A three-minute thesis competition

This is what happens if a a three-year’s worth of works have to be presented only in three minutes.

Tanjung Berakit dalam Video

Jika isunya adalah kedaulatan, banyak orang yang mudah sekali terusik. Tidak saja mereka jadi lebih berani untuk melakukan sesuatu, seringkali akal sehat menjadi nomor dua. Demikian pula situasi di Indonesia saat ini yang sedang hangat karena insiden di perbatasan Tanjung Berakit yang melibatkan Malaysia. Entah untuk keberapa kali sudah, jargon “Ganyang Malaysia” diteriakkan lagi. Masih bagus, kali ini tidak dilanjutkan dengan kalimat tidak penting lainnya seperti “selamatkan Siti Nurhalisa”.

Sebagai sumbangan saya untuk membuat situasi jadi lebih baik, saya membuat sebuah video yang mengilustrasikan insiden ini agar orang awam yang tidak mendalami persoalan perbatasan dan hukum laut bisa memahami dengan baik. Selamat menyaksikan.

Berbagi laut dengan Tetangga

Selat Singapura & Tg. Berakit

Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini ditandai dengan sebuah huru-hara. Tiga orang pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia. Meski sesungguhnya penangkapan ini erat kaitannya dengan tindakan pegawai KKP yang menangkap tujuh nelayan Malaysia yang konon mencuri ikan di perairan Indonesia, berita di media massa nampaknya lebih berkonsentrasi pada nasib ketiga karyawan KKP. Bisa dimengerti.

Continue reading “Berbagi laut dengan Tetangga”

Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam

Ho Chi Minh City, 6 Agustus 2010, jam 11.30 pagi

Prof. Hasjim Djalal

Setelah tragedi yang menegangkan itu, akhirnya saya menginjakkan kaki di Vietnam untuk pertama kali. Ho Chi Minh City adalah nama baru untuk Saigon, yang merupakan nama seorang tokoh terkemuka di Vietnam. Itulah sebabnya Vietnam juga dikenal dengan Negeri Paman Ho. Saya sempatkan mengamati situasi, bandara cukup besar, meskipun tata ruangnya tidak sehebat Changi yang memang luar biasa itu. Setelah melewati imigrasi yang cenderung bekerja lambat, saya bergegas ke luar dengan barang bawaan. Saya akan dijemput petugas hotel seperti dijanjikan panitia. Tidak sulit menemukan penjemput saya karena nama saya tertulis pada kertas yang ekstra besar, lebih besar dari yang lain. Pada sebuah kertas kaku yang disangga tiang besi, saya melihat tulisan “Mr. I Made Andi Arsana” terpampang. Tiangnya dipegang oleh seorang lelaki muda yang santun, penuh senyum. Diam-diam saya berharap huruf “M” di awal tulisan itu segera enyah dan berganti huruf lain yang lebih baik. Mungkin huruf “D”. Entahlah, kapan itu akan terjadi. Singkat cerita saya sudah meluncur ke hotel di sebuah mobil yang lumayan mewah. Sopirnya ramah dan tidak bosan bercerita tentang sejarah Vietnam.

Continue reading “Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam”

Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara

Bandara Sydney, 5 Agustus 2010, jam 6.17 pagi

Perempuan ramah di depan saya menggeleng sendiri, terlihat seperti sedikit kebingungan. Sayapun terpengaruh, resah datang menyelinap, entah dari mana datangnya. Saya mencium gelagat tak beres. “You are required to have a six-month passport at least. Your passport will expire in three months. You are not allowed to visit Vietnam. I am sorry.” Perempuan itu tentu bisa melihat wajah saya yang pucat pasi. Koper yang sudah dinaikkan di atas timbangan terpaksa harus diturunkan. Perasaan saya tidak karuan, akal sehat sirna lari entah ke mana. Saya kecewa sekaligus penuh sesal, mengapa tidak mengecek sebelumnya bahwa saya perlu paspor yang setidaknya masih berumur enam bulan untuk bisa pergi ke Vietnam. Sementara itu, di tangan saya masih tergenggam gulungan peta. Peta itu harus sampai di Veitnam sore itu juga. Melihat perempuan itu sibuk bertanya pada supervisornya, ada satu harapan muncul. Mudah-mudahan ada yang bisa merafalkan mantra-mantra sehingga saya bisa berangkat ke Ho Chi Minh City, Vietnam sesuai jadwal. Sore ini pembukaan workshop dilakukan dan besok siang saya akan presentasi.

Continue reading “Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

A Geospatial Novel? Why not!

Taken from ASM Magazine

I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.

Continue reading “A Geospatial Novel? Why not!”

Wawancara dg Radio SBS Australia

Cincin Merah di Barat Sonne tampil di Radio SBS Australia

Penghargaan akan datang

Terbang

Tahun 2003, saya resmi memulai karir sebagai seorang guru. Saya menjadi dosen di almamater saya di UGM setelah memutuskan sebuah pilihan sulit di Jakarta. Saya datang ke kampus setelah sedikit diracuni oleh dunia swasta berupa ilmu marketing seadanya dari Unilever dan kesaktian teknologi informasi dari Astra. Tanpa harus disengaja, saya memang terpengaruh dan barangkali ingin menerapkannya di kampus, meski sebisanya.

Continue reading “Penghargaan akan datang”

Cincin Merah di Barat Sonne

Buku ini mengungkap sisi lain dari perburuan ilmu pengetahuan. Isinya cerdas, kocak, mengharukan dan terutama inspiratif.

(Najwa Shihab – Metro TV)

Dapatkan di Toko Buku Terdekat, atau beli secara online

http://www.andiarsana.com/cincin

Saya ingin sekali menyebut buku ini sebuah ‘Memoar Geospasial’. Entahlah, apakah dia layak disebut seperti itu. Dalam buku ini saya berkisah tentang perjalanan mengarungi Samudra Hindia untuk melakukan survey dasar laut (landas kontinen). Tentu saja di dalamnya tidak hanya soal geospasial, ada juga dimensi lain dari kehidupan seorang manusia biasa, mahasiswa, dosen, peneliti, ayah, anak, dan keluarga umumnya.

Continue reading “Cincin Merah di Barat Sonne”