Cinta


Tiba saatnya harus menulis lagi, tetang topik lama yang umurnya sudah usang: CINTA. Cinta seperti ilalang di tegalan Made Kondang, pada saat tertentu sirna dari pandangan mata. Namun jangan salah, ilalang tak pernah hilang. Ia hanya bersembungi dari pandangan mata, terutama mata yang tidak awas dan tidak mau menelisik hingga ke bawah tanah. Akar ilalang tentap ada. Oleh karenanya, dia selalu bersemi kembali ketika hujan tiba. Ketika kesegaran menghampiri dan air cukup untuk membuatnya, hidup, ilalang bersemi tanpa diminta.

Begitulah Cinta, seperti ilalang di musim hujan, dia senantiasa dituliskan kembali, diucapkan dan dinyatakan. Barangkali cinta diam dan bersembungi untuk bertahan hidup. Cinta bersembungi dan lenyap dari pandangan mata untuk nanti kembali di musim hujan mengiasi alam. Cinta seakan menjadi pemandangan baru yang melegakan siapa saja yang melihatnya.

Barukah sang ilalang ini? Tentu saja tidak. Ilalang tidak baru, dia hanya muncul kembali setelah lama dilupakan. Begitu pula cinta yang kita mungkin sering abaikan sepanjang tahun perjalanan. Kesibukan, kedengkian, kompetisi dan semuanya, barangkali tanpa kita sadari telah membuat cinta terkubur beberapa saat, sirna dari keseharian kita.

Beruntunglah, orang Barat, yang menurut kakek dan tetangga saya adalah orang-orang biadab, menciptakan tradisi cinta yang mereka sebut Valentine. Biarlah bagi saya, tradisi barat ini menjadi saat yang tepat untuk mengingatkan saya tentang cinta. Tidak saja untuk mengingat, tetapi yang terpenting adalah untuk mengucapkan dan menyatakan kembali cinta kepada orang-orang yang memang saya cintai.

Ibu, aku mencintaimu, walau cinta ini pastilah jauh kadarnya dibandingkan cintamu yang tidak terbatas. “Tak mampu ku membalas, Ibu”

Bapak, “dalam hening sepi kurindu, untuk menuai padi milik kita” Keterbatasanmu barangkali niscaya, namun kewibawaanmu tak pernah kurasa kurang dari yang aku harapkan.

Cinta ini kepada istriku yang dengan cintanya telah menjadi pendukung paling setia, tempat aku belajar kesabaran dan arti saling mengerti. Saatnya aku menyatakan cinta untuk kesekian kalinya. Mawar yang kita tanam di halaman depan rumah kita, memang sudah mulai berbunga. Terima kasih telah melahirkan peri kecil kita, tempat menumpahkan cinta dan yang telah menjadi alasan kita untuk tetap bersama.

Cinta adalah kepada siapa saja dan kepada apa saja. Dan yang utama, cinta dalah kepada diri sendiri. Menerima kelebihan dan kekurangan, dengan senyum dan amarah dalam kadar yang tidak berbeda.

Cinta ini sesungguhnya tidak pernah hilang, tetapi seperti ilalang di tegalan Made Kondang, cinta itu kadang lenyap dari pandangan mata. Kini saatnya cinta dintayakan kembali. Saatnya cinta mendapat ruang yang cukup di tengah kerisauan hati yang kian hari kian tak punya waktu.

Aku mencintaimu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s