Ibu

Berbeda dengan orang biasa, seorang sahabat yang bernama “saya” memiliki dua ibu. Keduanya berbeda tetapi sama. Berbeda karena diberi sifat dan sikap yang tidak sama, sama karena keduanya memiliki cinta. Dari keduanya lahir seorang saya dan adik saya. Merekapun berbeda tetapi sama. Berbeda karena mereka dilahirkan di jaman yang tidak sama, sama karena kedua dari mereka memiliki cinta.

Kebahagiaan seorang saya adalah saat hari ini bisa dinasihatkan olehnya kepada adiknya untuk mencintai ibunya. Ibu yang kadang dipuja diam-diam dan dihormati dari belakang, kata saya, juga perlu diberikan senyuman dan dicintai dari depan wajahnya. Betapapun sederhananya ibu, kedua dari mereka, adalah juga jiwa yang haus dan menyadari kehadiran cinta. Kami mencintaimu Ibu. Ibu yang sudah menjadi satu dan di titik ini sudah tidak bisa lagi kami bedakan mana ibu saya dan mana untuk adik saya. Demikianlah seorang saya dan adiknya yang bersatu dalam cinta dua ibu yang kinipun menjadi satu.

Mengatakan kebenaran

Dalam pelajaran tentang data keruangan (spasial), saya masih ingat bahwa jenis data berbeda memberi informasi berbeda termasuk mengandung risiko salah interpretasi yang berbeda pula. Data berupa teks tentu saja dapat menjelaskan informasi keruangan tetapi tidak akan sebaik data gambar. Untuk mendeskripsikan situasi sebuah kamar, misalnya data teks akan memerlukan ratusan kata sedangkan data gambar mungkin cukup satu gambar saja. Seperti itulah informasi disampaikan dengan cara berbeda akan menimbulkan pemahaman yang berbeda.

Dalam keseharian juga demikian, berucap, bertutur kata dan berkomunikasi bisa dilakukan dengan berjuta cara. Semua mengandung kelemahan dan kelebihan dan yang pasti mengandung risiko. Penyampaian informasi secara blak-blakan tidak rawan salah informasi tetapi rawan terhadap sakit hati. Begitu juga sebaliknya penyampian yang berkulit dan penuh basa basi rawan salah interpretasi tetapi aman dari risiko sakit hati. Tinggal dipilih mana yang sesuai dengan lawan komunikasi.

Seperti citra yang perlu dikoreksi dan informasi koordinat yang perlu diratakan, menata gaya komunikasi adalah hal yang penting, kadang malah lebih penting dari kandungan informasi itu sendiri.

Tatoo

Berjalan di trotoar hampir di semua tempat di New South Wales, Australia sangatlah nyaman. Nyaman karena bersih, udara tidak lembab dan artinya tidak berkeringat. Ketika datang dari berbelanja kebutuhan sehari-hari, saya naik sepeda dan melintas di trotoar. Di suatu tempat, perjalanan agak macet karena di depan saya ada orang. Yang menarik adalah penampilan orang ini. Meggunakan singlet, celana pendek sepatu boots, badannya dipenuh tato. Tangannya dihiasi belasan gelang besar dan kecil, menggunakan anting. Kepalanya botak dan tato bahkan hingga leher mendekati kepalanya. Singkat kata, dari belakang nampak lebih serem dari penjahat di televisi. Orang ini besar sekali dan kekar. Singkat kata, penampilannya hari itu sangat memenuhi syarat untuk disebut sebagai penjahat.

Saya mengikutinya dari belakang tidak ingin mengusiknya yang berjalan pelan di depan saya. Hingga akhirnya tas belanja saya yang berisi macam-macam tidak sengaja terayun dan menimbulkan suara karena membentur badan sepeda. Kegaduhan itu membuat lelaki serem ini menoleh ke belakang. Saya agak tegang dibuatnya karena gerakan kepalanya lamban namun pasti. Dia berkata “Oh I am really sorry for blocking your way” (maafkan saya telah menghalangi jalan Anda) dengan sopannya sambil menebar senyum yang sangat bersahabat. Saya juga baru sadar kalau ada anting di hidungnya. Diapun menepi dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan saya melaju. Saya pun mengatakan “thank’s mate!” dan dijawab “no worries” oleh lelaki bertato itu.

