Tradisi beragama, saat saya masih kecil dan tinggal di Desa Tegaljadi di Tabanan, lekat dengan ritual di pura. Ada perasaan riang bukan kepalang jika odalan sudah tiba. Tentu tidak ada alasan-alasan berat yang menjanjikan masuk surga, semata-mata karena ke pura berarti berpakaiann baru atau bersenang-senang berkejaran di sekitar pura atau berbelanja makanan kesukaan di sela-sela sembahyang. Singkat kata, agama sama sekali tidak ada serem-seremnya ketika membayangkan masa lalu.
Category: Renungan
Melihat dalam Kegelapan

Selama dua hari terakhir, blog saya dikunjungi cukup banyak orang. Traffic blog yang biasanya berkisar pada angkat 200-300 pengunjung perhari, meningkat jadi di atas seribu bahkan lebih dari dua ribu. Tulisan terkait perjuangan Asti meraih Beasiswa ADS rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca blog, terutama pejuang beasiswa.
Hari ini saya memperoleh komentar dari seorang yang tidak biasa, bernama Taufiq Effendi. Saya berani tuliskan namanya karena beliau memberi komentar di blog ini dan artinya tidak keberatan jika namanya diketahui khalayak. Seperti yang beliau akui, Taufiq Effendi adalah seorang tuna netra, tidak bisa melihat.
Hal pertama yang membuat saya tertegun adalah bahwa tulisan saya ternyata dinikmati oleh sahabat yg tuna netra, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan apalagi persiapkan. Pertanyaan sederhana pertama yang muncul adalah “bagaimana teman-teman tuna netra bisa menikmati tulisan saya yang tidak bisa diraba?”
Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012

Jika harus ditulis dalam satu kalimat singkat, maka tulisan ini menjadi “Asti berhasil memperoleh beasiswa Australian Development Scholarship untuk S2 di Australia”. Meski demikian, kita selalu tahu, bukan ujung cerita yang paling penting tetapi rangkaian cerita menju kesimpulan itu. Itulah sebabnya, seorang pembaca buku Harry Potter akan menahan diri untuk tidak buru-buru ke halaman paling belakang. Kalaupun ada teman yang sudah selesai membaca, dia akan dengan sekuat tenaga menjauhkan diri dari teman itu agar tidak jadi korban ‘spoiller’. Dengan asumsi bahwa Anda juga termasuk tipe pembaca demikian, pembaca yang mementingkan proses menuju kesimpulan, saya tulis kisah ini untuk Anda.
Entah bagaimana awalnya, saya sering menerima pertanyaan soal beasiswa, terutama Australia. Mungkin karena saya suka iseng menuliskan pengalaman, teman-teman di dunia maya sering bertanya ini dan itu. Saya menjadi konsultan beasiswa amatir. Saya gunakan istilah “amatir”, pertama karena saya memang tidak pernah menyiapkan diri untuk menjadi konsultan secara formal sehingga jawaban saya ‘seadanya’. Kedua karena memang saya tidak melakukannya untuk imbalan uang. Saya amatir dalam pengertian sesungguhnya.
Continue reading “Mengantarkan Asti meraih Beasiswa ADS 2012”
Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran
Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. Beji, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, seperti diceritakan oleh orang tertua di kampung kami.
Saya menelusuri jalan setapak yang kini berbeton kuat. Ingatan saya melayang ke suatu masa 20 tahun silam saat menyusuri jalan yang sama dengan sepeda gayung. Saat itu saya masih kelas 1 SMP, berusia sekitar 13 tahun. Jalanan waktu itu berlumpur dan ditumbuhi rumput yang liar. Lumpur dan rumpur di musim hujan adalah paduan sempurna yang tidak pernah membiarkan sepatu saya bersih sampai di sekolah. Sore itu saya termenung sendiri sambil menceritakan hal itu pada Lita. Dia mungkin mengerti ceritanya tetapi sepertinya tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan dulu. Di jalanan yang terjal dan licin seperti itu, sepeda lebih sering dituntun daripada dinaiki, itu pasti. Ingatan saya juga melayang ke SMP 2 Marga dan terutama guru-gurunya yang meletakkan landasan yang kuat bagi pengetahuan saya saat ini.
Continue reading “Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran”
Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012
Jika Anda akan wawancara Beasiswa ADS tahun 2013 ini silakan baca tulisan ini.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan doa yang tulus agar Anda, para pembaca sekalian, mendapat manfaat dari tulisan ini. Bagi sahabat yang akan mengikuti wawancara beasiswa ADS pada bulan Januari 2012, dengan segala ketulusan hati saya mendoakan yang terbaik. Kita semua percaya bahwa memperoleh beasiswa adalah misteri illahi tetapi kita juga yakin bahwa tidak ada hasil yang baik tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Seperti yang dipercaya Alif dalam Negeri Lima Menara, Manjadda wajadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang baik. Thomas Jefferson bernah berujar, “semakin keras saya bekerja, semakin beruntung saya merasa”. Usaha Anda membaca tulisan ini adalah manifestasi dari kesungguhan. Doa dan ikhtiar itu semoga menjadi semakin sempurna karena saya menuliskan tips kecil ini juga dengan kesungguhan.
Profil Video I Made Andi Arsana
Parkir
Genjo megadakan reuni, temu kangen dengan teman-temannya sesama lulusan luar negeri. Belum lengkap satu bulan mereka di tanah air, kerinduan sudah memuncak dan mereka memutuskan untuk mengadakan reuni. Isinya sederhana saja, kangen-kangenan sambil mengenang segala kehebatan luar negeri.
Kebaikan kecil
Saya pernah membaca sebuah artikel di pertengahan tahun 1990an yang cukup menarik. Menurut artikel itu, orang sering merasa kagum dan bahkan terkesima kepada orang yang jujur, misalnya jika orang itu mengembalikan sebuah dompet yang ditemukannya di jalan. Yang menarik, artikel itu menganggap tindakan mengagumi itu sesungguhnya perwujudan dari kerusakan moral yang terjadi di masyarakat. Lebih jauh artikel itu membahas bahwa berbuat kebaikan seperti itu adalah sebuah keharusan karena diwajibkan agama, dibenarkan norma dan bahkan dianjurkan hukum. Singkatnya, mengembalikan dompet yang tertinggal kepada pemiliknya tidak lebih dari sekedar melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini tidak berbeda dengan makan atau sikat gigi. Perlukah orang dikagumi atau dipuji-puji berlebihan gara-gara rajin makan atau sikat gigi? Anak muda sekarang mungkin bilang “biasa aja kaleee”.
Pengemis cantik
Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.
Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “Do you have 2 dollars and fifty cents please?” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.
Mengenang Ketut Margawan

Sahabat kami, Ketut Yudia Margawan, telah berpulang pada usia 33 tahun 3 hari. Ketut pergi meninggalkan seorang putra yang tampan dan seorang istri yang tabah, Ekarini. Ketut telah pergi setelah menderita kanker selama beberapa tahun terakhir. Tidak kurang usaha dari Ketut dan keluarga, ternyata Hyang Widhi berkehendak lain. Ketut telah diberik kesempatan lebih dulu untuk bertemu Sang Pencipta. Kami mendoakan moksa untuknya, manunggal dengan Sang Paramakawi.