Menyusuri pematang sawah menuju Pura atau meniyisiri kali menuju muara yang tak pernah dijumpai adalah pengalaman yang sesungguhnya tidak baru. Kali ini terasa berbeda. Berbeda karena teman-teman yang dulu kecil kini sudah menggendong anaknya. Berbeda karena jalanan yang dulu berlumpur kini rapi berlapiskan beton. Inilah manifestasi kemajuan, kata mereka. Danau kecil di sebelah desa yang dulu dicapai dengan kaki telanjang, kini dengan kuda besi. Sang kuda yang dibeli dari Jepang, akrab dengan jalan yang sudah berlapiskan beton. Apakah hidup di desa sudah berubah? Tentu saja berubah. Bukankah perubahan adalah satu-satunya yang tetap dalam hidup ini?
Author: Andi Arsana
Dewata
Gema genta bertalu menyambutku, aku labuhkan rindu yang lama tak tersirami. Seperti itulah aku yang kembali pulang, air sucimu menjadi pelipur lara yang lama dan perih. Kidung suci yang terdengar sayup membangkitkan kisah masa kecil saat pemujaan menjadi kenikmatan yang ditunggu 210 hari lamanya. Aku yang memuja di waktu kecil dengan gairah, kini pulang mencoba membangun hasrat dari puing-puing kegelisahan di masa lalu.
Para leluhurku, saksikanlah kepulanganku yang berbuah tangan penuh seperti doa ibu dalam setiap otonanku. Aku yang pergi dengan tangan hampa kini pulang menyangkil menyuwun, persis seperti harapan para tetua yang ketika itu menyentuhkan sampian di pundak dan kepalaku. Doa mereka nampaknya mendekati keterkabulannya, aku pulang berbuah tangan penuh seluruh. Kubawakan untukmu ilmu, harta, tahta, dan yang terutama harapan untukmu bangun di pagi hari yang tersenyum.
Selamat Tahun Baru
Sunyi di belakang rumah
Kepada sunyi di belakang rumah, aku titipkan senyumku yang pernah tertinggal untuk siapa saja yang mengerti arti persahabatan, perjuangan, pemujaan dan juga cinta. Di dalam misteri waktumu, ijinkan aku mencari persinggahan lain tanpa melupakanmu.
Queens, hari terakhir
Selamat Hari Ibu
Ibu
By Iwan Fals
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Malam terakhir
Kata-kata tua dalam peradaban melayu menasihatkan, bukanlah perpisahan yang kita tangisi tetapi pertemuanlah yang semestinya kita sesali. Saya sejak lama tidak setuju ini karena pertemuan dan perpisahaan adalah dua hal niscaya yang pasti terjadi. Jika ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Keduanya biasa saja dan keduanya harus diterima.Lelaki berkebangsaan Filipina datang mengulurkan tangannya dan berkata “I have been relying on you for this last three months for anything technical. Thank you Amigo.” Tentu saja apresiasi seperti ini membuat akhir perjalanan terasa paripurna. Di belakangnya muncul gadis manis asal Colombia dengan wajah sahdu dan mata berkaca-kaca. Tidak banyak yang bisa diucapkannya kecuali berterima kasih dan berharap kebaikan untuk saya dan keluarga. Dua orang ini menghabiskan waktu beberapa saat mengulang-ulang cerita yang sama pertanda memang perpisahaan ini menyisakan ketidaknyamanan.
Saya sendiri di ruangan, memandang ke luar jendela yang mulai gelap. Dingin musim salju terasa masuk walaupun ruangan kedap pengaruh luar. Dalam terawanan ini, muncul kawan lain dari Benin dengan ucapannya yang sangat menyentuh. “It is not the people you’ve helped who will pay you back but the hand of your creator that will choose you and make you the best you can be.” Bahasa Inggris terbata berlogat Perancis terasa sangat bermakna karena nampaknya kawan ini memang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Saya sangat tersentuh.