Saya melaju dan tersenyum dalam hati. Rasa-rasanya, untuk standar kehidupan sehari-hari saya, kesopanan lelaki ini tidak sesuai dengan penampilannya. Seorang bertato dengan gambaran di atas, mungkin akan lebih tepat (menurut standar saya semula) kalau melotot ke belakang dan menghardik. “Apa lu?! Berisik amat sih. Lewat aja kalau berani.” Kira-kira begitu semestinya dia bicara. Ternyata tidak.

Di rumah di desa, orang bertato seperti lelaki ini bahkan “dilarang” untuk ke dokter, tidak boleh masuk angin dan bahkan tidak boleh mabuk perjalan. Singkatnya, “Tatoan kok mabukanI”, begitu orang-orang mengejek. Kalau ada orang berbadan besar, bertato sakit flu dan ke dokter, orang akan mengejek. “Tatoan perlu ke dokter juga?” Begitu seterusnya dan seterusnya. Kasihan sebenarnya, kita telah membatasi ruang gerak orang bertato.

Atau mereka sendiri yang telah membatasi ruang geraknya?
Jangan-jangan mereka bertato memang karena mereka berjiwa brutal dan kasar? Saya tidak tahu.

Eh.. apakah saya sudah mengatakan tadi kalau lelaki yang saya jumpai di trotoar itu berjalan lambat karena mendorong kereta bayi yang di dalamnya ada anaknya yang sedang tidur?

Sepatu Baru

Aku memutuskan untuk membeli sepatu baru. Cukup lama keinginan ini ditahan karena sepatu bagus ternyata tidak murah. Dosen membeli sepatu ratusan ribu tentu bukan hal biasa.

Ketika membeli sepatu itu, yang terbayang adalah kebanggaan, kewibawaan. Kepercayaan diri pasti berlimpah karena akan menjadi satu dari sedikit orang yang bersepatu berkelas di kampus. Singkat kata, kenikmatan dan pencapaian yang aku bayangkan.

Ketika mulai menggunakannya, aku kagum pada diri sendiri, pada kakiku sendiri. Gagah bener. Selamat datang di dunia kemewaan, wahai diriku. Berlangsung selama beberapa jam, situasi berubah ketika mulai harus berjalan ke sana ke mari di kampus. Kakiku sakit, perih bukan kepalang. Benar, kakiku lecet karena belum beradaptasi dengan sepatu baru. Tidak hanya sakit tetapi juga berdarah.

Singkat cerita, mengenaskan. Bayaran untuk mencapai kenikmatan ternyata sangat mahal. Aku hampir putus asa dan ingin kembali kepada sepatu lama yang walaupun butut tetapi nyaman, setidaknya tidak melukai kaki.

Tetapi aku renungkan sejenak. Kalau aku hentikan sekarang, maka kehebatan yang kubayangkan bahkan tidak akan pernah menjadi sejarah. Kebanggaan bersepatu baru bahkan tidak akan sempat menjadi cerita. Selain itu, aku ada keyakinan. Kalau saja kubiarkan kakiku sakit selama tiga hari, keadaan pasti akan normal kembali. Kakiku akan terbiasa.

Aku tidak sedikitpun meleset dari anggapan itu. Kini kakiku bersahabat dengan sepatu baruku. Kenikmatan ini memang ternyata harus dibayar, dan itu tidak murah.

Benar kata pepatah China, Untuk bisa betah di rumah, ternyata kita memang harus mencoba untuk tinggal lebih lama di dalamnya.

"Go get ’em, tiger"

Peter Parker tiba-tiba saja menikmati kemasyurannya sebagai Spiderman. Pahlawan itu kini bukan lagi seorang pemalu yang lugu dan tidak menginginkan pujaan. Peter Parker menikmati keterkenalannya, dia kini merasa menjadi selebriti.

