Meskipun diucapkan dengan kelakar, saya yakin ujaran kawan ini mewakili perasaan dan pemikiran banyak sekali orang di sekitar saya. Jangankan orang lain, kata-kata semacam ini bisa jadi bahkan juga mewakili apa yang dicita-citakan orang tua atau mertua saya. Mungkin saja dalam hati kadang mereka bertanya “
Hidup di antara manusia dengan opini beragam memang harus siap dengan berbagai pandangan, terutama pandangan yang tidak sama dengan filosofi hidup kita. Saya secara pribadi tidak pernah menyalahkan sedikit juga pandangan dan pertanyaan seperti ini. Adalah kejadian yang sangat umum jika orang mengaitkan keberhasilan dan kesuksesan dengan materi. Memang tidak mudah untuk menerima bahwa seseorang dikatakan berhasil dan sukses dalam karirnya kalau ternyata tidak terbukti dengan keberadaan materi. Jikapun ada, nampaknya masih sangat sedikit yang bisa menerima bahwa kesuksesan karir tidak harus selalu dikaitkan dengan mobil dan uang banyak. Ketika menuliskan inipun saya tersenyum geli, merasa menjadi orang yang paling naif sedunia, bahkan sedikit munafik 🙂
Saya tidak akan berpanjang-panjang untuk mendebatkan ini karena kita memang memiliki pandangan yang pastilah tidak sama. Yang jelas, siapapun di muka bumi ini sebaiknya paham betul kebutuhannya akan materi. Harus jelas dimengerti seberapa banyak kebutuhan, termasuk seberapa besar keinginan. Yang lebih penting lagi, saya yakin bahwa kita harus menyempatkan diri untuk memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Saya tahu, saya mulai terdengar berteori dan sok bijaksana. Kawan saya tadi pasti dengan segera menyambar dengan kelakar khasnya “Kamu ngomong gitu kan untuk menutupi ketidakmampuanmu!” Teman saya ini juga tidak [sepenuhnya] salah. Tapi jika saya katakan bahwa saya tidak tertarik membeli mobil karena secara serius ingin berpartisipasi mengurangi emisi karbon, saya khawatir jawaban tersebut terdengar lebih memuakkan lagi.
Tanpa bermaksud memperseterukan pandangan yang memang beragam, kenikmatan hidup bagi saya adalah adanya kesempatan memilih secara sadar dari berbagai pilihan yang ada. Kenikmatan berjalan kaki mungkin akan meningkat jika jalan kaki itu adalah pilihan sadar, justru ketika kita mampu membeli mobil, misalnya. Menjadi dosen yang katanya gajinya kecil adalah juga kenikmatan tiada tara, terutama jika itu dipilih dengan sadar justru ketika banyak perusahaan swasta memperebutkan Anda. Bagi seorang presenter seperti Najwa Shihab, misalnya, bersekolah di negeri orang mungkin bukan pilihan yang menguntungkan secara materi. Meski begitu, pilihan yang tidak nyaman ini akan menjadi bermakna jika bersekolah ini adalah pilihan sadar justru saat berbagai tawaran memandu acara deras berdatangan. Itulah, menurut saya, yang disebut kenikmatan.
Dalam kebuntuan pemikiran dan kegelapan tanpa solusi bernas, saya biasanya kembali kepada prinsip sederhana: Hidup adalah tumpukan pilihan. Seperti nasihat Ibu saya di masa kecil, “memiliki kalung emas adalah untuk diri sendiri. Ketika memakainya, pakailah di dalam dan tertutup baju, tidak usah dikeluarkan dengan sengaja. Biarlah kalung itu membuat kita tenang dan bangga di dalam hati saja.” Saya tidak tahu persis makna nasihat itu, tetapi sepertinya saya bisa menerka-nerka maksudnya, terutama ketika kawan saya bertanya tentang Jazz 🙂