Aku tidak suka dipanggil Indon, terutama oleh orang Malaysia. Menurutku, pada panggilan ini ada sentimen merendahkan, menuduh bodoh dan menghina. Dipanggil Indon, sama dengan dihina. Dipanggil Indon, sama dengan diremehkan dan direndahkan martabatnya secara terang-terangan di siang bolong. Apapun katanya, aku tidak sudi dipanggil Indon. Itu prinsipku sejak dulu, sejak pertama kali mendengar kata Indon yang kutahu ditujukan kepada para pekerja rumah tangga dari Indonesia yang memperjuangkan hidupnya di negeri jiran Malaysia. Singkatnya, aku tidak terima.
Melawat Malioboro
Kawan, ikutlah bersamaku, melawat Malioboro yang tak jauh dari Istana Raja. Kita akan mengenang serpihan-serpihan catatan lama yang sebagian telah poranda oleh waktu yang menua. Berjalanlah di sampingku, menyusuri gelaran pejalan kaki yang kini lapang terawat sambil menikmati senyum para pelawat. Mari beringsut di bawah tikaman matahari pagi yang jinak, jadi penghangat kita yang bergegas semangat.
Duduklah di bangku yang dipoles halus terpentin dan berangka baja yang berukir lekukan nuansa Jogja. Mari berdekatan karena kita kan abadikan potret diri dengan kilatan cahaya sebuah piranti cendikia, hasil rakitan para kerabat di Tiongkok. Relakan diri menjadi generasi beringatan pendek yang tak cukup menyimpan kenangan dalam hati dan pikiran belaka. Kita akan abadikan dalam berkas-berkas cahaya lalu kita titipkan kenangan itu di gumpalan-gumpalan awan yang tersimpan rapi di kotak-kotak penyimpan di Israel atau negeri Mahabaratha. Kelak, generasi penerus akan melihatnya karena gumpalan awan itu abadi, bertahan lebih lama bahkan dari jazad kita yang akan segera terurai dan manunggal dengan semesta.

Mari menyusuri hingar-bingar suasana dengan kereta dipandu Pak Kusir yang matanya berbinar. Ikutilah langkah sepatu kuda yang mengetuk jalanan dengan dendangan. Duduklah di dekatku dan rasakan gelihat para pedangang kaki lima yang tak lelah menjajakan penganan atau segelas teh manis yang menggelincirkan air liurmu. Nikmatilah senda gurau kerabat Tionghoa yang telah menjadi Jawa sejak lampau. Dengarlah, mereka tak pernah lupa merayu kita yang kemudian rela menukar nikmat keringat dengan sepasang sandal dari pelepah gedebong pisang. Atau sekibas kipas dari rautan cendana yang pipih menawan hati.
Saat lelah, benamkan diri di pojok bangku yang tengah galau melamunkan masa depan. Sambil setengah terlelap, saksikanlah seorang bocah yang menawarkan sale pisang kepok di tangannya. Jangan harap kita tak hirau karena dari balik jilbab lusuhnya akan meluncur kata-kata mengharu biru membuat kita iba. Maka selembar sepuluh ribu akan meluncur keluar berganti dengan senyum simpul gadis belia merafalkan “matur nuwun”.
Coba perhatikan tak jauh dari dudukmu, dua pemuda tengah bercengkerama. Ada tali-temali melilit leher mereka yang ujungnya bersembunyi nyaman di dalam kedua telinga, mengalunkan tembang yang digarap di sebuah studio di Manhattan atau di balai-balai tak jauh dari Menara Eifel yang mengangkang angkuh percaya diri. Pada tangan mereka, lihatlah berlembar kertas tugas dari para guru mereka di sebuah perguruan. Dari lambangnya yang berwibawa, kita akan tahu mereka dari padepokan Gadjah Mada yang termasyur itu. Cucu-cucu Gadjah Mada tengah mengingat ilmu di Malioboro, ditikam matahari yang jinak dengan kulit yang nyaris tanak.

