Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

e-Book untuk Saraswati

saraswatiIbu Nyoman Metriani bertanya pada kelasnya “apa gunanya belajar ilmu pengetahuan?”. Itu sekitar tahun 1987, saya baru kelas empat SD dan sedang ‘mengintip’ kelas kakak saya yang sedang diajar oleh Ibu Met, begitu kami memanggil beliau. Waktu itu sedang gencar-gencarnya dicanangkan CBSA, cara belajar siswa aktif yang terkenal itu. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin itu yang malih rupa menjadi student-centred learning yang entah mengapa lebih terkenal dengan bahasa dari bumi seberang. Kelas Ibu Met terdiam sesaat sebelum satu dua anak angkat tangan memberi jawaban. Adalah Wayan Sudar yang menjawab agak berbeda “untuk asah otak” katanya. Saya suka jawaban itu tapi rupanya Ibu Met punya pendapat lain. Beliau berkata “kalau otakmu sudah tajam dan runcing, lalu untuk apa?” Kelaspun terdiam.

Anak kelas empat SD tentu tidak cukup pintar memaknai kejadian itu. Saya suka sekali mendengar kata “asah” yang diucapkan Wayan Sudar dan sama terkesannya dengan frase “tajam dan runcing” yang disampaikan Ibu Met. Yang membuat saya bertanya-tanya adalah frase “untuk apa?” Perenungan seorang anak SD tentu saja tidak mendalam. Perenungan yang mudah terlupakan oleh sorak sorai adu jangkrik atau main layangan. Atau oleh sensasi menemukan sebutir telor bebek di pematang sawah selepas panen padi atau kegembiraan berburu ketupat burung yang berjuntai di sanggah-sanggah bambu saat Subak ngusaba desa, menyambut panen tiba.

Continue reading “e-Book untuk Saraswati”

Kolak untuk Buka Puasa

http://www.tabloidbintang.com/

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.

Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.

Continue reading “Kolak untuk Buka Puasa”

Galungan


galungan

Tanggal 27 Maret 2013, umat Hindu merayakan Galungan. Definisi yang saya percaya sejak SD, Galungan adalah peringatan atas kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Galungan diperingati setiap 210 hari sekali setiap Rabu, Kliwon, Dungulan. Demikianlah kalender yang dijadikan pedoman oleh umat Hindu di Indonesia dan akan cukup panjang kalau dijelaskan di sini.

Dalam suasana Galungan begini saya selalu mengenang masa kecil saat ada di Bali. Galungan identik dengan masa bersenang-senang karena saat inilah ada kemungkinan punya baju baru, meskipun tidak selalu. Di saat Galungan pula, kami, anak-anak kecil, dibolehkah bangun subuh-subuhh lalu menonton para orang tua yang menyembelih babi sehari sebelum Galungan. Yang tidak terlupakan adalah saat berebut kantung kemih babi untuk dijadikan bola atau balon untuk bermain di hari-hari berikutnya. Anak-anak kecil tidak dibebani apapun terkait ritual agama, tidak juga ada kewajiban membaca sloka-sloka Bhagavadgita dalam menyambut Galungan. Yang ada hanya satu: kegembiraan tanpa syarat.

Continue reading “Galungan”

Selamat Kuningan

Trikaya Parisudha

ikmbali.wordpress.com

Suatu sore saya mendapat sms dari ibu mertua “Yah, Lita mau belajar Agama sama ayah jam 7 ya!” Dari semua sms yang ada, ini termasuk salah satu yang menegangkan. Segaul-gaulnya seorang Bapak, ketika tiba saatnya, maka dia harus mengajarkan agama kepada anaknya. Di titik inilah dia akan bertanya pada dirinya, seberapa paham dia tentang agama yang dianutnya.

Continue reading “Trikaya Parisudha”

Menjadi Minoritas

Teman saya yang tidak beragama Hindu kadang keliru mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada saya. Tentu saja itu tidak jadi soal dan saya tidak perlu kecewa. Saya yakin Tuhan juga tidak kecewa, apalagi marah pada kekeliruan remeh temeh seperti itu. Ucapan itu, salah atau benar, begitu menyentuh karena disampaikan dengan tulus. Itu sudah lebih dari cukup. Saya terharu banyak teman Muslim, Budhis atau Nasrani yang dengan terbata-bata mengatakan ‘rahajeng nyangra Rahiha Nyepi’, misalnya. Saya yakin ini tidak mudah bagi mereka dan munculnya kata-kata itu adalah hasil kesungguhan.

Continue reading “Menjadi Minoritas”

Menentukan Otonan

Saya pernah menulis tentang otonan di blog ini hampir empat tahun lalu. Otonan, pada dasarnya adalah peringatan hari kelahiran berdasarkan kalender tertentu. Dewasa ini, semakin banyak orang Bali yang berada di luar Bali sehingga tradisi memperingati otonan bisa saja dilupakan. Saya tidak akan berpura-pura menjadi ahli dan mengatakan bahwa melupakan otonan itu bisa membuat sial apalagi masuk neraka. Sama sekali tidak. Meski demikian, sebagai orang Bali, rasanya cukup menarik untuk bisa mengetahui dan memperingati hari kelahiran menggunakan kalender sendiri. Di samping itu, para pendiri tradisi Hindu Bali pada zamannya tentu memiliki alasan yang tidak sederhana mengapa otonan ini perlu diingat dan dirayakan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, peringatan hari kelahiran setidaknya bisa menjadi sebuah kontemplasi.

Continue reading “Menentukan Otonan”

Tuhan yang gaul

Selepas Trisandya malam, Made Kondang tertidur di altar pemujaannya. Dia kelelahan karena seharian bekerja keras. Tidak biasanya, Kondang bermimpi. Dia bermimpi bertemu Tuhan.

Continue reading “Tuhan yang gaul”