Saya pernah menulis di blog ini soal pergulatan batin saya ketika membuat sebuah keputusan penting. Tulisan itu adalah sebuah kontemplasi yg bagi saya sangat mendalam, meskipun bagi orang lain mungkin biasa saja. Keputusan penting itu adalah masalah kebajikan, setidaknya demikian saya memahaminya.
Kisah itu bercerita tentang berbagai kegagalan, terutama bagi Asti, istri saya, dalam mendapatkan beasiswa. Di saat yang sama, saya bersemangat membantu banyak orang untuk mendapatkan beasiswa yang sama. Saya sampai pada satu pertanyaan penting: perlukah dalam hidup membantu sesama, jika ternyata kebaikan itu tidak perpihak pada keluarga saya? Saya telah memenangkan sebuah pertarungan penting: kebajikan harus tetap dijalankan, meskipun di saat yang tidak membahagiakan. Kebaikan idealnya adalah investasi tanpa pamerih, seperti halnya doa yang adalah puja, doa bukan tuntutan untuk sebuah imbalan. Meski sering kali gagal menjalankannya, rasanya nasihat ini sangat layak diperjuangkan.
Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di
Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.