Hiruplah udara pagi di Malioboro. Seraplah semangat musisi jalanan yang melantunkan dendang Iwan Fals yang menceritakan kegelisahan bocah di seberang istana. Atau lantunan kisah klasik untuk masa depan oleh Sheila On Seven yang jadi pujangga tanah Jogja. Pilihlah sesuai kata hatimu, sambil menyantap segelas es durian yang dijajakan penuh semangat oleh Mbah Hargo yang merantau dari Kulon Progo.
Jauh di sudut lainnya, perhatikanlah seorang pemuda bersahaja yang tengah gelisah. Tangannya masih memegang erat piranti cendikia yang memendarkan cahaya. Saksikanlah matanya berkaca-kaca, dia ditinggal kekasihnya selepas bercengkerama di ruang awan. Tapi dia tersenyum karena konon perpisahan itu demi wisudanya yang tak lagi bisa ditunda. Kawan, kamu tahu, Malioboro adalah juga tentang keputusan bijaksana akan cinta yang salah, akan kisah yang terlarang. Mari melawat Maliboro sambil mengenang cinta lama. Seperti kata seorang kerabat, memang Jogja berhati mantan.
Apa sih “Om Telolet Om”?
Saat berdiskusi dengan seorang kawan yang sedang belajar di luar negeri, tiba-tiba dia menyela dengan topik lain “Apa sih Om telolet Om”? Rupanya “Om telolet Om” memang mendunia. Mahasiswa yang sedang riset serius pun tersita perhatiannya oleh isu ini. Saya diam sesaat. Pertama karena saya memang tidak ingin menghabiskan waktu menjelaskan fenomena ini, kedua karena saya tetap ingin membuatnya menjadi tercerahkan dalam waktu sesingkat mungkin. Lepas berpikir sejenak, saya mulai menjawab.
Menebak Tengkorak
Begitu mendengar bahwa seorang kawan sesama dosen UGM sedang membuat film, saya langsung kagum. Membuat film, bagi saya, bukan hal biasa. Menemukan seorang teman membuat film layar lebar yang disiapkan untuk bioskop tanah air membuat saya sudah kagum tanpa harus menunggu filmnya dan tanpa tahu kualitasnya.
Saat diberi tahu bahwa film itu berjudul “Tengkorak”, ada yang berubah pada persepsi saya tentang film ini. Mengapa harus “Tengkorak”? Mengapa bukan judul lain? Kata “Tengkorak” ini mengingatkan saya pada film-film masa lalu yang biasa dan konvensional. Yang hadir di bayangan saya adalah sebuah film laga dengan tata kelahi seadanya, dialog kaku dan menandalkan pemandangan tubuh kekar (atau seksi), caci maki dalam perkelahian yang tidak terlalu alami tidak juga dasyat memukau. Yang hadir dalam imajinasi saya adalah sebuah film biasa saja. Saya sempat kehilangan interes.
Beberapa hari belakangan ini, trailer film “Tengkorak” dirilis untuk publik. Saat menerima tautan video itu di Youtube, saya tidak langsung menontongnya. Saya takut kecewa dan takut kalau tebakan saya benar. Saya menyimpannya beberapa lama sampai akhirnya saya merasa perlu dan siap menontonnya.
Saat menonton pertama, saya tidak menyalakan audionya. Saya ingin menikmati aspek video saja terlebih dahulu. Saya tahu, menikmati film tanpa audio dan terutama tanpa musik bisa sangat berbahaya. Saya bisa kehilangan banyak hal dari film itu. Saya sadari itu tapi saya ingin ‘sadis’ pada Film Tengkorak ini. Saya ingin menguji seberapa kuat visualisasi-nya dan seberapa mampu visualisasi itu membuat saya bertahan menonton. Saya memang sengaja ‘membully’ film ini karena keisengan untuk mengetahui kualitasnya. Jika ini film biasa maka trailernya yang tanpa suara tidak akan membuat saya bertahan menontonya. Sebaliknya, jika tanpa suara saja dia bisa membuat saya bertahan menonton, film ini bisa jadi memang istimewa.
