitia. Di sebuah acara seminar beasiswa, panitianya pernah mengalami kepanikan karena LCD tidak bekerja dengan baik. Pembicaraan saya jadi tersendat. Saya pun seseungguhnya kecewa dan ada rasa tidak nyaman, menyesalkan mengapa panitia tidak melakukan persiapan dengan baik. Pilihannya ada dua, saya jadikan itu momen untuk menunjukkan kekesalan atau harus menyelamatkan situasi. Saya sampaikan “saya paham, tadi panitia pasti sangat panik ketika LCD tidak berfungsi. Saya kagum pada kesabaran mereka untuk tetap bekerja memperbaiki sampai akhirnya bisa berjalan lancar. Kita beri tepuk tangan yang meriah pada panitia kita yang keren hari ini.”

    Akan lebih mudah jika ada peserta yang kita kenal dan pernah mengalami interaksi personal sebelumnya. Misalnya, kita bisa mmengatakan “saya sudah mengenal Pak Budi, yang duduk di depan ini sejak 20 tahun lalu. Terus terang rasanya agak aneh karena saya harus ada di depan Bapak sekarang ini. Matur nuwun sudah datang ya Pak.”

    Kadang kita juga berbicara di depan orang-orang yang kita kenal sejak lama. Ini bisa jadi bahan intermezzo yang baik, misalnya dengan mengatakan “di sini juga ada Mas Indro, kawan baik saya sejak belasan tahun. Beliau pasti merasa aneh karena harus mendengarkan saya, padahal zaman dulu saya terus yang harus mendengarkan dia.” Dalam sebuah acara di Jakarta, saya juga pernah tampil di depan sahabat-sahabat saya ketika kuliah. Saya meyapa mereka dengan nada agak nakal “Mas Nashihun ini sahabat saya sejak lama, sekarang sudah jadi pengusaha sukses padahal saya tahu beliau nggak pinter-piter amat” dan disambut gelak tawa hadirin. Candaan yang demikian hanya bisa disampaikan jika sangat akrab dan sebaiknya ditutup dengan pernyataan positif. Saat itu saya bilang “meskipun saya tadi membully beliau, kenyataannya, beliaulah yang paling sering membantu saya saat ini jika perlu dana untuk penelitian.”

  8. Kejadian atau fenomena umum yang diketahui hadirin
    Intermezzo yang aman dan efektif adalah tentang topik yang diketahui semua orang. Makanya, kejadian atau topik umum menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan intermezzo. Topik-topik yang bisa dipilih misalnya pilkada, kasus kejahatan yang sedang menjadi topik nasional, kejadian yang menyangkut selebriti, kejadian lucu yang sedang viral di media sosial, atau kebijakan nasional yang sedang menjadi buah bibir. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara jenaka sehingga mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan.

    Jika presentasi di suatu daerah di Indonesia, hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah itu bisa dijadikan intermezzo. Jika merasa nyaman, isu politik atau keresahan sosial juga bisa dikemukakan. Misalnya “orang Tabanan memang seniman semua ya, bukan cuma pagar tembok dan Pura, jalan juga diukir” untuk mengkritik jalan yang rusak. Bisa juga berkelakar tentang makanan khas daerah tersebut, misalnya mengatakan “I wake up a little bit late, I got drunk by kimchi, last night” jika presentasi di Korea.

  9. Keterkaitan dengan pembicara lainnya
    Memuji pembicara lain adalah intermezzo yang aman dan positif. Tidak pernah salah. Akan lebih baik lagi jika bisa mengaitkan topik yang kita bicarakan dengan topik yang dibicarakan pembicara lain. Jika belum kenal baik, sebaiknya selalu menyampaikan hal positif, bukan hal negatif. Kadang ada pembicara yang menunjukkan kesan rivalitas atau persaingan dengan pembicara lainnya.

