Nasionalisme Usil

Merah Putih
Merah Putih

Celoteh usil tapi sok serem ingin mengingatkan orang tentang nasionalisme atau patriotisme.

  1. Kamu tidak bangga sama Indonesia? Indonesia bangga kok sama kamu, meskipun kamu tahu, kamu tidak layak dibanggakan!
  2. Malu jadi orang Indonesia? Indonesia tidak akan malu punya kamu, meskipun kamu nyaris tidak ada gunanya buat dia.
  3. Nggak ada yang bener di Indonesia ini, semua kacau | Betul! Dengan melihatmu saja, semua orang akan setuju dengan pernyataan itu.
  4. Aku capek hidup di Indonesia, semua amburadul! | Istirahatlah, memang jadi penonton dan tukang komentarpun bisa capek.
  5. Aku mau cabut dari Indonesia. Gak tahan sama semua kebobrokan | Kamu mengambil keputusan tepat karena saat ini Indonesia hanya membutuhkan orang-orang kuat.
  6. Mahasiswa: Payah! Presiden INA takut sama Presiden Amerika | INA: Beda sama kamu, para mahasiwa, yang lebih pinter dari mahasiswa Amerika.
  7. Sampai kapan Indonesia seperti ini? Lelah aku! | Indonesia: Istirahatlah, hanya diam sambil nonton tv dan baca berita online memang melelahkan.
  8. Lama2 aku mau tinggal di luar negeri saja kalau Indonesia tetap begini! | Persiapkan dengan baik dan pergilah. Indonesia melepasmu dengan rela.
  9. Kapan ya Indonesia jadi negara maju? | Ina: Jangan berharap. Aku tidak akan pernah maju kalau kamu hanya mengeluh sambil tidur.
  10. Entah kapan Indonesia akan membaik. Kaya’nya tidak akan! | Ina: Sekarang kamu tahu, pekerjaan menunggu tanpa melakukan apa-apa memang membosankan.

Tidak setuju? Berarti Anda tidak termasuk yang tertuduh. Santai saja Sob dan teruskan perjuangan πŸ™‚

Memetakan Anies Baswedan

surveyor_anies
Anies Baswedan di kerumunan surveyor πŸ™‚

Melihat Anies Baswedan di Mata Najwa, berbagai talk show di TV, atau di koran tentu biasa. Melihat Anies Baswedan hadir di Ruang Kuliah III.4 Teknik Geodesi UGM tentu bukan hal yang biasa. Mungkin ada yang bertanya, sejak kapan Mas Anies mengajar pemetaan? Sejak kapan beliau menekuni remote sensing atau GPS? Ternyata tidak demikian pasalnya. Mas Anies Baswedan hadir di kampus Teknik Geodesi UGM untuk berbicara tentang kepemimpinan. Acara itu bernama β€œLeadership Talk bersama Anies Baswedan” yang digagas dan diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (KMTG) bersama Geodetic English Club (GEC). Pagi itu, Teknik Geodesi heboh sejadinya. Banyak yang mengakui, acara itu adalah satu dari sedikit hal tak lazim dalam sejarah perjalanan Teknik Geodesi UGM.

Continue reading “Memetakan Anies Baswedan”

Guru Baik Hati

Januari hampir berakhir di tahun 2004, musim panas masih segar, belum ada tanda-tanda berakhir. Ketika itu saya memulai kuliah S2 di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia. Pagi itu saya mendapat email dari supervisor, Clive, untuk mengajak saya bertemu. Menariknya, di bagian akhir email itu dia menyampaikan β€œtapi kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.” Saya yang memang masih sibuk lalu menjelakan bahwa saya masih mengikuti kelas persiapan kuliah dan sedang mencari tempat tinggal permanen. Balasannya menenangkan hati, β€œbaiklah, tidak apa-apa. Kamu pasti lagi repot nyari tempat tinggal dan nanti mengisi perabotan. Kamu pasti perlu alat-alat dapur juga. Silakan bereskan semua urusan, setelah itu kita bertemu”

Continue reading “Guru Baik Hati”

Kreatif atau Mati

Jika Anda pernah bepergian dengan pesawat, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa setelah penerbangan lebih dari tiga kali maka perhatian kita terhadap instruksi keselamatan penerbangan mengalami penurunan yang serius. Petunjuk mengenakan sabuk pengaman, pemakaian baju pelampung dan masker oksigen menjadi tidak menarik lagi jika Anda sudah terbiasa naik pesawat. Sering saya perhatikan, pramugari yang memeragakan instruksi itu juga setengah hati melakukan peragaan dan penumpang juga acuh tak acuh. Intinya, semua ritual itu seperti formalitas basa-basi, tidak lebih tidak kurang. Singkat kata, membosankan.

