Ketika hampir menyelesaikan pendidikan di luar negeri, dia mendapat suatu pelatihan yang menurutnya aneh. Pelatihan itu bertema persiapan pulang kampung. Dia tidak habis pikir, mengapa untuk pulang kampung saja harus menyiapkan diri. Jika persiapan sebelum berangkat ke luar negeri dulu dilakukan begitu serius, dia paham karena akan datang ke tempat baru. Namun persiapan serius untuk pulang ke rumah sendiri ini terasa agak berlebihan. Akibatnya dia tidak mengikuti pelatihan itu dengan serius. Baginya tidak begitu penting. Dia tidak merasa perlu diajari bersikap di rumah sendiri, di negeri sendiri. Tidak akan ada yang mengejutkan di lingkungan budaya yang dia kenal sejak lahir. Itulah keyakinannya.
Category: Inspirasi
Nasionalisme Usil

Celoteh usil tapi sok serem ingin mengingatkan orang tentang nasionalisme atau patriotisme.
- Kamu tidak bangga sama Indonesia? Indonesia bangga kok sama kamu, meskipun kamu tahu, kamu tidak layak dibanggakan!
- Malu jadi orang Indonesia? Indonesia tidak akan malu punya kamu, meskipun kamu nyaris tidak ada gunanya buat dia.
- Nggak ada yang bener di Indonesia ini, semua kacau | Betul! Dengan melihatmu saja, semua orang akan setuju dengan pernyataan itu.
- Aku capek hidup di Indonesia, semua amburadul! | Istirahatlah, memang jadi penonton dan tukang komentarpun bisa capek.
- Aku mau cabut dari Indonesia. Gak tahan sama semua kebobrokan | Kamu mengambil keputusan tepat karena saat ini Indonesia hanya membutuhkan orang-orang kuat.
- Mahasiswa: Payah! Presiden INA takut sama Presiden Amerika | INA: Beda sama kamu, para mahasiwa, yang lebih pinter dari mahasiswa Amerika.
- Sampai kapan Indonesia seperti ini? Lelah aku! | Indonesia: Istirahatlah, hanya diam sambil nonton tv dan baca berita online memang melelahkan.
- Lama2 aku mau tinggal di luar negeri saja kalau Indonesia tetap begini! | Persiapkan dengan baik dan pergilah. Indonesia melepasmu dengan rela.
- Kapan ya Indonesia jadi negara maju? | Ina: Jangan berharap. Aku tidak akan pernah maju kalau kamu hanya mengeluh sambil tidur.
- Entah kapan Indonesia akan membaik. Kaya’nya tidak akan! | Ina: Sekarang kamu tahu, pekerjaan menunggu tanpa melakukan apa-apa memang membosankan.
Tidak setuju? Berarti Anda tidak termasuk yang tertuduh. Santai saja Sob dan teruskan perjuangan 🙂
Memetakan Anies Baswedan

