First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries

For the very first time in the universal history, Planet Earth will send its delegation to Mars to negotiate its space boundary. Following a fatal incident taking place last month around overlapping space area causing death of 150 people and 120 Martians, the United Nations Agency for Solar System Affairs (UNASSA) took an immediate action. The delegation is the first to establish in Planet Earth to deal with space boundary between Planet Earth and its neighbouring planets. The mission is to establish space boundary with neighbours by advocating the need of people in Planet Earth pursuant to the Universal Convention on the Law of the Space (UCLOS) established about two decades ago.

The signatories to the convention are growing in numbers and Planet Earth is among the first few planets to ratify. A universal tribunal has also been established pursuant to UCLOS, consisting of 101 Judges elected from different planets representing around 40 galaxies in total. Even though the judges were elected from particular planets, they serve the tribunal in their personal capacity. The tribunal, which is called the Universal Tribunal for the Law of the Space, is based in Planet Tau Ceti. The building is made in such a way to accommodate judges from different planets with significant differences in biological properties. Due to expensive cost to maintain the universal building liveable to many creatures from different planets, most of the time judges work from their home planet and work collaboratively through inter-galactic telecommunication network. It seems that time and space travel has yet to be enhanced to make the collaboration possible and effective. Teleconference is by far viewed as the most possible solution for intergalactic interaction.

Continue reading “First time in history: Earth and Mars negotiating space boundaries”

Orang Sakti

Saya masih sering tercenung terpana mendengar cerita dari ibu mertua soal kakek beliau yang konon sakti. Kakek buyut, begitu semestinya saya memanggil beliau, adalah seorang dalang yang kata ibu, bisa mendalang di dua tempat sekaligus. Di satu malam beliau disaksikan oleh warga sebuah kampung di Jawa Timur, konon pada saat yang sama beliau tengah memukau kerumunan lainnya di kampung yang jauh jaraknya. Kakek buyut, kata ibu saya, memang sakti mandraguna.

Continue reading “Orang Sakti”

Membaca [tentang] Indonesia

Suatu pagi saat di Jogja, seorang kawan masuk sebuah ruangan tempat kami biasa duduk santai di sela-sela pekerjaan. Kawan ini dengan sigap mengambil koran dan membacanya. Menariknya, yang dibaca adalah Koran kemarin. Katanya beliau tidak sempat membaca kemarin karena harus berada di rumah sakit. “Buta rasanya kalau tidak sempat membaca berita” kata beliau. Saya merenungkan ucapan itu. Ini tentu bukan hal aneh, banyak sekali orang merasa buta dan gelisah jika tidak mengetahui apa yang terjadi.

Continue reading “Membaca [tentang] Indonesia”

Video kuliah online – tiada jarak di antara kita

Inilah video kuliah online yang saya lakukan dari Wollongong untuk Mahasiswa Master Teknik Industri ITS, seperti yang ulasannya saya tulis beberapa waktu lalu.

Video 1

Video 2

Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif

KulOn: Kulian Online 🙂

Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.

Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Continue reading “Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif”

When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia

When Andi met Sharon

Wollongong, 21 Februari 2012
Sore itu saya sedikit gelisah, duduk di deretan tengah kursi shuttle bus yang mengantarkan saya ke kota Wollongong. Berkali-kali saya lirik jam di pergelangan kiri, waktu menunjukkan pukul 1.40 sore. Hari itu saya memiliki janji pertemuan dengan seseorang di kantornya di Crown Street. Saya menggunakan bus gratis dari Innovation Campus, University of Wollongong di Fairy Meadow.

Saya bergegas meninggalkan halte bus segera setelah keluar dari bus yang melanjutkan perjalanannya di sepanjang Bureli Street. Langkah saya menjadi semakin cepat karena waktu sudah mendekati jam 2 sore. Langkah saya dipandu Google Maps dari layar iPhone dengan titik yang berkedip menuntun hentakan kaki yang teregesa. Memang baru pertama kali saya ke kantor tersebut sehingga saya mengandalkan peta.

Di depan sebuah kantor terlihat sebuah papan tergantung bertuliskan “Sharon Bird – Federal Member for Cunningham”. Langkah saya terhenti, ada perasaan berdebar-debar sebelum melanjutkan langkah memasuki ruangan.

Continue reading “When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia”

Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?