    Naluri persaingan bisa muncul dalam bentuk pembelaan atau menjelek-jelekkan pembicara lainnya, atau sekedar untuk menunjukkan dia lebih baik dari pembicara sebelumnya. Misalnya, kalimat yang sebaiknya dihindari adalah “apa yang disampaikan Bapak X yang berbicara sebelumnya itu keliru dan saya harus koreksi.” Cara yang baik mengungkapkan koreksi misalnya, “apa yang disampaikan Bapak X sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi kita semua. Saya tertarik, terutama tentang poin A karena kebetulan saya juga mendalami hal itu. Saya tertarik mendiskusikan ini nanti karena ada perspektif lain yang saya dapatkan dibandingkan yang saya ketahui selama ini.” Intinya, tidak ada yang lebih aman dari pujian. Setidaknya di kesempatan pertama.

  10. Soal honor
    Soal honor tentu sensitif tetapi bisa jadi bahan intermezzo yang baik jika dikemas dengan cantik. Misalnya dengan mengatakan “saya harus pastikan materinya tepat 15 menit karena kalau tidak honor saya akan dipotong.” Jika Anda menjadi moderator, soal honor juga bisa menjadi bahan kelakar yang baik. Misalnya dengan mengatakan “saya tetap harus mengenalkan Pak Joko sebagai pembicara meskipun beliau sudah terkenal. Jika tidak, honor saya tidak akan cair.” Jika Anda dibantu operator saat presentasi, kadang operatornya terlalu cepat menganti slide atau menjalankan animasi. Bagi saya yang sangat mengandalkan animasi yang tepat, hal ini bisa berdampak serius. Biasanya saya menggoda mereka dengan mengatakan “mencet yang bener, nanti honornya saya potong lho” atau “jangan cepat-cepat Mas, mau cari sampingan di tempat lain ya? Honornya kurang pasti nih”. Biasanya hadirin merespon dengan tawa.

Itulah sepuluh contoh intermezzo. Punya idea lain? Silakan komentar di bawah.

Merelakan Anies

Bahwa saya mengagumi dan meneladani Mas Anies Baswedan, itu adalah keniscayaan. Saya tidak membantah, tidak juga menyesalinya sampai detik ini. Anies adalah pribadi yang padanya saya belajar banyak hal dan tetap akan terus belajar. Bahwa dia punya kelamahan dan tidak sempurna, tentu tidak ada satupun yang harus terkejut. Dan bahwa kini Mas Anies menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta, ini adalah kisah dan perihal yang lain.

avengers
Dipinjam dari dunia maya

Continue reading “Merelakan Anies”

Memoderasi Susi

Yogyakarta, 8 Oktober 2016
Pagi-pagi saya sudah duduk di sebuah ruangan di University Club (UC) UGM. Di tempat itu, sebentar lagi akan dilaksanakan kuliah umum yang dibawakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Saya ada di sana karena diminta panitia untuk menjadi moderator. Sebentar lagi, saya akan memoderasi Susi, sebuah tugas yang menegangkan.

andisusiblog

Suasana agak gaduh, serombongan orang datang. Ibu Susi nampak tergesa, berjalan paling depan dan langsung masuk ruangan. Saya dan beberapa orang yang duduk di sebuah meja bundar dari beberapa menit lalu langsung bediri. Kami menyambut Ibu Susi, bagaimana layaknya menyambut seorang menteri. Kami sigap, siaga, hormat dan santun. Ternyata itu tidak terlalu berguna karena Bu Susi sama sekali tak bergaya menteri yang ada dalam imajinasi orang-orang kebanyakan seperti saya. Beliau tidak ada basa-basi, tidak menikmati penghormatan dan tidak juga menyapa orang-orang layaknya pejabat pada umumnya.

