Video Anies Baswedan di Geodesi UGM

Tanggal 25 April 2014, Anies Baswedan memberikan kuliah umum tentang kepemimpinan di Teknik Geodesi UGM. Berikut ini adalah video-video yang diabadikan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi.

 

Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri

i4talksposter

Ketika hampir menyelesaikan pendidikan di luar negeri, dia mendapat suatu pelatihan yang menurutnya aneh. Pelatihan itu bertema persiapan pulang kampung. Dia tidak habis pikir, mengapa untuk pulang kampung saja harus menyiapkan diri. Jika persiapan sebelum berangkat ke luar negeri dulu dilakukan begitu serius, dia paham karena akan datang ke tempat baru. Namun persiapan serius untuk pulang ke rumah sendiri ini terasa agak berlebihan. Akibatnya dia tidak mengikuti pelatihan itu dengan serius. Baginya tidak begitu penting. Dia tidak merasa perlu diajari bersikap di rumah sendiri, di negeri sendiri. Tidak akan ada yang mengejutkan di lingkungan budaya yang dia kenal sejak lahir. Itulah keyakinannya.

Continue reading “Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri”

Kreatif atau Mati

Jika Anda pernah bepergian dengan pesawat, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa setelah penerbangan lebih dari tiga kali maka perhatian kita terhadap instruksi keselamatan penerbangan mengalami penurunan yang serius. Petunjuk mengenakan sabuk pengaman, pemakaian baju pelampung dan masker oksigen menjadi tidak menarik lagi jika Anda sudah terbiasa naik pesawat. Sering saya perhatikan, pramugari yang memeragakan instruksi itu juga setengah hati melakukan peragaan dan penumpang juga acuh tak acuh. Intinya, semua ritual itu seperti formalitas basa-basi, tidak lebih tidak kurang. Singkat kata, membosankan.

Anggapan saya berubah saat naik Air Asia dari Kuala Lumpur ke Singapura tanggal 26 Juni 2013 lalu. Karena lelah setelah mengikuti konferensi di Kuala Lumpur, saya hampir tertidur bahkan sebelum pesawat tinggal landas. Di sela kantuk dan kegamangan itu saya dikejutkan oleh berisik penonton yang tertawa seperti dikomando. Ternyata penumpang tertawa mendengarkan instruksi keselamatan yang yang dibawakan dengan cara lucu oleh pilot atau ko-pilot (saya tidak tahu persis).

Setelah saya perhatikan, ternyata instruksi keselamatan disampaikan secara langsung oleh seorang lelaki dari ruang kendali sambil diperagakan oleh beberapa orang pramugari. Yang membuatnya tidak biasa adalah cara penyampaianya yang lucu. Seringkali lelaki itu berbicara dengan gaya bergema (echo) yang dibuat-buat. Dia juga menyampaikan komentar-komentar konyol seperti “baju pelampung ini memiliki dua pipa tiup, bukan pipa sedot” yang disambut gelak tawa penumpang. Di saat lain, lelaki itu mengatakan “if you cannot find your seatbelt, you might sit on it”. Singkat kata, penumpang dibuatnya riuh rendah tertawa dan penuh perhatian.

Ini video dari Youtube, bukan video yang saya rekam sendiri

Ini adalah contoh kreativitas. Sesuatu yang tadinya biasa dan cenderung membosankan bisa menarik lagi dan menjadi pusat perhatian. Yang diperlukan hanya satu hal: keberanian berpikir dan berbuat di luar kebiasaan. Tentu ada risikonya tetapi jika tidak dicoba, maka ritual instruksi keselamatan di pesawat akan menjadi ‘barang kuno’ padahal sesungguhnya penting tetapi diabaikan sebagian besar orang. Alangkah berbahayanya jika kita abai akan hal-hal yang penting, hanya gara-gara penyampaiannya tidak menarik dan membosankan.
Dalam banyak hal, kreativitas adalah kunci. Tanpa itu, kita akan mati dengan segera. Mati karena terlindas roda zaman yang berlari kencang dan menjadi korban mengenaskan dalam kompetisi yang kian sengit. Jadi pilihannya jelas, kreatif atau mati.

Kritis sejak muda, berani sejak lama

Ketika mononton video tentang Mas Anies Baswedan di masa-masa hidupnya sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, saya mengingat tulisan saya tahun 2010. Saya membuat catatan tentang gerakan mahasiswa di Australia dan membandingkannya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. Lebih jauh, saya bernostalgia mengenang gegap gempita gerakan mahasiswa di tahun 1990an yang berbeda dengan kini.

Tanpa menghakimi mana yang lebih bagus, gerakan mahasiswa di tahun 1990an memiliki agenda yang nampaknya lebih besar. Jika harus turun ke jalan, mahasiswa menentang tirani kekuasaan negara. Jika harus berorasi, mahasiswa tidak meminta penurunan SPP tetapi penuruhan presiden yang otoriter. Jika harus berteriak di gelanggang mahasiswa, mahasiswa tidak mempertanyakan dekannya yang korupsi anggaran tetapi keculasan keluarga istana yang tebal muka mendominasi program mobil nasional. Urusannya memang beda. Dan yang lebih penting, aktivis mahasiswa menjunjung tinggi kata mahasiswa maka dari itu mereka mendasarkan akvitisme dengan tradisi berpikir dan pergulatan gagasan.