Anggapan saya berubah saat naik Air Asia dari Kuala Lumpur ke Singapura tanggal 26 Juni 2013 lalu. Karena lelah setelah mengikuti konferensi di Kuala Lumpur, saya hampir tertidur bahkan sebelum pesawat tinggal landas. Di sela kantuk dan kegamangan itu saya dikejutkan oleh berisik penonton yang tertawa seperti dikomando. Ternyata penumpang tertawa mendengarkan instruksi keselamatan yang yang dibawakan dengan cara lucu oleh pilot atau ko-pilot (saya tidak tahu persis).

Setelah saya perhatikan, ternyata instruksi keselamatan disampaikan secara langsung oleh seorang lelaki dari ruang kendali sambil diperagakan oleh beberapa orang pramugari. Yang membuatnya tidak biasa adalah cara penyampaianya yang lucu. Seringkali lelaki itu berbicara dengan gaya bergema (echo) yang dibuat-buat. Dia juga menyampaikan komentar-komentar konyol seperti β€œbaju pelampung ini memiliki dua pipa tiup, bukan pipa sedot” yang disambut gelak tawa penumpang. Di saat lain, lelaki itu mengatakan β€œif you cannot find your seatbelt, you might sit on it”. Singkat kata, penumpang dibuatnya riuh rendah tertawa dan penuh perhatian.

Ini video dari Youtube, bukan video yang saya rekam sendiri

Ini adalah contoh kreativitas. Sesuatu yang tadinya biasa dan cenderung membosankan bisa menarik lagi dan menjadi pusat perhatian. Yang diperlukan hanya satu hal: keberanian berpikir dan berbuat di luar kebiasaan. Tentu ada risikonya tetapi jika tidak dicoba, maka ritual instruksi keselamatan di pesawat akan menjadi β€˜barang kuno’ padahal sesungguhnya penting tetapi diabaikan sebagian besar orang. Alangkah berbahayanya jika kita abai akan hal-hal yang penting, hanya gara-gara penyampaiannya tidak menarik dan membosankan.
Dalam banyak hal, kreativitas adalah kunci. Tanpa itu, kita akan mati dengan segera. Mati karena terlindas roda zaman yang berlari kencang dan menjadi korban mengenaskan dalam kompetisi yang kian sengit. Jadi pilihannya jelas, kreatif atau mati.

Memancarkan energi positif

Presentasi di Belanda - 2013
Presentasi di Belanda – 2013

Saya sudah mengajar agak lama. Setiap kali mengajar saya merasakan pengalaman berbeda meskipun membawakan materi yang sama dengan kesiapan yang sama juga. Ternyata perbedaan kualitas penampilan saya sangat dipengaruhi oleh situasi peserta kuliah yang menyimak. Dari sekian pengalaman, saya percaya bahwa energi saya sesungguhnya tidak hanya berasal dari persiapan dan penguasaan materi yang prima tetapi juga dari respon mahasiswa.

Saya dengan mudah bisa tahu jika mahasiswa saya antusias dan antusias ini memancarkan energi positif yang luar biasa besarnya. Energi ini membuat saya menjadi semakin baik. Pancaran energi positif itu menguatkan dan membuat saya menampilkan hal terbaik dari diri saya. Waktu mengajar jadi terasa singkat jika hal ini terjadi. Dua jam berlalu dengan cepat dan tiba-tiba kelas harus berakhir.

Di kesempatan lain saya bisa merasakan jika ada satu atau dua mahasiswa yang sengaja ataupun tidak memancarkan energi negatif saat di kelas. Percayalah, saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat buruk. Saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat untuk membuat mahasiswa jadi tidak suka sama saya. Saya tidak pernah masuk kelas dengan niat mempermalukan atau membuat satu atau dua mahasiswa marah atau tidak nyaman. Namun hal ini kadang terjadi, entah apa pasalnya. Mahasiswa seperti ini biasanya memasang tampang tidak tertarik atau wajah tidak senang. Percayalah, itu sangat amat mengganggu niat baik dan konsentrasi.

Continue reading “Memancarkan energi positif”

Menyemai Kebaikan, Merawat Semangat

semangat
Melawan keterbatasan

Perempuan itu menyambut saya dengan ramah, menerima berkas yang mau saya fotocopy. Ada yang tidak biasa pada dirinya tapi sepertinya dia tidak peduli. Seakan tidak terjadi apa-apa dia bergerak sigap menerima berkas saya lalu bergerak menuju mesin fotocopy yang tidak jauh darinya. Toko itu tidak besar, penuh sesak dengan rankaian janur dan lontar yang berwarna-warni. Perempuan Bali ini rupanya juga menjual bebantenan, sesajen yang memang jadi kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Di berbagai sudut tergantung sampian, tamas, ceper, tangkih dan segala rupa bentuk rangkaian janur dan lontar. Aroma khas lontar segar akrab dengan toko sederhana itu.

