Kekhawatiran yang sirna


Seorang kawan baik selalu menasihatkan “jangan khawatir!” kepada saya ketika, karena sesuatu, saya panik. Seperti tidak ada yang meragukan kebijaksanaan dan ketulusannya, nasihat itu dinobatkan sebagai wejangan nomor satu di jagat persahabatan. Ucapan “jangan khawatir” sering menjadi tanda kepedulian seorang kawan.

Tetapi, dalam perjalanan yang dipenuhi tantangan dan keterdesakan, saya sering kali merindukan kekhawatiran. Kehilangan kekhawatiran berarti kehilangan energi untuk menyelesaikan sesuatu. Sirnanya kekhawatiran berarti hilangnya ketakutan dan hilangnya rasa bersalah atas perbuatan dosa. Hilangnya kekhawatiran bisa juga berarti kaburnya nilai-nilai mulia karena penindasan terhadapnya sama saja dengan sikat gigi. Tanpa kekhawatiran, seorang peneliti lupa menyelesaikan laporannya, tanpa kekhawatiran, seorang mahasiswa lupa belajar untuk ujiannya. Tanpa kekhawatiran, seorang ibu muda berselingkuh dengan sahabat suaminya. Tanpa kekhawatiran, anak seorang dokter bisa saja kekurangan gizi.

Saya ingin tetap memelihara kekhawatiran ini, setidaknya agar agar ada orang yang terhibur dengan kepanikan saya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s