Empat belas April

Saat masih semester awal di UGM, saya sering bermain ke kos para senior, mahasiswa yang kartu mahasiswanya tinggal beberapa bulan masa berlakunya. Di mata saya, mereka sudah sedemikian hebat, sudah tinggi dan sudah bijaksana. Suatu kali saya menemukan tulisan yang menarik tertempel di dinding sebuah kamar kos seorang mahasiswa senior. “Tutut love Nila” demikian kira-kira bunyi tulisan yang grammar-nya salah itu. Dalam hati saya tersenyum, ternyata orang-orang hebat inipun berlaku seperti anak ABG, menuliskan nama dan orang yang dicintainya di dinding. Demikian saya berpikir. Waktu itu, saya duga hanya anak-anak semester awal saja yang berlaku demikian, ternyata mereka yang sudah akan menyandang gelar sarjana pun masih ekspresif dalam urusan cinta.

Continue reading “Empat belas April”

A Geospatial Novel? Why not!

Taken from ASM Magazine

I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.

Continue reading “A Geospatial Novel? Why not!”

Status

Dulu, saat pertama kali belajar agama, kami diajari dengan sifat-sifat Tuhan. Pak Wayan Sukantra, guru agama kami waktu itu, memang pintar memintal kata-kata menjadi cerita. Saya sangat tertarik dengan nilai-nilai keagamaan yang dirangkai dalam bentuk cerita. Tidak saja mencerahkan, juga seringkali lucu. Tentu saja Tuhan digambarkan sempurna. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai anak kecil adalah kemampuan Tuhan untuk mendengar (Dura Sravana) dan melihat (Dura Darsana) secara jauh dan tembus. Beliau mendengar segalanya, baik yang diucapkan maupun yang tersimpan dalam pikiran.

Continue reading “Status”

Nyepi…

Pada tahun 2007, saya melewatkan hari raya Nyepi di Bali. Ini sebuah peristiwa langka karena saya sudah melewatkan sangat banyak Nyepi di luar Bali. Nyepi di luar Bali tentu berbeda, tidak ada suasana Nyepi yang saya anggap ‘asli’.

Seperti sudah diatur demikian, kedatangan saya ke Bali tahun 2007 itu disambut berita duka. Nenek saya masuk Rumah Sakit Tabanan, beliau dirawat karena mengalami muntaber. Nenek saya sudah tua. Selain mudah diserang sakit, beliau juga pikun, tidak bisa mengenali siapapun. Ada banyak sekali cerita mengharukan dan bahkan lucu tentang kepikunannya yang mungkin tak habis diceritakan di sini.

Continue reading “Nyepi…”

Dua nasihat

Made Kondang berkerut jidatnya, serius mendengar nasihat mantan guru yang kini menjadi temannya. “Kondang”, kata temannya itu, “Calon pengasuhmu itu adalah orang terkenal. Dia sakti mantraguna, tersohor kanuragannya. Hanya saja, dia tidak akan mempedulikanmu. Dia akan biarkan kamu berjalan sendiri tanpa bimbingan ketat, kamu akan tertabrak sana sini dan tersesat. Mana mungkin dia mau mengarahkanmu setiap hari. Kamu akan ditelantarkan oleh dia. Aku sarankan kamu mencari pengasuh lainnya.”

Continue reading “Dua nasihat”

Sendal jepit

taken by Om Ode

Guru saya di SD, Ibu Metriani, pernah bilang, sendal jepit hanya untuk di kamar mandi, tidak boleh dipakai ke sekolah. Entahlah, apa nasihat itu masih berlaku untuk anak-anak SD jaman sekarang. Yang jelas, ketika saya kuliah semester 4, nasihat ini belum kadaluarsa.

Di tahun 1998, saya mengikuti dan membantu prosesi potong gigi Asti dan saudara-saudaranya. Sebagai orang yang sedang giat-giatnya menarik perhatian calon mertua, saya mau dan rela membantu apa saja. Suatu hari saya diajak untuk meminta beberapa batang tebu ke rumah seseorang oleh calon bapak mertua. Saking sigapnya, saya terburu-buru dan tidak sempat mengenakan alas kaki yang layak. Saya pakai sendal jepit sekenanya.

Continue reading “Sendal jepit”

Tempat paling nyaman

Kisahkanlah padaku tempat yang paling nyaman di muka bumi. Adakah tempat yang lebih aman di muka bumi selain malam yang tenang, tidur diapit oleh ayah dan ibu yang nafasnya teratur turun naik? Nafas yang menjaga dari segala marabahaya sambil berbisik: “bahkan para Dewapun sudah kuajak bersekutu untuk memastikan jalanmu. Jika saja kaurelakan tubuhmu tergeletak diantara tubuh-tubuh tua kami dengan segenap penerimaan.” Selamat Valentine.

Jok Mobil

Fort Scratchley, Newcastle

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.

Continue reading “Jok Mobil”

Cinta sederhana

Newcastle
Men Suda (sebut saja demikian), tetangga saya seberang jalan, patah tangannya. Sebuah kecelakaan kendaraan roda dua yang cukup parah membuatnya menderita patah tulang. Saat itu paruh akhir dekade 1980an, saya belum genap 10 tahun dalam usia. Setiap hari, tanpa diminta oleh siapapun, saya selalu berada di rumah Men Suda. Dek Cung, anaknya nomor dua, memang adalah sahabat saya. Sahabat untuk mancing lindung dan membuat layangan. Dek Cung adalah pahlawan tak tertandingi urusan membuat layangan: be-bean, bucu dua, kedis-kedisan pre-prean, ikut-ikutan. Semua jenis layangan dia bisa.

Continue reading “Cinta sederhana”

Penghargaan akan datang

Terbang

Tahun 2003, saya resmi memulai karir sebagai seorang guru. Saya menjadi dosen di almamater saya di UGM setelah memutuskan sebuah pilihan sulit di Jakarta. Saya datang ke kampus setelah sedikit diracuni oleh dunia swasta berupa ilmu marketing seadanya dari Unilever dan kesaktian teknologi informasi dari Astra. Tanpa harus disengaja, saya memang terpengaruh dan barangkali ingin menerapkannya di kampus, meski sebisanya.

Continue reading “Penghargaan akan datang”