Malam terakhir


Kata-kata tua dalam peradaban melayu menasihatkan, bukanlah perpisahan yang kita tangisi tetapi pertemuanlah yang semestinya kita sesali. Saya sejak lama tidak setuju ini karena pertemuan dan perpisahaan adalah dua hal niscaya yang pasti terjadi. Jika ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Keduanya biasa saja dan keduanya harus diterima.
Memiliki pemahaman seperti ini ternyata tidak cukup untuk menghindarkan saya dari kesedihan akan perpisahan. Ini adalah malam terakhir saya ada di Gedung PBB, New York, setelah tiga bulan menjalani berbagai proses. Tiga bulan itu telah berakhir dan saatnya megucapkan kalimat perpisahan. Seperti diduga, saya sama sekali tidak sedih meninggalkan Amerika, tidak juga gedung PBB. Yang membuat sedikit berat adalah momen yang terlewatkan selama tiga bulan ini membekas dengan sangat baik. Kejadian buruk dan baik terangkum menjadi satu dan bermanifestasi menjadi kenangan yang ternyata sangat sulit diabaikan di saat terakhir.
Argumentasi, perbedaan pendapat, perselisihan paham, persahabatan yang tulus dan benturan budaya telah menjadikan semuanya sempurna. Betul memang kata Gede Prama, kesempurnaan tercipta dari serpihan ketidaksempurnaan. Malam terakhir ini menjadi sedemikian berarti dan berkesan. Jika waktu bisa ditunda, saat inilah rasanya momen yang paling tepat untuk melakukannya.

Lelaki berkebangsaan Filipina datang mengulurkan tangannya dan berkata “I have been relying on you for this last three months for anything technical. Thank you Amigo.” Tentu saja apresiasi seperti ini membuat akhir perjalanan terasa paripurna. Di belakangnya muncul gadis manis asal Colombia dengan wajah sahdu dan mata berkaca-kaca. Tidak banyak yang bisa diucapkannya kecuali berterima kasih dan berharap kebaikan untuk saya dan keluarga. Dua orang ini menghabiskan waktu beberapa saat mengulang-ulang cerita yang sama pertanda memang perpisahaan ini menyisakan ketidaknyamanan.

Saya sendiri di ruangan, memandang ke luar jendela yang mulai gelap. Dingin musim salju terasa masuk walaupun ruangan kedap pengaruh luar. Dalam terawanan ini, muncul kawan lain dari Benin dengan ucapannya yang sangat menyentuh. “It is not the people you’ve helped who will pay you back but the hand of your creator that will choose you and make you the best you can be.” Bahasa Inggris terbata berlogat Perancis terasa sangat bermakna karena nampaknya kawan ini memang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Saya sangat tersentuh.

Sebelum itu datang juga teman dari Comoros. Dia yang tidak berbahasa Inggris dan saya yang tidak berbahasa Perancis menggunakan bahasa “saling mengerti” dan ada pelukan persahabatan yang mengakhiri komunikasi bisu itu. “Send email”. Itu sepatah kalimatnya dalam bahasa yang saya mengerti. Saya pun menjawab dengan membungkukkan badan dan mencakupkan tangan dengan tangan kanan mengepal dan tangan kiri meggenggamnnya. Saya tahu dia akan mengerti maksudnya.

Teman dari Brazil datang terakhir. Dia yang tidak terbiasa berbasa basi hanya tersenyum. “I can go home with you toninght. Take your time… as long as you want and then we can go together.” Lelaki ini berkata tegas tetapi tersirat kesedihan di balik kalimatnya. Kesediaannya membantu mengumpulkan file dan foto serta menuliskannya dalam DVD hingga larut malam mebuat saya terharu. Persahabatan memperoleh maknanya malam ini.

Dalam perjalanan pulang, saya menemui rekan dari Kenya di ruangannya. Rekan ini beberapa kali datang ke ruangan saya sebelumnya dan berpesan agar “mampir” ke ruangannya ketika pulang nanti. “This is your last day, my friend. I don’t wanna miss it” katanya. Kawan ini memang termasuk baru bergabung tetapi telah menjadi bagian dari kelompok yang telah lama solid dan kompak. “I will not forget that you assisted me really during my first few days here in New York” dia kembali mengulang kalimat yang sudah sering diucapkannya. Saya hanya tersenyum seraya membungkukkan badan sambil tetap menjabat tangannya.

Ketika sampai rumah, terjadi percakapan santai dengan rekan lain dari Cameroon. “Yes, I know. It is sad to leave this country huh. I want to be here for two years more.”

Jadi teringat beberapa hari yang lalu. Kawan perempuan dari Thailand telah meninggalkan Ney York lebih dulu. Ketika berpisah, nampak sekali kesedihihan di wajahnya dan ada yang tidak bisa diungkapkannya ketika bersalaman terakhir. Dia salah satu teman paling sabar dan paling cekatan menjadi event organizer.

Malam ini, ketika dingin menyelimuti New York, saya harus mengucapkan kalimat perpisahan.
Kebekuan ini menjadi karena tidak mudah ternyata menghentikan sesuatu yang mulai terjalin dengan baik. Tapi semua ini akan pulih segera karena saya pulang ke rumah, mendapati kehangatan dari orang-orang yang dicintai. Mendapati keramahan Indonesia.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s