Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam

Ho Chi Minh City, 6 Agustus 2010, jam 11.30 pagi

Prof. Hasjim Djalal

Setelah tragedi yang menegangkan itu, akhirnya saya menginjakkan kaki di Vietnam untuk pertama kali. Ho Chi Minh City adalah nama baru untuk Saigon, yang merupakan nama seorang tokoh terkemuka di Vietnam. Itulah sebabnya Vietnam juga dikenal dengan Negeri Paman Ho. Saya sempatkan mengamati situasi, bandara cukup besar, meskipun tata ruangnya tidak sehebat Changi yang memang luar biasa itu. Setelah melewati imigrasi yang cenderung bekerja lambat, saya bergegas ke luar dengan barang bawaan. Saya akan dijemput petugas hotel seperti dijanjikan panitia. Tidak sulit menemukan penjemput saya karena nama saya tertulis pada kertas yang ekstra besar, lebih besar dari yang lain. Pada sebuah kertas kaku yang disangga tiang besi, saya melihat tulisan “Mr. I Made Andi Arsana” terpampang. Tiangnya dipegang oleh seorang lelaki muda yang santun, penuh senyum. Diam-diam saya berharap huruf “M” di awal tulisan itu segera enyah dan berganti huruf lain yang lebih baik. Mungkin huruf “D”. Entahlah, kapan itu akan terjadi. Singkat cerita saya sudah meluncur ke hotel di sebuah mobil yang lumayan mewah. Sopirnya ramah dan tidak bosan bercerita tentang sejarah Vietnam.

Continue reading “Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam”

Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara

Bandara Sydney, 5 Agustus 2010, jam 6.17 pagi

Perempuan ramah di depan saya menggeleng sendiri, terlihat seperti sedikit kebingungan. Sayapun terpengaruh, resah datang menyelinap, entah dari mana datangnya. Saya mencium gelagat tak beres. “You are required to have a six-month passport at least. Your passport will expire in three months. You are not allowed to visit Vietnam. I am sorry.” Perempuan itu tentu bisa melihat wajah saya yang pucat pasi. Koper yang sudah dinaikkan di atas timbangan terpaksa harus diturunkan. Perasaan saya tidak karuan, akal sehat sirna lari entah ke mana. Saya kecewa sekaligus penuh sesal, mengapa tidak mengecek sebelumnya bahwa saya perlu paspor yang setidaknya masih berumur enam bulan untuk bisa pergi ke Vietnam. Sementara itu, di tangan saya masih tergenggam gulungan peta. Peta itu harus sampai di Veitnam sore itu juga. Melihat perempuan itu sibuk bertanya pada supervisornya, ada satu harapan muncul. Mudah-mudahan ada yang bisa merafalkan mantra-mantra sehingga saya bisa berangkat ke Ho Chi Minh City, Vietnam sesuai jadwal. Sore ini pembukaan workshop dilakukan dan besok siang saya akan presentasi.

Continue reading “Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara”

Knowledge is …

Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.

Continue reading “Knowledge is …”

When a Surveyor Met a Diplomat

Bersama Hassan Wirajuda

Jakarta, 21 Mei 2010
Pagi itu, suasana Porta Venezia di Aryaduta Semanggi tidak telalu subuk. Restoran itu adalah bagian dari Hotel/Apartemen Aryaduta sehingga pagi itu diramaikan oleh mereka yang tinggal di sana. Di salah satu pojok, di sebuah meja dengan temaram lampu yang tidak telalu terang, duduk seorang lelaki berusia matang. Tampilannya sederhana saja, namun elegan berwibawa. Yang tidak memperhatikan tentu tidak sadar bahwa lelaki itu adalah salah satu diplomat terbaik Indonesia. Pada masanyalah dua perundingan batas maritim antara Indonesia dengan negara tetangga, Vietnam dan Singapura, berhasil diselesaikan. Lelaki itu adalah Dr. Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri Indonesia selama dua periode. Di depannya terlihat duduk takzim seorang anak muda. Tentu saja anak muda ini bukan anaknya, bukan juga diplomat kawakan seperti Pak Hassan. Anak muda ini adalah saya, seorang surveyor.

Continue reading “When a Surveyor Met a Diplomat”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

A Geospatial Novel? Why not!

Taken from ASM Magazine

I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.

Continue reading “A Geospatial Novel? Why not!”

Cincin Merah di Barat Sonne

Buku ini mengungkap sisi lain dari perburuan ilmu pengetahuan. Isinya cerdas, kocak, mengharukan dan terutama inspiratif.

(Najwa Shihab – Metro TV)

Dapatkan di Toko Buku Terdekat, atau beli secara online

http://www.andiarsana.com/cincin

Saya ingin sekali menyebut buku ini sebuah ‘Memoar Geospasial’. Entahlah, apakah dia layak disebut seperti itu. Dalam buku ini saya berkisah tentang perjalanan mengarungi Samudra Hindia untuk melakukan survey dasar laut (landas kontinen). Tentu saja di dalamnya tidak hanya soal geospasial, ada juga dimensi lain dari kehidupan seorang manusia biasa, mahasiswa, dosen, peneliti, ayah, anak, dan keluarga umumnya.

Continue reading “Cincin Merah di Barat Sonne”

Beda satu huruf

Ambalat di Kompas
Ambalat di Kompas

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.

Continue reading “Beda satu huruf”

Ambalat

Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Continue reading “Ambalat”

Tokyo, 13 April 2009

Andi in Tokyo
Andi in Tokyo

Diapun mengangkat kepalanya, menegakkan dagu dan diam sejanak. Matanya menyapu sekitarnya dan akhirnya menemukan percaya diri. Diapun mulai berucap:

H.E. Mr. Sasakawa,
Dr. Bailet,
Professors,
My Fellow Alumni,
Distinguished Guests,
Ladies and Gentlemen:

When I was asked by Dr. Bailet to prepare a short speech, I was a bit uncertain. Not because I have nothing to say but in contrary, there is too much to say about this fellowship program. Honestly, I am a little bit nervous standing here in a respected stage because I am representing great young spirit of the Asia Pacific Region. I hope what I am going to say can, to an extent, address common impression we have.

Continue reading “Tokyo, 13 April 2009”