Beberapa detik berlalu, saya bertahan. Pertama karena dugaan saya semula tentang film dengan aksi laga konvensional atau pakaian kuno tapi berbahan baru ternyata tidak benar. Gaya pendekar berikat kepala atau suasana remang-remang yang keseramannya menggelikan ternyata juga tidak saya temukan di trailer Tengkorak. Alih-alih semua hal yang saya duga, saya disuguhi adegan setengah dokumenter dengan suasana modern dan keseharian dunia nyata.
Demi melihat apa yang tidak saya duga, saya segera ulang menonton trailer itu dari awal dan kini saya aktifkan audionya. Saya mulai memperhatikan dengan seksama. Kini dengan semangat. Saya seperti dilambungkan kepada angan-angan saya yang telah lama terpendam yaitu melihat film Indonesia dengan genre fiksi ilmiah. Saya ingin mendengar kata-kata yang menandai nama agen atau lembaga nasional, nama institusi, pusat kajian, pusat riset dan pengembangan atau yang sejenisnya dijadikan pusat perhatian dalam sebuah film. Saya ingin melihat ini seperti halnya film-film Hollywood menyuguhkan NASA, NSF atau agen pemerintah lainnya yang terlibat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh suatu bangsa. Saya ingin sebuah film yang melibatkan Presiden Indonesia, rumitnya birokrasi yang melahirkan pahlawan dan pecundang, diperkenalkannya ahli-ahli Indonesia yang berperan merespon persoalan besar yang bahkan mempengaruhi dunia. Saya ingin film yang seperti itu dan itu sudah lama saya pendam. Saya ingin melihat film yang menampilkan urusan yang genting dan membuat kepanikan para petinggi negara dan agen-agen yang ada dalam kendalinya.
Melihat trailer Tengkorak yang singkat itu, saya seperti disuguhi apa yang sudah lama sekali saya rindukan. Saya belum tahu apakah Tengkorak memang betul-betul akan memuaskan saya ketika saya menonton filmnya nanti karena terlalu pagi menilai sebuah film hanya dari trailernya. Meski demikian, setidaknya trailer ini telah mengobati kerinduan saya yang bahkan sulit saya ceritakan sebelumnya tentang sebuah film fiksi ilmiah dari Indonesia. Saya melihat kombinasi yang baik dalam trailer film ini antara birokrasi/politik, fiksi misterius dan sentuhan ilmiah yang terasa kuat. Apakah benar Tengkorak akan memuaskan harapan saya dan juga Anda? Mari kita tunggu hingga Tengkorak bisa disaksikan di biskop di sekitar kita.
Surat untuk Papa di Hari Wisuda
Pa, apa kabar hari ini?
Aku menulis surat ini di tangga Grha Sabha P ramana (GSP) yang termasyur itu. Di kepalaku masih ada toga dan gantunganya berjuntai dimainkan angin di dekat wajahku. Aku sudah lulus, Pa. Aku lulus seperti yang Papa syaratkan: cepat dan IP tinggi. Aku tadi ikut berdiri ketika para wisudawan cumlaude dipaggil dan diperkenalkan pada hadirin. Sayang sekali Papa tidak ada di sana.
When I became a Moderator
This video shows me being a moderator for an international event. Whenever people ask me about tips on how to be a good moderator, I usually come up with list of suggestions, which are undoubtedly easier said than done. This video shows how I implement my suggestions. This can be tips to follow, or list of items that you should not follow 🙂
Menjadi Favorit [?]
Jakarta, awal 2002
Isak tangis di seberang sana membuat saya tercenung. Tidak mampu berkata banyak, saya hanya menyimak takzim isak tangis Bapak lewat telepon. Saya baru saja mengabarkan rencana saya untuk menjadi dosen di UGM. Rupanya beliau terkejut dengan rencana itu, terutama setelah saya menyebut angkat “600 ribu rupiah” saat ditanya “berapa gajinya?”
