Setelah bergaul agak lama dengan banyak kawan dari berbagai negara, akhirnya saya bisa membedakan asal orang dari cara bicaranya. Meskipun tidak mengerti makna ucapannya, cara bicara seseorang memang bisa menunjukkan asal negaranya. Benar kata pepatah lama: Bahasa menunjukkan Bangsa.
Menariknya, meskipun sama-sama berbahasa Inggris, pelan-pelan saya bisa juga membedakan asal negara seseorang yang saya ajak bicara. Masing-masing memiliki cara yang khas dalam berbahasa, meskipun itu Bahasa Inggris. Ciri kenegaraannya biasanya tidak hilang, terutama mereka yang berasal dari negara bukan penutur asli Bahasa Inggris.
Lita, ayah bukanlah seorang awatar yang maha sempurna, tetapi ayah memiliki cinta. Cinta yang sayang sekali mungkin pernah salah ayah terjemahkan dan tunjukkan. Cinta ini juga yang mungkin pernah mewujud menjadi teriakan yang menciutkan hati kecilmu. Tapi jangan lupa, cinta ini juga yang membuat ayah melupakan wibawa, tiarap membuang malu menangis dan tertawa dalam dunia kecilmu yang liar. Cinta ini, yang mungkin kadang salah ayah terjemahkan, yang juga membuat pelajaran-pelajaran kecil menjadi bermakna. Maafkanlah ayah.
Lita, hidup di masa depan lebih rumit dari sekedar Nick Jr. tetapi dia bisa lebih menggairahkan dari petualangan Dora dan Diego. Lebih menantang bahkan dari penjelajahan si Curious George. Untuk itulah Lita harus beriap-siap. Bersiap untuk menghadapi pagi yang datang dengan kesungguhan seperti Sportacus melakukannya. Jadilah seperti Stephanie yang tidak saja pintar dan cantik tetapi juga baik hati. Atau seperti Ulagan anaknya Siap Selem, yang mudah mengerti situasi di usia yang sangat muda. Hidup memang akan dihiasi oleh tokoh-tokoh seperti Gobrag yang sombong dan Kuwuk yang culas, tetapi akal dan kebaikan hati akan membuat kejahatan bertobat, percayalah.
Saya punya seorang sahabat baik. Sahabat ini melebih siapapun bagi saya, dia sangat istimewa. Ijinkan saya bercerita tentangnya.
Kami bertemu pertama kali tanggal 7 September 1997, sebelas tahun yang lalu. Waktu itu kami masih sama-sama muda, penuh semangat dan gairah. Sahabat saya ini seorang gadis yang cantik.
Nampaknya pertemuan kami direstui oleh primbon dan juga dewasa seperti kata orang Bali, persahabatan kami tumbuh dengan baik.
Aku ingin melukismu. Itulah mimpi yang belum sempat aku wujudkan sejak lama. Bukan karena aku tak sempat, semata-mata karena kanvas yang tak kunjung kutemukan. Tinta emasku runtuh, pucat binasa dan lenyap cantiknya. Demikianlah setiap kali aku hendak melukismu. Kuas yang bergururan, tinta yang runtuh dan kanvas yang tak pernah cukup halusnya, semua itu tak pernah sepadan untukmu.
Lama aku bertanya tapi tidak seperti pujangga kenamaan itu. Aku tak mencegat rumput yang menari atau bintang yang bersinar jenaka. Aku tak mau seperti itu karena kutahu mereka tak kan mampu mngisahkanmu. Aku perlu yang magis dan mistis. Aku perlu asap dupa yang mengepul dan bersatu dengan merahnya senja, sepertimu yang datang dan pergi, tak kurang misteri yang tersisa. Aku perlu bintang yang jatuh memberi harapan dan lenyap sesaat sebelum sempat kupeluk. Seperti itulah anganku tentangmu yang nampak dan sirna silih berganti. Aku tak cukup menjadi seniman kebanyakan untuk menuangkan wajahmu dalam puisi. Tak akan tega bulan melantunkan tembangnya karena ia pun pasti merasa hina. Seperti itulah sulitnya berpuisi tentangmu.