Saya masih takjub memerhatikan perempuan itu dari belakang. Tangannya bekerja cekatan memindahkan halaman-halaman dokumen yang difotocopy lalu menyusun hasilnya menjadi satu kesatuan dengan stapler. Dia sigap dan cepat. Sementara itu saya masih terpana. Ingin rasanya banyak bertanya tentang situasinya tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ada rasa iba tetapi buru-buru saya tepis karena iba itu bisa-bisa adalah bentuk β€˜penghinaan’ dalam kemasan lain. β€œIbu memang asli dari sini?” saya akhirnya bertanya. Dijawabnya, β€œsaya asli Gianyar tapi menikah dengan orang sini”. Tidak banyak yang bisa saya tanyakan lagi karena takut tidak tepat. Dalam hati saya membayangkan, pastilah lelaki, suami perempuan ini, baik hatinya.

Continue reading “Menyemai Kebaikan, Merawat Semangat”

Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan

krl
Suasana KRL yg nyaman πŸ™‚

Kereta yang bergerak dari Bogor ke arah Kota Jakarta itu penuh. Banyak orang harus berdiri karena semua tempat duduk terisi. Saya termasuk yang memilih untuk berdiri meskipun tadinya dapat tempat duduk. Ada beberapa perempuan dan lelaki senior yang lebih membutuhkan. Meskipun sebenarnya saya punya tugas yang harus diselesaikan, saya akhirnya memilih menutup laptop, memasukkan ke tas dan berdiri. Tidak nyaman bekerja di kereta dengan tatapan perempuan atau lelaki tua yang lebih membutuhkan kursi.

Syukurlah baterei HP saya habis sehingga saya tidak tenggelam di dunia maya berakrab-akrab dengan orang jauh dan mengabaikan orang dekat. Saya raih tali pegangan yang berjuntai di atas kepala. Memandang ke luar jendela, saya menikmati suasana sepanjang jalan. Harus diakui, dibandingkan sepuluh tahun silam, kereta di Jabodetabek jauh lebih nyaman kini. Saya tidak ragu mengacungkan jempol untuk siapa saja di PT Kereta Api Indonesia yang menghadirkan kebaikan itu.

Kekaguman saya terganggu begitu melihat seorang gadis cantik yang membuang tisu ke lantai kereta. Terus terang saya terkejut karena tidak berharap perbuatan β€˜hina’ itu dilakukan oleh seorang gadis yang kelihatannya terdidik dan bermasa depan itu. Pakaiannya bagus, pada telinganya terselip earphone dengan pandangan mata yang rupanya begitu menikmati diri sendiri. Saya berpikir sejenak, bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan.

Continue reading “Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan”

Berkah di Hari Valentine

http://media.viva.co.id/

Hello Kawan,

Kamu pasti sudah mendengar berita baik ini. Kami semua bersykur, setelah lama menunggu, akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami. Tuhan mencintai kami penuh seluruh dengan menurunkan berkah di hari Valentine ini. DiberikanNya pada kami apa yang sudah bertahun-tahun kami idam-idamkan dan rindukan. Kami dikirimi bahan makanan berlimpah. Keluarga bersuka cita menyambut berkah itu. Anak-anak bersenandung bermain di halaman dan berdansa menikmati guyuran nikmat yang tiada tara. Berkah itu akan membuat generasi penerus kami hidup tenang selama bertahun-tahun di masa depan.

Continue reading “Berkah di Hari Valentine”

Radius Siaga Gunung Kelud

Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Kelud?

Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (5 – 85 kilometer dari Gunung Kelud)

Untuk Pengguna Google Earth, silakan unduh file KML di sini.

Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini

PS. Informasi ini hanya menunjukkan jarak dari puncak Gunung Kelud dan tidak mewakili status kesiagaan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, meskipun radius yang ada di peta ini hanya sampai 85 kilometer, kawasan di luar itu juga tetap harus waspada. Di Jogja, misalnya, hujan abu cukup parah dan masyarakat sebaiknya menggunakan masker. Semoga semua selamat.

Turun Tangan Menjadi Guru SD

Mengajar

Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya β€œDe, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.

β€œCobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.

Continue reading “Turun Tangan Menjadi Guru SD”