Kekhawatiran yang sirna

Seorang kawan baik selalu menasihatkan “jangan khawatir!” kepada saya ketika, karena sesuatu, saya panik. Seperti tidak ada yang meragukan kebijaksanaan dan ketulusannya, nasihat itu dinobatkan sebagai wejangan nomor satu di jagat persahabatan. Ucapan “jangan khawatir” sering menjadi tanda kepedulian seorang kawan.

Tetapi, dalam perjalanan yang dipenuhi tantangan dan keterdesakan, saya sering kali merindukan kekhawatiran. Kehilangan kekhawatiran berarti kehilangan energi untuk menyelesaikan sesuatu. Sirnanya kekhawatiran berarti hilangnya ketakutan dan hilangnya rasa bersalah atas perbuatan dosa. Hilangnya kekhawatiran bisa juga berarti kaburnya nilai-nilai mulia karena penindasan terhadapnya sama saja dengan sikat gigi. Tanpa kekhawatiran, seorang peneliti lupa menyelesaikan laporannya, tanpa kekhawatiran, seorang mahasiswa lupa belajar untuk ujiannya. Tanpa kekhawatiran, seorang ibu muda berselingkuh dengan sahabat suaminya. Tanpa kekhawatiran, anak seorang dokter bisa saja kekurangan gizi.

Saya ingin tetap memelihara kekhawatiran ini, setidaknya agar agar ada orang yang terhibur dengan kepanikan saya.

Jalan Kaki

Di Kerajaan antah berantah yang bernama Kemalasan, jalan kaki bukan pilihan yang hebat. Jalan kaki identik dengan rakyat yang jauh dari makmur, miskin dan menderita. Menunggang kuda dan burung besi adalah ciri peradaban dan kemajuan, begitu identitas kehormatan disandang.

Berbeda dengan itu, di kerajaan tetangga yang bernama Kesadaraan, jalan kaki menjadi pilihan biasa. Dia bahkan mencirikan kebijaksanaan dan kecendikiaan. Jalan kaki, setidaknya, adalah pilihan sehat.

Seorang umat bernama saya, yang baru saja beralih dari Kerajaan Kemalasan menuju Kerajaan Kesadaran, belum lama menyadari makna jalan kaki. Kakinya yang terbiasa nyaman harus menggaruk aspal dan tetap berpura-pura tak terganngu. Sang saya berjalan jauh, sejauh keinginannya.

Kepastian yang kutunggu – Gigi

CHORD GUITAR : kepastian yang kutunggu
[dari: gigi-kita.blogspot.com]

Kepastian yang Kutunggu
Song : Armand, Budjana, Hendy, Thomas
Lyrics : Armand Maulana

Intro(Am-F-C-G)

Am F C
DI BAWAH SINAR BULAN PURNAMA
G
KU MERENUNG
Am F C
SATU KISAH YANG KU JALANI
G
BERSAMAMU

Am F C
* KEINDAHAN DALAM BERCINTA
G
TIDAKLAH MUDAH
Am F C
CINTA MEMBUTUHKAN KETULUSAN
G
DAN PENGORBANAN

F
# SATU KEAGUNGAN CINTA
Dm
T’LAH TERPADAMKAN
F
MENGAPA SEMUA INI
G
HARUS TERJADI

Chorus :

Am
TANYA HATIMU
F
BENARKAH DIRIMU
C
MASIH MENCINTAI AKU
G
BUKANKAH DAHULU
Am
KAULAH YANG MENUNGGU
F
PERNYATAAN CINTA DARIKU
C
TANYA HASRATMU
G
BENARKAH DIRIMU
Am
MASIH MEMBUTUHKAN AKU
F
BILA T’LAH BERUBAH
C
BICARA PADAKU
G Am
KEPASTIANLAH YANG KUTUNGGU

Back to : *, # & Chorus

Interlude

Chorus

Kebebasan Finansial

https://i0.wp.com/www.detrick.army.mil/wellbeing/familyReadiness/images/financial_freedom_guy.gifJika Anda bertanya apa arti kebebasan finansial kepada Robert Kiyosaki, jawabannya bisa jadi satu buku. Kalau Anda bertanya pada saya, jawabannya mungkin sederhana.