“Aku ta’ langsung makan ya?!” kata beliau mengejutkan. Bu Susi bahkan tidak duduk di kursi yang tertata rapi di meja bundar yang kami duduki. Beliau hanya menaruh tas dan langsung menuju hidangan yang sudah tersaji di satu pojok ruangan. Soto Kadipiro dan Bakso Bethesda segera diambil dan dengan lahapnya beliau menyantap makanan kesukaannya itu. Tidak ada obrolan basa-basi, tidak ada senyam-senyum sopan santun, tidak ada juga usaha jaga citra. Semuanya langsung, jujur dan apa adanya. Saya senyum-senyum sendiri menyaksikan ibu menteri yang tengah melahap soto dan bakso, hanya 60 cm di sebelah saya. Meskipun saya sebenarnya tegang dan grogi, akhirnya saya berusaha nampak biasa saja. Memang tidak ada perlunya grogi di samping orang yang bahkan tidak merasa istimewa dan tidak berusaha nampak istimewa. Biasa saja.

Gaya Ibu Susi yang apa adanya itu membantu saya menyipakan diri untuk menjadi moderator beliau beberapa menit lagi. Latihan saya yang berjam-jam hingga menjelang subuh beberapa jam sebelumnya seperti mendapat dukungan. Dukungan itu berbunyi “santai aja, yang dimoderatori juga cuek aja kok”. Meski sudah santai, diam-diam saya melengkapi presentasi PPT yang sudah saya siapkan untuk mengenalkan Bu Susi nantinya. Memang sudah saya rencanakan, saya akan mengenalkan beliau dengan slide yang saya buat semenarik mungkin. Interaksi saya dengan Ibu Susi sebelum acara mendatangkan beberapa inspirasi baru untuk mengenalkan beliau nanti.

Sementara itu, Ibu Susi cuek saja duduk di sebelah saya. Kami pernah bertemu beberapa kali tapi Bu Susi memang bukan tipe orang yang gemar bebasa-basi. Jika tidak ada yang yang penting dan menarik, beliau akan diam saja. Bu Susi bukan termasuk orang yang berusaha keras menjaga kehangatan dengan orang lain. Dengan gaya ini, jelas Bu Susi tidak sedang mencalonkan diri jadi Gubernur, apalagi Walikota.

Dalam beberapa menit berikutnya, kami memasuki ruangan kuliah umum. Hari itu, kuliah umum diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bulaksumur. Ruangan segara gegap gempita begitu Ibu Susi memasuki ruangan yang penuh sesak oleh peserta yang sebagian besar anggota dan calon anggota GMNI. Ketika pembukaan dan sambutan, saya duduk di bangku paling depan, tepat di samping Ibu Susi yang tetap cuek dan apa adanya. Duduknya juga santai sekali, tidak ada usaha menjaga citra atau agar nampak wibawa. Sekali waktu beliau membungkukkan badan, menyangga tubuh dengan tangan yang bertumpu di pahanya. Meski kelihatan cuek, matanya awas memperhatikan sambutan dan pengantar dari panitia maupun dari Mas Cornelius Lay yang memberikan pidato pembuka.

Tibalah saatnya, saya dipanggil untuk menjadi moderator dan Ibu Susi juga diminta ke atas panggung. Tentu saja tegang dan grogi tetapi dengan usaha keras saya sembunyikan. Karena saya percaya dengan kejujuran untuk membuka pembicaraan maka saya sampaikan “saya sudah berkali-kali menjadi moderator, tetapi baru kali ini saya menjadi moderator bagi seorang menteri” dan disambut tepuk tangan hadirin. “Menteri bukan sembarang menteri, ini adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Ibu Susi Pudjiastuti.” Saya lanjutkan dengan nada agak naik sehingga sekali lagi memancing gemuruh tepuk tangan hadirin.