Tidak mudah bagi bapak saya untuk memahami pilihan itu. Keluar dari Unilever lalu masuk Astra dan kini ingin jadi guru. Menurut orang tua yang bahkan tidak lulus SD, pilihan itu jelas tidak wajar. Ada kekhawatiran mendalam dan pertanyaan apakah anaknya akan bisa hidup layak. Saya menutup telepon dengan perasaan galau, sedih dan bersalah. Saat itulah, saya memutuskan dengan mantap: saya tidak akan jadi dosen!
Menyalahkan Panitia
Pagi-pagi saya sudah memasuki areal parkir sebuah kampus di bilangan Jalan Pramuka di Jogja. Saya akan bicara dalam sebuah seminar tentang beasiswa luar negeri dan segala sesuatu sudah saya persiapkan. Tak lama setelah saya mematikan mesin kendaraan, seorang mahasiswa mengenakan jas oranye mendekat dengan sigap. Begitu saya membuka pintu, dia bertanya “Bapak pembicara ya Pak?” Rupanya dia adalah panitia yang bertugas menjadi Liaison Officer untuk saya. Gerakannya sigap, komunikasinya baik dan bahasa tubuhnya cekatan. “Ya, Mas” jawab saya mantap.
Marah, Maaf, dan Pujian
Ketika memasuki ruangan untuk pelaksanaan presentasi di sebuah acara, saya terkejut. Halaman pertama tayangan presentasi saya sudah terlihat tampil di sebuah layar besar di depan. Ini yang saya khawatirkan, panitia sudah menayangkan bahan presentasi saya sebelum saya mulai presentasi. Dengan sigap saya sampaikan ke panitia agar tayangan itu dihentikan dan panitiapun memenuhinya.
Tips Presentasi: Sepuluh Intermezzo
Intermezzo atau icebreaker sangat penting dalam persentasi. Fungsinya untuk mecairkan suasana yang tegang, terutama di awal presentasi atau mengajak kembali pemirsa untuk berkonsentrasi pada presentasi kita. Ada sepuluh tips intermezzo yang biasa saya pakai.

- Soal nama
Intermezzo ini paling sering saya gunakan. Pelafalan nama saya dalam Bahasa Inggris yang bisa berarti “Saya membuat Andi Arsana [I Made Andi Arsana]” sangat sering saya jadikan bahan kelakar. Hingga hari ini, belum pernah gagal. Selalu ada sebagian besar, jika tidak semua, pendengar yang tertawa dan akhirnya terbawa.Cara saya menyampaikan kelakar tentang nama ini bermacam-macam. Kadang saya mulai dengan mengutip kejadian kecil saat ada peserta yang bertanya soal nama saya lalu saya ceritakan bagaimana saya menjelaskan pada peserta itu. Kadang saya memulai presentasi dengan mengatakan “I want to make a clarification regarding lingering question about my name”, seakan-akan itu masalah serius. Cara kedua biasanya saya sampaikan saat menjadi pembicara kunci dan dengan asumsi bahwa ada cukup banyak orang yang sudah pernah melihat/mendengar nama saya.
Mereka yang namanya hanya satu kata, misalnya “Suprapto” atau “Parjono” atau yang lain, bisa berkelakar dengan mengatakan “I am someone without last name” atau “with my one-word name, I cannot even have an email” atau “I need to repeat my one-word name so I can have a surname”. Bagi yang namanya berarti hal lain dalam bahasa Inggris seperti “Yuni” (kata yang sama dalam bahasa Inggris berarti university) “Dedi” (daddy = ayah), “Yugo” (you go, I go), “lukman” (look, Man!) dan lain-lain bisa menjadikan namanya sebagai bahan kelakar.