Ketika MJ datang ke apartemennya untuk curhat, Peter Parker yang kini merasa hebat tidak mampu menjadi pendengar yang baik. Sebaliknya dia menjadi orang yang sok bijaksana dengan membeberkan perjuangan Spiderman yang memang tidak mudah. Singkat kata, Peter menggurui MJ tanpa pernah tahu persoalan sebenarnya.

Ketika di tengah pembicaraan serius tiba-tiba ada panggilan untuk melakukan tindak penyelamatan, Peter yang merasa jadi pahlawan dengan segera memotong pembicaraan dengan MJ dan bersiap-siap beraksi. Peter yang merasa langkahnya sangat mulia tentu saja berharap MJ akan mendukungnya. Diapun berkata “Go get ’em tiger?” dengan nada mengharap dukungan dan menunggu MJ mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang pada saat akhir Spiderman 2 menjadi ucapan pamungkas dan membuat Spiderman ketika itu melompat kegirangan menyelamatkan orang dengan gembira karena merasa memenangkan hati MJ.

Kini ucapan itu tidak dilontarkan MJ. MJ adalah seorang pacar yang mengharap Peter ada di sampingngnya ketika dia memerlukan. Beda halnya dengan Peter Parker, dia tidak menangkap itu dan menikmati aski kepahlawanannya. Bedanya dengan Spiderman ketika awal “karirnya”, kini menolong orang menjadi semacam kebutuhan untuk eksistensi diri. Singkat kata, berbuat kebajikan kini sudah menjadi media untuk meraih popularitas. Peter Parker berubah.

Ada beberapa pelajaran menarik dari Spiderman 3 yang memang ternyata sangat menarik untuk disimak.

Pertama, orang bisa berubah dengan drastis.
Perubahan sikap seorang Peter Parker yang semula lugu menjadi selebritis sangat ditonjolkan dalam film ini. Di satu sisi, hal ini juga mengobati keliaran naluri penonton yang, disadari ataupun tidak, kadang-kadang menginginkan seorang hero tampil gaul dan bebas dari aturan. Spiderman 3 telah menampilkan ini dengan menyuguhkan seorang Peter Parker sebagai sosok yang juga bisa urakan, gaul dan sedikit berangasan. Dalam hidupnya, seorang pahlawan tidak harus selalu santun, hemat, cermat, bersahaja, dan rajin menabung. Seorang pahlawan juga manusia biasa dan “berhak” untuk salah dan keliru.

Kedua, ancaman datang dari berbagai arah.
Peter Parker bersama Spiderman menghadapi persoalan yang secara paralel datang dari berbagai sumber dan tidak berkaitan. Beda dengan cerita sebelumnya yang cukup fokus dengan satu sumber masalah, Spiderman 3 menyuguhkan setidaknya 4 sumber masalah berbeda yang pada awalnya tidak berhubungan. Dalam hidup mungkin ini lebih realistis karena kenyataannya memang kita menghadpi berbagai kendala.

Ketiga, kesadaran dan kebangkitan adalah kuncinya.
Spiderman ternyata bukan seorang pahlawan yang bisa berjuang sendiri. Kesadaran yang muncul pada diri Harry yang semula memusuhinya justru menjadi kekuatan yang akhirnya membantu Spiderman dalam menumpas kejahatan. Selain itu, kebangkitan seorang Spiderman dari jebakan kemasyuran yang akhirnya menyelesaikan semuanya.

Pelajaran penting bisa diambil ketika dia menasihati Manusia Pasir bahwa semua orang pernah berbuat salah. Spiderman telah mengingatkan satu hal yang penting yaitu keberanian mengakui kesalaan dan kekuatan untuk memperbaikinya.

