The Lord of the Rings: Sebuah Alegori PhD?


Diterjemahkan bebas dari karya Dave Pritchard oleh I Made Andi Arsana

Kisah ini bermula dari cerita tentang Frodo: hobit muda yang cukup cerdas dan merasa sedikit kurang puas dengan apa yang telah dipelajarinya selama ini, termasuk atas pilihan teman-temannya di kampung halaman yang mementingkan bekerja dan bersenang-senang dengan minur bir. Dia juga merasa berhutang dengan mentor sekaligus gurunya,
Professor Gandalf yang sudah sedemikian senior. Maka ketika Gandalf menyarankannya untuk menangani sebuah proyek kecil (membawa cincin ke Rivendell), dia pun menyetujuinya.

Dalam waktu singkat, Frodo telah memasuki nuansa ketakutan dan depresi yang suram dan akhirnya menghantuinya di sepanjang perjalanan. Semua itu menyisakan bekas luka permanen di alam kesadarannya tetapi dia juga mendapatkan teman-teman baik dalam perjalanannya. Yang penting dicatat, dia sempat melewatkan suatu malam di sebua pub besama Aragorn, yang selama ini telah menjelajah dunia selama bertahun-tahun sebagai postdoc-nya Gandalf. Aragorn akhirnya menjadi pembimbing Frodo selama Gandaft tidak di tempat. Setelah Frodo berhasil menyelesaikan proyek pertamanya, Gandalf (bersama ketua jurusan, Elrond) menganjurkan agar proyek tersebut dikembangkan. Gandaf membentuk kelompok penelitian, yang terdiri dari mahasiswa tamu Gimli dan Legolas, postdoc asing Boromir, dan beberapa kawan S1 Frodo. Frodo pun setuju untuk menangani proyek yang lebih besar, meskipun sesungguhnya perasaannya tidak menentu (“‘Aku akan membawa cincin itu’, katanya, ‘meskipun aku tidak tahu jalannya.'”) Dalam waktu yang amat singkat, berbagai hal berjalan tidak sesuai rencana. Pertama, Gandalf menghilang dan tidak pernah lagi berinteraksi dengan Frodo bahkan sampai semuanya berakhir. (Frodo menganggap pembimbingnya telah mati: kenyataannya, Frodo kemudian menemukan topik lain yang lebih menarik dan akhirnya lebih memilih mengerjakan topik tersebut, bukan topik utama yang disepakatinya dengan Gandalf). Pada waktu Frodo menghadiri konperensi internasionalnya yang pertama di Lorien, Frodo mendapat pertanyaan kritis yang sangat menggentarkan hati dari Galadriel. Dia juga dikhianati oleh Boromir, yang sangat bernafsu untuk memperoleh penghargaan atas karya tersebut seorang diri. Frodo akhirnya memilih untuk memisahkan diri dari kelompok penelitiannya. Sejak saat itu, dia hanya mendiskusikan penelitiannya dengan Sam, seorang sahabat lama yang sesungguhnya tidak terlalu paham penelitian tersebut, tetapi dalam beberapa hal selalu memuji Frodo karena sedikit lebih pintar dari dirinya. Kemudian dia bergerak menuju Mordor.

Saat-saat terakhir yang paling suram dalam perjalanan Frodo adalah ketika dia menghadapi masa penulisan. Dia terseok-seok menuju Mount Doom (deadline penyerahan disertasi), menyadari bahwa bebannya bertambah berat seakan telah menjadi bagian dari dirinya; semakin dihantui oleh kegagalan; terbebani oleh adanya figur Gollum, mahasiswa yang membawa cincin sebelum dia dan terbukti tidak pernah berhasil menyelesaikan penulisan dan akhirnya tetap saja berkeliaran sebagai bayangan yang sudah usang dan penuh rasa iri. Frodo semakin sedikit berbicara, bahkan kepada Sam, sahabatnya. Ketika dia memasukkan cincin tersebut ke dalam api (menyerahkan disertasi), Frodo sesungguhnya tengah ada dalam kebingungan yang menjadi, bukan dalam keyakinan penuh. Dalam beberapa saat setelah itu, dunia terasa kosong.

Akhirnya selesai sudah: Cincin telah hilang, semua orang menyelamatinya, dan dalam beberapa hari dia berhasil meyakinkan dirinya bahwa berbagai persoalan telah selesai. Akan tetapi ada satu halangan lagi yang harus diselesaikannya: beberapa bulan kemudian, di Shire, dia harus mempertahankan karyanya di depan Saruman sebagai penguji eksternal (external examiner), musuh bebuyutan Gandalf, yang berusaha keras untuk menampik, menghina dan merusak bimbingan rivalnya. Dengan bantuan kawan dan koleganya, Frodo berhasil lolos dari ujian berat itu, tetai menyadari bahwa pada akhirnya keberhasilan dan kemenangan ini tidak menyisakan makna untuknya. Ketika kawan-kawannya kembali untuk hidup tenang dan mulai mencari pekerjaan termasuk menjalani kehidupan berumah tangga, Frodo tetap saja dalam persimpangan; akhirnya, bersama Gandalf, Elrond dan banyak rekan lainnya, dia memutuskan untuk bergabung dengan brain drain menyeberangi Samudera Barat menuju tanah baru yang entah di mana.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “The Lord of the Rings: Sebuah Alegori PhD?”

  1. lucu juga ya ternyata…LOTR di terjemahkan seperti yang pak andi tulis ne….lumayan buat ngilangin stress krn hari ini kampus libur effect dari kedatangan paman obama di kampus….kl ada film lain yg ditulis kayak gini…saya mau membacanya juga….

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s