Asumsi


http://farm3.static.flickr.com/

Saat akan ke Monaco, saya melewati imigrasi di Bandara Sydney. Seperti biasa, ada pemeriksaan paspor. Saya menuju ke loket dengan petugas yang nampak berwajah Asia, kemungkinan besar Filipina. Sebelum saya bicara apa-apa dan sebelum dia memeriksa passpor saya dia mengeluarkan satu kalimat yang tidak saya mengerti artinya. Saya tahu itu Bahasa Tagalog. Dia pastilah menduga saya asli Filipina, seperti dirinya.

“Maaf Pak?” saya balik bertanya kepada dia, kali ini dalam Bahasa Indonesia, bukan Bahasa Inggris. Tentu saja dia tidak mengerti apa yang saya bilang, tetapi segera yakin saya bukan orang Filipina.

Oh, I thought you are a Philippino!” katanya dengan ringan sambil tersenyum.

Tentu saja tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Perlakuan seperti ini sering saya alami di luar Indonesia. Petugas keamanan Gedung PBB di New York juga melakukan hal yang sama ketika saya memasuki gedung itu. Banyak satpam di sana berasal dari Filipina dan tanpa pikir panjang berbicara dalam Bahasa Tagalog dengan saya. Ada asumsi yang bermain di sini. Lebih sering saya tidak hiraukan, tetapi sekali waktu saya merasa agak terganggu juga. Saya menduga ini adalah bentuk sederhana dari sikap ‘stereotyping’ atau ‘generalising’ secara berlebihan.  Sangat berbahaya bermain dengan asumsi karena kita tahu, “assumption is the mother of all f**k ups!” Kadang merasa perlu untuk melayani permainan asumsi ini.

Continue reading “Asumsi”

Memetakan Bencana dan Membudayakan Peta


Dalam sebuah sambutannya pada acara pameran di Jakarta Convention Center tahun 2006, Dr Kusmayanto Kadiman yang adalah Menteri Riset dan Teknologi ketika itu mengatakan bahwa Indonesia adalah ‘supermarket bencana alam’. Meski disampaikan setengah berkelakar, ucapan ini tidaklah salah.

Di Indonesia, hampir semua jenis bencana alam ada. Apa yang terjadi sebulan terakhir menjadi bukti kebenaran ucapan itu. Sebagian bencana memang bisa dicegah seperti banjir, sebagian lain harus diterima apa adanya, misalnya letusan gunung berapi. Untuk yang terakhir ini, Indonesia konon berada di sebuah cincin api atau ‘ring of fire’ yang menyimpan berbagai potensi bencana.

Continue reading “Memetakan Bencana dan Membudayakan Peta”

Membuat Peta dengan Google Maps

 

Sebagai orang Geodesi, saya merasa bahwa munculnya Google Earth dan Google Maps merupakan suatu revolusi yang mengubah pandangan orang (awam) terhadap data dan informasi geospasial berupa peta. Google telah membuat peta menjadi sesuatu yang akrab dengan berbagai kalangan, tidak hanya orang teknis. Munculnya Google Maps ini melengkapi revolusi sebelumnya dengan ketersediaan GPS, Global Positioning System.

Continue reading “Membuat Peta dengan Google Maps”

Pidato Obama di Universitas Indonesia

 

Terima kasih… terima kasih… terima kasih banyak semuanya.

Selamat pagi!

Saya sangat senang berada di sini, di Universitas Indonesia. Kepada staf, dosen dan mahasiswa serta kepada Dr. Gumilar Rusliwa Sumantri, terima kasih banyak atas keramahtamahannya.

Assalamualaikum dan salam sejahtera.

Terima kasih atas sambutan yang sangat mengesankan. Terima kasih kepada masyarakat Jakarta. Dan terimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Pulang kampung, nih!

Continue reading “Pidato Obama di Universitas Indonesia”

Radius Siaga Merapi

Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Merapi?

Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (15, 20, 25, 30 dan 35 kilometer dari Gunung Merapi)

Untuk Pengguna Google Earth, silakan unduh file KML di sini.

Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini

Bagi Anda yang memiliki informasi terkait Bencana Merapi yang ingin dibagi kepada khalayak, silakan kunjungi Peta Partisipatif yang dikembangkan oleh UGM.

The power of networking

Ibu saya selalu mengingatkan, teman sangatlah penting artinya dalam hidup. Pengalaman beliau menjalani usaha kecil di dunia properti membuatnya yakin bahwa teman adalah kekayaan yang sangat penting artinya. Teman lah yang seringkali menyelamatkan kita dalam kegentingan, teman juga yang mengingatkan kita dalam kekhilafan. Tentu saja ibu saya juga percaya, teman yang dimaksudnya bukanlah teman untuk berkolusi apalagi berkorupsi dan bernepotisme.

Dalam bahasa lebih seram yang sering saya dengar dalam beberapa tahun terakhir, istilah pertemanan yang tadinya sederhana itu berganti dengan istilah lain yang lebih canggih dan rumit: networking. Jejaring atau networking adalah istilah lain untuk menjelaskan perlunya kita memiliki teman baik dalam jumlah yang banyak. Meski sebaiknya tidak boleh didasari dengan suatu niat untuk mengambil keuntungan secara berlebihan, memiliki semakin banyak teman tentu samakin baik. Kenyataannya memang demikian.

Continue reading “The power of networking”

A three-minute thesis competition

This is what happens if a a three-year’s worth of works have to be presented only in three minutes.

Neraka bertobat

Dahulu, malam yang dingin dan angin yang lirih adalah alasan yang bijak untuk melantunkan puisi. Kesendirian dan pergulatan pikir yang tiada bertepi adalah paduan nan digdaya untuk meceritakan keindahan cinta. Tapi itu dulu. Di masa lampau ketika masih tersisa sebaris misteri di lorong-lorong hati yang penasaran. Dahulu kala, ketika jiwa masih muda dan liar bergairah. Ketika itulah, tatapan menjelma menjadi sabda, dan kata-kata tak kurang dari hukum yang padanya segenap nyawa dan belantara bersimpuh memohon ampun.

Continue reading “Neraka bertobat”

A Great Speech of Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal, the new Ambassador of Indonesia for the United States of America, delivered his speech during a welcome dinner organised by USINDO. In my opinion, this is one of the best speech delivered by an Indonesian about America. The speech is realistic and optimistic at the same time. It was delivered with elegant language, depicting respects of Indonesia to the United States, but at the same time also properly asking the US to show the same, not just to Indonesia but also the world. Dino is a young, dynamic and nationalist Indonesian, yet an open-minded and internationally-knowledgeable leader. Here is his speech.

Back for good

putrahermanto.wordpress.com

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.

Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.

Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.

”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.

Continue reading “Back for good”