Mahasiswa masa kini mungkin memang tidak perlu turun ke jalan menurunkan presiden karena presidennya mungkin baik-baik saja. Mahasiswa sekarang mungkin tidak perlu menentang tirani penguasa karena rejim yang berkuasa saat ini mungkin baik-baik saja. Tapi mahasiswa tidak boleh lupa kebesaran dirinya. Bahwa urusannya bukan sekedar konflik antarangkatan yang remeh temeh tetapi sengketa teritorial antarbangsa. Bahwa urusannya tak sekedar bisa beli pulsa HP tetapi mengingatkan penyelenggara negeri tak mematikan rakyat dengan korupsi. Bahwa urusannya tak melulu soal deretan angka bagus di transkrip tetapi soal membangun karekter.

Menyimak video Mas Anies ini, saya dihadapkan seorang pemimpin yang kritis sejak muda dan berani sejak lama. Lebih jauh, saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap orang lain akan datang menyelesaikan masalah kita. Seperti kata Gandhi, kita yang harus menjadi perubahan yang ingin kita saksikan. Atau dalam bahasa Obama, kitalah perubahan yang sudah kita tunggu sejak lama.

Teknologi mengubah persepsi kita tentang kecantikan

Teknologi pengolahan citra digital membantu kita melakukan banyak hal. Di sisi lain, dia bisa mengubah persepsi kita tentang kecantikan karena dia membantu kita untuk ‘menipu’ secara dramatis. Coba lihat video ini.

Warning: Video ini menampilkan ketelanjangan. Tidak sesuai untuk mereka yang belum berpikir dewasa.

Menjadi Mandela

Nelson Madela telah tiada. Dunia melepas kepergian salah satu simbol kepemimpinan luhur yang pernah dimiliki peradaban manusia. Sulit menemukan orang yang memiliki ketertarikan terhadap kepemimpinan dan sejarah peradaban manusia yang tidak mengenal sosok Mandela. Dia luar biasa dan, bagi saya, dia melampaui kata-kata. Bersusah payah menjelaskan Mandela dengan kata-kata, saya khawatir, justru hanya akan mengurangi kemuliaannya.

Continue reading “Menjadi Mandela”

Mari Berburu Beasiswa Luar Negeri

Saya diundang oleh Berita Satu TV untuk dialog soal meraih beasiswa luar negeri. Silakan simak siaran ulangnya lewat Youtube berikut ini.

Herlina, malaikat [tak] bersayap

Lina dan Lita
Lina dan Lita

Dewi Lestari bisa jadi benar, terkadang malaikat tidak selalu hadir bersayap. Saya melihat sosok malaikat pada Putri Herlina yang belakangan sempat membuat sebagian penduduk dunia maya tertegun terpesona penuh haru. Putri Herlina, yang saya panggil Lina, adalah seorang perempuan cantik tanpa tangan yang baru saja menikah dengan seorang lelaki baik hati bernama Reza. Yang membuat haru, Reza adalah seorang pemuda tampan yang normal secara fisik dan berasal dari keluarga berada dan terhormat sementara Lina adalah seorang gadis yang tinggal di panti asuhan. Bukan. Ini bukan sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Ini adalah sebuah kisah nyata yang mengingatkan kita bahwa keajaiban itu masih terjadi.

8 Juli 2000
Teriakan anak-anak panti asuhan cacat ganda Sayap Ibu membahana menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Wajah-wajah mereka sumringah. Nampak keceriaan dan rasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati kue. Sementara itu di dekat lilin yang masih menyala tersenyum simpul seorang gadis dua puluhan tahun, menunggu saatnya meniup Lilin. Gadis itu adalah Asti, pacar saya, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-22. Setelah sekitar dua tahun melakukan kunjungan rutin ke Panti Asuhan Sayap Ibu, Asti ingin merayakan ulang tahunnya bersama anak-anak penghuni sayap ibu. Memang tidak begitu lazim. Teman-teman saya waktu itu bahkan kadang berkelakar mengejek “pacaran kok di panti asuhan”.

Continue reading “Herlina, malaikat [tak] bersayap”

Anak-anak Bola

Evan Dimas, kapten tim nasional U-19 Indonesia menjadi pembicaraan orang. Setelah 22 tahun laksana kemarau, akhirnya Evan bersama kawan-kawan menjadi pelepas dahaga dengan membawa kemenangan bagi Indonesia di ajang AFF untuk kategori usia di bawah 19 tahun. Saya bukan penggemar sepak bola tetapi rasanya tidak rela melewatkan begitu saja gegap gempita Bangsa Indonesia yang seperti dipersatukan kembali dengan sepak bola. Tanggal 12 Oktober 2013 lalu, Evan dan kawan-kawan kembali membawa berita bahagia. Bitang-bintang muda Garuda berhasil menundukkan tim Gangnam Style (atau sebut saja K-Pop) dari Korea Selatan. Evan lagi-lagi menjadi pahlawan dengan mencetak ketiga gol bagi Indonesia.

Continue reading “Anak-anak Bola”

Pengalaman LDR – Long Distance Relationship

Memadukan Skype dan kartu pos :)
Memadukan Skype dan kartu pos 🙂

Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.

  1. Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
    Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
  2. Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
    Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya.
    Continue reading “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”