Buku untuk Elin

Reading while baby sitting - Elin

Saya mendapat kiriman sebuah foto dari Asti, istri saya, lewat email. Di foto itu nampak seorang anak perempuan membaca komik dengan tekun. Di sampingnya duduk dua bayi yang nampaknya anteng untuk ukuran bayi seusia mereka. Saya tahu, anak perempuan ini Bernama Elin, dia tetangga kami di kampung di Bali. Dari foto itu saya merasakan kesenangannya membaca, seperti menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang mungkin lama dirindukan tetapi tidak diketahuinya. Saya amati foto itu lekat-lekat, sebuah kombinasi yang ganjil dan mengharukan. Seorang anak kecil dengan pakaian sederhana, duduk takzim membaca buku sambil memastikan dua orang adik bayinya baik-baik saja.

Continue reading “Buku untuk Elin”

Maaf

Saya mencari-cari kata2 yang bagus untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri tahun ini tapi nampaknya semua kata-kata mutiara sudah dipakai tahun-tahun lalu. Mau pakai kata-kata ‘jernih’ atau ‘bening’, sudah dipakai di banyak sms sambil beriklan terselubung oleh operator 🙂

Kalau pakai pantun, sama saja.. sudah dipakai. Terutama kata “ketupat” yang berima dengan ‘lepat’ [apa pula tuh artinya?]. Akhirnya saya kontak Larry dan Sergey, pemilik Google. Mereka mau membuat logo google edisi khusus lebaran. Maaf juga katanya, kalau searching selama ini sering salah dan menggelincirkan para pemakai Search Engine ke tempat yang tidak-tidak…

Logo-nya agak maksa, tapi kita hormatilah.., better than tidak sama sekali 😀 Mohon maaf atas segala salah dan khilaf selama ini. Selamat meraih kemenangan bagi teman-teman Muslim yang telah menuntaskan Ramadhan dengan gemilang.

 

Inspirasi dari Steve Jobs

Steve Jobs, CEO Apple, baru saja mengundurkan diri. Banyak orang yang menilai Steve adalah salah satu CEO terbaik yang pernah dimiliki planet Bumi. Inovasinya luar biasa dan di tangannya Apple menjadi sebuah perusahan terkemuka dunia. Saya coba terjemahkan secara bebas salah satu pidato inspiratifnya ketika berbicara di depan mahasiswa Stanford pada tanggal 12 Juni 2005.

Continue reading “Inspirasi dari Steve Jobs”

Menera ulang nasionalisme

Peringatan 17-an di Wollongong 2009

Tahun 2007, saya berkunjung ke Canberra dan mengikuti sebuah diskusi yang sangat menarik. Pembicaranya adalah mahasiswa dan peneliti Indonesia yang bermukim di Australia. Topik menarik yang diangkat adalah ‘pilihan peneliti Indonesia untuk bertahan di luar negeri atau kembali ke tanah air’. Urusannya tentu saja tidak sederhana dan pertanyaan itu, seperti bisa diduga, tidak bisa dijawab dengan singkat. Benar saja, pembicara memberikan berbagai terori. Bahwa bertahannya para peneliti Indonesia di luar negeri tidak selalu merupakan gejala brain drain, alias kaburnya asset intelektual bangsa karena godaan di negeri seberang lebih baik. Gejala ini juga merupakan brain overflow, alias tumpah dan melubernya asset intelektual hingga ke luar negeri karena di dalam negeri tidak tertampung. Sang pembicara menceritakan usahanya mencari pekerjaan di Indonesia lewat fasilitas internet (email) tetapi satupun tidak mendapatkan respon. Jangankan diterima, dibalaspun tidak. Berita penolakan juga tidak pernah ada, katanya berkelakar.

Continue reading “Menera ulang nasionalisme”

Euthanasia

Ngaben

Saya memacu mobil sekencang mungkin. Akhir pekan ini jalanan tidak ramai tetapi batas maksimal kecepatan tetap berlaku. Meskipun tidak ada polisi, rambu lalu lintas di tepi jalan yang dengan tegas memamerkan angka 60 berlaku sama dengan kehadiran seorang polisi. Tidak seorang pun berani melanggarnya. Saya pastikan kecepatan mobil saya hampir 60 kilometer per jam, kecepatan maksimal yang diperbolehkan di Crown Street. Sesekali saya melirik tubuhnya yang lemas di sebelah kiri saya. matanya terpejam, tutuhnya bergerak lemah dan nafasnya turun naik sangat halus. Mulutnya sesekali ternganga, nampak jelas dia sedang sekarat.