- Pepatah/ungkapan/nasihat
Dalam kuliah tamu yang saya berikan di Kamboja beberapa waktu lalu, saya menghadapi para petinggi dari Asia-Pasific yang ahli di bidangnya ada praktisi kawakan. Saya merasa perlu untuk menegaskan bahwa saya tidak ingin menggurui mereka. Untuk itu saya mengutip pepatah “menggarami lautan”. Saya mulai dengan menampilkan sebuah slide bergambar laut dan garam lalu berkata “In Indonesia, we know a saying ‘salting the ocean’, which means blah blah. I am not salting the ocean today and I hope I won’t sound like preaching”. Kutipan itu sanggup membuat peserta yang sebagian besar dari Asia tersenyum positif dan merasa nyaman. - Apresiasi pada panitia
Betapapun sederhananya, selalu penting untuk mengapresiasi panitia yang telah mengundang kita. Saat berbicara di Kamboja, saya bilang “I have to thank ReCAAP and especially Executive Director Kuroki for this invitation. Because of you, Sir, I am stepping my feet for the first time on the land of Cambodia.” Dalam acara yang beda lingkupnya, pujian kepada panitia atas kerja keras mereka sangat perlu disampaikan. Misalnya, “panitianya gigih sekali dan sangat bijaksana saat memenuhi permintaan saya yang kadang menyulitkan”. Saat diundang di UAD Jogja, saya sengaja memotret sebuah tanda bertuliskan nama saya di tempat parkir yang disediakan khusus untuk mobil saya. Foto itu saya masukkan menjadi slide pertama saat presentasi sambil memberikan pujian akan keseriusan panitia. Tentu saja panitia senang mendapat apresiasi seperti itu. Ada banyak cara memberikan apresiasi kepada panitia. - Apresiasi pada hadirin
Presentasi adalah tentang presenter dan pendengar/hadirin. Sebagus-bagusnya komunikasi serta persiapan pembicara dengan panitia, kesuksesan sebuah presentasi tetap akan dinilai oleh hadirin. Maka dari itu, membuat hadiri tertarik, merasa nyaman, dan terutama merasa penting/dihargai sangatlah penting.Jika presentasi di hari libur (Sabtu atau Minggu), saya biasanya mulai dengan kalimat “jika di hari Minggu, biasanya anak-anak muda memilih untuk tidur lebih lama dan bangun lebih siang, para pemenang seperti kalian ini memilih untuk ada di sini” sambil menunjuk mereka dan selalu disambut dengan tepuk tangan. Jika sudah dimulai dengan pujian yang membuat hadirin nyaman dan merasa dihargai maka berikutnya pembicara seakan punya ‘hak’ untuk meledek dan megolok-olok mereka dalam batas wajar. Ledekan itupun akan disambut tawa dan nuansa yang positif.
Apresiasi kepada hadirin juga bisa berupa pujian pada mereka yang datang dari jauh atau menempuh perjalanan sulit. Jika pesertanya senior, bisa sampaikan apresiasi atas kebijaksanaan mereka untuk rela mendengar pembicara yang lebih junior. Jika yang hadir rekan-rekan sejawat atau orang dengan profesi dan keahlian yang mirip, bisa mengatakan bahwa “saya ada di sini karena kebaikan hati Bapak Ibu untuk memberi saya kesempatan berbagi, meskipun belum tentu lebih ahli.”
- Kejadian lucu/menarik
Saat datang ke tempat presentasi, kemungkinan akan ada kejadian lucu atau menarik yang kita alami. Hal ini bisa kita ceritakan di awal presentasi untuk mencairkan suasana. Saat presentasi di Siem Reap beberapa waktu lalu, saya dikira orang Kamboja oleh resepsionis hotel. Saya sudah memberinya paspor tetapi dia tidak memperhatikan dan langsung nyerocos pada saya dalam Bahasa Khmer. Saya tertegun dan pasang wajah ‘bloon’ sambil menyampaikan bahwa saya orang Indonesia dan tidak bisa Bahasa Khmer. Spontan mbak resepsionis itu minta maaf dan mengatakan saya mirip orang Kamboja. Saya menjawab sopan dan berkata “well, you look like Indonesian” yang membuatnya tersipu malu.Kejadian yang menimpa saya di meja resepsi itu saya ceritakan saat presentasi. Hadirin tentu saja tertawa karena rupanya mereka bisa melihat, saya memang nampak seperti orang Kamboja. “I might look like a Cambodian but I am not. Believe me!” kata saya menegaskan sok serius dan disambut tawa hadirin. Kejadian menarik lainnya tentu banyak, seperti tentang salah paham bahasa, tentang tanda di toilet yang tidak biasa, tentang alat transportasi yang tidak lazim atau bahkan ekstrim, tentang toilet Jepang yang hangat, dal lain-lain.