Ketika seorang PNS seperi saya tidak punya uang di tengah bulan untuk mengunjungi anak istri di Jakarta (saya tinggal di Jogja), saya mungkin akan merenung sebentar, menulis dan mengirimkannya ke Jakarta Post. Dua hari kemudian dimuat dan honornya cukup untuk tiket pesawat PP Jogja-Jakarta, airport tax dan oleh-oleh kecil untuk Lita. Itu kebebasan finansial. Mengapa bebas? Karena setelah itu memang saya “bebas” alias “tidak punya” finansial 🙂

Prof. Koesnadi: Sebuah Obituari

Ampunkan….

Alam sepertinya menggariskan aku untuk menjadi anak yang lalai pagi ini. Tidak sempat kusaksikan perjalananmu kali ini, yang ternyata untuk yang terakhir kali. Maafkan aku Ayah. Matahari seperti tidak ingin mempertemukan kita, pun hingga hari ini saat engkau tidak akan kembali. Kemalasan terlalu lama bercokol di sini hingga tak kusempatkan menyapa ketika engkau masih punya waktu. Kini terlambat sudah. Terlambat sudah dan habis sudah waktuku yang tidak pernah kugunakan dengan bijaksana. Engkau telah pergi dan tidak akan kembali seperti diharapkan anak cucumu. Haruskan aku marah pada pesawat yang menerbangkan dan menghempaskanmu dengan semena-semena? Haruskan aku
menghujat mereka yang memberitakanmu baik-baik saja tetapi ternyata engkau meregang nyawa? Haruskan aku sumpah serapahi teknologi yang serba cepat dan menbarkan virus kebohongan tentang keberadaanmu? Aku tidak tahu Ayah. Apapun yang aku lakukan, tidak satupun dari itu akan membawamu kembali padaku. Aku memilih untuk diam. Diam sambil meluapkan tangis yang kupendam jauh di dasar hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayah,
Cerita tentangmu terlalu banyak dan tidak bisa kuingat satu persatu. Aku pernah berhasrat akan menuliskan satu saja yang terbaik untuk mengantarkan kepergianmu. Ternyata aku gagal. Tidak ada cerita terbaik yang engkau punya. Semua sama. Sama dalam dan sama luas hingga aku tak sanggup memilih satu untuk kepergianmu hari ini. Barangkali tidak akan pernah cukup kata dan waktu jika harus kutuliskan semua, aku memilih untuk tidak menceritakannya. Kenangan orang-orang bersamamu dan cerita tentangmu telah menjadi akar dan urat serta darah dan daging bagi generasimu. Engkau bukanlah untuk dikenang, engkau untuk diteladani. Biarlah hati saja yang menilai dan kembali mewujudkannya menjadi nilai. Bagimu, alasan untuk dikenang bukanlan segalanya untuk melangkah jauh ke depan. Aku tahu itu.

Aku tahu, kepergianmu tidak akan sanggup memisahkanmu dariku karena di antara kita ada ikatan. Ada cinta yang kekuatannya abadi dan bahkan tidak sirna karena kematian. Engkau akan selalu hadir lewat ceramah-ceramah orang suci, juga lewat sapa sederhana pedagang jajan pasar di dudut jalan. Lewat teriak mahasiswa yang haus keadilan, lewat tangan-tangan yang direlakan kotor untuk menanam paru-paru alam. Kehadiranmu senantiasa niscaya, tidak saja lewat sesuatu yang besar tetapi juga yang kecil.

Pergilah ayah. Pergilah jauh menuju titik tertinggi, dari mana akan kaurestui perjalanan dan kaucermati perilaku kami. Tungganglah kuda sembrani itu yang dikhususkan bagi seorang pahlawan sepertimu. Helalah kencangnya menuju puncak tertinggi. Terima kasih telah mininggalkan panah dan busur untuk kami berburu. Karangan bunga ini adalah sayap untukmu mendekap orang-orang yang dikasihi dan meneteskan air mata melepas kepergianmu. Doa tulus generasimu adalah kekuatan untukmu
menuju sisi terbaik-NYA. Selamat jalan Ayah.

Seorang putra yang bangga.

The Lord of the Rings: Sebuah Alegori PhD?