Sebelum itu datang juga teman dari Comoros. Dia yang tidak berbahasa Inggris dan saya yang tidak berbahasa Perancis menggunakan bahasa “saling mengerti” dan ada pelukan persahabatan yang mengakhiri komunikasi bisu itu. “Send email”. Itu sepatah kalimatnya dalam bahasa yang saya mengerti. Saya pun menjawab dengan membungkukkan badan dan mencakupkan tangan dengan tangan kanan mengepal dan tangan kiri meggenggamnnya. Saya tahu dia akan mengerti maksudnya.
Teman dari Brazil datang terakhir. Dia yang tidak terbiasa berbasa basi hanya tersenyum. “I can go home with you toninght. Take your time… as long as you want and then we can go together.” Lelaki ini berkata tegas tetapi tersirat kesedihan di balik kalimatnya. Kesediaannya membantu mengumpulkan file dan foto serta menuliskannya dalam DVD hingga larut malam mebuat saya terharu. Persahabatan memperoleh maknanya malam ini.
Dalam perjalanan pulang, saya menemui rekan dari Kenya di ruangannya. Rekan ini beberapa kali datang ke ruangan saya sebelumnya dan berpesan agar “mampir” ke ruangannya ketika pulang nanti. “This is your last day, my friend. I don’t wanna miss it” katanya. Kawan ini memang termasuk baru bergabung tetapi telah menjadi bagian dari kelompok yang telah lama solid dan kompak. “I will not forget that you assisted me really during my first few days here in New York” dia kembali mengulang kalimat yang sudah sering diucapkannya. Saya hanya tersenyum seraya membungkukkan badan sambil tetap menjabat tangannya.
Ketika sampai rumah, terjadi percakapan santai dengan rekan lain dari Cameroon. “Yes, I know. It is sad to leave this country huh. I want to be here for two years more.”
Jadi teringat beberapa hari yang lalu. Kawan perempuan dari Thailand telah meninggalkan Ney York lebih dulu. Ketika berpisah, nampak sekali kesedihihan di wajahnya dan ada yang tidak bisa diungkapkannya ketika bersalaman terakhir. Dia salah satu teman paling sabar dan paling cekatan menjadi event organizer.
Malam ini, ketika dingin menyelimuti New York, saya harus mengucapkan kalimat perpisahan.
Kebekuan ini menjadi karena tidak mudah ternyata menghentikan sesuatu yang mulai terjalin dengan baik. Tapi semua ini akan pulih segera karena saya pulang ke rumah, mendapati kehangatan dari orang-orang yang dicintai. Mendapati keramahan Indonesia.
Deepak Chopra: You can make a difference!
Bertemu langsung dengan Deepak Chopra adalah pengalaman yang sangat berharga. Tentu saja pertemuan ini tidak sama dengan pertemuan anak-anak kecil di akhir tahun 90-an dengan Joshua di Clubnya. Ini bukan pertemuan idola dengan fans-nya yang diwarnai jerit histeris.
Meski demikian, harus diakui bahwa mengidolakan seseorang dan kemudian berkesempatan bertemu muka tetap saja perlu dicatat. Setidaknya begitu menuru saya pribadi. Pertemuan dengan Deepak Chopra terjadi tangal 18 Desemember 2007 di Gedung Sekretariat PBB di Manhattan, New York ketika beliau memberi kuliah pencerahan seputar kesadaran dan kedamaian. Ini adalah sisi lain dari ‘being in New York in the right time‘.
Sebagai seorang ilmuwan sekaligus filsuf, Deepak dapat menyampaikan gagasannya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Analoginya tentang kehidupan dan peradaban menggunakan telepon genggam, misalnya, adalah bahasa yang sangat membumi untuk memahami sesuatu yang sangat filosofis. “Telekomunikasi yang kita nikmati sekarang berasal dari anggapan ilmiah dasar yaitu esensi dari materi adalah non-materi”, begitu dia menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah cara hidup kita. Orang bisa mengirimkan gambar dengan telepon genggam dari Amerika ke China dalam beberapa detik merupakan hasil dari asumsi dasar di atas. “Gambar bukanlah gambar [semata] tetapi dia bisa diubah menjadi gelombang dan seterusnya dan seterusnya” Seandainya saja gambar hanya dilihat sebagai gambar, apalagi yang dibingkai di atas meja ruang tamu, barangkali manusia tidak akan pernah berpikir untuk memindahkannya dalam waktu 5 detik dari Amerika ke China. Itu barangkali yang ingin disampaikan oleh Deepak dalam ceramahnya.
