Prof. Koesnadi: Sebuah Obituari


Ampunkan….

Alam sepertinya menggariskan aku untuk menjadi anak yang lalai pagi ini. Tidak sempat kusaksikan perjalananmu kali ini, yang ternyata untuk yang terakhir kali. Maafkan aku Ayah. Matahari seperti tidak ingin mempertemukan kita, pun hingga hari ini saat engkau tidak akan kembali. Kemalasan terlalu lama bercokol di sini hingga tak kusempatkan menyapa ketika engkau masih punya waktu. Kini terlambat sudah. Terlambat sudah dan habis sudah waktuku yang tidak pernah kugunakan dengan bijaksana. Engkau telah pergi dan tidak akan kembali seperti diharapkan anak cucumu. Haruskan aku marah pada pesawat yang menerbangkan dan menghempaskanmu dengan semena-semena? Haruskan aku
menghujat mereka yang memberitakanmu baik-baik saja tetapi ternyata engkau meregang nyawa? Haruskan aku sumpah serapahi teknologi yang serba cepat dan menbarkan virus kebohongan tentang keberadaanmu? Aku tidak tahu Ayah. Apapun yang aku lakukan, tidak satupun dari itu akan membawamu kembali padaku. Aku memilih untuk diam. Diam sambil meluapkan tangis yang kupendam jauh di dasar hati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Ayah,
Cerita tentangmu terlalu banyak dan tidak bisa kuingat satu persatu. Aku pernah berhasrat akan menuliskan satu saja yang terbaik untuk mengantarkan kepergianmu. Ternyata aku gagal. Tidak ada cerita terbaik yang engkau punya. Semua sama. Sama dalam dan sama luas hingga aku tak sanggup memilih satu untuk kepergianmu hari ini. Barangkali tidak akan pernah cukup kata dan waktu jika harus kutuliskan semua, aku memilih untuk tidak menceritakannya. Kenangan orang-orang bersamamu dan cerita tentangmu telah menjadi akar dan urat serta darah dan daging bagi generasimu. Engkau bukanlah untuk dikenang, engkau untuk diteladani. Biarlah hati saja yang menilai dan kembali mewujudkannya menjadi nilai. Bagimu, alasan untuk dikenang bukanlan segalanya untuk melangkah jauh ke depan. Aku tahu itu.

Aku tahu, kepergianmu tidak akan sanggup memisahkanmu dariku karena di antara kita ada ikatan. Ada cinta yang kekuatannya abadi dan bahkan tidak sirna karena kematian. Engkau akan selalu hadir lewat ceramah-ceramah orang suci, juga lewat sapa sederhana pedagang jajan pasar di dudut jalan. Lewat teriak mahasiswa yang haus keadilan, lewat tangan-tangan yang direlakan kotor untuk menanam paru-paru alam. Kehadiranmu senantiasa niscaya, tidak saja lewat sesuatu yang besar tetapi juga yang kecil.

Pergilah ayah. Pergilah jauh menuju titik tertinggi, dari mana akan kaurestui perjalanan dan kaucermati perilaku kami. Tungganglah kuda sembrani itu yang dikhususkan bagi seorang pahlawan sepertimu. Helalah kencangnya menuju puncak tertinggi. Terima kasih telah mininggalkan panah dan busur untuk kami berburu. Karangan bunga ini adalah sayap untukmu mendekap orang-orang yang dikasihi dan meneteskan air mata melepas kepergianmu. Doa tulus generasimu adalah kekuatan untukmu
menuju sisi terbaik-NYA. Selamat jalan Ayah.

Seorang putra yang bangga.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s