Continue reading “Euthanasia”

Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali

Juni 2011 lalu saya berlibur di Bali di sela menghadiri sebuah konferensi dan kuliah umum. Desa Tegaljadi, tempat kelahiran saya, terletak di bagian yang cukup terpencil di Kabupaten Tabanan. Meski terpencil, tempat itu selalu berkesan dan membuat saya selalu ingin pulang lagi dan lagi. Saya menikmati mandi di pancuran yang kata kakek saya memang tidak pernah surut airnya sejak beliau ingat. Saat selesai membasuh badan, kadang tangan saya reflek mencari-cari keran untuk menghentikan aliran air. Kerabat saya yang tahu ini pasti tergelak.

Continue reading “Dari KML ke Ceper – Pergulatan Akademisi Bali”

Pelatihan Menulis – Selalu ada yang Pertama

Peserta Pelatihan Menulis - Titian Foundation

“Ini seperti malam pertama bagi kita Mas” celetuk saya pada Mas Gogon dan disambut derai tawa oleh peserta pelatihan lainnya. Pagi itu saya dapati diri di sebuah ruangan di lantai atas Gedung Titian Foundation di Yogyakarta, berhadapan dengan belasan orang yang bersemangat dan sangat antusias. Sebagai seorang guru, menghadapi banyak orang tentu saja bukan hal baru bagi saya tetapi pagi itu sedikit berbeda. Pasalnya, saya hadir di tengah-tengah mereka untuk memberi pelatihan cara menulis. Ini adalah kali pertama saya memberikan materi cara menulis dalam forum yang formal. Menariknya, Mas Gogon, koordinator acara, juga menyatakan bahwa itu adalah kali pertama Titian Foundation Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan serupa. Itulah alasannya mengapa saya berkelakar tentang malam pertama. Pelatih dan peserta pelatihan sama-sama belum berpengalaman.

Continue reading “Pelatihan Menulis – Selalu ada yang Pertama”

Marketing in Venus

Asti menari Legong

Awal Juni 2011 saya berlibur di rumah di Desa Tegaljadi di Tabanan. Saat asik di depan laptop karena harus menyelesaikan beberapa tugas, seseorang datang berkunjung. Lelaki 40an tahun itu mengenakan kain, memakai udeng dan berselendang. Dari penampilannya, nampak beliau sedang menjalankan tugas adat. Lelaki itu, tidak lain adalah Kelihan Banjar, kepala adat di kampung kami.

Continue reading “Marketing in Venus”

Yang istimewa dan yang tidak

Bebengan

Meski tidak terlalu suka komik, saya pernah membaca cerita Donald Bebek yang terkenal di tahun 80-90an. Satu cerita yang berkesan adalah tentang petualangan Paman Gober (atau tokoh lain, saya sudah lupa) ke Planet Mas. Dia diundang ke Mas untuk membantu penduduk Mas menemukan tanah di planet mereka. Berdasarkan penelitian para penghuni Mas itu, tanah yang ada di Bumi sangatlah bagus untuk bercocok tanam dan menjadi sumber kehidupan. Mereka berpikir, kalau saja mereka berhasil menemukan tanah di Planet Mas tentu saja sangat bermanfaat untuk kehidupan mereka.

Continue reading “Yang istimewa dan yang tidak”

KulOn: waktu nyata, daring dan murah

Bagi sebagian pihak, telekonferensi bisa jadi merupakan sesuatu yang tidak mudah. Kenyataannya, telekonferensi sudah sangat umum dilakukan dan bisa jadi tidak mahal. Setidaknya, ini menjadi hal yang tidak luar biasa bagi sebagian dosen dan mahasiswa Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pada tanggal 26 Mei 2011, untuk kedua kalinya saya mengadakan kuliah dalam jaringan, daring (online) untuk mahasiswa Teknik Geodesi UGM di Yogyakarta. Kuliah pertama kali saya lakukan dari New York hampir empat tahun silam dan kuliah kedua dari Wollongong, Australia. Kali ini saya membahas aspek hukum dan teknis batas maritim antarnegara. Sangat menyenangkan bisa tetap berbagi dengan mahasiswa meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. Perbedaan waktu tiga jam dan jarak yang terbentang hampir 5000 kilometer tidak menghalangi interaksi saya dengan teman-teman Mahasiswa di Yogyakarta.

Continue reading “KulOn: waktu nyata, daring dan murah”