Jok Mobil

Fort Scratchley, Newcastle

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.

Continue reading “Jok Mobil”

Cinta sederhana

Newcastle
Men Suda (sebut saja demikian), tetangga saya seberang jalan, patah tangannya. Sebuah kecelakaan kendaraan roda dua yang cukup parah membuatnya menderita patah tulang. Saat itu paruh akhir dekade 1980an, saya belum genap 10 tahun dalam usia. Setiap hari, tanpa diminta oleh siapapun, saya selalu berada di rumah Men Suda. Dek Cung, anaknya nomor dua, memang adalah sahabat saya. Sahabat untuk mancing lindung dan membuat layangan. Dek Cung adalah pahlawan tak tertandingi urusan membuat layangan: be-bean, bucu dua, kedis-kedisan pre-prean, ikut-ikutan. Semua jenis layangan dia bisa.

Continue reading “Cinta sederhana”

Para Sahabat

Noisy Mynah – Newcastle

Bocah itu berlari sekencang-kencangnya, keringatnya bercucuran membasahi baju seragam SD putih merah yang sudah lusuh. Di kepalanya bertengger sehelai topi berlambang Tut Wuri Handayani, lusuh tak terkira. Sepatu hitamnya tak kalah mengenaskan, berdebu dan sedikit camping.

Dia mendapati apit surang rumahnya dan mulai mendesis. Sejurus kemudian melompatlah seekor tupai mungil dari balik rerimbunan kembang kertas. Mahkluk kecil itu berlari dan memanjat kaki sang bocah, mencengkramkan kuku-kukunya di kaos kaki, lalu ke lutut, ke celana merah hatinya dan akhirnya bertengger di bahu. Tupai itu mengendus-endus seakan hendak mencium.

Belum puas melepas rindu dengan si tupai, sang bocah bersiul siul seperti memanggil ke arah pohon kamboja di jaba sanggah tak jauh dari apit surang. Melesatlah dari sebatang dahan, seekor burung tekukur nan jinak. Belum sempat disadari, kakinya sudah bertengger di kepala si bocah yang masih ditutup topi lusuhnya. Dua binatang itu adalah sahabatnya.

Continue reading “Para Sahabat”

Ide-ide cemerlang yang mandul

makan hasil curian

Memiliki ide cemerlang adalah satu hal. Kemampuan menggagas sesuatu yang hebat patutlah dipuji dan disyukuri. Meski demikian, mewujudkan ide cemerlang itu menjadi sebuah tindakan nyata atau hasil yang berfaedah adalah hal yang lain.

Perjalanan saya yang masih belum seberapa menunjukkan bahwa saya memiliki kemampuan untuk merencanakan yang jauh lebih hebat dari kemampuan mewujudkan rencana. Tidak jarang saya harus berpuas diri menyaksikan ide saya terserak tak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa. Saya sering berdalih semua itu karena situasi dan waktu tetapi sesungguhnya itu karena ketidakdisiplinan diri sendiri, tidak lain tidak bukan.

Continue reading “Ide-ide cemerlang yang mandul”

Lima tahun Made Kondang

Koala

Made Kondang telah berusia lima tahun hari ini. Bagi pembaca yang kadang mengunjungi blog ini, mungkin kerap bertemu dengan Made Kondang dan mengikuti pemikiran dan keluguannya. Made Kondang saya ciptakan sebagai tokoh virtual pada tanggal 18 Januari 2005, ketika saya ada di Jakarta. Saat itu, saya berstatus sebagai mahasiwa di UNSW, Sydney dan sedang melakukan penelitian (field work) di Indonesia.

Menjadi dan berperan sebagai diri sendiri kadang membuat saya tidak mudah dalam menyampaikan gagasan. Ada saja yang membatasi dan tidak mudah untuk dijelaskan. Untuk itulah, saya menciptakan tokoh yang bisa mewakili pemikiran-pemikiran saya atau mimpi-mimpi yang tidak memerlukan terlalu banyak justifikasi. Made Kondang, lahir karena alasan dan kebutuhan itu. Dia kadang mewakili saya sendiri, meskipun lebih sering mewakili sosok imajinatif yang ada dalam angan-angan saya. Made Kondang kadang menjadi simbol gagasan, seringpula menjadi obyek penumpahann rasa senang atau tidak senang yang saya miliki. Dia kerap mewakili orang lain di sekitar saya yang menarik perhatian dan saya rasa penting untuk dibahas perilaku atau sifatnya.

Continue reading “Lima tahun Made Kondang”

Kilas Balik 2009

Purnama terakhir tahun 2009

Sepertinya baru kemarin sore saya menulis sebuah posting dengan judul yang terakhir di blog ini untuk memperingati berakhirnya tahun 2008, sekarang tiba-tiba saya sudah harus menulis sebuah ‘rekap’ untuk tahun 2009. Waktu memang cepat sekali berlalu, kadang saya tidak sempat menikmatinya, apalagi memetik pelajaran. Meski mungkin tidak banyak yang terjadi, tahun 2009 tetap layak saya catat sebagai masa yang penting dalam hidup.

Continue reading “Kilas Balik 2009”

Takdir, Bajaj dan Gus Dur

“Gitu aja kok repot!” adalah sebuah ucapan tenar yang sering dikemukakan Gus Dur di masa hidupnya. Dari kalimat ini, jelas terlihat bahwa beliau adalah sosok yang blak-blakan, lugas, cuek dan berani berbeda. Meskipun kontroversial, Gus Dur adalah sosok istimewa yang perlu lebih banyak jumlahnya di Indonesia yang bhineka. Sebagai seorang muslim, Gus Dur adalah tokoh yang menjunjung pluralisme.

Continue reading “Takdir, Bajaj dan Gus Dur”

Kaca mata minoritas

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

http://i.dailymail.co.uk

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.

Continue reading “Kaca mata minoritas”

Mission:Impossible

Saya seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Di saat tertentu saya pernah menikmati Time Square yang gemerlap di Manhattan atau tenggelam di kerumunan manusia pekerja workaholic di Tokyo yang metropolis. Di saat berbeda saya duduk bersila, khusuk melakukan pemujaan di depan sebuah lubang misterius tempat mengalirnya air suci di kawasan sebuah perbukitan di Bali Selatan. Jika kawan saya dari Kanada melihatnya, dia mungkin akan bertanya setengah mencibir “what are you doing here?“. Terutama jika melihat setelahnya saya akan menempelkan beras putih di kening saya, sebuah pemandangan yang bagi sebagian besar kawan saya ‘tidak biasa’.

Continue reading “Mission:Impossible”

Tukang Parkir Pasar Sukawati

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/

Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.

Continue reading “Tukang Parkir Pasar Sukawati”