Raden Gaul Kartini


Ada kabar dari kampus, dua orang alumni muda mendapat predikat cum laude dalam periode wisuda yang lalu. Yang menarik, keduanya adalah alumni perempuan. Kabar lain datang dari sebuah bank besar di negeri ini, sangat banyak kepala cabangnya adalah perempuan. Demikian seterusnya, berbagai kabar tentang keberhasilan prempuan sering kita dengar. Apakah ini pertanda cita-cita Kartini perihal emansipasi telah tercapai? Benarkah sesungguhnya perempuan kini mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki?

Saya justru punya pertanyaan lain. Apakah benar lelaki itu pernah lebih hebat dari perempuan dan menjadi penguasa yang seutuhnya? Benarkah dalam sebuah jaman, lelaki memang pernah dengan leluasa menindas perempuan dalam hidupnya? Apa arti penindasan sebenarnya?

Apakah isu bahwa perempuan Bali rajin bekerja dan bekerja lebih lama dibandingkan pria Bali adalah bentuk penindasan laki-laki atas perempuan? Bisa jadi ya. Tetapi lelaki mana yang dimaksud? Saya? Nanti dulu kalau yang dimaksud adalah saya. Bisa jadi saya tidak hanya menindas tetapi juga menindih perempuan Bali. Ini [mungkin] adalah keniscayaan.

Apakah kenyataan bahwa perempuan muslim tidak boleh menjadi imam dalam persembahyangan adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan? Nanti dulu. Coba tanyakan kepada Hj. Komariah yang sedemikian sayangnya terhadap suami dan anaknya, apakah beliau merasa terdiskriminasi karena tidak boleh jadi imam. Saya pernah bertanya dan beliau menjawab dengan tersenyum. Saya baru menyadari pertanyaan bodoh itu.

Lalu kapan sebenarnya perempuan pernah tertindas oleh laki-laki? Apakah saat perempuan tidak punya pilihan harus menjadi pemuas nafsu prajurit pria pada zaman perang? Atau saat ribuan selir dipersembahkan kepada raja dan dinikmati hanya sesaat kemudian ditinggalkan? Atau saat Men Koplar di Desa Baliaga yang harus bangun lebih pagi dan tidur jauh lebih malam dari suaminya? Itukah pertanda penindasan? Barangkali Anda dan saya benar telah menduga ini sebagai penindasan. Tetapi bisa jadi ini adalah lambang kekuatan, ketabahan, dan kegigihan. Perempuan, dalam konteks ini mungkin tidak pernah tertindas. Merekalah yang ,jangan-jangan, justru telah memenangkan dirinya atas kesombongan laki-laki.

Yang terang, penindasan terjadi saat ada kesadaran. Penindasan terjadi saat ada pembanding kejadian. Penindasan terjadi saat ada perjuangan. Penindasan terjadi saat ada keinginan dari luar. Saat itulah penindasan itu ada, setidaknya dirasakan.

Mungkin saya tidak perlu mendukung perjuangan Kartini karena kenyataannya Kartono seperti saya pun masih sering malu, kalah dan bertekuk lutut pada perempuan. Bukan hanya Kartini, Kartono pun masih perlu dibela, saya kira.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s