Diterjemahkan bebas dari karya Dave Pritchard oleh I Made Andi Arsana

Kisah ini bermula dari cerita tentang Frodo: hobit muda yang cukup cerdas dan merasa sedikit kurang puas dengan apa yang telah dipelajarinya selama ini, termasuk atas pilihan teman-temannya di kampung halaman yang mementingkan bekerja dan bersenang-senang dengan minur bir. Dia juga merasa berhutang dengan mentor sekaligus gurunya,
Professor Gandalf yang sudah sedemikian senior. Maka ketika Gandalf menyarankannya untuk menangani sebuah proyek kecil (membawa cincin ke Rivendell), dia pun menyetujuinya.

Dalam waktu singkat, Frodo telah memasuki nuansa ketakutan dan depresi yang suram dan akhirnya menghantuinya di sepanjang perjalanan. Semua itu menyisakan bekas luka permanen di alam kesadarannya tetapi dia juga mendapatkan teman-teman baik dalam perjalanannya. Yang penting dicatat, dia sempat melewatkan suatu malam di sebua pub besama Aragorn, yang selama ini telah menjelajah dunia selama bertahun-tahun sebagai postdoc-nya Gandalf. Aragorn akhirnya menjadi pembimbing Frodo selama Gandaft tidak di tempat. Setelah Frodo berhasil menyelesaikan proyek pertamanya, Gandalf (bersama ketua jurusan, Elrond) menganjurkan agar proyek tersebut dikembangkan. Gandaf membentuk kelompok penelitian, yang terdiri dari mahasiswa tamu Gimli dan Legolas, postdoc asing Boromir, dan beberapa kawan S1 Frodo. Frodo pun setuju untuk menangani proyek yang lebih besar, meskipun sesungguhnya perasaannya tidak menentu (“‘Aku akan membawa cincin itu’, katanya, ‘meskipun aku tidak tahu jalannya.'”) Dalam waktu yang amat singkat, berbagai hal berjalan tidak sesuai rencana. Pertama, Gandalf menghilang dan tidak pernah lagi berinteraksi dengan Frodo bahkan sampai semuanya berakhir. (Frodo menganggap pembimbingnya telah mati: kenyataannya, Frodo kemudian menemukan topik lain yang lebih menarik dan akhirnya lebih memilih mengerjakan topik tersebut, bukan topik utama yang disepakatinya dengan Gandalf). Pada waktu Frodo menghadiri konperensi internasionalnya yang pertama di Lorien, Frodo mendapat pertanyaan kritis yang sangat menggentarkan hati dari Galadriel. Dia juga dikhianati oleh Boromir, yang sangat bernafsu untuk memperoleh penghargaan atas karya tersebut seorang diri. Frodo akhirnya memilih untuk memisahkan diri dari kelompok penelitiannya. Sejak saat itu, dia hanya mendiskusikan penelitiannya dengan Sam, seorang sahabat lama yang sesungguhnya tidak terlalu paham penelitian tersebut, tetapi dalam beberapa hal selalu memuji Frodo karena sedikit lebih pintar dari dirinya. Kemudian dia bergerak menuju Mordor.

Saat-saat terakhir yang paling suram dalam perjalanan Frodo adalah ketika dia menghadapi masa penulisan. Dia terseok-seok menuju Mount Doom (deadline penyerahan disertasi), menyadari bahwa bebannya bertambah berat seakan telah menjadi bagian dari dirinya; semakin dihantui oleh kegagalan; terbebani oleh adanya figur Gollum, mahasiswa yang membawa cincin sebelum dia dan terbukti tidak pernah berhasil menyelesaikan penulisan dan akhirnya tetap saja berkeliaran sebagai bayangan yang sudah usang dan penuh rasa iri. Frodo semakin sedikit berbicara, bahkan kepada Sam, sahabatnya. Ketika dia memasukkan cincin tersebut ke dalam api (menyerahkan disertasi), Frodo sesungguhnya tengah ada dalam kebingungan yang menjadi, bukan dalam keyakinan penuh. Dalam beberapa saat setelah itu, dunia terasa kosong.