Seperti saya rencanakan, lembar demi lembar tayangan menjadi latar belakang ketika saya mengenalkan beliau. Tentu saja tidak mudah membuat perkenalan itu menarik dan ‘mengejutkan’ karena Ibu Susi memang sudah sangat terkenal. Tantangan seorang moderator ketika mengenalkan seorang selebriti seperti Ibu Susi adalah dalam memilih aspek-aspek khusus untuk dikenalkan, dengan harapan aspek khusus itu akan membuat pendengar merasakan sensasi baru. Untuk ini saya menghabiskan sekitar tiga hari untuk melakukan riset.

Perkenalan saya diisi dengan kisah masa muda Ibu Susi yang menyukai Soto Kadipiro dan Bakso Bethesta. Maka gambar kedua makanan itupun menghiasi slide saya. Persahabatan beliau dengan Ibu Dwikorita Karnawati, Rektor UGM, juga saya sampaikan dalam bentuk cerita dan ingatan saya ketika menemani beliau berdua bertemu dalam beberapa kesempatan. Kelakar yang saya kemukakan misalnya “beliau berdua adalah teman sebangku di SMA 1 Yogyakarta. Ibu Susi memilih untuk tidak lulus, Bu Rita memilih untuk tekun belajar dan menjadi professor. Yang tidak lulus kemudian jadi menteri, yang jadi profesor lalu menjadi Rektor.” Saya biarkan penonton menarik kesimpulan sendiri dan tertawa mendengar kelakar itu.

Ada banyak hal yang saya sampaikan, termasuk meme bertema Ibu Susi yang viral di dunia maya. Yang paling umum tentu saja yang memuat kata “TENGGELAMKAN”. Saya sampaikan “karena kesuksesan program penenggelaman kapal pencuri ikan ini, dunia medsos merespon dengan gegap gempita. Ada banyak topik yang berujung dengan jargon ‘TENGGELAMKAN’. Yang tidak aktif di Grup WA, TENGGELAMKAN, yang komen ga nyambung TENGGELAMKAN. Dari semua itu, ini yang paling saya suka.” Saya diam sambil menyampaikan satu meme yang saya buat sendiri dan berbunyi “ITU!!! Yang masuk GMNI cuma karena pengen dapet pacar, TENGGELAMKAN!” Dalam waktu tiga detik berikutnya, pecahlah suasana di ruangan itu dengan gelak tawa yang membahana.

Sementara itu, Ibu Susi tidak menunjukkan gejala sangat tertarik. Beliau hanya tersenyum simpul, itu pun singkat saja. Ibu Susi memang tidak mudah dipancing, tidak mudah mengapresiasi sesuatu yang tidak esensial. Meski begitu, saya senang melihat peserta merespon dengan baik. Moderasi yang baik memang untuk peserta, bukan semata-mata untuk pembicara. Senyum singkat Ibu Susi sudah membuat saya senang karena latihan berjam-jam sebelumnya ada sedikit dampaknya.

Untuk menutup perkenalan itu, saya ceritakan pengalaman saya ketika menyimak Ibu Susi sebelum beliau menjadi menteri. Ketika itu Ibu Susi diundang oleh Teknik Geodesi UGM dan saya menjadi ketua panitia acara. Saat itu ada yang bertanya terkait kebijakan Ibu Susi yang lebih memilih mempekerjakan pilot bule dibandingkan pilot Indonesia. Orang itu mempertanyakan nasionalisme Ibu Susi. Saya katakana, “waktu itu Ibu Susi menjelaskan dengan sangat baik dan orang-orang tercengang dengan logika dan cerita yang beliau sampaikan. Yang paling berkesan bagi saya adalah kalimat singkat beliau yang berbunyi seperti ini”. Saya pun menampilkan sebuah slide yang bertuliskan “Pilih mana: ‘Bosnya bule, karyawannya Indonesia?’ atau ‘Bosnya Indonesia, karyawannya bule?’” dan disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin. Saya tutup dengan “Ibu Bapak dan kawan-kawan sekalian, kita sambut Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ibu Susi Pudjiastuti”.

PS. Ini file PPT yang saya gunakan untuk memoderasi Susi 🙂