
“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.
Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.