Ratusan peserta di Ruang Konferensi 2 United Nations Secretariat Building terkesima dengan pemaparannya tentang ide-ide besar yang dibahasakan dengan sangat tepat, sederhana dan pas. Kita ingin berbuat sesuatu, tetapi seringkali kita tidak berdaya karena kita berada di dalam system yang tidak sehat. “What can we do?“, begitu seorang perempuan bertanya.
Kita harus kembalikan persoalan ini kepada kaidah dasar bahwa organisasi merupakan representasi dari kumpulan individu. Organisasi tidak akan pernah salah, tanpa individu yang salah. Yang salah adalah ‘aku’. Yang menyebabkan organisasi tidak sehat adalah aku yang sakit. Begitu Deepak memulai jawabannya.
Ada tiga hal yang dia kemukakan secara singkat. Pertama, yakinlah bahwa saya bisa membuat perubahan. Believe me, you can make a difference dengan cinta dan kepercayaan. Tidak ada yang akan berubah tanpa ‘saya’ berubah. Kedua, take action, lakukan sesuatu yang nyata. Cinta tanpa aksi itu tanpa makna dan aksi tanpa cinta itu tidak relevan. Yang ketiga, berceritalah tentang ide-ide baik. Tell stories and give influences. Dengan bercerita tentang hal-hal yang baik termasuk gagasan-gagasan baik, kita telah menyebarkan kebaikan dan dengan ini dunia akan berubah.
Apa yang disampaikan Deepak mungkin sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, tetapi sangat menyentuh. Mengenalnya sebagai orang besar membuat gagasan ini menjadi lebih bermakna. Hal besar sesungguhnya tidak selalu harus terdengar wah dan rumit. Hal sederhana yang mudah dipahami juga bisa menjadi sesuatu yang besar sesungguhnya.
Begitulah Deepak Chopra membius pendengarnya dengan filsafat yang dalam tetapi mudah dipahami karena kejernihannya, sekaligus tidak terdengar menggurui. Pengetahuannya tetang ilmu teknis dan ilmiah membuat apa yang diucapkannya lebih mudah diterima. Terima kasih Dr. Chopra.
Kembali pulang
Aku kadang membiarkan diri tenggelam dalam kelupaan. Bergumul dalam hangatnya kenistaan cinta yang sesungguhnya semu. Juga dalam gemerlap dunia yang digerakkan ambisi berbalut dengki, iri dan keakuan. Begitulah aku membiarkan diri di dalamnya dan kusaksikan keindahan, kurasakan kenikmatan, kunikmati kehangatan. Tapi itu hanya sementara, kekasihku. Aku tak akan bertahan lama tanpamu.
Beragama
Saya sudah lama tidak menulis sesuatu yang serius seperti ini. Itupun kalau ‘beragama’ memang dianggap lebih serius dari bunga yang mekar di ruangan kerja atau kisah suatu malam di New Jersey. Apapun itu, saya masih yakin bahwa berbicara soal agama berarti bicara sesuatu yang serius. Walaupun menurut pemahaman sederhana saya, Tuhan juga pasti suka hal-hal lucu. Mengingat ada beberapa pemuka agama yang meyakinkan saya bahwa Tuhan bisa marah kalau kita berbuat dosa, tentu Tuhan juga bisa tertawa kalau saya melucu. Bagi teman saya yang pelawak, Tuhan tentu saja adalah salah satu sumber inspirasi, dan doanya pastilah kira-kira berbunyi “Ya Tuhan, semoga hamba dikaruiniai kelucuan hari ini”.
