Tambal ban


Perasaanku lega menyaksikan ada ban tergantung di batang kayu di depanku bertuliskan “tambal ban.” Syukurlah ada yang masih bersedia memberi pelayanan tambal ban di waktu yang sudah larut seperti ini. Setelah menuntun motor dengan ban bocor selama beberapa saat, kini perasaanku lebih tenang.
Lelaki tua di atas 60 tahun menyapa dengan ramah. “Monggo Mas, dijok’ke mriki mawon“, sambil menunjuk tempat di mana dia ingin aku parkir sepeda motor malang itu. Dengan tenaga tuanya si bapak mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Nampak jelas beliau sudah tidak cekatan lagi. Pandangannya juga sudah kabur, terbukti dengan berkali-kali salah menempatkan kunci ketika harus membuka baut roda. Ada perasaan tidak sejahtera menyaksikan pemandangan itu.

Dugi jam pinten le buka Pak?” aku bertanya mengusik kebekuan malam yang ditemani hujan. “Kula teng riki kok Mas, nggih jam pinten mawon kula tandangi” katanya menegaskan bahwa lelaki tua ini memang tidur di bengkelnya dan buka 24 jam. Aku menebar pandangan. Papan-papan tua disusun menjadi tempat tidur, di sebelahnya ada tungku dengan beberapa onggok kayu bakar berserakan tak rapi. Lelaki usur ini memang tinggal dan hidup di bengkelnya yang juga berfungsi sebagai rumah. Serakan bawang merah, botol kecap dan perabotan dapur yang kumal semakin menjelaskan hal ini. Aku menyaksikan semuanya dengan seksama sambil tetap memerhatikan cara kerja pak tua yang pelan karena usianya. Sementara itu, hujan masih menghadirkan suara berisik dari atap gubuk reotnya yang terbuat dari terpal, seng dan berbagai bahan lain yang berhasil didapatnya entah di mana.

Nyuwun sewu Pak“, seorang lelaki menuntun sepeda yang dilengkapi kotak dagangan tahu goreng mendekat dan bertanya. “Gadah pompa dingge sepeda mboten nggih?” Lelaki setengah baya ini menanyakan pompa. Rupanya ban sepeda tuanya yang menjadi tumpuan bisnisnya juga bocor/kempes dan perlu dipompa. Sayang sekali bengkel tua ini tidak punya pompa sepeda sehingga lelaki penjual tahu goreng ini harus melangkah gontai tanpa harapan. Tubuhnya yang kurus kumal menghilang di kegelapan malam menuju tempat yang dia pun pasti tak yakin akan bisa menolongnya.

Lelaki kurus itu berwajah putus asa karena sepeda tua yang menjadi harapannya tidak bisa beroperasi. Di malam yang larut seperti ini, aku membayangkan dagangannya masih banyak dan dia pun pasti masih jauh dari rumah. Entah berapa nyawa yang setia menunggu di rumah dengan harap-harap cemas. Lelaki pahlawan keluarga ini pasti akan meresahkan keluarganya karena tidak pulang tepat waktu. Selain itu, pendapatannya pun tentu tidak sebagus biasanya. Ini akan membawa konsekuensi tersendiri pada keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Aku pernah becita-cita jadi presiden. Malam ini aku pikirkan lagi. Menjadi presiden rupanya terlalu sulit karena untuk menolong kedua lelaki malang di depan mataku saat ini pun aku tak kuasa. Aku pandangi punggung lelaki kurus yang menghilang di depanku tanpa bisa berkata sepatah katapun. Aku spontan merogoh kantong celana, hatiku teriris bukan kepalang, di kantongku tak ada sepeserpun untuk melegakannya. Sementara itu lelaki yang menyelamatkanku malam ini dengan ban dalam barunya, mungkin masih tidur di bawah gubuk reot beratap seng yang berisik hingga waktu yang akupun tidak tahu. Aku harus memikirkan ulang cita-citaku…

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Tambal ban”

  1. bagaimana klo dimulai dengan mengurus jurusan dulu terutama KM (kelihatannya anda dekat dgn “mereka”)yg menurut saya “keterlaluan” cmiiw

  2. wah, ada yang pengen ngomongin KM. Ini KMTG kan maksudnya?.
    Saya juga bersedia diskusi (kebetulan saya sekarang jadi ketua BP-KMTG Badan Pengawas KMTG), siapa tahu mas Anonymous sudi berbagi pendapat dengan saya… (btw, namanya bagus..anonymous…hehe…kidding)

    salam,
    junior di kampus
    Farid Yuniar

  3. Mas/Mbak Anonymous.. terima kasih atas sarannya. Saya kurang paham arti tanda petik pada kata “mereka” πŸ™‚

    Farid, kok jarang kelihatan di kampus? Atau aku yang jarang ke kampus ya πŸ™‚

  4. mereka itu maksudnya anak2 KM.
    sya juga mau diskusi, tapi malah ndak nyambung dgn topik yg dibahas…

    kita pindah “tempat” saja..anda yang mengatur (saya masih newbie) yang saya, anda, dan pak Andi, atau teman2 yg lain bisa ikut.

    agar lebih “enak” nanti nama saya tak ganti..(bukan anonim) dan bisa murup abang…he2

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s