Cincin Merah di Barat Sonne

Di minggu kedua Februari 2012 ada sekitar 400 orang Indonesia yang tersenyum girang karena berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Kepada lebih dari 300 orang yang juga mengikuti seleksi tahap akhir tetapi belum beruntung lolos, nasihat saya sederhana “coba lagi tahun ini” jika masih tertarik. Pendaftar beasiswa ADS sekitar 4000 sampai 5000 setiap tahunnya (kadang lebih). Seseorang yang berhasil lolos adalah satu dari 10 persen dari keseluruhan pendaftar. Jika dibahasakan dengan perbandingan maka masing-masing penerima adalah satu dari 10 orang yang mendaftar. Kalau dilihat dengan cara ini, kesannya bisa jadi mudah, bahwa 10 persen pendaftar akan diterima dan itu artinya satu dari sepuluh orang pendaftar berpeluang diterima. Lebih mudah lagi jika ini diartikan bahwa untuk bisa diterima ADS, perlu mengalahkan sembilan orang saingan.

Silakan berpikir demikian tetapi kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari 3600an orang yang gagal setiap tahun. Maka dari itu, mari berpikir lebih realistis bahwa untuk bisa diterima beasiswa ADS, kita harus lebih baik dari 3600an orang itu. Atau untuk lebih pastinya, jika ingin diterima beasiswa ADS maka jadilah peserta dengan ranking paling rendah 400 karena itulah kuota ADS di Indonesia. Dalam bahasa yang lebih dramatis, pertanyaannya menjadi “apakah saya mampu mengalahkan 3600an orang dalam persaingan ini?”

Continue reading “Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?”

Watak dan Otak

Malam itu saya bercakap-cakap dengan Prof. Hasjim Djalal, salah seorang veteran Hukum Laut Indonesia, di sebuah hotel di Manila, Filipina. Pak Hasjim, demikian saya memanggil beliau, adalah makhluk istimewa langka yang dimiliki tidak saja oleh Indonesia tetapi juga dunia. Beliau adalah salah satu tokoh di balik United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 yang termasyur itu. TB Koh dari Singapura menyebut Konvensi itu sebagai “Constitution of the Ocean”.

Percakapan malam itu tidak menyangkut tentang Hukum Laut tetapi hal-hal lain yang lebih santai. Entah bagaimana awalnya, saya beruntung bisa mendengar beliau bercerita soal watak dan otak. Yang mengagumkan dari Pak Hasjim adalah kesediaan beliau berinteraksi hangat dengan orang-orang ‘junior’ seperti saya. Pak Hasjim adalah orang yang ‘mudah dijangkau’ meskipun sudah sedemikian ‘tinggi’ posisinya. Beliau adalah Duta Besar Indonesia untuk PBB, Canada dan Jerman, lalu menjadi Duta Besar Keliling (at large) untuk Hukum Laut. Membaca CV beliau bisa membuat orang bergetar karena kagum. Saya tentu saja sangat beruntung bisa menimba ilmu dari beliau dalam suasana yang sangat akrab di meja makan.

Continue reading “Watak dan Otak”

Tips dan Trik Presentasi

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips presentasi. Saya mencoba meng-audio-visualkan posting tersebut dan saya bawakan dalam sebuah diskusi di fotum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Ranting Wollongong. Berikut adalah hasilnya:

Melihat dalam Kegelapan

from: tinypic.com

Selama dua hari terakhir, blog saya dikunjungi cukup banyak orang. Traffic blog yang biasanya berkisar pada angkat 200-300 pengunjung perhari, meningkat jadi di atas seribu bahkan lebih dari dua ribu. Tulisan terkait perjuangan Asti meraih Beasiswa ADS rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca blog, terutama pejuang beasiswa.

Hari ini saya memperoleh komentar dari seorang yang tidak biasa, bernama Taufiq Effendi. Saya berani tuliskan namanya karena beliau memberi komentar di blog ini dan artinya tidak keberatan jika namanya diketahui khalayak. Seperti yang beliau akui, Taufiq Effendi adalah seorang tuna netra, tidak bisa melihat.

Hal pertama yang membuat saya tertegun adalah bahwa tulisan saya ternyata dinikmati oleh sahabat yg tuna netra, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan apalagi persiapkan. Pertanyaan sederhana pertama yang muncul adalah “bagaimana teman-teman tuna netra bisa menikmati tulisan saya yang tidak bisa diraba?”

Continue reading “Melihat dalam Kegelapan”