Desak Made Sukri: Rest In Peace

Desak Made Sukri, meninggal di usianya yang sekitar 80 tahun. Memang tidak seorangpun mengetahui usianya yang sesungguhnya. Nenek tua ini memang lahir di suatu masa saat orang-orang di sekitarnya tidak mengerti dan merasa perlu tentang makna penanggalan masehi. Begitulan jaman itu, saat ‘tegak oton’ menjadi cukup untuk mengenal kelahiran seorang manusia.

Setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan psikis agak lama, Desak Made Sukri menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Kamis tanggal 19 Juni 2008 pukul 5.42 WITA di rumah kediamannya yang tenang di Desa Tegaljadi, Tabanan, Bali. Tidak banyak yang dipesankannya saat kepergiannya karena beliau memang sudah tidak mampu berbicara sejak beberapa lama. Kepergiannya yang tenang di pagi yang sepi rupanya sudah diantisipasi oleh semua kerabat, terutama anak, menantu, cucu dan cicitnya. Tidak ada yang terlalu terkejut, pun tidak merasa perlu menangis. Bukan karena kepergian sang tua diharapkan kerabatnya, semata-mata karena semuanya bersepakat bahwa dharma bhaktinya telah paripurna.

Continue reading “Desak Made Sukri: Rest In Peace”

Ketika musim dingin tiba

Winter sesungguhnya belum lagi mulai. Barbara, seorang guru di kelasku bahkan mengatakan, “it is very hot today, isn’t it?” Dia tidak berkelakar karena dia berasal dari Skotlandia, tempat yang sangat dingin. Namun begitu, tidak demikian adanya untuk kami yang mayoritas dari Asia Pasifik. Kecuali Aero, Charlie, Fang dan Shane yang dari China, semuanya dengan setia berjaket tebal di kelas. Aero bahkan becanda, ”I am wearing my spring cloths during winter here!

Meski sudah pernah tinggal di Australia beberapa lama dan sempat menikmati dramatisnya musim salju di New York, winter bagiku tetaplah winter. Dinginnya tak terampunkan. Pagi setelah mandi kukayuh sepeda di Robson Road yang berbukit. Tidak hanya angin yang menjadikan semuanya lebih tragis, hujan bahkan turun tak memberi ampun, menandai datangnya musim baru. Sudah menjadi kebiasaan, datangnya winter akan ditandai dengan hujan hampir setiap hari. Minggu lalu bahkan tidak ada hari tanpa hujan. Bagiku yang bersepeda ke kampus, cuaca seperti tidaklah bersabahat.

Continue reading “Ketika musim dingin tiba”

Teman-temanku se-Asia Pasifik

Sebelum memasuki dunia universitas yang sebenarnya, hampir semua universitas di Australia mensyaratkan mahasiswanya mengikuti dan menyelesaikan pelajaran Bahasa Inggris pada level tertentu. Entah bagaimana ceritanya, aku harus terdampar lagi di kelas yang sesungguhnya sudah bosan aku ikuti. Kelas serupa pernah diikuti di Jakarta tahun 2003 dan di Sydney tahun 2004. Isinya juga tidak banyak berubah: critical thinking, article review, writing structure, presentation, powerpoint lesson dan sejenisnya. Meskipun tidak ahli-ahli amat, rasanya semua itu sudah aku tahu dengan cukup baik. Meski demikian, belajar dan belajar lagi memang tidak pernah ada salahnya. Kalau membuka diri terhadap segala sesuatu, banyak hal baru yang sesungguhnya bias diperoleh dari pelajaran yang diulang-ulang sekalipun. Kali ini aku lebih tertarik membahas teman-temanku yang berasal dari berbagai negara di Asia Pasifik.

Continue reading “Teman-temanku se-Asia Pasifik”

Berburu rumah di Australia

Habis sudah masa bersuka cita menikmati nostalgia karena telah kembali ke Australia, kini urusan sesungguhnya mulai nampak. Hal pertama dan utama adalah bagaimana mendapatkan tempat tinggal secepat mungkin. Tidak mudah melakukan ini di Australia dan tidak akan pernah mudah, meskipun sudah berkali-kali datang dan pernah tinggal lama di negeri kangguru ini. Yang sedikit berubah hanya satu. Ya satu saja, kini aku tidak terlalu khawatir dibandingkan ketika datang ke sini pertama kali.