Akhirnya selesai sudah: Cincin telah hilang, semua orang menyelamatinya, dan dalam beberapa hari dia berhasil meyakinkan dirinya bahwa berbagai persoalan telah selesai. Akan tetapi ada satu halangan lagi yang harus diselesaikannya: beberapa bulan kemudian, di Shire, dia harus mempertahankan karyanya di depan Saruman sebagai penguji eksternal (external examiner), musuh bebuyutan Gandalf, yang berusaha keras untuk menampik, menghina dan merusak bimbingan rivalnya. Dengan bantuan kawan dan koleganya, Frodo berhasil lolos dari ujian berat itu, tetai menyadari bahwa pada akhirnya keberhasilan dan kemenangan ini tidak menyisakan makna untuknya. Ketika kawan-kawannya kembali untuk hidup tenang dan mulai mencari pekerjaan termasuk menjalani kehidupan berumah tangga, Frodo tetap saja dalam persimpangan; akhirnya, bersama Gandalf, Elrond dan banyak rekan lainnya, dia memutuskan untuk bergabung dengan brain drain menyeberangi Samudera Barat menuju tanah baru yang entah di mana.

Sang Veteran itu Telah Berpulang

Malam sudah sangat larut ketika tubuh itu terbaring tenang setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Malam yang sepi dan dingin yang menyelimuti desa seaakan juga mendekap hati semua yang melepaskan. Adalah istri, anak, menantu, cucu dan buyut yang menjadi saksi kepergiannya. Pahlawan tua itu telah pergi. Sang Veteran itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Dia yang melewatkan hidup dengan nafas revolusi, kini terbujur kaku. Kepergiannya adalah apa yang berhasil ditundanya puluhan tahun yang lalu di medan laga.

Tidak terdengar isak tangis yang berlebihan, pun tidak ada jeritan pilu yang menghantarkan kepergiannya. Jelas bukan karena kepergiannya diharapkan. Bukan pula karena kehidupannya tidak diinginkan. Adalah karena perjuangannya sudah paripurna dan pengabdiannya yang sudah sampai pada titik terakhir yang wajar dicapai seorang pejuang. Kepergiannya yang tanpa tangis bukanlah karena dia tidak dicintai generasinya tetapi karena pengabdiannya yang memang telah usai. Generasi mengantarkan kepergiannya dengan kebanggaan yang tersimpan di dalam hati. Bahkan jauh di dalam ketertundukan mereka, ada senyum kemenangan yang dikulum. Senyum kebanggaan karena masih sempat mewarisi darah Sang Pemberani.

Pahlawan kami,
Tungganglah kuda sembrani itu. Terbanglah menuju langit yang terbentang luas, tempat dari mana akan kaulihat dan kaujaga generasimu. Keberanianmu yang bersahaja dan kepahlawananmu yang kautunjukkan dengan sederhana akan terwarisi oleh generasi ksatriamu. Kami tahu, kepergianmu tak akan sanggup memisahkanmu dari kami karena di antara kita ada cinta. Cinta yang bahkan tidak terhapuskan oleh kematian. Semangatmu akan hadir dan tetap ada bersama semangat para penggembala sapi yang mewarisi kegigihanmu. Keteladannmu akan hadir melalui semangat orang-orang tua yang tidak berhenti bekerja meskipun sakit dan terjepit. Akan terasa pelajaran darimu lewat matahari yang terbit setiap pagi, lewat lenguhan sapi yang hidup karena jasa orang-orang sepertimu dan lewat canda itik bercengkrama menikmati biah-biah buah tangan tetua-tetua bersahaja sepertimu.

Canang sari ini adalah bekal perjalananmu melewati lorong yang panjang. Sampian dan ceniga ini adalah sayap untukmu terbang menuju tempat tertinggi dari mana akan kauhidupi kami dengan cinta abadimu. Terbanglah tinggi wahai pahlawanku, kelak akan kami susul langkahmu dengan kebanggaan yang mungkin belum berhasil kauraih. Seandainya masih tersisa sedikit waktu untukku, akan kucium telapak kakimu dan lirih berucap maaf. Selamat jalan pahlawanku.

Bekasi, 24 Februari 2007- 23:53 WIB
Seorang Cucu yang bangga dan kini terbang tinggi

Romantis Geodetis

Genjo bingung. Pasalnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di hari valentine yang tinggal beberapa hari lagi. Bukan karena tidak punya pacar, mahasiswa Teknik Geodesi semester 8 ini merasa susah menentukan hadiah apa yang paling tepat untuk kekasih hatinya.

