Sang Veteran itu Telah Berpulang


Malam sudah sangat larut ketika tubuh itu terbaring tenang setelah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Malam yang sepi dan dingin yang menyelimuti desa seaakan juga mendekap hati semua yang melepaskan. Adalah istri, anak, menantu, cucu dan buyut yang menjadi saksi kepergiannya. Pahlawan tua itu telah pergi. Sang Veteran itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Dia yang melewatkan hidup dengan nafas revolusi, kini terbujur kaku. Kepergiannya adalah apa yang berhasil ditundanya puluhan tahun yang lalu di medan laga.

Tidak terdengar isak tangis yang berlebihan, pun tidak ada jeritan pilu yang menghantarkan kepergiannya. Jelas bukan karena kepergiannya diharapkan. Bukan pula karena kehidupannya tidak diinginkan. Adalah karena perjuangannya sudah paripurna dan pengabdiannya yang sudah sampai pada titik terakhir yang wajar dicapai seorang pejuang. Kepergiannya yang tanpa tangis bukanlah karena dia tidak dicintai generasinya tetapi karena pengabdiannya yang memang telah usai. Generasi mengantarkan kepergiannya dengan kebanggaan yang tersimpan di dalam hati. Bahkan jauh di dalam ketertundukan mereka, ada senyum kemenangan yang dikulum. Senyum kebanggaan karena masih sempat mewarisi darah Sang Pemberani.

Pahlawan kami,
Tungganglah kuda sembrani itu. Terbanglah menuju langit yang terbentang luas, tempat dari mana akan kaulihat dan kaujaga generasimu. Keberanianmu yang bersahaja dan kepahlawananmu yang kautunjukkan dengan sederhana akan terwarisi oleh generasi ksatriamu. Kami tahu, kepergianmu tak akan sanggup memisahkanmu dari kami karena di antara kita ada cinta. Cinta yang bahkan tidak terhapuskan oleh kematian. Semangatmu akan hadir dan tetap ada bersama semangat para penggembala sapi yang mewarisi kegigihanmu. Keteladannmu akan hadir melalui semangat orang-orang tua yang tidak berhenti bekerja meskipun sakit dan terjepit. Akan terasa pelajaran darimu lewat matahari yang terbit setiap pagi, lewat lenguhan sapi yang hidup karena jasa orang-orang sepertimu dan lewat canda itik bercengkrama menikmati biah-biah buah tangan tetua-tetua bersahaja sepertimu.

Canang sari ini adalah bekal perjalananmu melewati lorong yang panjang. Sampian dan ceniga ini adalah sayap untukmu terbang menuju tempat tertinggi dari mana akan kauhidupi kami dengan cinta abadimu. Terbanglah tinggi wahai pahlawanku, kelak akan kami susul langkahmu dengan kebanggaan yang mungkin belum berhasil kauraih. Seandainya masih tersisa sedikit waktu untukku, akan kucium telapak kakimu dan lirih berucap maaf. Selamat jalan pahlawanku.

Bekasi, 24 Februari 2007- 23:53 WIB
Seorang Cucu yang bangga dan kini terbang tinggi

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s