Email saya dibajak?

Saya sering sekali menerima email yang isinya tidak jelas dari seseorang yang saya kenal baik. Dengan memperhatikan isi emailnya dan membandingkan dengan pribadi teman saya ini, tidak sulit untuk mengetahui bahwa email itu bukanlah darinya. Mengapa email itu bias ke tangan saya? Apakah emailnya telah dibajak seseorang sehingga username dan passwordnya diketahui? Ada banyak dugaan terkait kasus ini.

Alternatif pertama, emailnya memang dibajak. Dengan berbagai cara, mungkin saja seseorang berhasil mencuri passwordnya. Untuk ini, memang sebaiknya kita rajin mengganti password secara berkala. Alternatif kedua, bisa saja itu perilaku sebuah virus. Kini virus memang bisa menyebar dengan berbagai cara. Jika suatu saat Anda menerima email bervirus dan membukanya, bukan tidak mungkin virus itu akan mengacaukan email Anda sendiri. Salah satu dampaknya adalah virus secara otomatis akan mengirim email dengan isi yang diinginkannya kepada semua alamat kontak yang ada di daftar alamat email Anda. Untuk ini, rajin-rajinlah mengenali perilaku virus dan jangan sekali-sekali membuka email yang tidak diyakini asal dan isinya.

Continue reading “Email saya dibajak?”

Betul, penghargaan memang akan datang

Sekolahnya Lita

Saya pernah menulis di blog ini bahwa penghargaan akan datang. Tugas saya adalah berbuat yang terbaik yang saya mampu maka penghargaan yang pantas untuk kualitas yang saya berikan adakan datang. Saya yakin itu.

Sejak bersekolah di Wollongong, saya cukup sering berbagi informasi terutama kepada teman-teman yang akan bersekolah ke Wollongong. Saya merasakan, tidak mudah untuk datang ke lingkungan baru tanpa bantuan dari rekan yang sudah mengalami terlebih dahulu. Tidak istimewa sesungguhnya yang saya lakukan. Hanya membalas email, memberikan tips-tips sederhana tentang belanja, tentang transportasi, tentang komunitas Indonesia dan hal-hal sederhana lainnya. Kadang saya tulis pengalaman di blog. Hal ini berlanjut hingga saya jadi Ketua PPIA Wollongong. Hobi membantu orang ini masih berjalan. Saya katakan ‘hobi’ karena memang saya melakukan tanpa tekanan, di sela waktu luang, bukan karena kewajiban, dan dengannya saya mendapat kesenangan. Bukankah hobi memang demikian?

Continue reading “Betul, penghargaan memang akan datang”

Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing

Mereka yang melanjutkan sekolah pascasarjana (S2 atau S3) umumnya memerlukan pembimbing atau supervisor atau professor. Intinya, jika bersekolah yang ada komponen penelitiannya (menulis tesis atau desertasi), kehadiran pembimbing adalah wajib. Hal ini tentu tidak berlaku pada mereka yang menempuh studi S2 by coursework karena memang tidak diwajibkan membuat tesis. Program S2 semacam ini, setahu saya, ada di Australia yang bisa ditempuh dalam waktu setahun.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing”

Beasiswa atau Sex Bebas?

Saya telah ngeblog selama lebih dari enam tahun. Jika dikumpulkan dan ada yang mau melakukan (dan dianggap layak), blog ini tentu sudah menjadi beberapa buku. Selama menulis, saya mengamati satu fenomena menarik. Judul posting ternyata sangat berpengaruh. Saya yakin misalnya ada orang yang membaca posting ini karena dalam judulnya ada kata-kata ‘sex bebas’. Atau jika mau jujur, pasti lebih banyak orang yang tergelincir membaca posting ini secara tidak sengaja, karena kata-kata ‘sex’, bukan karena kata ‘beasiswa’. Meski begitu, orang itu pastilah bukan Anda.

Continue reading “Beasiswa atau Sex Bebas?”

Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement

Tidak sedikit yang bertanya pada saya cara membuat sebuah personal statement atau statement of purpose yang diperlukan untuk melamar beasiswa atau melamar sekolah pascasarjana di luar negeri. Meskipun pernah mendapat beasiswa, saya bukanlah orang yang ahli soal ini dan tidak memiliki kualifikasi resmi untuk menilai sebuah personal statement (PS). Menariknya, setelah saya mengecek di internet, ada banyak sekali tips pembuatan PS yang disediakan oleh berbagai institusi dan berbeda satu sama lain. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan mana yang baik dan mana yang buruk. Meski demikian, toh saya memang pernah membuat PS dan dengannya saya mendapat beasiswa. Oleh karena itu, ketika diminta mengisi workshop di UII Yogyakarta beberapa waktu lalu, yang saya andalkan bukanlah teori, tetapi pengalaman. Yang saya tawarkan kepada peserta bukanlah petunjuk teknis membuat PS tetapi pengalaman saya dalam membuat PS yang akhirnya membuat saya mendapat beasiswa.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menulis Personal Statement”

When a Surveyor Met a Diplomat

Bersama Hassan Wirajuda

Jakarta, 21 Mei 2010
Pagi itu, suasana Porta Venezia di Aryaduta Semanggi tidak telalu subuk. Restoran itu adalah bagian dari Hotel/Apartemen Aryaduta sehingga pagi itu diramaikan oleh mereka yang tinggal di sana. Di salah satu pojok, di sebuah meja dengan temaram lampu yang tidak telalu terang, duduk seorang lelaki berusia matang. Tampilannya sederhana saja, namun elegan berwibawa. Yang tidak memperhatikan tentu tidak sadar bahwa lelaki itu adalah salah satu diplomat terbaik Indonesia. Pada masanyalah dua perundingan batas maritim antara Indonesia dengan negara tetangga, Vietnam dan Singapura, berhasil diselesaikan. Lelaki itu adalah Dr. Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri Indonesia selama dua periode. Di depannya terlihat duduk takzim seorang anak muda. Tentu saja anak muda ini bukan anaknya, bukan juga diplomat kawakan seperti Pak Hassan. Anak muda ini adalah saya, seorang surveyor.

Continue reading “When a Surveyor Met a Diplomat”

Happy Mother’s Day

Ibu
Oleh Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Hikayat seorang penulis

Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Continue reading “Hikayat seorang penulis”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

Kartono

Yogyakarta, 21 April 2237

Sahabat pejuang,

Nama saya Kartono. Saya tinggal di Yogyakarta, kota yang mungkin tidak pernah Anda dengar namanya, kecuali sempat membaca buku-buku sejarah yang kini hampir punah dan dilarang. Konon seratus tahun lalu, kota yang kini hampir mati pernah menjadi pusat kebudayaan di negeri ini. Di kota ini dulu berjaya sebuah pusat pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Hingga usianya lebih dari 100 tahun, tak satupun perempuan yang memegang puncak pimpinan. Kini semua itu tinggal cerita. Kekuasaan dan pusat peradaban telah bergeser. Konon di awal abad ke-20, kota ini bahkan pernah menjadi ibu kota sebelum dipindahkan ke Jakarta yang kini hanya bisa kita lihat di museum. Alam telah menenggelamkan Jakarta. Demikianlah jika makhluk manusia tak berupaya, alam akan menyediakan jalan keluarnya sendiri. Konon, para penguasa jaman itu adalah laki-laki, kaum kita.

Continue reading “Kartono”