Mawar merah? Wah, melankolis sekali. Tidak sesuai dengan karakter Genjo, yang menurutnya, garang, tegas dan trengginas. “Bukan gue banget, gitu lo”, begitu katanya pada seorang kawan. “Lagian sama sekali tidak geodetis, dan sori aja ya, bagi gue itu bukan cara surveyor menyatakan cinta”, dia menambahkan.

Lalu apa?

Genjo yakin ada sesuatu yang romantis tapi tetap geodetis untuk kekasih hatinya. Akhirnya dia mencari-cari kemungkinan, mengingat kembali bahan-bahan kuliah yang pernah diikuti dan mencoba memformulasikan hadiah valentine yang romantis geodetis. Genjo teringat Google Maps dengan citra satelitnya yang kini berskala besar untuk Jogja. Dia tahu persis tempat kost pacarnya, termasuk warung makan tempat mereka ngedate pertama kali. Akhirnya Genjo memutuskan untuk membuat “Peta Cinta”. Peta dengan sumber data Google Maps, dicapture layar demi layar, dimosaik secara tak terkontrol dengan Adobe Photoshop, dan diolah sedemikian rupa dengan Corel Draw.

Tentunya Genjo tidak lupa meberi informasi tepi dengan panah arah Utara yang menembus hati berwarna merah :).

Yang menarik adalah Legendanya. Genjo tentu saja tidak menunjukkan posisi fasilitas umum atau fitur topografi lainnya, tetapi tempat-tempat bersejarah dalam cintanya. Sebuah simbol berbentuk hati berwarna pink menghiasi sebuah lokasi. Ya, ini adalah tempat pertemuan pertamanya dengan sang kekasih. Tanda-tanda serupa menghiasi berbagai lokasi yang ternyata adalah: angkringan, gedung bioskop, lembah UGM [hmm apa tuh?], perpustakaan pusat [Genjo rajin belajar di perpustakaan sambil pacaran], lokasi praktikum Ilmu Ukur Tanah, saat mana pacarnya biasa datang membawakan es jeruk dalam kantong plastik waktu dia berpanas-panas.

Tanda yang sama tentu saja juga menghiasi kost masing-masing, yang merupakan saksi bisu keakraban mereka. [seandainya kursi dan meja di kamar kost Genjo bisa bicara, banyak yang akan mereka laporkan kepada Ibu Bapaknya di kampung]. Genjo juga menambahkan warna-warna garis yang menyolok mewakili perjalanan yang sudah mereka tempuh selama pacaran.

Tidak berhenti di situ, dengan gambar yang sama Genjo melakukan georeferensi dengan koordinat seadanya yang diambilnya dari Google Earth. “Tidak teliti”, kata temannya memprotes. “Masa bodo, mana sempat orang Kedokteran Gigi ngurusin ketelitian”, jawab Genjo sambil tergelak.

Genjo merasa kurang puas kalau tidak menerapkan ilmu SIG berbasis Internet yang jadi mata kuliah baru di kampusnya. Dengan menggunakan ARCView untuk mengolah data dan menyajikan informasi yang cantik, Genjo akhirnya mempublikasikan Peta Cinta interaktifnya dengan MapServer. Tentu saja kali ini dia boleh merasa gagah karena domainnya adalah web.ugm.ac.id, gratis untuk setiap mahasiswa UGM. Beruntunglah Genjo karena dosen pengampu SIG berbasis Internet memaksanya untuk mendaftar domain dan membuat website pribadi. Kini ada manfaatnya.

Terpampanglah kini Web GIS sederhana (bagi pacar Genjo tentu saja sangat istimewa) yang menampilkan salah satu layer bernama “Sejarah Cinta”. Ketika layer ini diaktifkan, muncul simbol-simbol hati yang ketika diklik menghasilkan pop-up informasi. Salah satunya berbunyi “Di sini cinta dimulai“.

Begitulah Genjo, seorang [calon] surveyor yang bersikeras merayakan valentine yang romantis tetapi tetap Geodetis. Pada hari Valentine, dia mengirim email kepada pacarnya.

