Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke

@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Continue reading “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Pendaftaran Beasiswa ADS atau AAS 2014 sudah dibuka!

PreOrder: info@indolearning.com
PreOrder: info@indolearning.com

Pejuang sekalian,

Pendaftaran Beasiswa yang dulu dikenal dengan nama ADS atau Australian Development Scholarship dan sekarang berganti nama menjadi Australian Awards Scholarship (AAS) sudah dibuka. Pendafataran AAS dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013, menurut informasi di website resminya. Selain membaca website resminya, silakan baca kumpulan tulisan saya di halaman Beasiswa ADS. Ada ratusan pertanyaan yang sudah dijawab di sana. Selamat berjuang!

Timbul Hari

photoNamanya Timbul Hari, setidaknya begitu saya dengar dalam percakapan singkat yang dilakukan sambil lalu. Saya bertemu Mas Timbul saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka di Jogja bersama Lita. Mas Timbul adalah pawang onta yang ditunggangi pengunjung dalam suatu atraksi. Saya dan Lita tidak ketinggalan menunggang seekor onta dalam satu putaran yang tidak lebih dari 5 menit.

Sejak sebelum naik onta, saya sudah memperhatikan Mas Timbul dari kejauhan. Berbaju kaos lengan panjang dan celana pendek serta sepatu boot, dia dengan sabar menuntun onta yang ditunggangi satu atau dua orang pengunjung. Tak satupun kata keluar dari mulutnya dan memang tak satu orangpun mengajaknya bicara. Dari gelagat mereka, sepertinya pengunjung dan penunggang onta itu bahkan tidak menyadari kehadiran Mas Timbul. Perannya memang seakan tidak penting, tidak berinteraksi langsung dengan pengunjung, berbeda dengan petugas lain yang menjual tiket atau membantu penunggang menaiki onta. Setidaknya petugas yang demikian sempat berdialog singkat atau sekedar tersenyum kepada pengunjung. Mas Timbul tidak demikian. Dia tidak ada, kehadirannya tidak diperhatikan. Dia terlupakan.

Continue reading “Timbul Hari”

Presentasi di Berlin – Tenggelamnya Kedaulatan?

Saya mengawali tahun 2013 ini dengan sebuah presentasi di Berlin tentang dampak perubahan iklim, dalam hal ini, kenaikan muka air laut, terhadap kewenangan negara atas kawasan maritim. Dalam presentasi ini saya membahas, akankah kenaikan muka air laut bisa menyebabkan tenggelamnya kedaulatan atau hak berdaulat. Silakan simak video berikut.

Presentasi ini saya bawakan di acara Simposium Ketahanan Bumi atau “Earth Resilience” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Jerman di Berlin bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Surya University, Diaspora Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Eropa. Presentasi saya dalam bentuk animasi bisa dilihat di http://madeandi.staff.ugm.ac.id.