Singkat kata, film ini sangat menarik untuk disimak. Sarat akan aksi canggih (walaupun animasinya kadang masih kentara) dan juga pelajaran yang tinggi nilai filosifisnya. Kalau pada Spiderman 1, penonton diingatkan bahwa “with great power, comes great responsibility”, maka pada Spiderman 3 kita belajar lebih banyak bagaimana menerima ketidaksempurnaan sebagai sesuatu yang niscaya.

Bangkitlah dari keterpurukan dan Go get ’em, tiger!

Cinta ditolak Google Bergerak

Pengunjung yang budiman,
Kalau Anda cukup rajin berkunjung ke sini dan merupakan pengunjung sejak lama, pasti Anda masih ingat dengan beberapa posting saya tentang Pak Google. Tahun 2004, misalnya saya menulis Tanyakan kepada Pak Google, kemudian Satu lagi dari Pak Googleada juga Biarkan Pak google menemukan Anda, selanjutnya ada Define: Google, dan sebagainya.

Saya mendapat banyak komentar tentang beberapa tulisan tersebut dari mereka yang terbantu dengan informasi fitur-fitur Google yang ternyata belum begitu populer. Dalam berinteraksi dengan banyak orang, baik itu sesama dosen, mahasiswa maupun profesional, saya juga melihat banyak pengguna internet belum memanfaatkan Pak Google dengan maksimal. Oleh karena itu, saya mencoba mendokumentasikan pengetahuan saya tentang Google dan menjadikannya sebuah buku. Bersama Atriyon Julzarika, waktu itu mahasiswa saya, buku tentang Google pun berhasil kami wujudkan.

Senang sekali ketika Elexmedia menyatakan bersedia menerbitkannya. Buku itu kini sudah bisa dinikmati di pasar sejak 10 Mei 2007. Saya yakin, pembaca sekalian sudah tahu banyak tentang Google tetapi percayalah, banyak hal yang akan menambah pemahaman Anda. Buku ini layak dimiliki. Maaf ada nada promosi di sini. Jangan salah sangka, ini memang promosi he.he..he..
Silahkan lihat juga review dan daftar isi-nya. Selamat membaca!

Orang biasa

Sudah cukup lama saya percaya bahwa tidak ada orang yang sempurna. Sudah cukup lama juga saya tahu bahwa kesalahan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dalam bentuk apa saja. Kewibawaan, nama baik dan identitas khusus yang dimiliki seseorang tidak akan pernah bisa sepenuhnya menyelamatkannya dari kekhilafan. Singkat kata, kekhilafan milik siapa saja karena seperti kata orang bijak, manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

TETAPI…
Seperti yang lalu-lalu, keterkejutan adalah juga milik semua orang. Betapapun saya telah memuati diri dengan kesadaran bahwa kekhilafan adalah milik semua orang, keterkejutan ketika mengetahui seorang teladan melakukan kesalahan adalah juga keniscayaan. Saya masih terkejut ketika seorang pertapa ulung melakukan kenakalan dalam hidupnya.

Mudah-mudahan ini pertanda saya masih normal dan saya tetap dalah orang biasa.

Independence day


In less than an hour, aircraft from here will join others from around the world. And, you will be launching the largest aerial battle in the history of mankind. “Mankind,” that word should have new meaning for all of us today. We can’t be consumed by our petty differences anymore. We will be united in our common interest. Perhaps, it’s fate that today is the Fourth of July, and you will once again be fighting for our freedom–not from tyranny, oppression, or persecution, but from annihilation. We’re fighting for our right to live–to exist. And, should we win the day, the Fourth of July will no longer be known as an American holiday, but as the day when the world declared in one voice: “We will not go quietly into the night. We will not vanish, without a fight. We’re going to live on. We’re going to survive. Today, we celebrate our Independence Day!”