Dear Cinta,
Aku tidak ingin seperti kebanyakan orang yang menyatakan cinta dengan sekuntum mawar merah yang hari ini di depan RRI sudah mencapai 17 ribu setangkai. Sebagai gantinya, aku membuatkan Peta Cinta untukmu. Maaf aku kirimkan dalam format JPG karena ternyata ngeprint A3 di Prima dekat Mirota Kampus sama dengan 60 ribu selembar. Kita cetak kapan-kapan kalau sudah punya uang 🙂 Kalau kamu ingin menikmati peta yang interaktif sambil mengenang kisah cinta kita, silahkan kujungi http://genjo.web.ugm.ac.id/valentine

Salam sayang,

Aa’ Genjo

Cinta

Tiba saatnya harus menulis lagi, tetang topik lama yang umurnya sudah usang: CINTA. Cinta seperti ilalang di tegalan Made Kondang, pada saat tertentu sirna dari pandangan mata. Namun jangan salah, ilalang tak pernah hilang. Ia hanya bersembungi dari pandangan mata, terutama mata yang tidak awas dan tidak mau menelisik hingga ke bawah tanah. Akar ilalang tentap ada. Oleh karenanya, dia selalu bersemi kembali ketika hujan tiba. Ketika kesegaran menghampiri dan air cukup untuk membuatnya, hidup, ilalang bersemi tanpa diminta.

Begitulah Cinta, seperti ilalang di musim hujan, dia senantiasa dituliskan kembali, diucapkan dan dinyatakan. Barangkali cinta diam dan bersembungi untuk bertahan hidup. Cinta bersembungi dan lenyap dari pandangan mata untuk nanti kembali di musim hujan mengiasi alam. Cinta seakan menjadi pemandangan baru yang melegakan siapa saja yang melihatnya.

Barukah sang ilalang ini? Tentu saja tidak. Ilalang tidak baru, dia hanya muncul kembali setelah lama dilupakan. Begitu pula cinta yang kita mungkin sering abaikan sepanjang tahun perjalanan. Kesibukan, kedengkian, kompetisi dan semuanya, barangkali tanpa kita sadari telah membuat cinta terkubur beberapa saat, sirna dari keseharian kita.

Beruntunglah, orang Barat, yang menurut kakek dan tetangga saya adalah orang-orang biadab, menciptakan tradisi cinta yang mereka sebut Valentine. Biarlah bagi saya, tradisi barat ini menjadi saat yang tepat untuk mengingatkan saya tentang cinta. Tidak saja untuk mengingat, tetapi yang terpenting adalah untuk mengucapkan dan menyatakan kembali cinta kepada orang-orang yang memang saya cintai.

Ibu, aku mencintaimu, walau cinta ini pastilah jauh kadarnya dibandingkan cintamu yang tidak terbatas. “Tak mampu ku membalas, Ibu”

Bapak, “dalam hening sepi kurindu, untuk menuai padi milik kita” Keterbatasanmu barangkali niscaya, namun kewibawaanmu tak pernah kurasa kurang dari yang aku harapkan.

Cinta ini kepada istriku yang dengan cintanya telah menjadi pendukung paling setia, tempat aku belajar kesabaran dan arti saling mengerti. Saatnya aku menyatakan cinta untuk kesekian kalinya. Mawar yang kita tanam di halaman depan rumah kita, memang sudah mulai berbunga. Terima kasih telah melahirkan peri kecil kita, tempat menumpahkan cinta dan yang telah menjadi alasan kita untuk tetap bersama.

Cinta adalah kepada siapa saja dan kepada apa saja. Dan yang utama, cinta dalah kepada diri sendiri. Menerima kelebihan dan kekurangan, dengan senyum dan amarah dalam kadar yang tidak berbeda.

Cinta ini sesungguhnya tidak pernah hilang, tetapi seperti ilalang di tegalan Made Kondang, cinta itu kadang lenyap dari pandangan mata. Kini saatnya cinta dintayakan kembali. Saatnya cinta mendapat ruang yang cukup di tengah kerisauan hati yang kian hari kian tak punya waktu.

Aku mencintaimu.

Penerima ADS 2007

Pengumuman berikut diambil dari situs resmi ADS Jakarta. Ditampilkan di sini agar bisa dilihat langsung tanpa perlu mendownload. Jika ingin mendapatkan file aslinya, silahkan download dari website ADS Jakarta dalam format EXCEL.


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]


[satu][dua][tiga][empat][lima][enam][top]