Melihat Anies Baswedan di Mata Najwa, berbagai talk show di TV, atau di koran tentu biasa. Melihat Anies Baswedan hadir di Ruang Kuliah III.4 Teknik Geodesi UGM tentu bukan hal yang biasa. Mungkin ada yang bertanya, sejak kapan Mas Anies mengajar pemetaan? Sejak kapan beliau menekuni remote sensing atau GPS? Ternyata tidak demikian pasalnya. Mas Anies Baswedan hadir di kampus Teknik Geodesi UGM untuk berbicara tentang kepemimpinan. Acara itu bernama “Leadership Talk bersama Anies Baswedan” yang digagas dan diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (KMTG) bersama Geodetic English Club (GEC). Pagi itu, Teknik Geodesi heboh sejadinya. Banyak yang mengakui, acara itu adalah satu dari sedikit hal tak lazim dalam sejarah perjalanan Teknik Geodesi UGM.
Guru Baik Hati
Januari hampir berakhir di tahun 2004, musim panas masih segar, belum ada tanda-tanda berakhir. Ketika itu saya memulai kuliah S2 di University of New South Wales (UNSW) di Sydney, Australia. Pagi itu saya mendapat email dari supervisor, Clive, untuk mengajak saya bertemu. Menariknya, di bagian akhir email itu dia menyampaikan “tapi kalau kamu sibuk, tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali.” Saya yang memang masih sibuk lalu menjelakan bahwa saya masih mengikuti kelas persiapan kuliah dan sedang mencari tempat tinggal permanen. Balasannya menenangkan hati, “baiklah, tidak apa-apa. Kamu pasti lagi repot nyari tempat tinggal dan nanti mengisi perabotan. Kamu pasti perlu alat-alat dapur juga. Silakan bereskan semua urusan, setelah itu kita bertemu”
Kreatif atau Mati
Jika Anda pernah bepergian dengan pesawat, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa setelah penerbangan lebih dari tiga kali maka perhatian kita terhadap instruksi keselamatan penerbangan mengalami penurunan yang serius. Petunjuk mengenakan sabuk pengaman, pemakaian baju pelampung dan masker oksigen menjadi tidak menarik lagi jika Anda sudah terbiasa naik pesawat. Sering saya perhatikan, pramugari yang memeragakan instruksi itu juga setengah hati melakukan peragaan dan penumpang juga acuh tak acuh. Intinya, semua ritual itu seperti formalitas basa-basi, tidak lebih tidak kurang. Singkat kata, membosankan.
Anggapan saya berubah saat naik Air Asia dari Kuala Lumpur ke Singapura tanggal 26 Juni 2013 lalu. Karena lelah setelah mengikuti konferensi di Kuala Lumpur, saya hampir tertidur bahkan sebelum pesawat tinggal landas. Di sela kantuk dan kegamangan itu saya dikejutkan oleh berisik penonton yang tertawa seperti dikomando. Ternyata penumpang tertawa mendengarkan instruksi keselamatan yang yang dibawakan dengan cara lucu oleh pilot atau ko-pilot (saya tidak tahu persis).
Setelah saya perhatikan, ternyata instruksi keselamatan disampaikan secara langsung oleh seorang lelaki dari ruang kendali sambil diperagakan oleh beberapa orang pramugari. Yang membuatnya tidak biasa adalah cara penyampaianya yang lucu. Seringkali lelaki itu berbicara dengan gaya bergema (echo) yang dibuat-buat. Dia juga menyampaikan komentar-komentar konyol seperti “baju pelampung ini memiliki dua pipa tiup, bukan pipa sedot” yang disambut gelak tawa penumpang. Di saat lain, lelaki itu mengatakan “if you cannot find your seatbelt, you might sit on it”. Singkat kata, penumpang dibuatnya riuh rendah tertawa dan penuh perhatian.
Ini video dari Youtube, bukan video yang saya rekam sendiri
Ini adalah contoh kreativitas. Sesuatu yang tadinya biasa dan cenderung membosankan bisa menarik lagi dan menjadi pusat perhatian. Yang diperlukan hanya satu hal: keberanian berpikir dan berbuat di luar kebiasaan. Tentu ada risikonya tetapi jika tidak dicoba, maka ritual instruksi keselamatan di pesawat akan menjadi ‘barang kuno’ padahal sesungguhnya penting tetapi diabaikan sebagian besar orang. Alangkah berbahayanya jika kita abai akan hal-hal yang penting, hanya gara-gara penyampaiannya tidak menarik dan membosankan.
Dalam banyak hal, kreativitas adalah kunci. Tanpa itu, kita akan mati dengan segera. Mati karena terlindas roda zaman yang berlari kencang dan menjadi korban mengenaskan dalam kompetisi yang kian sengit. Jadi pilihannya jelas, kreatif atau mati.
Memancarkan energi positif

Saya sudah mengajar agak lama. Setiap kali mengajar saya merasakan pengalaman berbeda meskipun membawakan materi yang sama dengan kesiapan yang sama juga. Ternyata perbedaan kualitas penampilan saya sangat dipengaruhi oleh situasi peserta kuliah yang menyimak. Dari sekian pengalaman, saya percaya bahwa energi saya sesungguhnya tidak hanya berasal dari persiapan dan penguasaan materi yang prima tetapi juga dari respon mahasiswa.
Saya dengan mudah bisa tahu jika mahasiswa saya antusias dan antusias ini memancarkan energi positif yang luar biasa besarnya. Energi ini membuat saya menjadi semakin baik. Pancaran energi positif itu menguatkan dan membuat saya menampilkan hal terbaik dari diri saya. Waktu mengajar jadi terasa singkat jika hal ini terjadi. Dua jam berlalu dengan cepat dan tiba-tiba kelas harus berakhir.
Di kesempatan lain saya bisa merasakan jika ada satu atau dua mahasiswa yang sengaja ataupun tidak memancarkan energi negatif saat di kelas. Percayalah, saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat buruk. Saya tidak pernah masuk kelas dengan satu niat untuk membuat mahasiswa jadi tidak suka sama saya. Saya tidak pernah masuk kelas dengan niat mempermalukan atau membuat satu atau dua mahasiswa marah atau tidak nyaman. Namun hal ini kadang terjadi, entah apa pasalnya. Mahasiswa seperti ini biasanya memasang tampang tidak tertarik atau wajah tidak senang. Percayalah, itu sangat amat mengganggu niat baik dan konsentrasi.
Kritis sejak muda, berani sejak lama
Ketika mononton video tentang Mas Anies Baswedan di masa-masa hidupnya sebagai pemimpin gerakan mahasiswa, saya mengingat tulisan saya tahun 2010. Saya membuat catatan tentang gerakan mahasiswa di Australia dan membandingkannya dengan gerakan mahasiswa di Indonesia. Lebih jauh, saya bernostalgia mengenang gegap gempita gerakan mahasiswa di tahun 1990an yang berbeda dengan kini.
Tanpa menghakimi mana yang lebih bagus, gerakan mahasiswa di tahun 1990an memiliki agenda yang nampaknya lebih besar. Jika harus turun ke jalan, mahasiswa menentang tirani kekuasaan negara. Jika harus berorasi, mahasiswa tidak meminta penurunan SPP tetapi penuruhan presiden yang otoriter. Jika harus berteriak di gelanggang mahasiswa, mahasiswa tidak mempertanyakan dekannya yang korupsi anggaran tetapi keculasan keluarga istana yang tebal muka mendominasi program mobil nasional. Urusannya memang beda. Dan yang lebih penting, aktivis mahasiswa menjunjung tinggi kata mahasiswa maka dari itu mereka mendasarkan akvitisme dengan tradisi berpikir dan pergulatan gagasan.
Mahasiswa masa kini mungkin memang tidak perlu turun ke jalan menurunkan presiden karena presidennya mungkin baik-baik saja. Mahasiswa sekarang mungkin tidak perlu menentang tirani penguasa karena rejim yang berkuasa saat ini mungkin baik-baik saja. Tapi mahasiswa tidak boleh lupa kebesaran dirinya. Bahwa urusannya bukan sekedar konflik antarangkatan yang remeh temeh tetapi sengketa teritorial antarbangsa. Bahwa urusannya tak sekedar bisa beli pulsa HP tetapi mengingatkan penyelenggara negeri tak mematikan rakyat dengan korupsi. Bahwa urusannya tak melulu soal deretan angka bagus di transkrip tetapi soal membangun karekter.
Menyimak video Mas Anies ini, saya dihadapkan seorang pemimpin yang kritis sejak muda dan berani sejak lama. Lebih jauh, saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap orang lain akan datang menyelesaikan masalah kita. Seperti kata Gandhi, kita yang harus menjadi perubahan yang ingin kita saksikan. Atau dalam bahasa Obama, kitalah perubahan yang sudah kita tunggu sejak lama.
Sepuluh Tips Menjadi Moderator