- Mengolok-olok diri sendiri
Lelucon yang paling aman dan hampir selalu efektif adalah mengolok-olok diri sendiri. Saat presentasi di Jakarta sepuluh tahun silam, panitia mengira saya asisten pembicara. Mereka tidak menanggapi saya semestinya ketika saya hendak menyerahkan file presentasi. Kejadian itu saya ungkap saat presentasi dengan mengatakan “saya sadar, tampang saya memang kurang meyakinkan”. Pak Jokowi juga sering berkelakar yang mengolok-olok dirinya sendiri dengan menceritakan kejadian ‘memalukan’ ketika menjadi pembina upacara di awal-awal masa jabatannya sebagai Walikota Solo. Hal yang sama dilakukan Pak Dino Patti Djalal terkait cerita sopirnya yang lebih gagah darinya saat menjadi Duta Besar RI di Washington. Mengolok-olok diri sendiri itu aman, namun hanya bisa dilakukan oleh orang yang percaya diri. - Interaksi dengan peserta atau panitia
Inti dari sebuah presentasi yang baik adalah setiap orang merasa terlibat dan penting perannya. Hal ini bisa diwujudkan melalui interaksi dengan pendengar atau panitia. Di sebuah acara seminar beasiswa, panitianya pernah mengalami kepanikan karena LCD tidak bekerja dengan baik. Pembicaraan saya jadi tersendat. Saya pun seseungguhnya kecewa dan ada rasa tidak nyaman, menyesalkan mengapa panitia tidak melakukan persiapan dengan baik. Pilihannya ada dua, saya jadikan itu momen untuk menunjukkan kekesalan atau harus menyelamatkan situasi. Saya sampaikan “saya paham, tadi panitia pasti sangat panik ketika LCD tidak berfungsi. Saya kagum pada kesabaran mereka untuk tetap bekerja memperbaiki sampai akhirnya bisa berjalan lancar. Kita beri tepuk tangan yang meriah pada panitia kita yang keren hari ini.”Akan lebih mudah jika ada peserta yang kita kenal dan pernah mengalami interaksi personal sebelumnya. Misalnya, kita bisa mmengatakan “saya sudah mengenal Pak Budi, yang duduk di depan ini sejak 20 tahun lalu. Terus terang rasanya agak aneh karena saya harus ada di depan Bapak sekarang ini. Matur nuwun sudah datang ya Pak.”
Kadang kita juga berbicara di depan orang-orang yang kita kenal sejak lama. Ini bisa jadi bahan intermezzo yang baik, misalnya dengan mengatakan “di sini juga ada Mas Indro, kawan baik saya sejak belasan tahun. Beliau pasti merasa aneh karena harus mendengarkan saya, padahal zaman dulu saya terus yang harus mendengarkan dia.” Dalam sebuah acara di Jakarta, saya juga pernah tampil di depan sahabat-sahabat saya ketika kuliah. Saya meyapa mereka dengan nada agak nakal “Mas Nashihun ini sahabat saya sejak lama, sekarang sudah jadi pengusaha sukses padahal saya tahu beliau nggak pinter-piter amat” dan disambut gelak tawa hadirin. Candaan yang demikian hanya bisa disampaikan jika sangat akrab dan sebaiknya ditutup dengan pernyataan positif. Saat itu saya bilang “meskipun saya tadi membully beliau, kenyataannya, beliaulah yang paling sering membantu saya saat ini jika perlu dana untuk penelitian.”