Continue reading “Berburu rumah di Australia”

Kembali ke Selatan

Jalan desa yang mulai tak halus membuat kijang tua melaju tak cepat. Layaknya mengendarai kuda, tubuh lelahku berguncang kecil mengikuti cekungan dan gundukan jalan yang gelap. Desa sudah sepi ketika perjalanan dimulai. Hari ini aku akan meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Asti dan Lita termangu tanpa suara, entah kesedihan entah rasa penasaran yang menguasai, mereka tak banyak bersuara sepanjang perjalanan. Asti bahkan tertidur karena kelelahan yang menguasai beberapa hari ini. Lita sendiri dipangku niniknya dan perlahan namun pasti jatuh tertidur juga. Aku yang mengendalikan mobil menghiasi jalan panjang dengan cerita. Bapak yang setia mendengarkan, sekali waktu menimpali. Percakapan terakhir barangkali di tahun 2008, kami sangat menikmatinya.

Continue reading “Kembali ke Selatan”

Ngaben

Entah siapa yang mengabarkan pertama kali, rumah duka sesak oleh kerabat yang berdatangan entah dari mana. Begitulah selalu di kampungku yang sepi dan bahkan di peta Bakosurtanal tak nampak jelas posisinya, orang berkumpul dengan mudah karena alasan duka, maupun suka. Mangku Kompyang telah berpulang dan segenap kerabat berdesakan melepas kepergian terakhirnya. Mangku yang sedikit di atas paruh baya dan masih diperlukan kepiawaiannya di kampung, pergi menyisakan tanya. Apa gerangan yang menjadi penyebabnya?

Continue reading “Ngaben”

Sebuah Obituari

I Made Andi Arsana, seorang dosen muda di Universitas Gadjah Mada, meninggal dunia tepat di usianya yang ke-30. Andi, begitu anak dari tiga bersaudara ini biasa dipanggil, meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada indikasi apapun sebelum kepergiannya. Andi sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun perihal kondisi fisik dan psikologisnya. Seakan tidak ingin meresahkan siapapun, Andi menghembuskan nafas terakhirnya ketika semua orang-orang yang dicintainya dibuai oleh tenangnya malam Jogja yang dingin.

Continue reading “Sebuah Obituari”

Mayday!

Bagi Anda yang memahami Mayday sebagai seruan darurat, jangan panik. Tulisan ini jauh dari hal kedaruratan. Sebenarnya ini rasa penasaran saya yang sudah sangat lama terpendam tetapi kemalasanlah yang selalu mengalahkannya. Saya malas mencari dan membunuh penasaran itu dengan penemuan.

Continue reading “Mayday!”

Petengkaran

//i17.photobucket.com/albums/b64/lope-mizz-ya/tear.jpgPertengkaran bukanlah hal biasa, dan dia tidak boleh menjadi biasa. Meskipun pada dasarnya pertengkaran adalah salah satu bentuk diskusi dan komunikasi yang sangat tua umurnya, pertengkaran, bagaimanapun juga, bukanlah cara terbaik menyelesaikan suatu perkara.Dalam pertengkaran ada kesedihan, setidaknya sesudahnya. Dalam pertengkaran ada air mata karena tekanan dan kemarahan yang tidak selalu sehat dampaknya. Dalam pertengkaran, bahkan mungkin muncul dendam jika tidak disikapi dengan besar hati. Dendam adalah makhluk paling berbahaya dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya.

Continue reading “Petengkaran”

Melanggar hukum demi cinta

Saya bukanlah orang yang bersih dari pelanggaran lalu lintas. Meskipun sudah mencoba, kadang pelanggaran masih tetap terjadi. Sekali-sekali saya masih menerobos lampu merah, umumnya karena kendaraan di belakang berkecepatan sangat tinggi dan seakan yakin bahwa saya akan melanggar. Daripada menjadi sasaran empuk mobil di belakang saya, pelanggaran akhirnya menjadi pilihan. Ironis memang.

Meski begitu, untuk yang satu ini saya mencoba berkomitmen: tidak melakukan gerakan U TURN (berbelok 180°) ketika ada tanda dilarang memutar. Hal ini sudah menjadi kebiasaan walaupun tentunya saya harus menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang. Setelah menjadi kebiasaan, menempuh jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang ini ternyata menyenagkan juga. Saya tidak mengalami masalah apapun.

Continue reading “Melanggar hukum demi cinta”