Belakangan saya sering menemani Lita menonton TV di rumah. Acara untuk anak-anak, teruma dari Nick Jr. adalah yang paling digemarinya. Sering sekali dalam program tersebut ada acara tebak suara binatang. Lita, yang mulai lancar mendengar maupun berbicara Inggris, sudah mulai ikut berinteraksi. “Gug gug”, Lita akan berteriak demikian jika ada pertanyaan tentang suara anjing. Menariknya, di TV akan terdengar suara “you are right, ‘whoof-whoof’ is how your dogs bark.” Di Indonesia, “gug gug” adalah suara anjing, sementara di Australia, suaranya menjadi “whoof whoof”. Anehnya, kalau didengarkan dengan seksama, gonggongan anjing di seluruh dunia sama saja.
Saya pernah mengeluh pada seorang kawan. Sering kali setelah menghabiskan akhir pekan dan Minggu malam telah datang, saya merasa gelisah harus menghadapi hari Senin besoknya. Perasaan seperti ini biasanya datang kelau selama dua hari, Sabtu dan Minggu, saya bersenang-senang. Teman saya menjawab sambil setengah berkelakar. Itu karena kamu belum melakukan yang utama. Rasa bersalah memang mudah datang.
Andi on the roof of the Opera House, Oslo - Norway
I’d like to share my great experience in Europe last two weeks. On 8 August 2008, I presented a paper in Oslo, Norway in UNCLOS Symposium, part of the International Geological Congress. The conference was prestigious as many ‘immortals’ in the field of technical aspects of the law of the sea were there. Several members of the Commission on the Limits of the Continental Shelf presented their papers in the event and many other people whose names I only saw in textbooks and internet also participated. Simply speaking, it was one of the best conferences I’ve ever attended. I learned much from those ‘gurus’. The other good thing I’d like to share is that the paper I presented was closely related to the research I did with the UN-Nippon fellowship: Indonesia’s submission for an Extended Continental Shelf. Certainly, I also asserted that I am one of the fellowship alumni.
Percayalah bahwa tidak mudah mengisahkan ini. Aku bukanlah pujangga kata-kata yang bisa menghidupkan cinta dengan ujar-ujar yang fasih daramatis membuai-buai. Aku hanyalah pejalan kaki yang cepat kelelahan di merahnya sore dan sering ketakutan di pekatnya malam yang tak bersahabat. Tetapi sepertinya di sini ada cinta. Cinta yang membuat aliran air kaya cerita dan gemerisik daun penuh dengan senandung. Cinta ini membuat patung seperti berhala yang diampuni dan hidup mengabarkan kenikmatan-kenikmatan lewat gumamnya yang syahdu lanksana mantra. Seperti itulah aku mengingatmu.
“Oh, Indonesia?! I know Susi Susanti. She is a very good badminton player!” Seseorang berteriak setengah histeris di Stasiun Kereta Api Frankfurt, Jerman ketika saya mengenalkan diri dari Indonesia. Tentu saja Susi Susanti yang lebih dikenalnya karena dia adalah penggemar bulu tangkis. Cerita ini senada dengan kejadian sebelumnya ketika saya baru saja menyelesaikan presentasi di Oslo, Norwegia. “I know Hasjim Djalal very well. He is one of the veterans of the law of the sea from Indonesia.” Tomas Heidar, ahli hukum laut berkebangsaan Islandia ini tentu saja familiar dengan Prof. Hasjim Djalal dibandingkan siapapun di Indonesia, karena reputasinya di bidang hukum laut yang tidak diragukan. Saya semakin teryakinkan bahwa “aku” lah sebagai anak bangsa yang bisa menjadi identitas bagi bangsa sendiri.
… Kita tidak boleh mendahului takdir. Yang bisa kita lakukan hanyalah menempatkan mimpi kita sedekat mungkin dan berusaha mencapainya. Kita akan berkelana berkeliling Eropa hingga Afrika dan menjejakkan kaki kita di almamater suci Universitas Sorbonne…
Kutipan kalimat di atas, yang diambil dari salah satu Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, tidak akan pernah terlupakan. Kutipan yang sangat kuat, menggugah dan terutama menginspirasi. Ketika membaca kutipan ini, entah mengapa Eropa terasa sangat dekat.