- Kejadian atau fenomena umum yang diketahui hadirin
Intermezzo yang aman dan efektif adalah tentang topik yang diketahui semua orang. Makanya, kejadian atau topik umum menjadi pilihan yang baik untuk dijadikan intermezzo. Topik-topik yang bisa dipilih misalnya pilkada, kasus kejahatan yang sedang menjadi topik nasional, kejadian yang menyangkut selebriti, kejadian lucu yang sedang viral di media sosial, atau kebijakan nasional yang sedang menjadi buah bibir. Hal ini bisa diungkapkan dengan cara jenaka sehingga mengurangi sensitivitas yang ditimbulkan.Jika presentasi di suatu daerah di Indonesia, hal-hal yang menjadi pembicaraan di daerah itu bisa dijadikan intermezzo. Jika merasa nyaman, isu politik atau keresahan sosial juga bisa dikemukakan. Misalnya “orang Tabanan memang seniman semua ya, bukan cuma pagar tembok dan Pura, jalan juga diukir” untuk mengkritik jalan yang rusak. Bisa juga berkelakar tentang makanan khas daerah tersebut, misalnya mengatakan “I wake up a little bit late, I got drunk by kimchi, last night” jika presentasi di Korea.
- Keterkaitan dengan pembicara lainnya
Memuji pembicara lain adalah intermezzo yang aman dan positif. Tidak pernah salah. Akan lebih baik lagi jika bisa mengaitkan topik yang kita bicarakan dengan topik yang dibicarakan pembicara lain. Jika belum kenal baik, sebaiknya selalu menyampaikan hal positif, bukan hal negatif. Kadang ada pembicara yang menunjukkan kesan rivalitas atau persaingan dengan pembicara lainnya.Naluri persaingan bisa muncul dalam bentuk pembelaan atau menjelek-jelekkan pembicara lainnya, atau sekedar untuk menunjukkan dia lebih baik dari pembicara sebelumnya. Misalnya, kalimat yang sebaiknya dihindari adalah “apa yang disampaikan Bapak X yang berbicara sebelumnya itu keliru dan saya harus koreksi.” Cara yang baik mengungkapkan koreksi misalnya, “apa yang disampaikan Bapak X sangat menarik dan memberi wawasan baru bagi kita semua. Saya tertarik, terutama tentang poin A karena kebetulan saya juga mendalami hal itu. Saya tertarik mendiskusikan ini nanti karena ada perspektif lain yang saya dapatkan dibandingkan yang saya ketahui selama ini.” Intinya, tidak ada yang lebih aman dari pujian. Setidaknya di kesempatan pertama.
- Soal honor
Soal honor tentu sensitif tetapi bisa jadi bahan intermezzo yang baik jika dikemas dengan cantik. Misalnya dengan mengatakan “saya harus pastikan materinya tepat 15 menit karena kalau tidak honor saya akan dipotong.” Jika Anda menjadi moderator, soal honor juga bisa menjadi bahan kelakar yang baik. Misalnya dengan mengatakan “saya tetap harus mengenalkan Pak Joko sebagai pembicara meskipun beliau sudah terkenal. Jika tidak, honor saya tidak akan cair.” Jika Anda dibantu operator saat presentasi, kadang operatornya terlalu cepat menganti slide atau menjalankan animasi. Bagi saya yang sangat mengandalkan animasi yang tepat, hal ini bisa berdampak serius. Biasanya saya menggoda mereka dengan mengatakan “mencet yang bener, nanti honornya saya potong lho” atau “jangan cepat-cepat Mas, mau cari sampingan di tempat lain ya? Honornya kurang pasti nih”. Biasanya hadirin merespon dengan tawa.
Itulah sepuluh contoh intermezzo. Punya idea lain? Silakan komentar di bawah.