Beberapa kawan bertanya “apakah saya menjalankan tradisi agama dengan baik?”. “Are you really practicing your Hinduism?”, tanya kawan lainnya. Dalam sebuah acara makan siang di kafetaria United Nations, pertanyaan seperti ini bisa saya jawab dengan mudah sambil berkelakar: “I am a believer, I believe in God“. Cerita panjang lebar tentang film Contact kemudian dengan mudah membuat diskusi tentang agama dan Tuhan menjadi seru, menarik dan tidak menyakiti. Jujur saja, ditanya seperti itu saya teringat kepada Jodie Foster di Contact. Seorang Forster yang tidak percaya Tuhan dianggap tidak layak mewakili umat manusia ketika berhadapan dengan makhluk lain (aliens). Di saat hal kritis terjadi, sebenarnya agak berlebihan menurut saya mempertanyaan apakah seseorang beragama atau tidak untuk bisa mewakili suatu kelompok dalam urusan yang tidak terkait agama. Namun begitu, perjalanan menuju pada pertanyaan ini yang sesungguhnya istimewa. Jika diikuti, tidak ada satupun yang sesungguhnya “ridiculous”.
Ijinkan saya berbagi pandangan, bagaimana saya melihat agama. Ada tiga aspek utama yang saya pegang secara sederhana. Pertama adalah aspek sakralitas. Agama memiliki aspek sakral yang memang demikian adanya, tidak perlu didiskusikan dan tidak perlu diusik. Di tingkat ini pasti ada perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya tetapi semestinya tidak perlu dibahas. Kalau saya menyebut Tuhan saya Hyang Widhi sementara yang lain dengan Allah atau lainnya, saya tidak pernah tertarik membahasnya.
Aspek kedua adalah spiritualitas. Masing-masing orang memiliki cara sendiri berhubungan dengan Tuhan. Jangankan agama berbeda, orang seagama pun bisa berbeda di tingkat ini. Spiritual adalah apresiasi individu yang ketika tidak diinstitusikan, tidak akan pernah menimbulkan masalah. Persoalan akan muncul ketika satu praktik spiritual mencoba menginstitusikan kelompoknya dan memaksakannya kepada yang lain. Sejauh ini ada di tingkat individu, tidak semestinya masalah spiritual muncul dan menghancurkan.
Aspek ketiga adalan moralitas. Menurut saya pribadi, ini yang sangat penting. Di tingkat ini, agama konon harus mampu membuat seseorang menjadi baik bagi orang lain. Bagi saya ini yang terpenting sekaligus sulit sekali. Bakti kepada Tuhan yang akhirnya menimbulkan permusuhan tak perlu dengan sesama manusia mungkin juga akan membuat Tuhan kecewa (itupun kalau Tuhan bisa kecewa). Di tingkat moralitas, saya tidak tertarik bertanya “apa agamamu?” karena sesungguhnya bukan itu alasan terjadinya kekerasan dan penindasan. Mengutip kalimat Einstein yang beredar melalui email, saya setuju bahwa kekacauan dan kejahatan tidak dibuat Tuhan, tetapi merupakan tanda ketiadaan Tuhan, setidaknya di hati manusia.
Jika ada yang bertanya apa agama saya, saya seorang Hindu. Menjadi Hindu tidak berarti menghalangi saya untuk mencintai mereka yang meneladani Muhammad, Yesus dan Budha. Saya yakin itu.
You had me at hello
Jerry: Hello. Hello. I’m looking for my wife.
Jerry: Wait. Okay, okay. Okay. If this is where it has to happen, then this is where it has to happen. I’m not letting you get rid of me. How about that? This used to be my specialty. You know, I was good in the living room. They’d send me in there, I’d do it alone. And now I just… I don’t know. But tonight, our little project, our company, had a very big night. A very, very big night. But it wasn’t complete, wasn’t nearly close to being in the same vicinity as complete, because I couldn’t share it with you. I couldn’t hear your voice, or laugh about it with you. I missed my wife. We live in a cynical world, a cynical, cynical world, and we work in a business of tough competitors. I love you. You complete me. And if I just had…
Dorothy: (interrupting) Shut up. Just shut up…..You had me at hello. You had me at hello.