Tatoo


Berjalan di trotoar hampir di semua tempat di New South Wales, Australia sangatlah nyaman. Nyaman karena bersih, udara tidak lembab dan artinya tidak berkeringat. Ketika datang dari berbelanja kebutuhan sehari-hari, saya naik sepeda dan melintas di trotoar. Di suatu tempat, perjalanan agak macet karena di depan saya ada orang. Yang menarik adalah penampilan orang ini. Meggunakan singlet, celana pendek sepatu boots, badannya dipenuh tato. Tangannya dihiasi belasan gelang besar dan kecil, menggunakan anting. Kepalanya botak dan tato bahkan hingga leher mendekati kepalanya. Singkat kata, dari belakang nampak lebih serem dari penjahat di televisi. Orang ini besar sekali dan kekar. Singkat kata, penampilannya hari itu sangat memenuhi syarat untuk disebut sebagai penjahat.

Saya mengikutinya dari belakang tidak ingin mengusiknya yang berjalan pelan di depan saya. Hingga akhirnya tas belanja saya yang berisi macam-macam tidak sengaja terayun dan menimbulkan suara karena membentur badan sepeda. Kegaduhan itu membuat lelaki serem ini menoleh ke belakang. Saya agak tegang dibuatnya karena gerakan kepalanya lamban namun pasti. Dia berkata “Oh I am really sorry for blocking your way” (maafkan saya telah menghalangi jalan Anda) dengan sopannya sambil menebar senyum yang sangat bersahabat. Saya juga baru sadar kalau ada anting di hidungnya. Diapun menepi dan dengan gerakan tangannya mempersilahkan saya melaju. Saya pun mengatakan “thank’s mate!” dan dijawab “no worries” oleh lelaki bertato itu.

Saya melaju dan tersenyum dalam hati. Rasa-rasanya, untuk standar kehidupan sehari-hari saya, kesopanan lelaki ini tidak sesuai dengan penampilannya. Seorang bertato dengan gambaran di atas, mungkin akan lebih tepat (menurut standar saya semula) kalau melotot ke belakang dan menghardik. “Apa lu?! Berisik amat sih. Lewat aja kalau berani.” Kira-kira begitu semestinya dia bicara. Ternyata tidak.

Di rumah di desa, orang bertato seperti lelaki ini bahkan “dilarang” untuk ke dokter, tidak boleh masuk angin dan bahkan tidak boleh mabuk perjalan. Singkatnya, “Tatoan kok mabukanI”, begitu orang-orang mengejek. Kalau ada orang berbadan besar, bertato sakit flu dan ke dokter, orang akan mengejek. “Tatoan perlu ke dokter juga?” Begitu seterusnya dan seterusnya. Kasihan sebenarnya, kita telah membatasi ruang gerak orang bertato.

Atau mereka sendiri yang telah membatasi ruang geraknya?
Jangan-jangan mereka bertato memang karena mereka berjiwa brutal dan kasar? Saya tidak tahu.

Eh.. apakah saya sudah mengatakan tadi kalau lelaki yang saya jumpai di trotoar itu berjalan lambat karena mendorong kereta bayi yang di dalamnya ada anaknya yang sedang tidur?

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Tatoo”

  1. contoh dari “don’t judge a book by it’s cover” pak!

    keren juga kali ya kalau melihat pemandangan itu di indonesia…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s