In the [not very far] past

Sudah cukup lama foto ini ingin saya pampang di sini. Apa daya, penyakit lupa masih saja sampai kini saya derita. Jangankan foto, ujian akhir saja bisa lupa 🙂 Foto ini adalah kondisi yang belum terlalu lama terjadi. Tepatnya tahun 1995, dua belas tahun yang lalu ketika saya datang dari Jakarta dan beberapa kota lain di Jawa dalam rangka study tour. Yang menarik mungkin bukan pose atau kapan terjadinya, tetapi latar belakang fotonya. Banyak kawan, ketika saya tunjukkan foto aslinya, menyangka itu tiruan atau diambil di studio 🙂 Bukan, ini bukan studio. Ini asli sli sli sli (ber-echo seperti kata Padyangan Project). Beginilah hidup saya in the [not very far] past 🙂 Tinggal di tempat yang tidak ada listriknya, berdinding gedeg dan saya harus sekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Ini adalah kisah lain dari hidup yang tidak mudah untuk dilupakan. Bukan karena di sana ada penderitaan tetapi karena di sana ada pembelajaran. I miss the past.

Raden Gaul Kartini

Ada kabar dari kampus, dua orang alumni muda mendapat predikat cum laude dalam periode wisuda yang lalu. Yang menarik, keduanya adalah alumni perempuan. Kabar lain datang dari sebuah bank besar di negeri ini, sangat banyak kepala cabangnya adalah perempuan. Demikian seterusnya, berbagai kabar tentang keberhasilan prempuan sering kita dengar. Apakah ini pertanda cita-cita Kartini perihal emansipasi telah tercapai? Benarkah sesungguhnya perempuan kini mencapai kedudukan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki?

Saya justru punya pertanyaan lain. Apakah benar lelaki itu pernah lebih hebat dari perempuan dan menjadi penguasa yang seutuhnya? Benarkah dalam sebuah jaman, lelaki memang pernah dengan leluasa menindas perempuan dalam hidupnya? Apa arti penindasan sebenarnya?

Apakah isu bahwa perempuan Bali rajin bekerja dan bekerja lebih lama dibandingkan pria Bali adalah bentuk penindasan laki-laki atas perempuan? Bisa jadi ya. Tetapi lelaki mana yang dimaksud? Saya? Nanti dulu kalau yang dimaksud adalah saya. Bisa jadi saya tidak hanya menindas tetapi juga menindih perempuan Bali. Ini [mungkin] adalah keniscayaan.

Apakah kenyataan bahwa perempuan muslim tidak boleh menjadi imam dalam persembahyangan adalah bentuk diskriminasi terhadap perempuan? Nanti dulu. Coba tanyakan kepada Hj. Komariah yang sedemikian sayangnya terhadap suami dan anaknya, apakah beliau merasa terdiskriminasi karena tidak boleh jadi imam. Saya pernah bertanya dan beliau menjawab dengan tersenyum. Saya baru menyadari pertanyaan bodoh itu.

Lalu kapan sebenarnya perempuan pernah tertindas oleh laki-laki? Apakah saat perempuan tidak punya pilihan harus menjadi pemuas nafsu prajurit pria pada zaman perang? Atau saat ribuan selir dipersembahkan kepada raja dan dinikmati hanya sesaat kemudian ditinggalkan? Atau saat Men Koplar di Desa Baliaga yang harus bangun lebih pagi dan tidur jauh lebih malam dari suaminya? Itukah pertanda penindasan? Barangkali Anda dan saya benar telah menduga ini sebagai penindasan. Tetapi bisa jadi ini adalah lambang kekuatan, ketabahan, dan kegigihan. Perempuan, dalam konteks ini mungkin tidak pernah tertindas. Merekalah yang ,jangan-jangan, justru telah memenangkan dirinya atas kesombongan laki-laki.

Yang terang, penindasan terjadi saat ada kesadaran. Penindasan terjadi saat ada pembanding kejadian. Penindasan terjadi saat ada perjuangan. Penindasan terjadi saat ada keinginan dari luar. Saat itulah penindasan itu ada, setidaknya dirasakan.

Mungkin saya tidak perlu mendukung perjuangan Kartini karena kenyataannya Kartono seperti saya pun masih sering malu, kalah dan bertekuk lutut pada perempuan. Bukan hanya Kartini, Kartono pun masih perlu dibela, saya kira.