Saya pernah menjadi moderator untuk berbagai forum yang menghadirkan berbagai jenis orang. Mulai dari mahasiswa hingga professor, mulai dari pejabat hingga diplomat, mulai dari akademisi hingga pengusaha. Saya pernah menjadi moderator diskusi bersama Prof. Mahfud MD (Ketua MK) di Sydney, Bima Arya (kini Walikota Bogor) di Perth, Havas Oegroseno (Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa) di Jogja dan forum ilmiah di Bali. Menjadi moderator itu pekerjaan yang menarik. Tidak menjadi bintang utama dalam diskusi karena bukan pembicara tetapi vital perannya karena dia menentukan jalannya diskusi. Menjadi moderator itu soal seni dan ilmu menjadi pengendali komunikasi.
Saya merasa nyaman menjadi moderator diskusi. Soal baik atau buruk, tentu bukan saya yang berhak menilai. Saya masih terus belajar. Untuk mencatat pelajaran menjadi seorang moderator saya mengumpulkan sepuluh tips.
Teknologi mengubah persepsi kita tentang kecantikan
Teknologi pengolahan citra digital membantu kita melakukan banyak hal. Di sisi lain, dia bisa mengubah persepsi kita tentang kecantikan karena dia membantu kita untuk ‘menipu’ secara dramatis. Coba lihat video ini.
Warning: Video ini menampilkan ketelanjangan. Tidak sesuai untuk mereka yang belum berpikir dewasa.
Menyemai Kebaikan, Merawat Semangat

Perempuan itu menyambut saya dengan ramah, menerima berkas yang mau saya fotocopy. Ada yang tidak biasa pada dirinya tapi sepertinya dia tidak peduli. Seakan tidak terjadi apa-apa dia bergerak sigap menerima berkas saya lalu bergerak menuju mesin fotocopy yang tidak jauh darinya. Toko itu tidak besar, penuh sesak dengan rankaian janur dan lontar yang berwarna-warni. Perempuan Bali ini rupanya juga menjual bebantenan, sesajen yang memang jadi kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Di berbagai sudut tergantung sampian, tamas, ceper, tangkih dan segala rupa bentuk rangkaian janur dan lontar. Aroma khas lontar segar akrab dengan toko sederhana itu.
Saya masih takjub memerhatikan perempuan itu dari belakang. Tangannya bekerja cekatan memindahkan halaman-halaman dokumen yang difotocopy lalu menyusun hasilnya menjadi satu kesatuan dengan stapler. Dia sigap dan cepat. Sementara itu saya masih terpana. Ingin rasanya banyak bertanya tentang situasinya tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ada rasa iba tetapi buru-buru saya tepis karena iba itu bisa-bisa adalah bentuk ‘penghinaan’ dalam kemasan lain. “Ibu memang asli dari sini?” saya akhirnya bertanya. Dijawabnya, “saya asli Gianyar tapi menikah dengan orang sini”. Tidak banyak yang bisa saya tanyakan lagi karena takut tidak tepat. Dalam hati saya membayangkan, pastilah lelaki, suami perempuan ini, baik hatinya.
